
Malam silih berganti dengan pagi yang menerangi belahan bumi, Syha melihat test pack yang baru saja ia gunakan. Jantungnya berdegup tidak karuan, nafas nya pun juga ikut memburu. Ia terbangun dengan kondisi sudah berada didalam Penthouse, Syha tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi padanya tadi malam. Bekas kecupan disetiap tubuhnya menandakan jika ia sudah disetubuhi oleh pria itu.
Hatinya sangat berkecamuk menahan emosi, tapi kenapa ia tak sanggup untuk melampiaskan amarah itu dihadapan Zein. Pada akhirnya ia terus memaklumi perbuatan pria itu. Baru kali pertama ia mempercayai pepatah kalau "cinta itu membutakan" ada benarnya.
Tubuhnya tersorot pelan kebawah, lantai dingin menjadi saksi nasibnya yang kian merumit, tidak menduga jika malam itu ia berhubungan dengan Zein di dalam mobil. Ia terpedaya dan tidak menyadari obat bius yang sudah diselipkan oleh pria itu pada minumannya, walau tidak menyebabkan kehamilan tapi ia sangat khawatir jika Alon mengetahui hal ini. Apa yang terjadi jika ia mengacaukan kesepakatan mereka. Apakah Eden akan benar-benar digulingkan oleh Alon?
Syha menatap sebuah pesan yang masuk kedalam ponselnya, pesan yang terkirim di jam 12 malam
ZEIN
"Gugurkan anak itu jika kau hamil"
Dengan gelisah Syha melakukan panggilan grup bersama sahabat nya, berharap mereka bisa membantunya untuk keluar dari masalah yang menimpanya
°•°
"APA!! ZEIN MELAKUKAN HAL ITU?", Seru Mona tidak menerima
Hesti menimpali "Dasar pria gila, kejam sekali"
"Kenapa dia melakukan itu hah?", tanya Mona
"Aku menolak lamarannya", jawab Syha
Alian sangat terkejut dari seberang sana "Dia melamarmu?"
"Bukannya kau sangat mencintai Zein? Memangnya kau sudah ada calon?", Mona kembali melemparkan pertanyaan
Syha mengiyakan hal itu, sampai saat ini ia tidak berani mengatakan hal sejujurnya mengenai Alon yang akan menikah dengannya.
"Hah siapa", tanya Alian
Syha terdiam, membuat Alian mengerti batas privasi diantara mereka.
"Apa respon Zein?", ujar Hesti penasaran
"Jika aku hamil, dia memintaku untuk menggugurkan kandungan"
"cecunguk itu sepertinya harus diberi pelajaran, bukannya bertanggung jawab malah kabur begitu saja", maki Mona
Hesti kembali bertanya "Apa hasil test pack mu"
"Kalian menodai telingaku, pembahasan kalian mengotori pikiran ku! tolong! ". Alian memekik histeris
"Tutup saja telingamu itu", tukas Mona kesal
"Tidak bisa, topik ini terlalu enak didengar"
__ADS_1
"Diamlah Alian", Hesti semakin menyudutkan Alian, pria itu memang selalu saja berbicara tidak senonoh.
"Negatif, tapi aku tidak tahu perkembangannya dalam seminggu kedepan"
"Apa calon mu tau?", tanya Mona
Syha menjawab "tidak" sebagai jawaban
"Kau sih ga pake pengaman, menurut penelitian. Menggunakan pengaman dapat mencegah dan meminimalisir kemungkinan terjadi nya kehamilan, maka dari itu-
"Diam lah Ali, kami tidak meminta teori Fisika mu itu", sahut Mona yang merasa kesal dengan penjelasan Alian yang tidak berbobot
"Ini materi biologis bodoh, kau sekolah dimana sih? makanya jangan kebanyakan praktek kalau belum mendalami teori", Alian tak mau kalah berdebat.
"Kalian bisa diam ga sih? Syha bisa sawan melihat kalian berdua". Hesti ikut merasa tertekan karena perangai kedua sahabatnya itu yang tidak bisa di tolerir.
Syha memijat pelipisnya, menyadari jika begini terus ia tidak akan menemukan solusi apapun "Terima kasih, aku pamit dulu"
"Syha, tidak perlu khawatir. Kau tidak akan mengandung anak dari Zein". Syha berterima kasih kepada Mona.
Dan panggilan grup berakhir
Syha menuju lobby apartemen, petugas keamanan memberikan kue stroberi untuk nya, terdapat sepucuk surat disana. Tidak ada nama pengirim, hanya tulisan yang berisikan permintaan maaf. Pasti dari Zein, dia tidak mungkin setega itu, pikirnya
Sebuah notif pesan muncul, Alon memberikan lokasi pembangunan panti asuhan, tapi pria itu tidak meninggalkan pesan apapun setelah mengirimkan lokasinya. Sudah pasti Alon sedang berusaha menjaga jarak.
"Apa panti asuhan ini milik anda nona?" tanya seorang wanita, rambut yang sepenuhnya putih memperlihatkan kalau ia sudah sangat berumur.
"Iya nenek", jawab Syha menyunggingkan senyuman selebar mungkin
"Panggil nanny saja haha"
"Apa kau sudah menikah nona?"
"Aku akan segera menikah Nanny, panggil Syha saja", ujar wanita itu
"Aku membuka kelas memasak di daerah sini, jika Syha tertarik untuk belajar. datanglah ke rumah itu ya" Nanny menunjuk pada sebuah rumah kayu diujung gang yang tampak sangat eksotis.
"Tentu Nanny, saya akan sangat senang bisa belajar memasak"
"Tentu saja, suamimu pasti akan sangat bahagia nanti" dari kejauhan seorang anak kecil memanggil Nanny untuk kembali ke rumah "Ah saya pamit dulu, saya harus mengajar"
Syha mengangguk, kemudian ia merogoh ponsel. Alon lagi-lagi tidak pernah mengiriminya pesan setelah 5 hari berlalu, entah kenapa belakangan ini bayangan mengenai Alon cukup mengecoh pikirannya.
Pesan baru kembali masuk, Zein mengajaknya untuk bertemu direstoran. Pasti ada hal yang ingin pria itu bicarakan.
Syha kembali memandang halaman chat Alon, mengetik namun akhirnya dia urung mengirimkan pesan, Syha berangkat ke kantor cabang, setelah itu ia akan langsung menuju lokasi restoran yang Zein berikan setelah selesai.
__ADS_1
Pukul 9 malam tepat, menara jam Big Ben bergema dengan syahdu diseantero kota.
2 jam telah berlalu, tapi Zein tidak kunjung menampakkan batang hidungnya
Syha memilih berjalan disekitar pusat kota,
ia bertemu dengan Alian yang sedang melukis. Syha menghampiri pria itu yang sedang sibuk dengan kegiatannya.
"Kau tak pernah berubah ya", Syha membuat Alian terperanjat kaget, hampir saja kuas itu merusak karya lukisan nya.
Alian mengangkat kedua alisnya "Sedang apa disini?"
"Zein memanggilku"
"Buat apa pria bajingan itu memanggilmu", Syha membelalakkan matanya, ia belum pernah melihat Alian semarah ini kepadanya.
Apa yang terjadi?
Alian mengalihkan wajah "maafkan aku".
Syha mengalihkan topik, menghilangkan kecanggungan diantara mereka
"Kau selalu menjuarai mading sekolah dengan karya mu"
"Aku selalu mengekspresikan sesuatu melalui lukisan", cetus Alian dengan senyum tipisnya, ia masih sibuk memoles kuas itu diatas kanvas "Mungkin kau sudah lupa momen itu, tapi kita pernah bertemu didepan istana ini di musim dingin"
Syha melirik hasil lukisan milik Alian,
keindahan istana The Palace Great terhiasi berbagai corak warna indah. Biru kegelapan dengan berbagai keindahan rasi bintang yang identik dengan malam Rusia, biru laut berasir yang begitu sempurna dengan warna indah istana, tidak lupa efek-efek titik putih sebagai gambaran kumpulan salju yang turun dari langit. Ia teringat bagaimana pertemuan nya bersama Alian saat itu, setelah mendiang Hendi mengusirnya dari rumah.
Ia harus merikuk kedinginan seorang diri disana, tidak ada makanan, tidak ada tempat tinggal. Siapa sangka, bocah sebaya dengannya hadir laksana malaikat yang Tuhan kirimkan kepada nya. Alian mengajaknya untuk berteduh di sebuah tempat tinggal yang layak, memberinya makanan dan pakaian.
"Jelek banget kan kek mukamu", lancang sekali Alian mengata-ngatai wajah cantik nya
"Hei mulutmu", geram Syha mencubit perut Alian dengan keras
Syha tidak mempedulikan teriakan Alian yang kesakitan "A-aa sakit"
Dari kejauhan sepasang sejoli dengan postur tubuh tak asing mencuri perhatiannya, wanita itu menggandeng lengan pria itu dengan manja. Mengajaknya ke sebuah bazzar disana
Alian ikut memandang ke arah tempat yang dilirik oleh kedua netra milik Syha "Hei kau kenapa?"
"Tidak ada, aku ingin kesana sebentar", Syha melangkah mendekati pasangan itu, seperti seorang mata-mata ia mengintip dari dekat, bersembunyi dibalik syal merah agar tidak dikenali
Syha memandang tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat, notifikasi pesan masuk di halaman depan ponselnya
ZEIN
__ADS_1
"Maaf ya rencana kita harus gagal hari ini, aku ada kesibukan"