
Note :
Beberapa bab sebelumnya dirombak total ya!
"Pertunjukan spesial yang di nantikan pada pertengahan acara kita ini, yaitu permainan biola solo dari salah satu Alumni angkatan 67 menyandang penghargaan internasional sebagai pemenang kontes Carl Flesch di Inggris, beri sambutan yang meriah untuk Rasyhanda Moon."
❁
Hentakan kaki berdetak disepanjang kelasa merah yang terbentang lebar, seluruh mata teralihkan pada sesosok wanita. Menenteng sebuah biola cervini klasik. Terukir sepasang nama di lower bout, mengharapkan alunan melodi ini mampu mencurahkan rasa rindu nya kepada sang suami Zein gerald.
"Zein, terima kasih sudah memberikan ku biola terindah," bisik wanita itu pada sang biola.
Syha merunduk, memberikan salam. Keheningan menyelimuti atmosfer, busur telah siap untuk bergesekan dengan gawai. Syha menarik nafas dengan dalam keduanya telah saling bergesekan menghasilkan alunan merdu yang terdengar menyayat.
Alon menatap sendu dari kejauhan, kenangan yang sama kembali terulang. Mencengkraman erat peti biola di genggaman nya rasa sakit menggores meninggalkan luka. Padahal ia tidak ingin terlihat bodoh mengulang cerita yang sama, tapi Syha justru membuatnya kembali terjatuh dalam jurang yang serupa.
Flashback
Sesosok pria muda tampak terpaku berdiri, pupil matanya terfokus pada deretan benda dihadapannya. Melipat kedua tangan didada, jari jemarinya menopang dagunya dengan ekspresi serius.
"Ini adalah Cremona tuan, biola yang sangat cocok untuk violinis profesional," ucap seorang pemilik toko dengan telapak tangan yang saling mengatup, tersungging senyuman di bibir merahnya.
Alon menghela nafas lalu menoleh, "tunjukkan padaku biola terbaik di toko ini."
Wanita itu berbalik badan, membimbing Alon untuk mengikutinya "Kami menyebut biola kualitas terbaik dengan Galie tuan," ujarnya "tidak ada lagi Galie yang tersisa, toko kami hanya mempersembahkan biola satu-satunya yang terbaik setelah Stradivarius."
Tidak ada jawaban, pemilik toko menatap sang pelanggan dengan mimik kebingungan, pria itu tidak berkedip memandang kilapan keindahan dari benda tersebut.
Lantas sebuah suara terdengar "dimana aku harus membayar biola ini?."
Dengan perasaan gembira yang membumbung tinggi Alon mengegah menuju teater dimana pujaan hatinya berada. Ia telah siap, mempersembahkan biola ini sebagai bentuk ungkapan cintanya kepada Rasyhanda.
Setelah beberapa langkah, ungkapan cinta itu harus beringsut pupus. Untuk pertama kali Alon melihat senyuman indah itu tidak datang darinya melainkan sahabatnya. Zein telah berdiri tepat dihadapan Syha, menenteng sebuah peti hitam yang berlekuk menawan.
"Ini untukmu," ucap Zein seraya menyodorkan hadiah yang sama dengannya.
Syha mengangkat alisnya bingung, "ini untukku?." tanyanya memastikan.
Zein membalas dengan senyuman, "aku menyukai mu Rasyhanda, ambil lah biola ini sebagai tanda kalau kau menerimaku."
Alon terkesiap memandang nanar pemandangan didepannya, hatinya berdenyut tidak menentu. Nafas yang seirama, kini berantakan.
Syha memalingkan wajah, menyembunyikan pipi yang telah bersemu merah. Dianggap tertolak, Zein menunduk dengan kecanggungan.
"Maaf membuatmu tidak nyaman," timpal Zein mengusap tengkuk, pasrah. Ia tidak ingin bertindak lebih jauh, berbalik badan dan hendak berlalu.
Syha menyahut dengan tergagap, "tu-nggu!," serunya. Langkah kakinya mendekat, dengan ekspresi malu ia lalu menjawab "aku menerimamu, terima kasih untuk hadiahnya."
Zein tersenyum lebar, reflek merengkuh gadis itu kedalam dengkapannya. Ujung mata nya melirik, mendapati pria lain yang terlihat membisu di tempat.
__ADS_1
Alon menatap sayup, namun kedua mata itu tercengang sesaat Zein tersenyum miring kepadanya seolah menyembunyikan maksud tertentu atas perbuatannya.
Pilu suara tangisan di sela-sela harmoni yang mengalir. Violinis masih melanjutkan permainannya dengan memukau.
Deg!
Busur terangkat, jantungnya berdegup dengan cepat. Tetesan keringat dingin mengguyur tubuhnya, Syha merasakan hawa panas bergejolak menggugut raganya dengan bersilir. Aliran pernafasan nya seolah tercekik.
Sebuah objek yang cukup berjarak, mengalihkan fokus penglihatan nya. Balutan dress bewarna merah pekat bersama seorang pria tengah memandangi nya dengan intens.
Sesekali wanita itu mengecupi bibir lawan jenis nya dengan bergairah.
Syha menatap tidak percaya "Tidak mungkin!," pekik batinnya. Air matanya menetes, tubuhnya bersimpuh memagut biola itu didadanya.
Penglihatannya memburam, samar-samar wajah yang telah ia rindukan itu menghilang seketika meninggalkan duka yang teramat gelap.
Suasana kepanikan menguasai ruangan, Syha mengalami epilepsi secara tiba-tiba. Menyelimuti seluruh penghuni dengan wajah ketakutan.
Seorang pria berlari tunggang langgang menaiki panggung, memberikan pertolongan pertama untuk menenangkan reaksi kejang-kejang. Dress yang melilit wanita itu, ditarik paksa hingga kain itu terkoyak.
Alon memiringkan tubuh mungil itu, membuka rahang Syha dengan lebar agar dia mudah bernafas.
"Syha" panggil nya mencoba menyadarkan. Namun wanita itu tidak bereaksi apapun.
Sebuah tolakan keras, mendorong paksa Alon untuk menghindar. Sesosok lain berusaha menyelamatkan istrinya.
Alon menyergah dengan emosi, "apa yang kau lakukan! Pergi dari sini!" semburnya menyentak bahu kekar itu.
Syha terbatuk, bibirnya memucat. Mengenggam erat sebuah lengan yang terselimut jas hitam, ia menengadah. Seorang pria memanggil namanya dengan lembut.
"Rasyhanda kau baik-baik saja," tanyanya dengan kerisauan.
"Zein?.."
Pria itu mengangguk cepat, melepas jas yang dikenakannya untuk menutupi tubuh yang setengah telanjang. Menggendong wanita itu dengan gaya bridal, menuruni anak tangga panggung untuk keluar dari kerumunan.
Didalam mobil Zein meletakkan wanita kini tidak sadarkan diri, menatap dalam-dalam dengan sorotan yang berbeda.
Alon mengepal tangannya, berlari cepat menghampiri sahabatnya yang berjalan menuju pintu keluar. Pria itu menghilang dengan sebuah mobil sedan yang melaju menjauh.
Alon menelpon Adam untuk segera menjemputnya.
Mobil melaju penuh sepanjang Trinity Bridge. Susul menyusul dengan kecepatan yang saling bersaing.
Sebuah mobil Ferrari menancapkan gas dengan cepat menghadang melintangi jalan.
Alon keluar dari kursi pengemudi "berikan dia kembali kepadaku!" Tampiknya dengan penuh penekanan.
Zein mendengus kesal, mengikuti kemauan pria itu untuk ikut menunjukkan diri "apa kau tidak malu mengakui wanita yang bukan milikmu?"
__ADS_1
"Dia sudah milik ku, kau tidak berhak merebutnya!" Tidak ada lagi dirinya dengan mental pecundang di masa lalu, Alon tidak akan membiarkan Syha terenggut oleh Zein.
Andai saja Alon menyadari lebih awal, Syha tidak akan menorehkan kepahitan di dalam hidup nya.
"Kau menghamili nya?" Zein memberikan tatapan mematikan, urat mata itu terlihat memerah.
"Ya, aku dan Syha telah menikah-"
Zein memotongnya dengan tawa yang pecah "apa?! Kalian menikah? Apa aku tidak salah mendengar."
Alon menelan salivanya
'Apa-apaan pria ini? Tidak waras!' umpat batinnya.
Zein menyulut kasar dengan lantang "BERANI SEKALI KAU MENIKAHINYA TANPA IZIN DARIKU!"
Alon mengeraskan rahang, buku jarinya memutih menahan desiran darah yang mendidih "Cukup Zein, berikan Rasyhanda padaku. Kau tidak lagi menginginkannya untuk apa kau membawanya pergi."
"Aku menginginkan nya kembali, apa itu masalah bagimu?" Pria itu menyeringai dengan lekukan senyum yang menista
"Kau tidak mencintai nya, pergilah dari kehidupan istriku!"
"Hah? Istrimu, lancang sekali kau berkata wanita ini istrimu."
Alon mengigit bibirnya "kalau kau menolak, aku akan memaksamu memberikan nya kepadaku."
Alih-alih gentar, Zein justru semakin tertawa kencang. Terlihat seperti pria yang mengidap penyakit.
"Kau memaksaku ingin memberikan nya kepadamu?" Tangkas Zein "baiklah mari kita lihat seberapa beraninya kau melakukan itu untuk dambaan hatimu ini."
"Wah gila! Kau habis ngisap ganja ya," teriak Adam dengan cerutu yang mengeluarkan asap. Mendapatkan tatapan membunuh, pria itu mengatup rapat mulutnya.
'Asisten tidak berguna! Muncul bukannya membantu masalah malah bikin onar'
"Aku tidak peduli berikan Syha padaku!"
"Alon, Alon tenang. Aku tidak suka jika persahabatan kita ini harus rusak hanya karena seorang wanita, bagaimana jika kita berdamai?"
Alon menyatukan kedua alisnya "damai maksudmu?"
Zein mengangkat jirigen berisikan bensin dari kursi depan, membanting pintu itu untuk kembali tertutup.
"Begini saja Alon, dari pada kita bertekak memperebutkan wanita ini. Bagaimana jika Syha ditiadakan?"
Alon tertekuk emosi "KAU JANGAN MACAM-MACAM ZEIN!"
Zein bersikap tuli menuangkan bensin itu melumuri body mobil, setelah selesai jirigen itu dilemparkan begitu saja di atas knop
Mengacang untuk bersiap-siap, sebuah pematik menyala. "Bagaimana jika kau ucapkan selamat tinggal padanya? Sebelum dia pergi untuk selamanya."
__ADS_1
Alon tercekat sesaat pematik itu terlempar ternyata Zein tidak bermain dengan ucapannya bersamaan sebuah ledakan besar terjadi. Api berkobar-kobar melambung ke langit, hawa panas menggerayangi disekitarnya.
Dengan aliran darah yang mengalir deras dari dahi, Alon berteriak keras memanggil wanita itu "RASYHANDA!"