Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Datang untuk Pergi


__ADS_3

"Baiklah, non, bibik akan siapkan camilannya, eh, tapi sepertinya kita kedatangan tamu non,"ujar bik nah karena melihat sebuah mobil sedang parkir di depan rumah keluarga Kuncoro.


"Mobil itu berhenti depan rumah ini, non,"ujar bik nah memberitahu Rania. Rania yang mendengar ucapan bik nah pun ikut penasaran dengan siapa yang sore itu datang bertamu ke rumahnya.


"Coba bibik lihat siapa yang datang,"pinta Rania kepada bik nah.


"Baik, non,"ujar bik nah sambil berjalan menuju ke pintu gerbang rumah keluarga Kuncoro tersebut.


Bik nah membuka pintu gerbang rumah keluarga Kuncoro tersebut dan mendapati seorang pemuda yang tampan telah berdiri di sana. Pemuda itu tampak begitu sopan dengan gerak-gerik nya yang begitu menghormati orang lain meskipun dengan seorang pembantu sekalipun.


"Selamat sore, Bu,"ujar pemuda itu dengan sopan.


"Sore juga mas, mas nya ini mau mencari siapa ya?"tanya bik nah kepada pemuda yang tampan itu.


"Maaf mengganggu Bu, saya ingin bertemu dengan Rania, apakah Rania ada di rumah?"tanya pemuda tersebut.


"Oh, non rania, tapi kalau boleh tahu ya, mas nya ini siapanya non rania ya? karena saya kok baru tahu?"tanya bik nah karena merasa tidak familiar dengan wajah pemuda tersebut. Intinya bik nah tidak pernah bertemu sebelumnya dengan pemuda ini.


"Oh, itu, saya adalah orang yang pernah Rania tolong saat mengalami pengeroyokan, Bu. Jadi saya kemari ingin mengucapkan terima kasih kepada Rania, begitu,"terang Anggara kepada bik nah. Sedangkan bik nah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan Anggara kepada dirinya.


"Nama mas siapa kalau bibik boleh tahu?"tanya bik nah kembali.

__ADS_1


"Saya Anggara, Bu, eh, bibik,"ujar Anggara membuat bik nah tersenyum mendengarnya.


Sepertinya pemuda itu memang bukan pemuda yang jahat. Bik nah juga melihat beberapa buah tangan yang dibawa oleh pemuda tersebut. Pemuda ini juga mengendarai mobil yang mahal. Tampak sekali dia bukan dari kalangan orang biasa.


"Baiklah, mas Anggara silakan masuk. Kebetulan sekali non rania sedang berada di teras rumah,"ujar bik nah mempersilakan masuk Anggara ke dalam pelataran rumah keluarga Kuncoro.


"Oya, bik, ini oleh-oleh buat Rania,"ujar anggara menyerahkan buah tangan yang dia bawa untuk Rania. Bik nah menerima buah tangan itu dengan senang hati. Pemuda ini sungguh tampak berbudi pekerti yang baik.


"Terimakasih mas Anggara,"kata bik nah dengan senang hati. Dilihatnya barang bawaan yang diserahkan Anggara kepada bik nah.


"Itu non rania ada di teras rumah mas Anggara,"tunjuk bik nah ke arah Rania yang sedang berdiri menunggu kedatangan bik nah sedari tadi.


Bik nah dan Anggara berjalan ke arah Rania yang sudah menunggu sejak tadi. Dan betapa terkejutnya Rania yang melihat siapa yang telah datang ke rumahnya saat itu.


"Non rania, ini ada mas Anggara, katanya dia sudah pernah bertemu dengan non rania sebelumnya,"lapor bik nah kepada Rania.


"Halo, Rania, selamat sore,"sapa Anggara dengan senyum manisnya. Sedangkan Rania hanya diam saja dan baru tersadar saat bik nah menyenggol tangannya.


"Non, jawab sapaannya,"ujar bik nah.


"Oh, sore juga,"jawab Rania setelah beberapa detik kemudian. Anggara hanya tersenyum manis mendengar jawaban Rania tersebut. Sedangkan bik nah yang mengerti posisi jika dirinya di sana hanya akan mengganggu keduanya untuk berbicara segera berpamitan pergi.

__ADS_1


"Mas Anggara, saya tinggal dulu ya kebelakang,"ujar bik nah berpamitan kepada Anggara terlebih dahulu.


"Oh, iya bik,"sahut Anggara.


"Bibik mau kemana?"tarik Rania kepada sang bibik.


"Non, ini ada tamu, masak bibik tidak buatkan minuman. Sudahlah, non ajak bicara dulu ya, bibik akan segera kembali,"bisik bik nah kepada Rania lalu segera pamit undur diri. Sedangkan Rania hanya tampak menahan kesal karena sudah ditinggalkan begitu saja dengan Anggara hanya berdua.


"Emmm... apakah aku mengganggu waktu kamu Rania?"tanya Anggara karena sedari tadi tampak Rania tidak terlalu fokus dengan kehadiran dirinya.


Rania menoleh ke arah Anggara yang juga masih berdiri sedari tadi. Sungguh tidak sopan sekali dirinya dengan seorang tamu.


"Oh, maaf, silakan duduk kak,"ujar Rania mempersilakan Anggara untuk duduk.


Anggara pun merasa sangat senang dengan sambutan yang diberikan Rania kepadanya tersebut. Sungguh dia tidak menyangka jika dirinya akan dipersilakan duduk oleh Rania. Dia tadinya sudah mengira kalau saja Rania bisa mengusirnya ketika dia masih berada di pintu gerbang.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Terimakasih 💞


__ADS_2