
Tin... Tin....
Sebuah mobil sport mewah berhenti tepat di depan Rania. Gadis itu nampak terkejut saat kaca mobil penumpang terbuka dan sebuah senyuman manis menatapnya dengan ramah.
"Pagi, Ran?"sapa Anggara dengan senyuman menawannya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan seketika jatuh hati dibuatnya.
Rania menatap seseorang yang selama ini dia ingin hindari untuk bertemu. Namun justru pertemuan itu sendiri tidak bisa dihindari.
"Pagi, Tuan muda,"balas Rania dengan sopan. Anggara merasa kurang suka dengan sebutan tuan muda yang dilabelkan Rania kepadanya.
"Anggara, panggil namaku saja, ayo kuantar kamu ke kantor,"ajak Anggara dengan beringsut turun dari mobil. Rania yang mendengar ajakan Anggara tersebut bukannya senang malah dia merasa tidak nyaman. Cukuplah kemarin dia pernah semobil dengan Anggara. Tidak akan terulang kembali.
"Tida, saya akan mencegat taksi saja,"ujar Rania menolak secara halus. Tetapi Anggara tidak mau begitu saja melepaskan Rania.
"Sebentar lagi jam masuk kantor, Ran, emang kamu mau sampai telat, ayolah, naik,"ajak Anggara memaksa.
"Tapi..."
Belum sempat Rania menyelesaikan omongannya, Anggara sudah lebih dulu menarik lengannya dan memasukkannya ke dalam mobil sportnya. Rania sampai tidak bisa berkata apa-apa dengan sikap memaksa dari tuan muda Handoko tersebut.
"Jalan, Nick,"ujar Anggara kepada Nickolas, asisten sekaligus orang kepercayaannya selama ini.
"Baik, tuan muda,"sahut Nickolas. Sebenarnya dia juga merasa heran. Tumben sekali ini tuan mudanya yang biasanya cuek dan dingin dengan cewek. Tiba-tiba menjadi agresif seperti itu. Dia merasa tuan mudanya kali ini berbeda dengan hari biasanya. Terutama jika selalu berkaitan dengan nona muda dari keluarga Kuncoro tersebut.
Selama perjalanan menuju ke kantor atmosfer dalam mobil begitu hening. Nickolas sendiri sampai mencoba menengok dari arah spion mobil. Kenapa juga kedua orang dibelakang itu diam saja tanpa ada yang ingin membuka percakapan.
__ADS_1
Bukannya tidak mau membuka percakapan tetapi keduanya justru sedang tidak tahu akan membahas topik apa. Perjalanan itu hanya dihabiskan dengan pikiran masing-masing saja.
"Ah, saya berhenti di depan situ saja,"ucap Rania saat melihat jalanan yang sudah dekat dengan kantornya, Daniswara group.
Ucapan Rania tersebut menyadarkan dua penumpang yang lainnya.
"Tapi itu masih jauh dari kantor, Ran. Kamu mau jalan kaki sejauh itu? Turunkan dekat kantornya saja, Nick,"ucap Anggara tidak mau jika Rania berjalan sejauh itu ke kantornya. Niatnya kan memberikan tumpangan kepada Rania bukan malah membuat dia repot dengan menurunkan di jalan begitu.
"Tapi...."
"Sebentar lagi jam masuk kantor, aku hanya tidak ingin kamu terlambat,"ucap Anggara.
Rania menatap jam dipergelangan tangannya. Ada benarnya juga sih ucapan lelaki di sampingnya tersebut.
"Terimakasih atas tumpangannya, tuan muda,"ucap Rania setelah sampai dekat kantor. Dia benar-benar tidak ingin diantar sampai depan kantornya. Anggara pun juga tidak ingin berdebat dengan Rania. Dia menuruti permintaan gadis itu.
"Buru-buru sekali dia,"gumam Anggara sambil tersenyum tipis. Nickolas menatap sang tuan mudanya yang bisa perhatian kembali dengan seorang gadis.
"Ya, sudah Nick. Segera ke kantor,"ucap Anggara setelah memastikan Rania masuk ke dalam kantornya.
"Baik, tuan muda,"sahut Nickolas dan menjalankan kembali mobil sport itu meninggalkan area Daniswara group.
Rani buru-buru berjalan ke kantor. Dia tidak mau jika sampai ada yang mengenali dirinya jika terlalu berlama-lama di dekat mobil mewah tersebut. Tapi sayang, ada yang mengetahui dirinya saat turun dari mobil sport itu. Bahkan dia juga tahu siapa pemilik mobil mewah yang tadi menurunkan Rania. Lelaki itu tersenyum simpul.
Pagi itu Rania sudah disibukkan dengan jadwal atasannya yang begitu padat. Dia benar-benar fokus mengerjakan tugasnya agar tidak sampai salah jadwal atau ada yang tertinggal. Dalam hal pekerjaan Rania memang bisa diandalkan. Buktinya seorang Kendra Daniswara memperkerjakannya. Padahal selama ini Kendra anti sekretaris cewek. Dia tidak mau sekretarisnya bertingkah yang justru membuat dia pusing sendiri.
__ADS_1
"Ekheeeemm,"suara deheman itu sukses membuat Rania menoleh ke arah si pembuat suara. Seorang lelaki tampan yang sering mengusilinya itupun tertawa nyengir. Siapa lagi kalau bukan Alvin, asisten pribadi Kendra tersebut memang kocak orangnya. Tetapi itu hanya ditunjukkan kepada segelintir orang saja.
"Ada yang bisa saya bantu Pak Alvin,"sapa Rania sopan kepada lelaki itu. Namun, sapaan Rania justru membuat Alvin nyengir mendengarnya.
"Yang berangkat diantar pacar memang beda ya auranya,"celetuk Alvin membuat Rania menoleh seketika.
"Pacar?"tanya Rania tidak paham dengan maksud ucapan Alvin tersebut.
"Lah tadi pagi yang antar itu pacar kamu kan. Hmmm...pantes banyak yang naksir di kantor tapi diacuhin ternyata cowok nya tidak kalah keren sih. CEO dari HND TV siapa yang tidak kenal dia,"ucap Alvin tersenyum jahil ke arah Rania.
"Pak Alvin ini kenapa pagi-pagi malah bergosip sih,"ujar Rania menanggapi ucapan Alvin.
"Dari kemarin juga aku tahu kamu diantar jemput sama dia,"sahut Alvin.
"Tapi bukan...."
CLEK
Ucapan Rania terpotong saat pintu yang kokoh di samping meja kerjanya itu terbuka menampakkan sosok yang selama ini terkenal dengan auranya yang dingin dan menakutkan tersebut.
"Kamu, masuklah,"suara tegas dan dingin itu membuat keduanya yang sedang asyik mengobrol seketika terdiam.
"Baik, tuan muda,"sahut Alvin dan segera berjalan masuk ke ruangan pimpinan tertinggi Daniswara group tersebut.
...****************...
__ADS_1
...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...