Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Maaf, Aku tidak bisa


__ADS_3

Anggara melihat Rania tampaknya juga kebasahan meskipun tidak separah dirinya. Rania tampak mengelap-elap tangannya dengan jaketnya yang sudah basah tersebut. Anggara ingat jika di bangku belakang


ada kotak tisu. Dia bergegas mengambil beberapa tisu dan hendak membantu Rania mengeringkan dirinya.


"Eh, aku bisa sendiri,"ujar rania menanggapi perbuatan Anggara barusan.


Melihat penolakan Rania tersebut membuat Anggara menjadi sadar diri dan canggung dibuatnya. Kenapa juga dia bersikap tidak sopan seperti barusan. Bagaimana kalau gadis itu nanti menjadi takut dengan dirinya.


"Haist, kenapa kamu lancang sekali,"rutuk Anggara dalam hati.


"Oh, maaf, maaf,"ujar Anggara mengucapkan kata maaf berkali-kali. Dia tidak mau jika sampai Rania menganggap dirinya yang tidak-tidak.


"Aku hanya ingin membantumu saja,"lanjut Anggara menjelaskan. Rania melihat ke arah Anggara yang sedang menatapnya dengan pandangan merasa bersalah.


Rania menghela napas panjang. Lalu mengambil tisu yang masih dipegang oleh Anggara untuk mengelap bagian tubuhnya yang basah.


"Terimakasih,"sahut Rania kepada Anggara. Sedangkan Anggara sendiri tanpa sadar tersenyum melihat gadis yang ada di sebelahnya itu mau menerima bantuan darinya.


"Aku ingin cepat pulang,"ujar Rania dan seketika anggara tersadar jika dirinya sedari tadi hanya asyik melihat ke arah gadis manis itu.


"Oh, baiklah, maaf, aku akan segera mengantarkanmu,"ujar Anggara sambil menyalakan mesin mobilnya. Anggara mulai mengendarai mobilnya dan menembus derasnya hujan yang mengguyur kota saat itu.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya saat berada di dalam mobil saat itu. Rania sedari tadi hanya melihat ke arah luar jendela kaca mobil. Sedangkan Anggara sendiri merasa enggan untuk mengajak Rania berbicara karena dilihatnya gadis tersebut tampak bersikap dingin dengan dirinya.


Tetapi Anggara sebenarnya ingin sekali membalas kebaikan gadis itu. Berkat dialah, nyawa Anggara bisa terselamatkan. Tetapi setelah bertemu dengan Rania, justru Anggara merasa tidak enak hati. Dia merasa Rania mencueki dirinya sedari tadi. Bahkan sikap Rania pun begitu dingin dengan dirinya. Ada masalah apakah yang membuat Rania bisa bersikap seperti itu kepadanya?

__ADS_1


"Pertigaan depan belok kiri,"ujar Rania memberikan petunjuk rumahnya kepada Anggra.


"Oh, iya,"sahut Anggara sambil memberikan tanda di mobilnya karena dia akan berbelok arah. Tetapi entah kenapa Anggara merasa dirinya pernah ke kawasan perumahan tersebut. Jalan ke arah rumah Rania tidak asing baginya.


"Kamu tinggal di sini?"tanya anggara sambil melihat ke arah Rania.


"Ya,"jawab Rania singkat tanpa menatap ke arah Anggara. Sejak tadi Anggara merasa bahwa Rania sepertinya tidak menyukai dirinya. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Apakah dirinya ada salah kata tadi sewaktu bertemu dengannya. Atau bagaimana entahlah? Anggara juga bingung dengan sikap Rania ini.


"Rumahku depan itu,"ujar Rania memberikan petunjuknya. Anggara sempat berpikir kok sepertinya rumah Rania ini pernah dia datangi ya. Astaga, Anggara baru teringat dia pernah kemari dengan sang ayah.


"Terimakasih atas tumpangannya,"ujar Rania berpamitan untuk turun dari mobil Anggara.


"Eh, tunggu dulu,"sahut Anggara menahan langkah Rania dengan menarik salah satu tangan Rania.


"Ya, sejak kecil aku tinggal di sini,"kata Rania. Anggara seketika membelalakkan matanya. Dia sekarang tahu apa alasan Rania sedari tadi tampak murung dan dingin saat bertemu dirinya bahkan terkesan tidak menyukai dirinya.


"Jadi...jadi kamu putri dari paman Ranu Kuncoro?"tanya Anggara kali ini ingin sekali memastikan bahwa pemikirannya benar adanya.


"Iya, benar, aku putri tunggal keluarga Kuncoro,"sahut Rania tanpa harus ada yang dia sembunyikan lagi. Anggara tidak menyangka jika gadis ini adalah putri dari mantan asisten ayahnya. Dan gadis ini jugalah yang telah menolongnya beberapa waktu yang lalu.


"Maaf...maaf, aku tidak tahu,"ujar Anggara karena dia mengerti bagaimana perasaan Rania yang tidak menyukainya. Anggara tahu bahwa keluarga Kuncoro pastilah akan membenci dirinya. Dimana keluarganya lah yang telah menjebloskan Ranu Kuncoro ke dalam penjara.


"Tidak masalah, tolong lepaskan aku,"ujar Rania meminta Anggara melepaskan tangannya.


"Eh, maaf,"ujar Anggara karena baru menyadari kalau dia sedang memegang tangan Rania.

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti tidak menyukaiku, tetapi aku benar-benar ingin berterimakasih kepadamu tentang kejadian beberapa waktu itu,"kata Anggara memberanikan diri mengatakan maksud hatinya.


"Aku ingin membalas...emm... kebaikanmu waktu itu,"kata Anggara menunggu respon dari Rania.


"Tidak perlu, aku tidak ingin apa-apa,"jawab Rania pasti. Dia tidak akan meminta balasan apa-apa dari keluarga Handoko. Dia tulus membantu saja meskipun kenyataannya dia tahu bahwa yang dia pernah tolong adalah salah satu keturunan keluarga Handoko.


"Tetapi aku ingin membalasnya,"desak Anggara karena dia merasa tidak enak dengan gadis manis tersebut. Rania kali ini memberanikan dirinya menatap ke arah Anggara.


"Terimakasih, tetapi kalau pun kamu memaksa, aku hanya tidak ingin melihat siapapun yang berasal dari keluarga Handoko,"kata Rania dengan yakin. Dia memang tidak menyukai keluarga yang sudah membuat ayahnya mendekam di penjara. Bahkan membuat sang ibu meninggal dunia.


Perkataan Rania itu membuat perasaan Anggara entah mengapa membuat terasa sakit. Bagaimana bisa gadis seusia Rania bisa mengatakan hal seperti itu. Tampak sekali bahwa sebuah luka telah meninggalkan trauma kepada diri Rania. Sehingga dia bisa begitu membenci keluarganya seperti itu.


"Terimakasih untuk tumpangannya,"kata Rania kemudian dia turun dari mobil Anggara tanpa terlebih dahulu mendengar balasan dari Anggara.


Anggara merasa begitu bersalah dengan sikap Rania yang begitu dingin terhadapnya.


Dia tampak begitu membenciku. Bagaimana aku bisa membalas kebaikannya itu?


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.


Terimakasih 💞

__ADS_1


__ADS_2