
"Kakak, aku baru saja sampai ke sini, kenapa kakak justru mau pergi sih,"ujar gadis berambut panjang itu mengejar langkah Reyhan yang menuruni tangga rumahnya.
"Maaf pit, aku sudah tidak ada waktu lagi,"ujar Reyhan dengan nada terburu-buru.
"Tapi kakak mau kemana, aku ikut ya kak, aku baru saja sampai masak kakak meninggalkan aku di sini sendirian,"rengek Pitaloka kepada kakak sepupunya tersebut.
Reyhan menghela napas panjang. Selalu saja begitu jika ada adik sepupunya itu di rumahnya. Dia selalu saja mengikuti kemanapun dirinya pergi. Dan lagi dia selalu merengek meminta apapun yang dia minta. Reyhan seringkali merasa jenuh dengan sikap kekanak-kanakan adik sepupunya tersebut.
"Maaf, dek, tetapi hari ini aku mau pergi sendiri. Tolong kamu mengerti,"ujar Reyhan dengan nada meminta. Reyhan tidak mau bertengkar dengan gadis itu jadi dia berusaha dengan lembut untuk meminta pengertian darinya.
"Tetapi kak, aku ingin ikut kamu..."ujar Pitaloka kembali merengek tidak mau kalah rupanya. Reyhan lagi-lagi harus menahan emosinya dengan sikap saudara sepupunya tersebut.
"Maaf, dek, aku tetap tidak bisa,"ujar Reyhan yang sudah mengenakan helmnya dan bersiap untuk pergi.
"Tapi, kak, tunggu dulu..."ujar Pitaloka sambil setengah berlari mengejar langkah panjang dari Reyhan. Akan tetapi Reyhan tidak peduli lagi. Dia sudah tidak memiliki waktu untuk meladeni kelakuan manja dari adik sepupunya.
"Aku harus pergi ke rumah Rania, maaf,"ujar Reyhan kemudian melajukan motornya meninggalkan garasi rumahnya.
"Kakak!"teriak Pitaloka saat Reyhan tetap nekad menggas motornya meninggalkan dirinya sendiri di rumah.
Padahal Pitaloka datang ke rumah Reyhan ingin mengajak kakak sepupunya itu jalan-jalan merayakan kelulusan dari Reyhan. Kenapa justru sekarang dia malah ditinggal sendirian oleh Reyhan di rumahnya.
"Kakak..."panggil Pitaloka dengan perlahan karena napasnya yang sudah lelah mengejar laju motor Reyhan sampai di depan pintu gerbang rumah Reyhan. Pitaloka mencoba mengatur pernapasan nya yang masih ngos-ngosan.
"Ka...mu...per...gi...ka...re...na...di...dia..Bu...kan,"ujar Pitaloka dengan napas yang masih memburu. Rasa sakit tiba-tiba merasuki hati pitaloka karena dia tahu jika Reyhan meninggalkan dirinya demi gadis bernama Rania Kuncoro tersebut.
"Kenapa, kenapa.... selalu saja dia..."ujar Pitaloka sambil berderai air mata mengingat siapa yang lebih diutamakan oleh Reyhan Pramono, kakak sepupunya tersebut.
__ADS_1
**
"Semua sudah dipersiapkan dengan baik?"tanya Zahratusifa kepada Rania yang sudah bersiap-siap di depan kamar tidurnya dengan beberapa koper yang akan mereka bawa ke bandara.
"Sudah bi,"ujar Rania sambil mencek kembali barang bawaannya yang ada di dalam tas ransel miliknya.
Bik nah yang ikut membantu membawakan barang-barang melihat keduanya dengan perasaan haru. Tanpa disadari air mata bik nah menetes di pipi melihat jika sebentar lagi anak majikannya tersebut akan pergi dan menetap lama di luar negeri, di kediaman dari nyonya Zahratusifa.
"Bik nah...."rupanya Rania tahu jika bik nah sedang menangis. Rania mendekati bik nah dan memeluknya. Bik nah sudah lama bekerja di rumahnya. Bahkan sebelum ada dirinya. Bik nah selama ini sudah dianggap sebagai pengasuh dirinya. Rania begitu menyayangi bik nah yang selalu mengasuhnya dengan baik.
"Non, maaf, bibik seharusnya tidak begini,"ujar bik nah sambil menghapus air matanya.
Zahratusifa yang melihat kejadian itu menjadi ikut terharu dibuatnya. Wajar saja bik nah merasakan perasaan sedih karena perpisahan ini. Karena sejak kecil bik nah adalah orang yang mengasuh Rania.
"Aku akan ke Indonesia jika bibi Zahra ada waktu ketika musim liburan di sana. Kita masih bisa melakukan video call jika bik nah merindukan aku, sekarang dunia teknologi sudah canggih bik. Kita masih bisa berkomunikasi dengan mudah,"ujar Rania menjelaskan kepada bik nah panjang lebar.
"Iya, non, nanti non rania sering kabari bibik ya,"ujar bik nah berpesan kepada putri majikannya tersebut. Rania mengangguk mengiyakan permintaan dari pengasuhnya tersebut.
"Baiklah, kita harus segera berangkat, nak,"ujar Zahratusifa mengajak Rania untuk segera menuju ke bandara.
"Aku pamit dulu ya, bik,"ujar Rania berpamitan kepada bik nah. Keduanya pun berpelukan dengan penuh keharuan. Zahratusifa yang melihatnya pun ikut merasakan rasa haru tersebut.
"Hati-hati ya non, jaga kondisi selama di sana,"pesan bik nah. Rania menganggukkan kepalanya mendengar nasehat bik nah.
"Kami pergi dulu ya, bik, baik-baik jaga rumah,"pesan Zahratusifa kepada bik nah.
"Baik nyonya, semoga lancar diperjalanan,"ujar bik nah sambil mengantarkan kedua majikannya tersebut menuju ke dalam mobil yang akan mengantarkan keduanya menuju ke bandara.
__ADS_1
"Rania!"sebuah suara memanggil nama Rania. Dan Rania yang sudah berada di dalam mobil pun melongokkan kepalanya melihat siapa yang memanggilnya.
"Reyhan,"ucap Rania melihat siapa yang datang menemuinya di rumah.
"Ajak saja dia ikut ke bandara, nak,"ujar bibi Zahra kepada rania.
"Rey, ayo ikut ke bandara,"ajak Rania sambil melambaikan tangannya kepada Reyhan.
"Oh, baiklah,"Reyhan pun bergegas memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi rumah Rania. Kemudian dia ikut bersama dengan mobil yang ditumpangi Rania menuju ke bandara.
Rania melambaikan tangannya kepada bik nah ketika mobil mereka mulai berjalan keluar dari garasi. Bik nah tampak masih mengusap air matanya yang keluar melihat kepergian nona mudanya tersebut.
Rania melihat rumah yang selama lima belas tahun ini dia tempati dan baru kali ini dia akan tinggal di negara lain yang jauh dari rumah. Rania harus mengikuti ke tempat dimana bibinya tinggal agar sang bibi tidak kerepotan harus menjaganya dari kejauhan.
Rania sempat terharu melihat rumah masa kecilnya tersebut. Rania teringat akan kebersamaan dirinya dengan kedua orang tuanya.
Ayah, bunda, doakan Rania ya, semoga Rania bisa membanggakan ayah dan bunda nantinya. Rania sayang ayah dan juga bunda. Maafkan Rania, Rania belum bisa berbuat apa-apa untuk ayah dan bunda.
Zahratusifa yang melihat raut kesedihan keponakan nya itu hanya bisa mengelus kepala sang keponakan. Rania menoleh ke arah sang bibi dan tersenyum. Ada Reyhan juga yang duduk di bangku belakang mobilnya dengan raut wajah tersenyum ke arahnya.
Rania menghela napas dan merelakan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Kali ini dia akan memulai lembaran hidup yang baru. Rania akan berusaha menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya.
***
Iklan Author
Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Klik ❤️ untuk terus mendukung author.
Terimakasih.