
"Jangan lupa belajar anak-anak. Karena sebentar lagi kalian akan melaksanakan ujian. Baiklah, pelajaran hari ini sampai di sini. Kita bertemu kembali besok, selamat siang,"ujar guru yang mengajar di kelas siang hari itu.
"Selamat siang Bu guru,"balas semua murid yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
Suasana kelas pun mulai gaduh sejak guru kelas mereka sudah keluar ruangan. Para murid yang sudah lelah belajar sejak pagi kini menjadi bersemangat untuk pulang.
"Ran,"panggil Reyhan.
"Iya, Rey,"sahut Rania sambil menata buku-bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas sekolah miliknya.
"Aku nanti sore tidak bisa belajar bersama di rumahmu,"ujar Reyhan dengan wajah nya yang ditekuk.
"Lho memangnya ada apa, rey?"tanya rania menghentikan aktifitasnya sejenak sambil melihat ke arah reyhan. Tidak biasanya teman sejak kecilnya itu membatalkan acara yang mereka buat bersama.
"Itu...ada sepupuku datang dari luar kota. Dia ingin kuantarkan jalan-jalan keliling kota ini katanya,"ujar Reyhan dengan raut wajahnya yang sedih. Rania hanya tersenyum mendengar jawaban dari Reyhan. Dia pikir tadi ada apa sampai Reyhan tidak bisa datang.
"Tidak masalah, Rey, aku pikir tadi ada sesuatu dengan kamu,"ujar Rania dengan senyum manisnya.
"Ya, bukan begitu ran, aku kan juga ingin belajar sama kamu. Aku ingin memperbanyak waktu denganmu sebelum kamu pergi ke luar negeri,"ujar Reyhan dengan bersungut-sungut.
Rania justru tertawa mendengar jawaban dari Reyhan. Memang selama ini Reyhan setiap hari selalu datang ke rumahnya. Dengan alasan belajar bersama dengannya karena mereka sebentar lagi ujian. Ternyata ada alasan lain kenapa Reyhan seperti tidak ingin jauh terlalu lama dengan dirinya.
"Rey...kamu ini ada-ada saja, seperti tidak ada hari esok saja,"sahut Rania merasa lucu dengan sikap dari Reyhan.
"Ya, tapi kan setelah kelulusan nanti kamu akan tinggal di Singapura. Tentu saja kita tidak akan bertemu lama, bukan?"ujar Reyhan masih dengan wajahnya yang ditekuk.
__ADS_1
Rania menghela napas panjangnya mendengar nada bicara dari Reyhan tersebut.
"Rey, jaman sudah canggih begini apa susahnya sih untuk berkomunikasi. Kamu tidak perlu menggunakan burung merpati untuk berbicara denganku, bukan,"canda Rania kepada Reyhan. Yang justru Rania mendapatkan sebuah decakan dari Reyhan mendengar becandaannya.
"Kamu semakin lucu saja ya,"sahut Reyhan dan membuat Rania tertawa dibuatnya.
"Habis kamu juga lucu hanya karena tidak bisa belajar bersama sehari saja sudah cemberut seperti ini, ayo tersenyum,"ujar Rania sambil menarik ke atas kedua pipi Reyhan agar membentuk sebuah senyuman.
"Dasar kamu ya,"ujar Reyhan sambil menepuk pelan kepala Rania karena sudah memaksa dia untuk tersenyum barusan. Rania justru tertawa melihat wajah kesal dari Reyhan tersebut.
*
Rania sedang berada di toko buku untuk membeli beberapa peralatan tulisnya yang habis. Sepulang sekolah dia langsung mampir ke toko buku langganan nya yang menjual berbagai macam alat tulis-menulis. Toko itu adalah toko terbesar di kota tersebut. Dan letak toko tersebut tidak jauh dari sekolah Rania. Sehingga Rania sekalian saja mampir di sana setelah pulang sekolah.
Reyhan pulang lebih dahulu karena sudah dihubungi oleh orang rumah jika sepupunya sudah sampai di rumahnya. Rania juga menyuruh agar Reyhan segera pulang untuk menemani sang sepupunya.
Setelah memilih beberapa biji peralatan tulis, Rania pun mengantri di kasir untuk membayar. Setelah mendapatkan struk pembayaran, Rania pun bersiap untuk pulang setelah selesai membayar.
Rania melihat di luar langit tampak mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Musim kemarau tampaknya sudah mulai tiba. Rania sendiri tadi lupa untuk membawa payung. Rania segera bergegas untuk pulang karena dia tidak mau sampai kehujanan nantinya.
Rania pun bergegas menuju ke jalan raya untuk melihat angkot yang searah ke rumahnya. Tiba-tiba rania mendengar sebuah suara memanggil.
"Dek, tunggu!"panggilan itu entah ditujukan kepada siapa. Rania semakin mempercepat langkahnya. Dan panggilan itu kembali terdengar.
"Dek, tunggu dulu!"entah mengapa perasaan Rania sepertinya tidak enak. Apakah itu panggilan yang ditujukan kepada dirinya. Dan yang membuat Rania terkejut adalah sebuah tepukan di bahunya membuat Rania menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya tersebut.
__ADS_1
Rania membelalakkan matanya melihat pemuda yang sedari tadi memanggilnya tersebut. Bagaimana dia bisa bertemu dengan dia kembali secara kebetulan seperti ini.
"Tunggu, kamu berjalan cepat sekali, kamu masih ingat denganku, bukan?"ujar Anggara dengan napasnya yang ngos-ngosan karena mengejar langkah Rania.
"Eh..."Rania tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pemuda itu ternyata masih mengingat dirinya.
Tiba-tiba rintik hujan mulai turun membuat Rania seketika mendongak menatap langit yang sudah berwarna abu-abu. Dan rintik-rintik itu seketika berubah menjadi butiran-butiran air hujan yang mulai membesar.
Rania begitu terkejut saat pemuda yang pernah ditolongnya itu tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya menuju emperan toko terdekat untuk berteduh.
Dan benar saja hanya selang beberapa detik saja hujan deras seketika mengguyur di tempat mereka berada tersebut. Rania tidak menyangka bahwa hujan deras akan turun secepat itu.
"Kamu tidak apa-apa?"tanya anggara melihat Rania yang tampak mengusap-usap tubuhnya yang sempat basah karena guyuran air hujan.
"Ah...tidak,"jawab Rania dengan singkat. Sebenarnya Rania tidak begitu menyukai pertemuan dengan pemuda ini. Tetapi apa boleh buat jika semuanya sudah terjadi.
"Kamu masih mengingatku, bukan? Aku orang yang pernah kamu tolong saat dikeroyok kemarin,"ujar Anggara menyakinkan Rania karena dari wajah Rania tampaknya dia enggan untuk bertemu dengan Anggara.
Rania melihat ke arah Anggara yang menunggu jawaban darinya. Rania tidak bisa mengelak lagi jika sudah bertemu seperti ini.
"Iya, aku ingat kok,"jawaban dari Rania tersebut membuat Anggara tersenyum senang mendengarnya. Akhirnya dia bisa bertemu dengan seseorang yang pernah menyelamatkan nyawanya tersebut.
***
Iklan Author
__ADS_1
Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 💞