
Pagi itu suasana di rumah keluarga Handoko masih berjalan seperti biasa. Sang bunda yang masih sibuk dengan urusan pekerjaan di kantor. Bahkan waktu untuk sarapan pun masih digunakan oleh bunda Maya untuk bertelepon.
Anggara yang baru saja turun dari kamar lantai duanya hanya terdiam melihat betapa sibuk sang bunda mengurusi pekerjaan yang ditinggalkan oleh almarhum sang ayah. Anggara tidak berani bertanya kepada sang bunda yang selalu disibukkan dengan berbagai macam aktivitas kantor yang padat.
Bahkan Anggara tidak berani membicarakan niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Dia tahu bagaimana kondisi keuangan keluarganya. Sang bunda pun berjuang sekuat tenaga untuk memulihkan keadaan saat ini. Apakah mungkin bagi dirinya untuk mengabaikan keadaan yang sedang menimpa keluarganya?
Anggara melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan. Sang bunda sedang menerima sebuah telepon penting sambil sarapan. Anggara juga melihat sepertinya kedua adiknya sudah berangkat sekolah.
Anggara hanya duduk saja di samping sang bunda tanpa berkata apa-apa. Anggara meneguk air putih yang tersedia di meja makan. Dia tidak sedang bernafsu untuk sarapan pagi ini.
"Nak, kamu ada acara kemana hari ini?"tanya sang bunda kepada anggara.
"Tidak kemana-mana bunda,"jawab Anggara.
"Jangan lupa nanti siang ada jadwal pemeriksaan rutin oleh dokter Samsu untuk mengecek bekas luka-lukamu,"pesan sang bunda sambil menata tas kerja yang ada di pangkuannya.
"Ya, bunda, nanti aku akan pergi dengan Nickolas,"sahut Angga.
"Baiklah, nak, maaf bunda tidak bisa mengantarkanmu. Bunda hari ini banyak agenda rapat dengan beberapa klien yang diperkenalkan oleh ayah Nickolas,"kata bunda Maya yang juga merasa sedih karena dia tidak bisa mengurus secara langsung sang putra.
__ADS_1
"Tidak masalah bunda, aku baik-baik saja,"kata Anggara agar sang bunda merasa tenang.
"Apakah kamu akan mengikuti jejak tari untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri?"tanya sang bunda merasa khawatir karena Anggara tidak pernah membicarakan hal itu lagi sejak kepergian sang ayah.
Sedangkan Anggara tidak menyangka jika sang bunda akan menanyakan hal tersebut kepada dirinya. Anggara kira sang bunda sudah tidak memikirkan tentang keinginannya dulu.
Anggara menggelengkan kepalanya sebagai bentuk jawaban secara gestur atas pertanyaan sang bunda barusan.
"Tidak bunda, aku akan melanjutkan pendidikan di sini saja. Aku juga ingin membantu bunda mengurus perusahaan di bawah bimbingan dari om Bhakti,"ujar Angga yang sudah memantapkan hatinya untuk membantu bundanya mengurus perusahaan daripada melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
"Tapi, nak, jika kamu memang ingin menyusul tari melanjutkan studi di sana. Bunda juga mampu membiayainya. Bukankah kamu sudah lama ingin melanjutkan pendidikan di sana,"tawar sang bunda karena dia tahu jika Anggara sangat memimpikan hal itu sejak dulu.
"Tidak bunda, aku bisa melanjutkan pendidikan itu nanti. Sekarang aku ingin fokus kepada urusan di sini,"kata Anggara dengan tegas. Dia sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia dengan belajar menguasai bisnis keluarga di bawah bimbingan ayah Nickolas, om Bhakti.
"Kedua adik mu sudah berangkat sekolah lebih dulu bersama dengan Abimanyu,"ujar sang bunda bersiap ke kantor. Anggara sudah menduga akan hal itu. Abimanyu selaku yang terdepan mengurusi kedua adik perempuannya.
"Kamu jangan lupa dengan jadwal kontrolnya ya,"pesan bunda Maya kembali sebelum berangkat ke kantor. Anggara mengangguk menjawab pesan dari sang bunda.
"Jangan lupa makan yang banyak,"ucap bunda Maya sekali lagi sebelum benar-benar menghilang dari ruang makan.
"Iya bunda, aku mengerti,"sahut Anggara paham dengan kekhawatiran sang bunda.
__ADS_1
"Baiklah, nak, sampai bertemu nanti,"pamit bunda Maya kepada putra tertuanya.
"Jaga kondisi, bunda,"pesan balik dari Anggara. Bunda Maya hanya mengacungkan sebelah tangannya ke arah Anggara.
Kini Anggara hanya duduk seorang diri di depan meja makan. Sejak sang bunda sibuk dengan pekerjaannya di kantor sudah jarang sekali mereka bisa berkumpul bersama sekarang. Anggara ingin sekali dirinya bisa segera mengambil alih posisi di perusahaan.
Anggara ingin bisa membantu sang bunda mengurusi keuangan yang sedang krisis di perusahaan.
"Tuan muda, ingin sarapan apa pagi ini?"tanya bik nah, dia adalah pembantu yang sudah lama tinggal di rumah ini. Dan bik nah juga yang masih mau bertahan bekerja di rumah keluarga Handoko meskipun kini keuangan keluarga tersebut sedang bermasalah.
"Tolong buatkan nasi goreng dengan telur ceplok saja bik,"sahut Anggara. Sekarang dia ingin berusaha makan yang sederhana saja. Dia harus mulai berhemat dimulai dari dirinya sendiri.
"Baik, tuan muda,"jawab bik nah kemudian bergegas kembali ke dapur untuk mempersiapkan makanan yang diinginkan oleh putra majikannya tersebut.
Tari, maaf, aku tidak bisa memenuhi janji kita dulu untuk bersama-sama menempuh pendidikan di luar. Aku berharap kamu tidak akan marah dengan apa yang telah aku ingkari ini.
***
Iklan Author
Budayakan like setelah membaca dan tulis komentar kalian sebanyak-banyaknya untuk penyemangat bagi Author.
__ADS_1
Terimakasih 😄