
Rania diantar pulang oleh Reyhan dan juga sopir dari bibinya, Zahratusifa. Rania merasa lega karena pada akhirnya dia tidak bertemu dengan keluarga Handoko. Reyhan berhasil membawanya keluar dari rumah sakit sebelum pemuda bernama Nicko itu bertanya lebih jauh tentang dirinya.
"Rania!"pekik sang bibi melihat keponakannya sudah sampai di rumah. Zahra bergegas menghampiri Rania dan memeluk keponakannya tersebut.
"Bagaimana kamu bisa berada di rumah sakit, sayang?"tanya bibi Zahra dengan rasa penasaran akan cerita Rania bisa sampai berada di rumah sakit.
"Bi, lebih baik Rania biar masuk dulu ke dalam rumah,"saran Reyhan karena dia ingin Rania menenangkan dirinya dulu.
"Oh, maafkan bibi sayang, bibi terlalu panik sampai lupa dengan kondisimu, ayo masuk, kita cerita-cerita di dalam saja,"ujar bibi Zahra sambil menggandeng lengan Rania.
Setelah Rania selesai mandi dan berganti pakaian. Bibi Zahra sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.
Reyhan pun ikut makan malam bersama di rumah tersebut. Bibi Zahra sangat senang akhirnya Rania bisa pulang juga. Bibi Zahra tadinya sudah ingin menelepon kepolisian. Tetapi dicegah oleh Reyhan karena Reyhan masih bisa menghubungi rania.
"Jadi penyebab kamu berada di rumah sakit karena kamu menyelamatkan seseorang?"tanya bibi Zahra setelah mendengar cerita dari Rania.
"Iya, bi, aku melihat dia dikeroyok oleh beberapa pemuda seusianya. Aku tidak tega melihat hal tersebut. Jadi aku menolongnya,"ujar Rania menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya.
"Beruntung kamu tidak kenapa-kenapa, sayang. Lain kali janganlah kamu melakukan hal itu seorang diri. Bukannya bibi melarang kamu untuk menolong seseorang, nak. Tetapi kamu juga harus melihat kondisi di sekitarmu. Bibi hanya takut kamu juga terkena masalah padahal niat kamu ingin menolong orang lain. Kamu paham tidak apa yang bibi maksud?"ujar bibi Zahra menasehati sang keponakan. Rania menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang bibi barusan.
__ADS_1
"Ya bi, aku mengerti. Maaf sudah membuat bibi menjadi panik dan khawatir,"kata Rania dengan wajah tertunduk.
Zahratusifa hanya menghela napas pendek. Bagi dirinya cukup dengan keselamatan sang keponakan sudah membuatnya cukup bahagia. Dia tidak meminta hal yang lain.
"Baiklah, kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya, bibi, Ranran,"ujar Reyhan yang masih berada di rumah Rania untuk mendengarkan cerita tentang apa yang terjadi tadi kepada Rania.
"Iya, Rey, terimakasih ya sudah menjemput ku tadi,"ucap Rania kepada teman sejak kecilnya tersebut.
"Sama-sama, ran. Dan lain kali jangan membahayakan dirimu sendiri seperti tadi. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungi ku,"pesan Reyhan karena dia juga khawatir dengan keselamatan dari Rania.
"Iya, Rey,"ucap Rania dengan tersenyum.
"Iya bibi, sama-sama,"jawab Reyhan.
"Maaf ya Rey, acara belajar bersama kita jadi tertunda,"ucap Rania merasa bersalah. Kedatangan Reyhan ke rumahnya karena mereka ingin belajar bersama menjelang ujian.
"Tidak masalah, besok juga masih ada waktu. Kamu segera istirahat saja,"ujar Reyhan.
Rania mengantarkan Reyhan sampai ke depan pintu gerbang rumahnya. Reyhan melambaikan tangannya setelah motor yang dikendarai melaju meninggalkan rumah Rania. Sedangkan Rania melihat sampai Reyhan menjauh dan sudah tidak tampak lagi oleh pandangan dirinya.
__ADS_1
Rania menutup kembali pintu gerbang rumahnya. Dia kembali ke dalam rumah dan segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Rania merebahkan tubuhnya di ranjang tempat tidurnya. Dia menerawang ke langit-langit rumahnya. Rania kembali teringat apa yang sudah terjadi kepada dirinya hari ini.
Tidak disangka bahwa Rania tadi telah menyelamatkan seseorang dari keluarga Handoko. Padahal Rania tidak menyukai nyonya besar dari keluarga Handoko yang telah membuat kehidupan keluarganya menjadi hancur. Rania harus kehilangan sang bunda dan juga ayahnya yang sekarang masih mendekam di dalam penjara karena tuduhan penggelapan uang perusahaan.
Rania juga pernah mendengar bahwa nyonya besar keluarga Handoko tersebut berkata bahwa dia bukan anak kandung dari kedua orang tuanya. Rania begitu sedih mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang yang dulunya dikenal Rania begitu baik. Bahkan nyonya besar Handoko begitu akrab dengan sang bunda. Tetapi sebuah masalah yang ditimbulkan oleh bibi Silvia membuat keluarga Rania menjadi ikut berantakan dibuatnya.
Beruntung tadi Reyhan datang di waktu yang tepat sehingga dia bisa segera pergi dari rumah sakit. Rania jadi bisa menghindari pertanyaan dari seseorang bernama Nicko.
Rania mencoba memejamkan matanya. Dia merasa lelah sekali dengan banyak kejadian yang menimpa dirinya. Rania ingin beristirahat dengan tenang malam ini. Rania berharap dia tidak bertemu dengan keluarga Handoko kembali.
***
Iklan Author
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄
__ADS_1