
Angin dingin bertiup semilir, awan membumbung menghitam. Angkasa kini menangis menjatuhkan tetesan air mata. Tekanan yang mengoyak sukma, sebentar lagi Alon mungkin akan terkena tipes karena istirahat nya yang lagi-lagi berkurang. Urusan perusahaan terbengkalai begitu saja demi mengurusi segala bukti penerang mengenai keberadaan istrinya.
Alon menerawang langit-langit ruangan. Kepalanya terus di hantukkan untuk berpikir, apa sahabatnya itu berubah menjadi gila sampai tega membunuh?
Wajah tirus dan tubuh mengurus, sorot mata menggambarkan kekosongan. Alon tersenyum kecut saat mengetahui penyebab Zein seperti itu.
Adam memasuki ruangan, berjalan pelan menuju meja kerja atasannya. Wajah datarnya bergeming sesaat.
Alon melirik, menanti asisten itu membuka suara. "Ada kabar terbaru Adam?"
Pria itu mengangguk sebagai jawaban "Tim forensik mengajak bapak untuk melihat otopsi tubuh, mereka ingin memberikan kabar secara langsung."
Pria itu memalingkan wajah, menghembuskan nafas kasar. Penantian telah tiba, tirai kenyataan telah terbuka. Alon ingin memastikan dengan mata kepala sendiri jika Zein benar-benar tidak membunuh Rasyhanda.
❁
Alon menyilangkan kedua tangan didepan dada menatap seksama anggota forensik yang sibuk mengganti lembaran hasil otopsi.
Sembari menunggu Alon melirik ponselnya sejenak, membuka beberapa halaman pesan.
Seorang pria bertubuh brick mengangkat pembicaraan, "kami menemukan beberapa DNA yang terdapat di tubuh korban, hasil otopsi mengarah pada wanita bernama Rasyhanda Moon."
Sontak Adam dan Castiel saling berpandang kebingungan, Apa pria ini mempermainkan sebuah lelucon atau Zein yang bersenang-senang menarik ulur kewarasan?
Alon yang sedari tadi menelisik menekuk tatapannya, sejurus kemudian sebuah tarikan kerah menarik pria bertubuh bongsor itu hingga tercekik ke udara.
Alon lantas bertanya "Kau ini siapa?"
Castiel berdiri tepat bersebelahan, meminta adiknya itu untuk menenangkan diri. "Aku tau kau merasa syok mendengar kabar ini, tapi tim forensik mengatakan hal sebenarnya."
__ADS_1
Lirikan tajam diarahkan kepada Castiel, dalang dibalik semua ini justru tidak mengarah kepada Zein. Sahabatnya itu seperti dibawah naungan seseorang, Alon bukanlah pria bodoh yang mudah ditipu "sejak awal aku sudah mengetahui kalau kau dan Adam juga bagian dari rencana ini."
Dua sesosok yang dimaksud saling bertukar pandang, Castiel mendesak melakukan pembelaan "atas tuduhan apa kau menuding ku memalsukan kematian istrimu!?"
Alon bergeming, tarikan senyuman miring menghiasi wajahnya bersamaan sebuah hempasan keras membuat kedua pria itu menubruk tembok kokoh dibelakangnya. Ya pria yang mengaku sebagai tim forensik dan Adam terkulai lemas di lantai.
"Bagaimana Adam, apa kau sudah cukup bersenang-senang? Kau kira aku akan menjadi gila dengan permainan tarik ulur mu itu."
Castiel ternganga tidak percaya "kau ternyata diam-diam mengkhianati atasan mu?" Serunya menaikkan oktaf suara, iris mata itu melirik Alon yang menggebu amarah "apa perlu kita menyeret dua pelaku ini?"
Alon terdiam sesaat, menarik kerah Adam untuk lebih mendekat "bukankah aneh jika pria yang telah menghilang lebih dari 4 tahun tiba-tiba muncul kembali?" Sorot matanya menghujam penuh emosional "yang mengetahui keberadaan Zein hanya aku dan kau, bagaimana keluarga Reid mengetahui pernikahan pertama Rasyhanda. Bukankah kau yang membocorkan nya?"
"Pak saya tidak pernah membocorkan perkara ini kepada mereka." Bela Adam, menahan deru nafas yang tersenggal.
Castiel mengerutkan dahi, tertawa kecut "aku saja bahkan tidak tahu menahu masalah ini, apa kau bekerja sama dengan Adle dan Zein?"
Alon yang setengah berdiri, menegakkan tubuh nya menatap tembok tanpa berbalik untuk saling berpapasan, "Castiel aku penasaran bagaimana kau bisa tahu tentang Zein Gerald? Sejauh ini nama pelaku tidak pernah kuberikan kepada pihak kepolisian dan seharusnya kau juga tidak tahu karena kau mengaku bukan bagian dari rencana keluarga Reid."
Tanpa berbasa-basi Alon melayangkan pukulan tepat mengenai wajah saudaranya itu, Castiel terpental dan berakhir ambruk setengah sadar dengan darah yang mengalir dari hidungnya. Kali kedua perdebatan mereka mempertikaikan Rasyhanda, Alon seperti akan menghabisinya.
"Padahal aku hanya bertanya kenapa kau bisa mengenal Zein tapi sikapmu terlalu gegabah seolah kau tertuduh. Payah sekali, seharusnya sejak awal kau berlagak tidak mengenal Zein saat kita berbincang kemarin. Tau begitu aku akan menggantikan perbuatan mu dengan menghabisi asisten ku." Alon menata rambut yang berantakan, merapikan jas yang sempat kusut karena ulahnya.
Pria itu melirik ke arah Adam "borgol dia bersama pria tadi. Bawa mereka ke mansion, sudahi sandiwara kita disini. Tim forensik pasti telah di bayar untuk mewujudkan drama sampah ini."
Adam beranjak berdiri, sedikit berdeham "Uhuk- katanya akting, tapi dicekik beneran. Memangnya bapak mau merawat saya setelah ini."
"Ya kalau semisal kau pelakunya aku kan ga perlu merasa bersalah mencekikmu." Bela Alon tanpa tersisa titik rasa iba pun dihatinya melihat asisten itu terbatuk-batuk.
"Nah sekarang saya kan bukan pelakunya pak, ingat kan semboyan saya? Adam selalu sedia mengabdi untuk pak Alon tercinta. Setelah ini gaji saya wajib naik, tulang saya seperti mau patah karena bapak melempar sumo segede itu di tubuh imut saya."
__ADS_1
Alon menghembuskan nafas "iya iya terserah mu saja," kilah Alon bernada pasrah.
❁
Hawa dingin mencabik-cabik suhu ruangan, Syha mengerjap memposisikan tubuhnya yang terduduk diatas kasur. Suasana yang terlihat familiar, bukankah ini rumahnya bersama Zein dulu? Tempat tinggal ini dijual demi memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang suami, mereka sampai harus pindah ke kontrakan kecil demi mendapatkan tempat yang aman untuk ditempati.
"Sudah bangun?" Seorang pria berdiri dari kejauhan.
Buana seolah meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan lekukan wajah yang semakin jelas di bawah cahaya rembulan. Zein kembali setelah sekian musim bergulir lamanya.
Reflek wanita itu berdiri dengan sigap, menuruni ranjang dan menyerahkan tubuhnya untuk memeluk pria yang dinantinya selama ini. "Zein, aku merindukan mu." isak tangis tidak lagi terbendung, Syha menangis tersedu membenamkan wajahnya didalam pelukan.
Zein menarik nafas, membalas pelukan dengan erat "aku juga merindukan mu, maaf membuatmu khawatir." Ia menyeka tetesan air mata yang mengalir dari pelupuk wanita yang masih terikat sebagai istrinya.
"Tidak apa, kau kembali saja sudah membuatku lebih baik Zein." Syha masih terisak dibawah deraian air mata meluapkan rasa rindu yang terpendam di hatinya.
"Apa kau hamil?"
Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat wanita itu termenung, Syha merenggangkan pelukannya jari jemarinya bergetar ketakutan.
"I-iya, apa kau ingin aku menggugurkan nya?" Wajahnya tertunduk, cemas. Mau bagaimana pun Syha telah terlanjur menyayangi anak yang telah dikandungnya bersama Alon.
"Tidak, kau harus tetap melahirkan nya."
Syha menengadah, apa Zein tidak salah berbicara? Pria ini membiarkan nya mengandung dan melahirkan anak yang tidak berasal dari darah daging mereka?
Syha bertanya dengan raut tak percaya, "kenapa kau mengizinkan ku untuk mengandung nya?"
"Tidak baik membunuh bayi yang tidak bersalah," Zein mengecup pipi istrinya dengan lembut, kehangatan yang Syha rindukan kini ia dapatkan setelah Zein kembali. Mengucap rasa syukur kepada Tuhan karena menggerakkan hati suaminya untuk kembali dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Zein mengusap surai itu dengan lembut, tersenyum menyeringai. Rencananya akan berjalan mulus, imbalan 10 miliar tidak akan lepas dari genggaman nya. Setelah wanita jala*ng ini melahirkan, ia akan mencampakkan nya kembali dan memberikan uang ini kepada istri sah dan buah hati yang menunggu nya dirumah berbeda.
Keuntungan menikahi seorang wanita yang tidak terdata di catatan sipil, mempermudahkan nya menikahi insan yang dicintainya tanpa harus bercerai.