
Pagi itu Nickolas bangun dengan langkah gontai. Bhakti yang melihat putra tunggalnya itu lesu segera menegurnya. Tidak biasanya nickolas bertingkah seperti itu.
"Hei, boy, kamu kenapa?"tanya Bhakti saat melihat wajah Nickolas yang tampak lesu dan tidak bersemangat tersebut.
"Tidak yah, aku hanya sedang tidak enak badan saja,"ujar Nickolas mengelak dari pertanyaan sang ayah. Padahal Bhakti sendiri tahu kalau bukan itu penyebab putranya tampak tidak bersemangat seperti ini.
"Baiklah, ayah akan berangkat ke kantor dulu. Kamu jaga kondisimu, kalau ada apa-apa segera ke dokter saja,"pesan Bhakti kepada putra semata wayangnya tersebut.
"Baik, yah,"jawab nickolas sambil berjalan mengantarkan sang ayah yang akan berangkat bekerja. Bhakti mengendarai mobilnya sendirian. Nickolas menutup kembali pintu gerbang rumahnya setelah keberangkatan sang ayah.
Nickolas memang merasa malas sekali untuk bepergian hari ini. Meksipun dalam hati kecilnya dia sebenarnya ingin sekali pergi ke bandara untuk melihat kepergiannya yang entah kapan akan kembali.
Tari sudah mengabari jam keberangkatan pesawat yang akan dia tumpangi. Akan tetapi, Nickolas tidak berniat untuk datang ikut mengantarkan keberangkatan tari. Sudah ada Anggara di sana yang akan menemani tari. Jadi, untuk apa lagi, Nickolas harus ikut berada di sana. Dirinya justru tidak akan mampu melihat kepergian Hastari Anugrah.
"Aku berangkat besok,"ujar tari di saluran telepon.
Nickolas hanya diam dan tidak menjawab apapun. Dia sendiri bingung harus berkata apa kepada tari. Perasaanya lagi-lagi harus berperang antara cinta dan persahabatan.
"Aku hanya memberitahu saja, jika saja kamu bisa...datang,"kata tari kembali.
Terdengar nada berharap di akhir ucapannya. Akan tetapi Nickolas hanya diam sambil memejamkan matanya. Dia mengerti apa maksud dari tari mengatakan hal tersebut.
"Kamu...bisa datang?"tanya tari kembali memberanikan dirinya untuk bertanya. Meskipun dia sendiri sudah menahan dirinya agar tidak meledakkan air mata. Tari sudah mempersiapkan dengan apapun jawaban dari Nickolas nantinya.
Sedari tadi Nickolas hanya terdiam dan tidak berkomentar apapun. Itu saja sebenarnya sudah membuat diri tari merasa sedih. Tari merasa dirinya tidak dianggap oleh Nickolas dengan kediamannya tersebut.
Nickolas sendiri juga mengerti, tari sengaja bertanya untuk mendengarkan suaranya. Tari juga berharap agar dirinya bisa datang untuk mengantarkannya ke bandara. Nickolas menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Hastari Anugrah.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu jawabannya,"jawab nickolas singkat.
Persis sudah seperti apa yang ada di benak tari. Jawaban Nickolas tentu akan seperti itu.
Tari hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Nickolas. Air mata yang menggenang itupun sudah langsung membasahi pipinya. Jawaban yang seketika melukai hati seorang Hastari Anugrah itu dengan tega telah diloloskan dari mulut Nickolas.
"Ba....baiklah...aku ti...dak memaksamu, sampai jumpa..."pamit tari seketika lalu langsung menutup saluran teleponnya sebelum Nickolas membalas salam terakhirnya.
Tari berusaha menenangkan dirinya sendiri tetapi rasa sakit di hatinya itu tetap tidak bisa dia hentikan. Air mata terus mengucur deras dari pelupuk matanya. Hastari Anugrah tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia begitu menyayangi seorang Nickolas.
Di seberang sana, Nickolas terduduk sambil menundukkan kepalanya. Dia tahu kalau saat ini dia juga sedang menyakiti hatinya sendiri. Dia tahu kalau di sana pasti Tari sedang menangis karena perbuatannya barusan. Tetapi Nickolas juga tahu bahwa apa yang dia lakukan saat ini memang benar adanya. Tari adalah kekasih dari Anggara Handoko, teman baiknya. Bagaimana dia bisa menikam Anggara dengan merebut tari dari sisinya.
Nickolas tidak memiliki apapun untuk bisa menyandingkan dirinya dengan seorang Hastari Anugrah yang sejak lahir telah bergelimang harta. Nickolas tidak memiliki kekuatan untuk meraih diri Tari dengan apa yang dia miliki saat ini.
Nickolas memukul-mukul tembok yang ada dihadapannya. Sampai tidak terasa tangannya menjadi terluka karenanya.
"Maaf, tari, bukan maksudku untuk melukaimu. Tetapi aku bukan siapa-siapa saat ini. Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Aku sungguh tidak berdaya...."ucap Nickolas dengan penuh penyesalan dengan apa yang selama ini pernah dia lakukan kepada Hastari Anugrah.
**
Hastari Anugrah berangkat ke bandara diantar oleh Anggara dan Abimanyu. Ayahnya, Arki Anugrah sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak bisa mengantarkan putri semata wayangnya tersebut.
Anggara membantu membawakan koper milik tari sampai ke tempat terakhir pengantar.
Anggara dengan berat hati harus memberikan koper milik tari tersebut. Dia melihat gadis yang dia sukai itu untuk terakhir kalinya sebelum dia tinggal di luar negeri.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa menemani di sana,"ujar Anggara kepada tari yang disambut sebuah senyuman oleh gadis manis tersebut.
"Jaga dirimu di sana ya,"kata Anggara berpesan dengan berat hati sambil mengelus puncak kepala gadis yang dicintainya tersebut.
"Iya kakak,"sahut tari.
"Sering-seringlah memberi kabar ya tari,"sahut abimanyu yang sebenarnya perkataannya itu dia tujukan untuk Anggara. Karena dia tahu Anggara pasti merindukan sosok gadis manis tersebut.
"Iya pasti kak,"sahut tari sambil tersenyum dan menarik pegangan kopernya untuk dia tarik masuk ke dalam ruang tunggu.
"Kabari kalau sudah sampai ya,"pesan Anggara kembali. Dan lagi-lagi tari hanya menganggukkan kepalanya. Tari mulai berjalan dan sebentar-sebentar dia menoleh ke belakang. Anggara hanya melambaikan tangannya kepada sikap tari yang seolah-olah merasa berat untuk pergi.
Akan tetapi sebenarnya tari sedang mencari-cari sosok yang dia harapkan ikut mengantarkan dirinya. Dan berkali-kali dirinya menoleh ke belakang, tidak dia temukan sosok yang dia harapkan tersebut.
Abimanyu yang mengerti arti sikap tari sebenarnya dia juga mengetahui siapa yang tari cari sedari tadi. Tari pasti sedang mencari sosok Nickolas yang tidak hadir saat itu mengantarkan dirinya. Abimanyu mengerti hubungan diantara keduanya tersebut. Namun, Abimanyu tidak mau berkata apa-apa untuk menghormati persahabatan diantara mereka.
Tari memalingkan wajahnya dan berjalan lurus ke arah ruang tunggu setelah petugas mengecek tiket dan paspor miliknya. Tari menoleh untuk terakhir kalinya kepada Anggara dan Abimanyu sebelum dia benar-benar masuk ke dalam. Mata tari sempat menyebar ke sekeliling kedua orang tersebut. Tetapi tetap saja dia tidak mendapatkan apa-apa. Tari tersenyum dalam tangisnya, dia tahu apa yang dia harapkan sia-sia belaka.
Tari menarik pegangan kopernya dan berjalan masuk ke dalam dengan hati yang sedih. Air mata itu sudah menetes begitu saja begitu dirinya berpaling.
Nickolas melihat dari kejauhan tari yang sudah masuk ke dalam ruang tunggu. Hati Nickolas juga merasa sedih melihat tari yang tampak mencari-cari keberadaan dirinya.
"Maaf, maaf...maafkan aku,"gumam Nickolas dengan nada getir.
***
Iklan Author
__ADS_1
Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 💞