
..."Aku lebih baik hidup menderita dengan suamiku dari pada hidup penuh kedustaan bersamamu. Setidaknya dia sudah bersikap jujur kalau dia tidak mencintai ku ketimbang kau yang menyayangi hanya karena kasihan padaku."...
...❁...
Deruan nafas menghela dengan berat, melempar jauh pada pemandangan yang mencuri titik fokus matanya. Sekilas alisnya bertaut melihat gambaran sesosok dayang yang sedia melayani tuannya.
Syha tengah berdiri dengan jenuh disebalik jendela yang tersingkap kain-kain perdah yang menggelantung mewah.
"Nona, tuan Alon sudah sampai di kediaman"
Syha hanya menganggut, melangkah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga yang berhasil menyendat pernafasan nya saat sampai di lantai utama.
Perkiraan nya meleset, ia mengira Hannah akan mengusik pernikahan nya bersama Alon. Nyatanya kakak angkatnya itu tidak pernah lagi mencampuri urusannya, dan Kelly yang terus datang merecoki.
"Hei pelayan kemari!" Lambaian tangan mengancung tepat ke arah Syha, meminta nya untuk segera berlari menuju wanita itu.
Memangnya Syha apa? Babu disini? Seenak jidat saja menilainya seperti pembantu.
Otot rahangnya mengejang "kau memanggilku?" Tanya Syha bersandar pada railing tangga, pupil matanya membesar dengan tatapan tak suka.
"Eh aduh maaf keceplosan" kekeh Kelly, ekspresinya seakan ingin tertawa lepas melihat penampilan lusuh yang terpatri di wanita itu. Kelly akui, sekalipun Syha kini menikah dengan Alon aura glamour tidak terendus dihidungnya, Kelly justru mencium bau rakyat jelata.
Tidak ingin menanggapi lebih lanjut, Syha menuruni tangga dan berjalan menuju pintu keluar
Alon menilik setiap langkah wanita itu, lantas bertanya "Kau mau kemana?"
"Keluar," jawab Syha dengan nada singkat.
Ujung rahang itu mengeras, kedua mata berkelebat menunjukkan kegeraman "Kau mau seenaknya keluar tanpa seizinku?" Seru Alon.
"Lalu?" Syha melipat tangan di depan dadanya, membalas tatapan itu dengan penuh mengencam "buat apa aku harus terkurung dirumah ini? Kau kira aku sandera mu? Hanya karena aku tidak bisa melunasi tebusan mu bukan berarti kau bisa semena-mena memperlakukan ku!"
Alon ternganga syok, untuk pertama kali istrinya gigih melawan tanpa rasa gugup "Berani sekali kau berkata lancang."
__ADS_1
Syha memutar bola matanya, membalas dengan sudut mulut yang mensatir "Oh maaf kalau gitu."
"Apa sulit bagimu untuk menuruti perintah ku?" Alon menarik nafas dalam, dahi itu mengkerut menahan gejolak amarah. Apa wanita ini tidak tahu caranya berterima kasih atau kah setidaknya berbicara baik-baik kepadanya?
"Jadi kau menolong ku hanya karena mengharap imbalan dan belas kasih ku?" Pernyataan Alon yang terkesan angkuh, memancing lisannya untuk mensumpah-serapahi pria ini, "tau gitu mending tubuhku ini rusak ketika kejadian itu!"
"Kau-!" Geram Alon, kepalanya seperti mengepul asap vulkanik yang siap meletus kapan saja, saat hendak melanjutkan ucapannya sudah di sosor lebih dulu oleh Syha.
"Aku lebih baik hidup menderita dengan suamiku dari pada hidup penuh kedustaan bersamamu. Setidaknya dia sudah bersikap jujur kalau dia tidak mencintai ku ketimbang kau yang menyayangi hanya karena kasihan padaku!" Syha menahan kesesakan yang menyempit di hatinya, bagaikan arus yang terus menyeret nya membentur atmosfer.
Deg! dentuman keras membentur jantung Alon tanpa ampunan, terperangah memandang nanar ke arah wanita yang mempertahankan ekspresi datar nya. Walau terlihat dingin, Alon bisa melihat sebuah pelapis kaca tersembunyi disebalik kedua mata indah itu.
Syha melirik ke arah Kelly yang mengatup mulut, ekspresinya terlihat terkejut, padahal Syha tahu wanita itu menutup senyum kecil nya.
"Sudahlah selamat bersenang-senang untuk kalian berdua," Syha mendengus memijakkan heels nya untuk meninggalkan kediaman, 2 langkah terlewat wanita itu lekas berbalik badan "Oh iya, jangan lupa pakai pengaman lho. Entar bunting gmana masa kau mau nambah istri? Ingat loh ya, akun tidak ingin di madu."
"SYHA!" Bentak Alon memanggil nama sang istri, namun sesosok itu melenggang tanpa rasa bersalah.
Alon melangkah dengan lesu menuju sofa, membiarkan tubuh itu terhempas diatas nya "Kelly bisa kau pulang saja?" Ucapnya seraya memijit pelipisnya pelan.
Bibir seksi itu saling mengerucut "Alon aku kan ingin menemani mu disini," rajuk Kelly.
"Aku hargai niat baikmu, untuk saat ini aku ingin sendiri," penolakan yang Alon hadiahkan berhasil mengalahkan sifat keras kepala Kelly untuk menetap lebih lama, padahal ini kesempatan bagi Kelly untuk menggoda pria itu agar mau menceraikan istri miskinnya.
Kelly melangkah keluar, sekilas berbalik badan mengharapkan pria itu mau mencegat nya. Tapi nihil, Alon hanya terpaku dengan bertopang dahi. Dengan perasaan kesal Kelly meninggalkan mansion.
Alon merogoh ponsel di saku celana, menekan sebuah kontak yang tertera.
"Adam kau lag-"
Ucapan Alon terpotong dengan Kericuhan hingar-bingar di mana-mana, telinga nya seakan ingin pecah mendengar suasana seperti sedang menggebrak-gebrak permukaan bumi.
"HAH APA? AKU GA DENGAR?" Adam berteriak sekeras mungkin, suaranya tenggelam karena kehebohan disana.
__ADS_1
Alon menaikkan oktaf suaranya, "DIMANA!?"
Adam seakan bertingkah tuli dengan ucapannya, ia berucap "Ah iya aku emang ganteng brey, makasih" bukannya menjawab, pria itu justru mengatakan hal nyeleneh. Timbul rasa penyesalan kenapa Alon harus memperkerjakan makhluk aneh seperti ini.
Alon mendecak kesal jika Adam telah memanggilnya dengan brey bro apapun itu, dia pasti sedang mabuk. "Oh kau mau ku pecat ya?"
Sekali sigap, Adam menajamkan pendengaran nya "Engga jangan dong pak Alon, siap saya Adam Reynold sedia setia untuk pak Alon tercinta."
"Kau lagi di klub siang bolong begini?"
Adam menjawab dengan sewot "Engga, aku lagi ternak lele."
"Kau kalau ditanya jawab yang benar ADAM!" Tekan pria itu, sebentar lagi kerutan di dahinya akan bertambah.
"Iya pak saya lagi frustasi, depresi, reinkarnasi. Banyak sekali cobaan hidup saya," keluh Adam dengan penuh penghayatan seolah hidupnya dilanda masalah yang bertimbun.
Alon mengusap wajahnya "Kau besok jangan bekerja lagi untukku kalau kau tidak berhenti minum setiap saat!"
"Hidup ini harus dibawa Happy lah pak," bela Adam, ia belum siap jika harus berhenti dari kebiasaannya yang alkoholik.
"Akan ku traktir wiskiy malam ini, kalau kau tau dimana istriku dan bawa dia pulang ke mansion."
Tawaran yang membuahkan senyuman manis di bibir Adam "Memangnya istri pak Alon dimana?"
"KALAU AKU TAU AKU GA BAKALAN SURUH KAU ADAM! KERJAKAN DAN BAWA KESINI," Sembur Alon, pria diseberang sana spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. Teriakan atasannya itu hampir membuatnya tuli
Alon mengakhiri percakapan, "jemput aku di mansion" titahnya lalu mematikan panggilan.
"Roger sir"
Saat panggilan terputus, Adam berdecak
'Cih menyusahkan, entah apa yang aku pikirkan waktu itu sehingga mau mengabdi dengan atasan galak seperti ini'
__ADS_1