
"Kamu istirahat saja dulu, bunda masih ada pekerjaan di luar,"ujar sang bunda maya kepada putra sulungnya.
"Baik, Bun, jaga kondisi bunda. Jangan terlalu memaksakan diri bunda,"pesan Anggara. Dia tahu bagaimana sang bunda harus mengurus perusahaan seorang diri sekarang. Dengan dibantu oleh ayah dari Nickolas maka sang bunda berusaha mengatasi masalah keuangan yang sedang terjadi di perusahaan.
"Apakah bunda akan pulang malam hari ini?"tanya Anggara mencemaskan kondisi sang bunda.
Bunda Maya menganggukkan kepalanya. Dia tahu kalau putra sulungnya itu sedang mengkhawatirkan kondisi dirinya akhir-akhir ini.
"Bunda tidak akan terlambat makan, kok. Kamu tenang saja. Maaf bunda tidak bisa menjagamu hari ini,"ucap bunda Maya merasa bersalah. Karena putranya baru saja pulang dari rumah sakit dan sekarang justru harus dia tinggalkan demi pekerjaan.
"Tidak apa-apa bun, jangan khawatirkan diriku,"ujar Anggara menenangkan hati sang bunda.
"Aku masuk dulu ya, Bun,"lanjut Anggara dan segera dia turun dari mobil sang bunda.
"Hati-hati, nak,"kata bunda Maya sambil membantu putra sulungnya yang baru keluar dari rumah sakit tersebut.
Nickolas yang melihat Anggara baru turun dari mobil segera bergegas menolongnya.
"Terimakasih, Nic,"ujar Anggara dengan pertolongan dari Nickolas tersebut.
"Baik-baik ya, nak,"pamit bunda Maya kepada anggara.
"Hati-hati, bunda,"pesan Anggara dan hanya dijawab sebuah anggukan kepala oleh sang bunda.
Mobil yang membawa sang bunda pun telah hilang dari halaman rumah keluarga Handoko. Anggara menarik napas panjang. Dia merasa kasihan dengan sang bunda yang tampak bekerja keras demi mengatasi permasalahan yang sedang terjadi di perusahaan ayahnya. Semua itu dilakukan sang bunda demi keberlangsungan hidup mereka semua.
Sejak kematian yang merenggut nyawa sang ayah membuat kehidupan mereka berempat berubah seketika. Sang bunda yang biasanya hanya mengurusi masalah rumah tangga di keluarga. Kini harus terjun langsung ke dalam urusan perusahaan yang biasa ditangani oleh sang ayah.
Anggara sungguh merasa kasihan melihat kondisi sang bunda. Dia sendiri masih belum bisa membantu sang bunda mengurusi masalah di perusahaan. Justru dia sendiri membuat masalah dengan salah satu anak berandalan dan menyebabkan sang bunda sendiri menjadi khawatir dibuatnya.
"Ayo kita masuk,"ajak Nickolas kepada Anggara. Dia merasa kasihan dengan kondisi Anggara tersebut. Sebagai teman baiknya sejak masih kecil, Nickolas tahu bagaimana perasaan Anggara saat ini. Tentunya dia masih merasa sedih dengan apa yang telah terjadi dengan keluarganya sepeninggal sang ayah karena kecelakaan yang menimpanya.
__ADS_1
Berita kematian sang ayah sempat menjadi sebuah berita yang menghebohkan. Karena kecelakaan yang terjadi kepada sang ayah disaat sang ayah sedang mengendarai mobilnya sendiri. Dan hanya berdua saja dengan sekretaris pribadinya.
Gosip yang beredar saat itu adalah ayahnya sedang berselingkuh dengan sekretaris pribadinya. Anggara begitu syok mendengar berita yang sedang santer beredar tersebut.
Anggara tidak menyangka jika sang ayah akan tega melukai hati sang bunda. Anggara masih berada dalam kondisi percaya dan tidak percaya dengan kelakuan sang ayah tersebut. Karena yang selama ini Anggara tahu adalah sang ayah begitu mencintai bundanya.
Beruntung sekali kedua adik perempuannya masih kecil dan tidak tahu kondisi yang terjadi. Sang bunda dan juga ayah Nickolas berusaha menutup semua berita di media cetak maupun elektronik. Sehingga permasalahan itu tidak sampai membuat hancur nama baik perusahaan milik keluarga Handoko. Meskipun tidak bisa dipungkiri jika berita tersebut sudah membuat kondisi finansial perusahaan menjadi menurun.
"Ada siapa di rumah?"tanya Anggara karena terdengar suara gelak tawa sang adik bungsunya di belakang. Lebih tepatnya di halaman belakang depan kolam renang.
"Ada Abimanyu, dia sedang mengajari Aurora belajar bermain biola,"jawab Nickolas dan anggara hanya mengangguk. Dia tahu kalau Aurora sedang tertarik dengan dunia seni. Dan orang yang cocok untuk itu adalah Abimanyu yang sejak kecil selalu menjuarai lomba di bidang permainan biola. Abimanyu adalah teman Anggara juga sejak kecil. Dia adalah putra dari teman baik sang ayah.
"Lho kakak sudah pulang?"tanya adik keduanya, Anggita Sari, yang tampak terkejut dengan kepulangan sang kakak dari rumah sakit.
"Iya, dek,"jawab anggara singkat. Dia melihat sang adik baru turun dari kamarnya di lantai dua.
"Bagaimana kondisi kakak?"tanya Anggi tampak mencemaskan kondisi sang kakak. Anggita membantu anggara untuk duduk di ruang keluarga.
"Kakak..."sebuah teriakan terdengar dari arah pintu belakang. Rupanya Aurora, adik bungsu Anggara itu baru tahu kalau kakaknya baru saja sampai di rumah. Di belakangnya terdapat Abimanyu yang mengikutinya.
"Kakak, kok sudah pulang? Bukankah kakak masih sakit?"tanya Aurora dengan napas memburu akibat berlarian setelah mendengar suara kakaknya.
Anggara hanya tersenyum melihat wajah panik dari adik bungsunya tersebut.
"Aku sudah tidak apa-apa, makannya sudah disuruh pulang oleh dokter,"ujar Anggara dengan senyum manisnya.
"Aku sangat takut saat mendengar kakak masuk rumah sakit,"ujar Aurora dengan raut wajah sedihnya. Adik bungsunya itu memang masih kekanak-kanakan dan dia memang begitu dekat dengan Anggara ketimbang dengan Anggita Sari yang memang usianya sudah lebih dewasa.
"Syukurlah kalau kamu sudah membaik,"ujar Abimanyu merasa senang melihat kondisi Anggara yang sudah membaik.
"Ya, terimakasih,"jawab Anggara singkat.
__ADS_1
"Kamu sudah lama di sini?"tanya Anggara kembali.
"Lumayanlah,"jawab Abimanyu.
"Oya, terimakasih sudah membantuku mengurus kedua adikku yang super merepotkan ini,"ujar Anggara karena sejak dia di rumah sakit. Dia tidak bisa mengawasi dan mengantarkan bepergian kedua adik perempuannya. Beruntung dia mempunyai teman seperti Abimanyu yang menawarkan dirinya untuk mengurusi sang adik selama dia berada di rumah sakit.
"Tidak masalah, kamu santai saja,"sahut abimanyu.
"Kakak istirahat saja sudah, jangan dipaksa untuk duduk-duduk,"ujar Anggi mengingatkan sang kakak.
"Iya, kakak kan baru pulang jangan banyak bergerak dulu,"ujar Aurora menimpali.
"Ya, ya, sudah, aku akan ke kamarku dulu kalau begitu,"sahut Anggara karena tidak mau kedua adiknya menjadi cemas karenanya.
"Aku tidak perlu diantar semua orang. Aku bisa sendiri,"ujar Anggara karena semua orang yang ada di sana akan mengantarkannya ke kamar ketika dia baru saja berdiri dari duduknya.
Hanya Nickolas lah yang pada akhirnya tetap menemaninya menuju ke lantai dua rumah mewah nya.
"Bagaimana dengan hasil pencarian mu?"tanya Anggara namun Nickolas masih menggelengkan kepalanya.
"Aku masih belum menemukan nya, maaf,"jawab nickolas. Anggara hanya tersenyum mendengar jawaban dari Nickolas.
"Ya, sudahlah, mungkin belum saatnya. Tetapi semoga nanti aku bisa dipertemukan kembali dengannya,"ujar Anggara dengan penuh harap.
***
Iklan Author
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄
__ADS_1