
"Jika bumi adalah seorang ibu, maka sungai adalah nadinya."
Amit Kalantri
Castiel menggoyangkan tubuhnya yang terlelap sesaat. Matanya mengerjap, mengumpulkan seluruh nyawa yang terbang terbawa gegana.
"Syha, bangun", tepukan Castiel membangunkannya dari kesadaran.
"Hah dimana ini?", ucapnya sedikit bingung
Castiel tertawa kecil "turun dan lihatlah"
Syha mengucek matanya, efek kantuk sepanjang perjalanan. Sesaat menuruni mobil, ia tidak dapat beralih mengucapkan rasa takjub pada keindahan yang membius dihadapannya.
Sungai Neva mengalir dengan riak, kapal-kapal layar sedang berlabuh di dermaga, Trinity Bridge tampak berdiri megah, gedung-gedung pencakar membentang dengan lebar. Sekumpulan khayalak sedang bercengkrama ria sesama. Ia merasakan tertusuk hawa sejuk pada sekujur raga karena dinginnya malam.
Giginya saling bergemeratuk, tubuhnya sangat mengigil karena gaunnya yang tidak menutupi tubuhnya secara keseluruhan. Castiel membalutnya dengan mantel, seketika kehangatan menyambut tubuhnya.
"Aku selalu kesini jika ingin menghibur diri"
Syha membalas dengan anggukan, Castiel mengulum bibirnya.
"Ah maaf sudah menyekapmu kesini, apa kau keberatan?"
"Tidak sama sekali kak", Syha menggelengkan kepalanya.
"Hanya ini kenangan yang bisa aku bagikan bersamamu, kuharap kau berbahagia bersama Alon setelah ini"
Syha mengangkat senyumannya, memandang ke arah Castiel dengan ucapan terima kasih. Terlihat kesedihan mendalam terpancar dari kedua mata calon kakak ipar nya itu. Syha merasa canggung dengan perilaku Castiel, dalam sedetik dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Pria itu mewarisi gen Appanya yang berambut pirang dan bermata biru, selayaknya casanova tampan yang membuai ribuan kaum hawa. Hanya saja, perawakannya itu bertolak belakang dengan masa lalu nya yang sangat bersih dari segala hal yang berbau wanita.
"Tunggu sebentar ya", Castiel berlari menjauh dari mobil, menghampiri sebuah cafe terdekat untuk membeli sesuatu. Sesampainya disana kasir menanyakan pesanan, pria itu menepuk jidatnya.
Ia berlari kembali dengan nafas nya yang terengah-engah
"Kau suka kopi apa?"
Syha tampak berpikir "Cappucino?"
Castiel berlari kembali. Melihat tingkah calon kakak iparnya itu membuatnya tersenyum tipis
°•°
Syha tertawa dengan lelucon dari Castiel, suasana hatinya merasa jauh lebih baik dari yang dia harapkan. Ia melepaskan semua beban hidupnya dalam waktu singkat. Ia berterima kasih kepada tuhan karena sudah mempertemukannya dengan seseorang yang bisa ia anggap sebagai keluarga sepenuhnya.
Castiel memandang jam tangannya, pukul 12 malam.
"Sudah larut, ayo pulang". Castiel meneguk kopi yang tersisa.
Saat hendak bergegas, terdengar teriakan dari keramaian sekitar. Trinity bridge terbelah menjadi dua, membentang dengan agungnya menyentuh ketinggian.
__ADS_1
"Hari ini jembatan terbelah lebih awal ya?", Castiel melirik ke arah Syha, matanya tak bisa berhenti memandang setiap helaian rambut wanita itu yang tertiup angin.
Syha tersenyum lebar sepanjang jembatan itu terbelah. Castiel menghela nafas, Mereka menyaksikan pemandangan luar biasa itu sesaat sebelum akhirnya memasuki mobil dan berangkat menuju hotel.
Syha berpamitan kepada Castiel, ia tak sempat mengucapkan sepatah kata sebelum berpisah. Karena Castiel sudah dihubungi oleh Amma, pria itu hanya bisa melambaikan tangannya sebelum ia melaju pergi meninggalkan parkiran.
Syha menyeret langkahnya menuju lift, namun langkahnya terhenti memandang penampakan yang tak jauh dari sana. Syha mengabaikan dan terus berjalan, sesaat kemudian genggaman tangan menahan lengannya. Syha memberontak dan menepis tangan itu
Zein berlutut dihadapannya, pria itu rela terbang jauh ke negara lain hanya demi menemui wanita dambaan hatinya. Ia menanyakan jadwal penerbangan Syha dari asisten dan alamat tempat tinggal nya. Tentu saja mudah bagi Zein mendapatkan informasi tersebut, karena asisten itu mengira mereka masih berhubungan.
"kamu benar-benar meninggalkanku?", Zein baru saja mendengar kabar pernikahan Syha dari Hannah.
Syha mendorong dada bidang lelaki itu dengan keras.
"Jangan ganggu aku", 3 kata yang berhasil membuat Zein tak berkutik, ia terdiam sesaat dari tempatnya berdiri.
"Aku selalu menunggu mu, kau benar-benar akan bercerai dengannya setelah 3 tahun kan". Zein terus bernegoisasi kepada nya.
Syha membalikkan badan, ia dekati pria itu. Mengambil telapak tangan Zein, meletakkan sebuah cincin berwarna rose gold diatas telapak tangan pria itu, cincin itu sudah ia lepas sejak berhubungan dengan Alon. Awalnya ia ingin melempar begitu saja cincin ini, hanya saja ia tahu kalau benda ini sangat bernilai dan berharga, Syha sangat berterima kasih kepada Zein yang sudah setia bersamanya bertahun-tahun lamanya.
"Terima kasih"
Zein meneteskan air matanya. Entah apa kesalahan yang ia perbuat, sampai Syha harus meninggalkannya seperti ini.
Zein langsung saja mendekap Syha dalam isak tangis keduanya yang tidak dapat terbendung "Bukankah kau sangat jahat disini Syha?"
Urat mata yang memerah memandang pria itu dengan nanar "bermain belakang dengan saudari angkatku, jauh lebih kejam. Bukankah sejak awal kau bilang itu kecelakaan? Tapi kenapa kau perbuat kesalahan yang sama?"
"Kamu dengar kan suaranya? Pria yang kamu cintai jauh lebih mencintaiku Syha. Dia sedang menikmati malamnya bersamaku"
Syha memanggil nama Zein dari seberang sana, tapi Hannah langsung mematikan panggilan.
"Sudah kukatakan, Hannah hanya ingin menjauhkan mu dariku. Aku tidak pernah bermain belakang, aku selalu mencintai mu". Zein membelai surainya dengan lembut, terdapat keseriusan dari kedua netra pria itu saat menatapnya.
Dua perasaan berkecamuk dengan luar biasa, ia mempercayai jika Zein tidak mungkin bermain belakang, ia menaruh dendam hebat yang akan mengorek habis kehidupan Hannah karena memainkan perasaan nya.
Jika kakak angkatnya mencoba mematik timbulnya api, ia yang akan membumi hanguskan itu semua. Jika Hannah berani mengecam nya dengan cara kotor seperti ini, maka ia akan memanfaatkan Alon untuk membinasakan Hannah dengan cara yang jauh lebih keras.
Zein kembali meletakkan cincin itu di telapak tangannya "anggap lah cincin ini sekarang menjadi simbol perjanjian kita berdua, kalau kau tetap lah milikku meskipun kita tidak bersatu untuk saat ini"
Syha kali ini terisak hebat, bahunya tampak naik turun menahan kesesakan itu. Kemudian ia menengadah memandang wajah Zein dengan bekas memar di dagu, bibir, dan pelipis yang sudah cukup pudar.
"Apa kau pernah dihajar?", tanya Syha
Zein mengusap wajahnya "tidak, aku ikut boxing saat kita masih di London".
Terpancar tatapan yang amat mengkhawatirkan dari wanita itu "maaf karena tidak mempercayai mu, berarti panggilan itu tidak benar?"
Zein tersenyum tipis "itu tidak benar, tidak perlu khawatir, Aku mencintaimu", ujar pria itu
"Aku lebih mencintaimu", jawab Syha
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan, melepaskan rindu yang terpendam
"Bagaimana dengan anak ini? Aku ragu jika kehamilan ku datang dari Alon"
Zein terperanjat "bagaimana bisa kau bilang begitu?" tanyanya
"Bukannya kau menyetubuhi ku juga?", Syha menatap dengan bingung, kenapa pria ini tampak sangat terkejut seolah ia baru tahu masalah ini.
"Bisa saja", jawab Zein "jika itu anak Alon berikan saja anak itu kepadanya, jika itu anak ku bawa lah dia bersamamu"
"Baiklah", jawab Syha mengerti
Setelah cukup lama adegan drama terjadi, Syha berpamitan dan melenggangkan kaki pergi menaiki lantai 16, membuka pintu kamar, melemparkan mantel dan sepatunya kemana saja, tidak mempedulikan keadaan kamar yang berantakan karena ulahnya.
Ia hanya ingin menutup mata mengistirahatkan dirinya dari cerita yang panjang. Walau akhirnya ia menangis terisak, merekam ulang kejadian yang baru saja menimpanya hari ini.
Kenapa ia harus melalui ini dengan rasa sakit yang tidak bisa di ekspresikan, kesedihan terus meneror sepanjang ia bernafas di bumi ini. Ia hanya ingin semua ini bisa terselesaikan, walau tidak dalam waktu dekat.
❁
Di sisi lain, Zein membanting tubuhnya di kursi pengemudi. Menyeka air mata dengan dengusan yang teramat mengesalkan "akh, ribet sekali. Alay kayak di sinetron aja"
Pria itu menelpon kekasihnya melalui layar touchscreen di mobilnya, suara manis nan manja menyambut Zein dengan hangat.
"Jadi gmana sayang? Apa berhasil?" ucap Hannah dengan nada yang sangat antusias
Zein merogoh sebatang cerutu, membakarnya, lalu menghirup benda panjang itu dengan kenikmatan "Menyenangkan juga, membuatnya kembali jatuh cinta padaku"
Hannah tertawa gelak disana "Dia bodoh banget, mudah sekali terpedaya olehmu"
"Kalau kau lihat ekspresi nya tadi, menjijikkan sekali"
"apa dia percaya panggilan itu hanya rekayasa dariku", tanya Hannah
"ya, dia pikir itu rekayasa padahal itu beneran hah gadis bodoh", celetuk Alon dengan tawa kecil
"Dia juga sebegitu mudah nya percaya kalau kejadian di kampus hanya karena kecelakaan, padahal aku sangat panik karena kita keciduk". Syha bukanlah lawan yang sebanding bagi Hannah, adik angkatnya itu gampang untuk dikendalikan.
"Aku juga sama, tapi dia malah memaafkanku"
"Desak Alon untuk menceraikan pelakor itu secepat mungkin, kau juga harus terus hadir di sisinya"
"Akan aku lakukan apapun untukmu sayang"
Hannah menyeringai "Dia akan terus bergantung denganmu, lihatlah akan kita hancurkan dia pelan-pelan". Wanita itu tampak sangat puas menarik ulur perasaan Syha.
Ia pasti akan sangat tertekan dan bingung. Akan mudah bagi Hannah membuat Janin yang dikandung akan keguguran. Lihatlah saja Adle pasti akan menyesal menerima wanita yang tidak bisa melahirkan pewaris.
Ia belum ingin bermain kasar, bermain dari dalam tampak lumayan menghiburkan.
"Kejam tapi aku suka"
__ADS_1