Diorama Cinta (RaniAnggara)

Diorama Cinta (RaniAnggara)
Kesepakatan


__ADS_3

Rania sedang membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk beristirahat karena jam makan siang sudah tiba. Tiba-tiba pintu ruangan sang CEO terbuka. Keluarlah dua lelaki tampan yang menjadi incaran para gadis dan wanita konglomerat di negeri ini.


"Ran, kami akan keluar makan siang, kamu mau ikutkah?"tawar asisten Alvin yang berdiri di belakang sang pimpinan. Sedangkan Kendra sendiri hanya melirik sekilas ke arah Rania, sekretaris pribadinya tersebut.


"Eh, tidak perlu Pak Alvin, saya makan di dekat sini saja,"ujar Rania yang merasa tidak enak jika harus ikut dengan pimpinan nya untuk makan siang. Apalagi respon sang CEO yang begitu dingin dan datar tersebut. Rania hanya tidak mau nanti dirinya tidak bisa menikmati makan siangnya jika ikut makan bersama mereka berdua. Atau mungkin keduanya justru merasa canggung jika ada kehadiran dirinya.


"Oh, baiklah kalau begitu, kami pergi dulu,"ujar asisten Alvin sambil tersenyum hangat ke arah Rania.


"Baik,"ucap Rania dengan sedikit membungkukkan tubuhnya menyahuti ucapan sang asisten tersebut.


Rania menghela napas lega setelah kepergian dua orang tersebut. Sungguh berada di dekat mereka seketika membuat dirinya membeku apalagi jika berada terlalu lama dengan sang pimpinan. Sikap dinginnya seakan bisa membekukan tubuhnya seketika. Mungkin jika dibuat perandaian sang CEO itu seperti kutub selatan saja yang memiliki es abadi.


"Enaknya beli makanan di cafe dekat kantor sajalah,"gumam Rania sambil meraih tas miliknya untuk segera pergi ke cafe yang berada di seberang kantornya.


Ketika Rania akan melangkah tiba-tiba dering handphone nya berbunyi. Rania mengambil Handphone itu yang berada dalam tas miliknya. Dia melihat sebuah nomor yang tidak asing.


"Ya, halo,"sapa Rania setelah mendekatkan benda pipih itu di telinganya.


"Aku menunggumu di bawah,"suara yang tidak asing itu membuat bola mata Rania terbelalak seketika.


Kenapa? Dia? Apa????


"Eh, ngapain kamu menunggu ku?"


Tut... Tut .. Tut...


Belum sempat Rania membalas ucapan dari lelaki itu ternyata sambungan teleponnya sudah dimatikan secara sepihak oleh si penelepon. Rania hanya bisa terhenyak mendapati kejadian tersebut.

__ADS_1


"Apa-apaan dia seenak hatinya saja mematikan telepon. Astaga! kenapa aku mengenal sosok seperti dia ini ya. Sungguh tidak ada sopan santun sama sekali,"ucap Rania sambil menghentakkan kakinya karena kesal.


"Dia bahkan menunggu ku di depan kantor. Gila dia!"gerutu Rania sambil memasukkan handphone ke dalam tas nya dan kemudian turun ke lantai dasar untuk menemui lelaki yang baru saja membuatnya merasa kesal tersebut.


...----------------...


Ketika lift sudah menunjukkan angka tepat d lantai satu, pintu lift terbuka. Rania berharap dia tidak bisa diketahui oleh siapapun. Dia mencoba menutupi wajahnya dengan tas miliknya sehingga dia tidak akak bertemu dengan lelaki menyebalkan itu. Tetapi justru sebuah bayangan tepat menghadang langkahnya berjalan.


"Astaga!"Rania terkejut setelah dia mendongak kan kepalanya dan melihat sosok yang sedang dia hindari kini justru berdiri dengan gagahnya didepannya.


"Kamu pikir kamu bisa mengelabui ku dengan penampilanmu ini,"ujar Anggara dengan sikapnya yang menambah kadar ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.


"Kenapa kamu ke sini?"


"Aku ingin menemui mu."


"Kamu tidak tahu ini jam kantor,"ucap Rania dengan sedikit menahan geram dengan sikap Anggara yang menarik perhatian begini.


"Kenapa memangnya bukankah ini sudah jam makan siang juga. Aku ingin mengajakmu makan siang bersama,"ujar Anggara.


"Aku tidak mau!"tolak Rania dengan tegas.


Sikap Rania membuat dirinya merasa menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berlalu lalang disekitar mereka. Rania yang tidak ingin menjadi bahan gosip kembali akhirnya membuat alasan agar lelaki itu tidak terlalu bersikap begitu akrab dengan dirinya.


"Aku sedang terburu-buru, tidak ada waktu untuk berbicara hal lain. Aku ingin segera makan siang dan kembali dengan pekerjaan..."


"Kebetulan sekali aku juga ingin mengajak mu makan siang,"ujar Anggara memotong ucapan Rania dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Apa? Tidak bisa! Aku buru-buru tidak bisa menemanimu makan bersama,"ujar Rania kemudian dia hendak berjalan melewati Anggara yang kembali menghadangnya.


"Tunggu dulu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebagai sebuah kesepakatan,"ucap Anggara dengan raut wajah serius.


"Kesepakatan, maksudmu apa?"tanya Rania tidak mengerti.


"Bukan kah kamu pernah bilang jika aku boleh meminta bantuan kepadamu karena aku juga pernah membantumu, bukan? Nah, sekarang aku sangat meminta bantuanmu, aku butuh bantuanmu,"ucap Anggara dengan puppy eyes nya dihadapan Rania membuat cowok itu memiliki kadar ketampanan yang tidak diragukan lagi kualitasnya.


Gila, kalau iman tidak kuat bisa goyah liat ketampanan ini cowok ya, batin Rania mencoba menahan dirinya sendiri.


"Baiklah, aku membantu sebiasa aku ya, aku tidak bisa dipaksa untuk berbuat yang aneh-aneh,"ucap Rania dengan nada serius.


"Ini tidak aneh kok, cuma temani q makan siang di cafe depan itu, deal?"tanya Anggara sambil mengulurkan tangannya untuk membuat kesepakatan dengan Rania.


Rania tampak mengerutkan keningnya berpikir.


"Ayolah Rania," ujar Anggara dengan sedikit merengek. Sikap Anggara membuat Rania risih karena menjadi pusat perhatian orang-orang saja.


"Baiklah- baiklah,"sahut Rania pasrah.


Anggara tersenyum bahagia mendengar jawaban Rania tersebut.


"Baiklah, ayo,"ujar Anggara sambil menarik tangan Rania untuk makan siang di cafe seberang kantor Rania tersebut. Anggara tampak senang karena rencananya berhasil. Sedangkan Rania tidak tahu saja kejutan apa yang sedang menanti dirinya di sana.


...----------------...


...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...

__ADS_1


__ADS_2