Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Kenangan Manis (1)


__ADS_3

Anggara sedang asyik memotret seorang gadis manis yang tidak menyadari jika dirinya sedang menjadi objek sasaran foto olehnya. Anggara hanya bisa senyum-senyum sendiri karena dirinya telah berhasil memfoto gadis tersebut dengan sembunyi-sembunyi.



Gadis itu adalah Hastari Anugrah. Gadis yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Anggara. Karena salah satu orang tua gadis yang biasa dipanggil tari itu masih bersaudara dengan ibu Anggara, bunda Maya.


"Kakak..."panggil Tari sambil melambaikan tangannya ke arah Anggara. Melihat gelagat tari yang tampak antusias memanggil dirinya tersebut membuat Anggara tertarik untuk mendekat.


"Sini, kakak, lihat itu lucu sekali,"kata tari sambil menunjuk ke arah bawah. Memang mereka sekarang sedang berada di balkon rumah keluarga Handoko. Lebih tepatnya di balkon kamar dari Anggara.


"Ach, mereka berdua memang selalu seperti itu,"kata Anggara setelah melihat bahwa yang dimaksud lucu adalah permainan yang sedang dilakukan oleh Aurora dan Abimanyu. Keduanya sedang bermain kartu. Dan siapa yang kalah maka wajahnya akan dicoret dengan lipstik.


Wajah Abimanyu maupun aurora sudah tidak mulus lagi. Dan tampaknya adiknya yang lebih banyak mendapatkan coretan dari abimanyu. Namun, keduanya justru tertawa-tawa jika terkena sebuah coretan.


"Tapi itu lucu banget kak,"ujar tari sambil asyik melihat permainan kedua orang di taman itu. Sambil sesekali terdengar sebuah tawa kecil dari Tari melihat permainan yang sedang dilakukan oleh Aurora dan Abimanyu.


"Ach, sudahlah, ayo kita jalan, aku juga sudah siap,"ujar Anggara sambil menarik tangan tari dan mengajaknya keluar dari kamarnya. Sebenarnya bukan apa-apa anggara mengajak tari pergi karena dia malas dengan sikap tari yang lebih fokus kepada Abimanyu dan juga Aurora.


"Kita mau kemana?"tanya tari yang menurut saja tangannya ditarik oleh Anggara sambil menuruni tangga.

__ADS_1


"Ke sebuah tempat yang pastinya membuat kamu senang,"kata Anggara sambil memberikan senyuman manisnya kepada tari. Hal kecil itu tanpa disadari oleh Anggara mampu membuat seorang Hastari Anugrah tersipu malu karenanya.


"Eh, kalian berdua mau kemana?"tanya bunda Maya saat melihat kedua anak muda itu berjalan keluar rumah sambil bergandengan tangan.


Tari sebenarnya hendak melepaskan pegangan tangan Anggara karena dia merasa malu bergandengan tangan seperti itu. Namun, tangan Anggara tidak mau melepaskan tangan tari tersebut.


"Kami mau jalan-jalan dekat sini saja, bunda,"ujar Anggara dengan santainya. Anggara menatap tari dengan wajah tersenyum meminta dukungan dari gadis cantik tersebut.


"Eh,...iya bi,"sahut tari spontan dan menatap sang bibi yang sedang tersenyum manis ke arah Tari.


"Ya, sudah hati-hati kalian berdua,"kata mama Tari yang juga sedang berada di rumah keluarga Handoko tersebut.


"Tenang saja Tante, dia akan aman bersama dengan saya,"janji Anggara dengan bersungguh-sungguh.


"Pegang janjimu ya,"sahut bunda Maya kepada putra sulungnya tersebut. Bunda Maya tahu jika sang putra sulungnya itu memiliki rasa kepada putri saudaranya itu.


"Iya bunda,"jawab Anggara mantap dan itu membuat diri tari semakin berbunga-bunga tidak jelas. Perasaannya campur aduk tidak keruan dan juga detak jantungnya kini berdebar-debar semakin kencang.


"Kami jalan dulu, bunda, Tante,"pamit Anggara sambil menarik tangan tari.

__ADS_1


"Hati-hati,"pesan kedua ibu itu kepada kedua putra-putrinya tersebut.


"Aku senang jika Tari bisa tersenyum seperti itu,"ujar mama Tari curhat kepada bunda Maya. Mendengar ucapan saudaranya itu membuat bunda Maya hanya bernapas panjang. Dia tahu kemana arah pembicaraan mereka nantinya.


"Sering-seringlah kemari bersama dengan Tari jika seperti itu kondisi rumah tangga kalian,"ujar bunda Maya merasa prihatin dengan gonjang-ganjing rumah tangga saudaranya tersebut.


"Iya, mbak, aku juga kasihan jika melihat tari yang selalu melihat kami bertengkar setiap harinya. Aku pernah melihat dia menangis di kamarnya seorang diri. Dan itu juga membuat hatiku terasa hancur saat melihatnya,"ucap ibu tari sambil mengusap air matanya.


Hanya di depan Maya Handoko saja dia berani mencurahkan isi hatinya. Dia bahkan tidak bisa mengatakan isi hatinya kepada sang suami. Rumah tangga yang selama ini mereka bangun sedang berada di ujung tanduk. Dan itu membuat ibu Tari menjadi stres berada di rumah. Hanya kepada Maya Handoko membuatnya merasa lega dengan mencurahkan isi hatinya.


"Pintu rumahku terbuka untuk kalian. Datanglah kemari jika kamu merasa kesepian,"ujar bunda Maya menguatkan hati saudara iparnya tersebut.


"Terimakasih, mbak,"kata ibu Tari sambil tersenyum. Maya Handoko memang wanita yang sangat baik. Dia selalu bersikap baik kepada siapapun.


***


Iklan Author


Budayakan like setelah membaca dan tulis komentar kalian sebanyak-banyaknya untuk penyemangat bagi Author.

__ADS_1


Terimakasih 😄


__ADS_2