
"Ya, ya, sudah, aku akan ke kamarku dulu kalau begitu,"sahut Anggara karena tidak mau kedua adiknya menjadi cemas karenanya.
"Aku tidak perlu diantar semua orang. Aku bisa sendiri,"ujar Anggara karena semua orang yang ada di sana akan mengantarkannya ke kamar ketika dia baru saja berdiri dari duduknya.
Hanya Nickolas lah yang pada akhirnya tetap menemaninya menuju ke lantai dua rumah mewah nya.
"Bagaimana dengan hasil pencarian mu?"tanya Anggara namun Nickolas masih menggelengkan kepalanya.
"Aku masih belum menemukan nya, maaf,"jawab nickolas. Anggara hanya tersenyum mendengar jawaban dari Nickolas.
"Ya, sudahlah, mungkin belum saatnya. Tetapi semoga nanti aku bisa dipertemukan kembali dengannya,"ujar Anggara dengan penuh harap.
"Ya, semoga,"ujar Nicko juga berharap hal yang sama. Pasti itu akan menjadi kebahagiaan bagi teman baiknya tersebut.
"Terimakasih sudah membantuku, Nic. Aku bisa sendiri,"ujar Anggara setelah sampai di depan pintu kamarnya.
"Baiklah, kalau butuh apa-apa kabari aku,"kata Nickolas kepada teman baiknya tersebut.
"Baiklah, Nic,"sahut Anggara.
Anggara masuk ke dalam kamarnya dan menuju ke tempat tidurnya dengan jalan yang masih tertatih-tatih. Akibat peristiwa pengeroyokan itu membuat salah satu kakinya mengalami luka yang cukup parah.
Anggara bernapas lega karena sudah kembali berada di rumah. Setelah beberapa hari dia dirawat di rumah sakit. Rasanya seperti tersiksa saja tidak bisa berbuat apa-apa di sana. Anggara merasa menjadikan beban keluarganya saja karena pembiayaan rumah sakit. Sedangkan sang bunda sedang sibuk mengurusi masalah keuangan di kantor dengan dibantu oleh ayah Nickolas.
__ADS_1
Anggara menghembuskan napas panjangnya dan menoleh ke arah jendela kamarnya. Dia melihat sebuah bingkai foto yang selalu bisa menghiburnya di kala dia merasa gundah. Dengan memandang foto dirinya bersama dengan seseorang yang dia suka membuat Anggara menjadi merasa agak tenang.
Ya, bingkai itu adalah sebuah kado dari seorang gadis bernama Hastari Anugrah. Gadis yang selalu dekat dengan Anggara sejak kecil karena dia adalah putri dari saudara sang bunda Maya. Tari sejak kecil sudah sering bersama dengan Anggara. Kedekatan mereka itu juga menimbulkan benih-benih cinta di hati Anggara untuk Tari.
Akan tetapi ketika keluarga Anggara mendapatkan sebuah musibah justru Tari tidak berada di sisi Anggara untuk memberikan sebuah support. Tari harus melanjutkan pendidikannya ke University of Oxford di London, Inggris.
Sebenarnya Anggara juga ingin melanjutkan pendidikan ke sana. Karena mereka memiliki impian untuk sama-sama meraih gelar pendidikan di sana. Tetapi apa daya sebuah musibah lebih dulu mendatangi keluarga Handoko. Sehingga Anggara mengurungkan niatnya tersebut dan lebih fokus untuk membantu bundanya di perusahaan.
"Tari, aku kangen kamu,"ucap Anggara sambil melihat potret dirinya dan tari di dalam bingkai foto tersebut. Senyum manis Tari membuat hatinya merasa rindu akan sosok gadis berlesung pipit tersebut.
*
"Nak, kamu masih belum tidur?"tanya bibi Zahra ketika membuka pintu kamar Rania yang masih menyala lampu kamarnya.
"Kamu harus segera istirahat, nak. Ini juga sudah malam,"ujar bibi Zahra mengingatkan Rania.
"Sebentar lagi ya bi, nanggung ini bacanya,"jawab Rania dengan tatapannya yang fokus ke arah buku pelajaran yang dia baca.
Zahratusifa tersenyum melihat keteguhan sang keponakan. Dia yakin Rania akan menjadi anak yang sukses nantinya. Melihat kedisiplinan yang selalu Rania terapkan dalam kehidupan sehari-hari nya. Zahratusifa yakin bahwa Almarhumah kakaknya sudah mendidik putri tunggalnya ini dengan sangat baik.
"Baiklah, bibi buatkan segelas susu hangat ya,"ujar sang bibi namun Rania mencegah tindakan bibinya tersebut.
__ADS_1
"Ah, bibi tidak usah, aku bisa membuatnya sendiri,"ujar Rania merasa tidak enak jika terus-menerus merepotkan sang bibi. Zahratusifa justru merasa senang melihat sikap keponakannya yang sudah bisa mandiri tersebut.
"Tidak apa-apa, kamu lanjutkan saja belajar nya,"lanjut bibi Zahra dan dia segera keluar dari kamar Rania sebelum nanti keponakannya itu kembali menolak apa yang akan dia lakukan.
"Bibi, terimakasih sudah ada di sini untuk ku. Karena ada bibi, aku menjadi tidak sendirian di dunia ini,"gumam Rania dengan perlahan.
Rania menoleh ke arah meja belajarnya yang terdapat sebuah bingkai foto dirinya dengan kedua orangtuanya. Saat itu mereka sedang piknik bersama dan membuat foto bertiga dengan senyuman manisnya.
Rania mengelus wajah kedua orang tuanya yang kini sedang tidak bersama-sama dengan dirinya. Rania sungguh bersedih jika mengingat peristiwa pahit yang menimpa keluarganya.
"Ayah, bunda, Rania rindu dengan kalian berdua,"ucap Rania.
"Rania sungguh ingin berada dalam dekapan ayah dan bunda seperti foto ini,"ucap Rania dengan perlahan-lahan. Dia tidak ingin suaranya di dengar oleh sang bibi. Karena Rania selalu menangis jika dia mengingat kedua orangtuanya.
"Rania kangen kalian, ayah...bunda...,"tutur Rania dan air matanya pun menetes sudah tanpa dapat dia hindari kembali.
Zahratusifa yang hendak memberikan segelas susu coklat hangat pun mengurungkan dirinya masuk ke dalam kamar setelah mendengar apa yang Rania katakan di depan bingkai foto kedua orang tuanya.
Maaf nak, bibi belum bisa membuat kamu bahagia.
***
Iklan Author
__ADS_1
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄