Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Dia Siapa?


__ADS_3


Rania sudah bangun sejak sebelum adzan subuh berkumandang. Rania memang tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya. Setelah mengerjakan sholat subuh, maka dia segera membantu bibi di dapur untuk menyiapkan menu masakan pagi itu.


Rania terbiasa selama ini menyediakan sarapan pagi. Dia tidak pernah selalu bergantung kepada bibi yang membantunya.


"Non, ini sudah siap,"ujar sang bibi yang membantu Rania memasak. Bibi membantu memotongkan beberapa bahan yang dibutuhkan oleh Rania.


"Iya, bi, aku akan mengurus sopnya, tolong bibi yang menggoreng tempe dan ikannya ya,"pinta Rania dengan sopan. Rania selalu memperlakukan pengasuhnya itu dengan baik dan sopan.


"Baik, non,"ujar sang bibi kemudian mengambil alih pekerjaan sang nona mudanya. Dia berpindah ke depan alat penggorengan. Sedangkan Rania sibuk mengurus sayur sopnya.


Tidak butuh lama bagi gadis muda itu untuk menyelesaikan tugasnya membumbui masakannya. Rania mencicipi hasil masakannya dan setelah dirasanya pas dia pun sedikit menambah nyala kompor gasnya agar masakannya segera matang.


Rania melirik ke arah jam dinding yang menggantung di tembok dapur. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dia harus juga segera bersiap-siap menuju ke kantor. Atau nantinya dia akan terlambat.


Rania melihat hasil masakannya. Dia mencicipi kembali sayur sop buatannya tersebut. Setelah dirasanya pas, Rania mematikan kompornya dan melihat ke arah sang bibi yang juga kebetulan sekali baru selesai menggoreng lauk-pauk untuk sarapan pagi itu.


"Bi, tolong persiapkan segalanya di meja ya. Aku akan langsung mandi, takut telat ini,"ujar Rania. Sang bibi pun mengerti akan pekerjaan putri sang majikannya.


"Iya, non, tidak apa-apa. Bibi yang akan menata segalanya di meja makan,"ujar sang bibi.


"Terimakasih, bi,"ucap Rania kemudian dia melepaskan celemek yang dia pakai saat memasak di dapur.


Rania kemudian bergegas menuju kamarnya dan mempersiapkan diri untuk mandi. Di perjalanannya menuju ke kamar mandi, Rania bertemu dengan sang ayah, Ranu Kuncoro.


Tampak ayahnya itu baru bangun dari tidurnya.


"Kamu belum bersiap-siap, nak? Apakah tidak akan telat berangkat ke kantor?"tanya Ranu yang melihat sang putri masih memakai baju rumahan.


"Iya, ayah, aku baru selesai memasak. Aku mau mandi ini sekarang,"ucap Rania dan segera bergegas menuju ke kamar mandi sebelum ayahnya memberikan ceramah yang panjang nantinya.


Ranu Kuncoro hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sang putri. Rania adalah gadis yang keras kepala. Padahal Ranu sudah memperingatkan Rania agar pekerjaan memasak biar dikerjakan oleh sang bibi saja. Akan tetapi, Rania tetap saja memaksa memasak dan menyiapkan menu masakan yang berbeda setiap harinya untuknya.

__ADS_1


Ting Tong....


Terdengar suara bel berbunyi.


"Sudah bik, biar saya saja,"ujar Ranu Kuncoro menahan sang bibi untuk keluar melihat siapa sang tamu yang datang pagi itu.


"Lanjutkan saja pekerjaan bibi,"kata Ranu Kuncoro.


"Baik, tuan,"sahut sang bibi kemudian dia kembali menata menu masakan yang telah dimasak oleh nona muda keluarga Kuncoro tersebut.


Ranu Kuncoro melihat ke arah pintu depan. Biasanya sih tamu yang datang sepagi ini tidak lain tidak bukan adalah...


"Assalamualaikum, paman, selamat pagi,"sapa lelaki yang sudah berpenampilan rapi tersebut dengan jas hitam yang dipakai senada dengan celana kain berwarna hitamnya. Ranu Kuncoro tersenyum melihat kedatangan pemuda itu yang sudah lama dia kenal.


"Waalaikumsalam, masuk Rey..."ujar Ranu Kuncoro mempersilakan Reyhan, teman masa kecil putrinya tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya.


Ya, seperti itulah, Reyhan selalu datang pagi-pagi ke rumahnya hanya untuk membarengi sang putri yang akan berangkat ke kantor.


"Rania sudah siap, paman?"tanya Reyhan yang belum melihat tanda-tanda keberadaan Rania. Apa gadis itu sedang bersiap-siap di kamarnya.


"Eh, Reyhan, kamu sudah datang ya,"ucapan Ranu Kuncoro tertahan dengan sapaan Rania yang baru saja keluar dari kamar mandi. Cepat sekali anak gadisnya itu mandi. Dia beneran mandi atau tidak itu, batin Ranu.


"Loh, Ran, kok kamu belum bersiap-siap?"tanya Reyhan yang melihat Rania masih baru saja selesai mandi.


"Nanti kamu telat lho,"ujar Reyhan kembali.


"Tenang saja, aku nggak butuh waktu lama untuk dandan kok, udah ayo sekalian nanti sarapan di sini sama kita. Kamu sudah makan belum?"tanya Rania.


Reyhan hanya menggelengkan kepalanya. Sengaja sih sebenarnya Reyhan tidak sarapan di rumah agar bisa makan bersama dengan Rania pagi ini. Astaga... pemikiran apa ini Reyhan.


"Ya, sudah, kita sarapan bersama-sama saja setelah ini,"kata Rania kemudian dia menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Begitulah dia, selalu memaksakan diri untuk menyiapkan sarapan pagi. Sampai waktunya bersiap-siap ke kantor menjadi semepet ini,"ujar Ranu Kuncoro membicarakan kelakuan putrinya yang keras kepala itu. Reyhan hanya terkekeh mendengar keluhan dari ayah sang gadis yang disukainya sejak dulu itu.

__ADS_1


"Bukan Rania namanya paman, kalau dia tidak keras kepala,"sahut Reyhan.


Ucapan Reyhan itu mendapatkan anggukan dari Ranu Kuncoro yang membenarkan ucapannya barusan.


...----------------...


"Makasih ya, Rey, sudah mengantarkanku setiap harinya,"ucap Rania sambil melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Reyhan hanya tersenyum mendengar ucapan Rania tersebut.


"Sama-sama,"balas Reyhan singkat.


"Eh, tunggu Ran,"tahan Reyhan saat tangan Rania hendak membuka pintu mobil miliknya.


"Ada apa?"tanya Rania bingung karena Reyhan menahan dirinya.


Tiba-tiba saja tangan Reyhan membenarkan poni rambut Rania. Mendapatkan perlakuan dari Reyhan tersebut membuat Rania sedikit menahan napas. Apa yang sedang lelaki ini lakukan kepada dirinya?


"Nah, kalau begini kan kesayangan ku tampak begitu manis,"ujar Reyhan dengan senyum yang mengembang. Rania tersipu malu dibuatnya akan ucapan Reyhan tersebut.


"Idih..apaan sih kamu ya,"ucap Rania sambil memukul pelan lengan Reyhan.


Sedangkan yang dipukul hanya tertawa melihat wajah merona yang disemburatkan oleh wajah Rania tersebut. Reyhan melihat gadisnya sampai masuk ke dalam kantor barulah dia pergi meninggalkan perusahaan Daniswara Group tersebut.


Rania berjalan menuju ke dalam kantornya. Tidak disangka dia bertemu dengan asisten Alvin yang akan menyambut kedatangan dari sang pimpinan perusahaan.


"Eh...diantar siapa tadi, Ran?"celetuk asisten Alvin yang mengetahui kedatangan Rania dengan seorang pria. Iseng sih asisten Alvin menanyai perihal tersebut.


"Umm...itu dia...."


"Pacar ya?"tebak asisten Alvin kembali.


"Oh...Hehehe..."Rania hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Itulah cara dia menjawab pertanyaan dari asisten Alvin. Dia juga bingung harus mengatakan siapa posisi Reyhan saat ini baginya.


...****************...

__ADS_1


...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...


__ADS_2