Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 8 USIL


__ADS_3

Phone chat


@Alon


"jam makan siang nanti ku jemput" 10.15


"Jangan pergi kemana-mana, sebelum aku pulang! " 10.16


Syha mengabaikan pesan Alon dibalik ponselnya, mobil melaju kembali ke mansion. Sesampainya di kediaman Syha menyusun barang bawaannya. Ia baru saja pulang dari swalayan membeli bahan-bahan makanan.


"Permisi nona, saya Nanny. Kenapa anda membeli kebutuhan dapur?," seorang wanita paruh baya menghampiri nya ekspresi ketakutan menyelimuti wajah yang sudah menua. Ia telah membiarkan istri tuannya membeli keperluan dapur yang sudah menjadi tugasnya.


"Tidak apa, aku ingin memasak makan siangku nanti," jawab wanita itu sembari mengeluarkan beberapa telur, sayur, dan daging.


Nanny tampak mencegahnya,"biar saya yang masakkan buat nona ya."


"Tidak ush," tolak Syha, merasa iba jika seorang wanita tua harus mengurusi segala keperluan nya. "Aku bisa sendiri."


Nanny merunduk, tangan yang terlipat didepan paha diusap-usapnya untuk menghilangkan rasa cemas, "Aduh bagaimana jika tuan Alon tau," tanya Nanny dengan suara yang sedikit bergetar.


"Tidak apa nanti akan ku jelaskan kepadanya," jawab Syha sembari merapikan belanjaannya.


Nanny mengawasi wanita itu mengemasi bahan lauk. Takut terjadi sesuatu karena ini adalah masa kehamilan, ia harus setia menemani istri majikannya dimanapun berada.


"Biar saya bantu kemas nona," tawar Nanny meraih bungkusan yang terselip pada tas belanja, menyusunnya didalam kabinet.


Syha tersenyum mengangguk "Terima kasih, aku juga ga tau mau taruh dimana bahan makanan nya."


Syha terbiasa melakukan ini semenjak SMA, dilayani oleh orang lain terkesan aneh baginya. Meski Syha anak angkat dari Eden yang notabene sebagai konglomerat kelas atas, hidupnya sangat terlantar karena ayah angkatnya itu membuangnya ke London. Ia adalah wanita yang jauh dari kata di agungkan dengan gelimangan harta.


Setelah semuanya tersusun rapi, Syha berjalan di sekitar taman untuk menghirup udara segar.


Sembari mengusap perut wanita itu bersenandung, "walau ibu hanya sebentar saja bersamamu, kamu akan hidup bahagia disini," tuturnya sembari tersenyum "Kamu tidak perlu merasakan hidup kesusahan seperti yang ibu alami."


Syha mengingat bagaimana Eden membuangnya dari Sankt Peterburg ke London tanpa rasa belas kasih, di saat itu usianya masih terbilang remaja. Demi melanjutkan hidup, dirinya bekerja paruh waktu di swalayan ikan. Meski begitu Tuhan tetap berbaik hati kepadanya, ia tetap bisa melanjutkan sekolah meski finansial nya bermasalah.


Waktu berlalu hingga jam 12 siang sembari menunggu Alon, Syha kembali ke dapur memasak omelet dengan campuran daging dan sayuran, makanan favoritnya selama di indekost.


Baru saja 5 menit berlalu, makhluk yang dibicarakan sudah menampakkan batang hidungnya. Melepaskan sepatu fan toffel dan berlalu ke kamar, lalu dia turun kembali ke dapur dengan dasi yang sedikit berantakan dikerah.


'Siapa yang masak di jam segini? bukankah Nanny sudah kusuruh tidak perlu menyiapkan makan siang?'


Aroma makanan menyeruak menusuk laluan pernafasan, Alon lekas turun dan memandang Syha yang sibuk memasak, suara lantangnya meneriaki pembantu yang sudah ia amanahi untuk mengawasi istrinya "NANNY!"


Syha terkejut dengan teriakan Alon yang menggema seisi rumah.


Tergopoh-gopoh Wanita paruh baya itu berlari menghampiri tuannya, mimik wajahnya menggambarkan ketakutan. Dengan suara terbata dia menyahut "i-ya tuan."


"Bukankah sudah kubilang jangan sampai dia melakukan pekerjaan rumah?!," sembur Alon seraya mengancungkan jari. Bagaimana bisa istrinya itu memasak sedangkan pelayan dirumah ini membiarkan nya.


Nanny merunduk ketakutan, Syha yang tidak menerima Alon berteriak dengan kasar, lekas angkat suara "kau tidak perlu memakinya seperti itu," bela Syha


Alon melirik "kau kira aku membayar pelayan membiarkan nya leha-leha seperti ini?" Alon mendorong wanita tua itu hingga tersungkur ke lantai, "kau angkat kaki dari rumah ini!"


Syha berlari menghampiri, memeluk kedua bahu lemah itu untuk berdiri "Nanny tidak apa-apa kan?"


Nanny menggeleng "saya baik-baik saja nona."


Tatapan tajam ia alihkan pada sesosok yang berdiri dengan angkuh tanpa merasa bersalah "Ternyata kau seperti ini ya? Dasar pria kejam!"


Alon mendelik ketus "kau mau mengataiku bagaimana pun aku tidak peduli, pergilah ke atas dan ganti bajumu" titah nya tanpa perasaan.


Syha membalas dengan bersikap acuh, Alon mengusap wajahnya gusar "apa kau mau Nanny dipecat karena mu?," tekan pria itu.

__ADS_1


Syha beranjak berdiri, menghentakkan kakinya menaiki tangga untuk bergegas ke kamar.


'Dasar pria aneh, kadang baik, kadang jaim, kadang kejam susah sekali menebak sikapnya' Syha ngerundel seorang diri.


Setelah selesai wanita itu menuruni tangga dan mendapati Alon sedang berbicara dengan seseorang dibalik telpon.


"Kau sudah menemukannya?," Alon masih berlarut dalam perbincangan, pria itu melirik kedatangannya "sudah dulu," ia lalu mematikan panggilan.


Pria itu menelisik penampilan istrinya, sekilas Alon seakan tersihir dengan keindahan yang terpaut "Kenapa kau harus berdandan cantik begitu? Hapus make up mu."


Syha memutar bola matanya, kedua tangan terlipat didepan dada "hei tuan bawel, aku berdandan untuk diriku sendiri. Bukan untukmu, dan bukan untuk orang lain."


"Kalau untuk dirimu lalu kenapa kau memperlihatkan dandanan mu diluar sana? bukankah cukup kau saja yang tahu?"


Syha membisu, tidak berminat untuk membalas.


"Memangnya kau lupa dengan perjanjian yang kuberikan padamu?"


Syha menatap bingung "apa?"


"Bersikaplah layaknya suami istri selama pernikahan berlangsung" papar pria itu.


"Ya terus aku harus apa?," pertanyaan Syha membuat Alon sedikit frustasi, apa sebegitu tidak pahamnya arah yang dia maksud?.


"Tugasmu sebagai istri adalah menuruti perintah suami."


Lelah melanjutkan perdebatan Syha menuju wastafel cuci piring, membasuh wajahnya dan menyeka tetesan air dengan kain disana.


"Sudahkan, puas?" Tanpa merespon Alon melangkahkan kakinya keluar menuju bagasi. Syha mengikuti pria itu melangkahkan kakinya beriringan.



Syha merapikan gaun yang terbalut ditubuhnya, rambut yang sedikit berantakan ia sanggul agar tidak terlihat kucel. Melangkah keluar sembari menatap seorang pria yang terduduk manis dengan kaki yang saling bersilangan.


"Ga cocok, ganti yang lain" Alon terus memerintahkan pekerja untuk menggonta-ganti tenue yang dia pakai.


Alon memicingkan matanya "minimal yang keluar dari mulut mu itu ucapan terima kasih," gumamnya.


"Ya ya terima kasih", Jawab Syha dengan nada malas


"Permisi pak, mungkin gaun ini akan sangat cocok untuk istri anda", sebuah lace dress yang terlihat feminim dengan kain brokat yang menawan mencuri perhatian Alon.


Alon melirik ke arahnya, tatapannya bergantian memandang ke arah dress secara bersamaan.


"Kenapa kau menatap ku begitu? Kau meminta ku mengenakannya lagi?," keluh wanita itu dengan nada jengkel.


Alon mengulum bibir nya "tidak usah, aku tau ini akan cocok denganmu," ujarnya dengan enteng "bungkus yang ini."


Syha ternganga syok "jadi sedari tadi aku bergonta ganti, kau hanya memilih gaun ini?" sungut wanita itu.


Alon mendengus "Ya, lagian semua gaun itu jelek. Tidak cocok untukmu" desis nya sembari menyodorkan tote bag itu kepada Adam.


"What are you doing in my boutique, sweetie" wanita yang kerap disapa Darling menyapa Alon dengan senyuman manis. Tangan nya lihai memijit otot kekar milik pria itu.


"Membeli sesuatu darling," jawab Alon singkat.


"Kenapa kau tidak bilang ingin kesini? apa ini untuk Amma? seharusnya kau menelpon ku." Godanya dengan kelipan mata.


Syha dengan hentakan jengkel kembali ke fitting room bergegas berganti pakaian, dan keluar dari butik.


'Oh my Darling, Gross!' cetus Syha dengan sungutan.


"Ehm pak Alon nona Rasyhanda pergi barusan, itu perintah dari bapak ya?" Wanita itu baru saja berkata kepadanya kalau dia sudah mendapatkan izin untuk keluar.

__ADS_1


"Apa?" Selintas Alon menyadari jika istrinya tidak lagi berada di butik, ia lekas berlari keluar. Mengabaikan panggilan darling yang mengajak nya berbincang.


Setelah mengitari beberapa jengkal, Alon menemukan keberadaan Syha. Menyusul beriringan menyamakan langkahnya bersama wanita itu.


"Kenapa kau pergi tadi? apa aku berbuat salah?"


Syha tidak merespon, pandangannya tetap fokus kedepan. Menghiraukan Alon yang menanti jawaban darinya.


Alon menarik nafas, mengalihkan topik pembicaraan "Kau mau makan apa?"


Ujung mata Syha sekilas melirik "Terserah," jawab nya singkat.


Alon menoleh ke arah adam "cari nama makanan 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙧𝙖𝙝."


Adam merogoh ponselnya, melakukan pencarian di browsing "Tidak ada nama ataupun tempat restoran seperti itu," jelas Adam seraya tersenyum datar.


Alon mengangkat kedua alisnya "dengarkan? Tidak ada nama makanan TERSERAH," Alon kembali menekankan "sebut makanan yang lain."


"Aku tidak ingin makan kalau gitu," tukas Syha cepat.


Alon menghembuskan nafas dengan kasar "Adam jelaskan apa dampak dari ibu hamil jika mereka tidak menjaga pola makan," pernyataan Alon membuat Syha terbelalak.


Adam menarik nafas sekuat tenaga, bersiap mengeluarkan beribu-ribu analogi geofisika kimia biologi yang tersimpan di penyimpanan otaknya, "menurut pendapat Profesor, doktor, cumlaude, jika ibu hamil tidak mengatur pola makan maka dampak yang dapat terjadi pertama, ibu hamil akan mudah mengalami keletihan karena kurangnya asupan harian yang tidak terpenuhi maka xxxxxx-"


Sebelum asisten kesayangan itu mengeluarkan alibi yang memusingkan, Syha lekas menyela "aku ingin pie stroberi."


"Bilang dari awal saja susah," desis Alon, ia lalu menawarkan lengannya untuk digandeng, "pegang."


"Ga mau!," tolak Syha, untuk apa juga ia harus bersandiwara ditempat publik seperti ini.


"Tebusan mu mau ku tambah?"


Syha mendecak kesal, dengan keterpaksaan ia merangkul lengan itu, membawa setiap langkah nya mendekati sebuah toko kue.


Saat Adam membuka pintu untuk mereka, bersamaan itu seorang sejoli keluar dari toko. perasaan nya merasakan hawa yang berbeda, jantung nya berdegup dengan kencang, ia menajamkan penglihatannya memastikan kalau ia tidak salah melihat.Tapi punggung itu sudah jauh berlalu termakan lalu lalang pengunjung.


"Apa kau tidak ingin masuk?," pernyataan Alon membuyarkan lamunannya sesaat, Syha lekas melangkahkan kakinya kembali.


Disaat wanita itu sibuk memilih, Adam membisikkan sesuatu "Nona Syha pasti sangat merindukan suaminya." Pria itu melirik mencermati ekspresi Alon yang terlihat sendu "Padahal Zein Gerald sedang berada di London, bukan kah nona membutuhkan kepastian mengenai kabar suaminya?"


Alon yang sibuk terpaku menatap wanita itu, segera membalas "untuk sementara ini, jangan sampai mereka bertemu terlebih dahulu."


"Syha tidak boleh tahu jika Zein masih hidup."



Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, Alon melonggarkan dasinya dan menghempaskan tubuh diatas sofa, sedangkan Syha tampak langsung berhambur menuju kamar.


"Bagaimana dengan kamarku?," tanya wanita itu sedikit berteriak dari setengah lantai atas.


"Disebelahnya," ujar Alon, menuangkan teko berisi air putih ke dalam gelas, ia meneguknya hingga tandas.


Syha menyeret koper yang tersimpan di kamar Alon untuk beralih ke kamar sebelah. Mendorong pintu kamar untuk terbuka, Syha melangkah masuk. Nuansa animasi poriro, wallpaper merah jambu, dan lampu kelap-kelip yang terlihat norak.


Syha menghentakkan koper, kendur di pelipis seakan ingin meledak "ALON!," teriaknya menghampiri sang suami yang sedang asik melihat saluran bola di televisi.


Wanita itu berdiri dengan berkecak pinggang, menatap manik mata Alon dengan rasa murka.


"KAU!," geram Syha "kau kira aku bocah 10 tahun hah?"


Memangnya pria angkuh ini saja yang bisa mengamuk, dirinya pun juga bisa jauh lebih ganas dari Alon.


"Bener kan? Lagian warna itu cocok denganmu," bela Alon, pria itu sibuk meneguk kaleng soda. Syha merampas kaleng itu dan melemparkan nya ke lantai.

__ADS_1


Bentakan kasar menyelubungi ruangan "Aku tidak akan tidur dikamar itu!" Syha berlalu dengan menghentakkan kaki "Aku akan tidur dikamarmu, sampai kau merubah nya!"


Terdengar dentuman yang sangat keras dari atas sana, pasti istrinya itu baru saja membanting pintu dengan luar binasa.


__ADS_2