Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 24 MARI PERBAIKI


__ADS_3

Hening malam menemani kesunyian, langit kelam tanpa satupun gemintang. Suara detak jam yang berputar seirama pompa jantung.


Seorang pria dengan perawakan yang sedikit semrautan memasuki kediaman. Kepalanya seperti berkeliling 7 putaran, ia baru saja menyelesaikan melayani klien wanita di bar. Kelly terus saja membuat tamu itu merasa tidak nyaman dengan sorot matanya, hampir saja Alon harus kehilangan kesepakatan kerja sama karena wanita itu.


"Merepotkan banget" keluhnya sembari mendorong pintu untuk terbuka.


Suara dingin menyambut kedatangan Alon, bergema didalam penyekap yang timbal balik diantara pantulan "Gmana, menyenangkan?"


Sontak Alon terperanjat dengan gelegar suara wanita yang terduduk angkuh diatas sofa. Tatapan penuh selidik saling beradu satu sama lain.


Alon mengancungkan jari, kedua alisnya bertukik meminta penjelasan "siapa yang membiarkan mu keluar dari kamar tanpa seizinku?" Gumamnya.


"NANNY!" Ia lalu berteriak memanggil wanita paruh baya itu.


Alon mencoba melindunginya, karena diluar pengawasan ia terpaksa mengunci wanita itu di dalam kamar. Walau terkesan kejam, nyatanya itu pesan tersirat bahwa Syha tidak boleh keluar dari mansion selama dirinya berada di Amerika.


"Tidak usah repot-repot memanggilnya, aku ingin bertanya terus terang padamu,"


ucapan Syha hanya direspon dengusan dari Alon, pria itu tampak tidak ingin melanjutkan pembicaraan.


"Katakan saja sejujurnya, kau mencintai Kelly kan?"


Pertanyaan yang terlontar itu berhasil menarik Alon untuk menoleh, namun tidak sepatah kata pun terucap dari lidahnya.


"Kau selalu diam berarti itu benar ya? Jika Kelly yang kau cintai mengapa aku yang harus jadi pengantin penggantimu?. Bukankah kau bisa melakukannya bersama Kelly? Apa sulitnya jika kau mencampakkan ku saja dengan bayimu ini." Benih-benih pertanyaan terkuak begitu saja, menunggu balasan yang tak kunjung didapatkan.


"Mulutmu bisu ya sekarang?" Cerca Syha dengan kejengkelan, kenapa pria ini tak kunjung mengangkat suara? Siapa yang ingin digantung tanpa kepastian, hidup dihantui rasa kesalahan.


Alon menengadah, menarik nafas lalu berucap "Rasyhanda, ada yang jauh lebih baik untuk kau pikirkan dari pada mengurusi percintaan ku bersama Kelly. Ingatlah untuk membayar tebusan dan selama belum melunasi tebusan itu kau akan terbelenggu lebih lama di dalam pernikahan." Ujarnya lalu mensampir jas di lengan.


"Terserah," jawab wanita itu ketus. Lekas berdiri dan melenggang melalui Alon yang masih terpaku di tempat.


"Sebaiknya cepatlah kau lunasi, kalau terlalu lama memangnya kau ingin dimadu?"


Syha terhenti sejenak menatap tajam ke arah Alon yang menyeringai, "songong sekali, jangankan dimadu. Hidup bersamamu dibawah atap yang sama juga aku tidak sudi!"


Syha yang menatap menghujam, melemaskan sendi-sendi otot disekitar matanya. Membuang wajah dan berlalu lari menuju lantai atas.

__ADS_1


Pupil pria itu mengikuti arah hentakan kaki yang ricuh diatas tangga lalu berkata, "setelah ini Kelly tidak akan lagi hadir di antara kita. Aku mengerti kau merasa tertekan selama masa kehamilan mu, kau tidak perlu lagi khawatir aku sudah mengurus nya." Alon menutup pembicaraan dengan kalimat yang memberi reaksi lawan bicara membisu.


"Apa yang telah aku lewatkan kemarin?" gerutu wanita itu.


"Terserah saja," sahut Syha melanjutkan langkahnya.


Di sisi lain Alon menghempaskan tubuhnya diatas sofa, hanya Syha yang mampu membuatnya ekspresif seperti ini. Ada kalanya ia benar-benar merasa marah dan sayang dalam waktu bersamaan. Pandai sekali wanita itu mencampur adukkan perasaannya.


"Apa dia tidak sepeka itu," kesal Alon meletakkan lengannya diatas dahi, padahal pria itu sangat ingin jika istrinya bersikap lebih tegas dengan kehadiran pihak ketiga diantara mereka.


Alon memiringkan senyuman, "bodoh sekali, kau kira aku tidak melihat mu disana?"


Ya Alon tahu jika istri nya itu menguntit hingga ke Amerika, tidak sia-sia ia membayar bocah dugem, siapa lagi jika bukan Adam yang kebetulan saja bisa diandalkan.


Lekukan senyuman terangkat dibibir, lubuk kecilnya mengharapkan Syha bisa memperhatikan nya terus menerus seperti ini.


...❁...


Setelah percakapan malam beberapa hari sebelumnya, aktivitas berlalu dengan mensibukkan diri di panti asuhan. Dari pada harus bertekak urat, mencampuri urusan pribadi suaminya. Padahal, ia sudah sangat bertekad untuk tidak peduli, tapi perasaan terus mendorongnya untuk meraba lebih jauh.


"Cici kenapa sedih," Bao mendengkap tubuh mungil nya kedalam pelukan, membuyarkan lamunan yang berlarut dalam pikiran.


Apakah Syha harus mulai bekerja? kehamilannya sudah cukup sangat besar. Terlalu beresiko jika harus bekerja saat ini, ia akan menunggu selama 1 tahun ke depan untuk memadatkan kegiatan dengan berkarir.


"Haruskah aku mencari uang untuk membayar pengacara terbaik dan menggugat perceraian atas bukti yang didalihkan perselingkuhan kepada pengadilan? bukankah setelah itu cukup menyelesaikan tebusan diluar dari ikatan pernikahan?" Seraya menopang dagu Syha berpikir sesaat untuk menyusun rencananya.


Sebuah suara memanggil dari luar, dengan sebuah bingkisan kue kering di genggamannya. Pria itu menghampiri Syha yang tampak asik bercengkrama.


"Jangan banyak tingkah lagi kayak semalam, nanti anak kita ikut betingkah kayak ibunya," celetuk Alon sembari meletakkan kue itu dihadapan istrinya. "Aku bawakan juga kue stroberi untukmu."


Syha memutar bola matanya dengan jengah, "Ya terserah," cetus nya singkat. Ia masih merasa penasaran bagaimana Alon bisa tahu makanan kesukaan nya, padahal mereka tidak pernah bertemu.


Alon memposisikan duduknya berhadapan, menatap wanita itu dengan seksama "maaf atas sikap ku yang keterlaluan padamu."


Syha mengernyitkan dahi, kenapa pria ini tiba-tiba datang meminta maaf kepadanya? salah minum obat? tidak juga pasti karena ngelindur satu malam bersama Kelly waktu itu.


"Ya," tidak ada kata selain mengangguk dan mengiyakan. Entah kenapa hatinya merasa jauh lebih baik saat pria ini tau bagaimana harus menyikapi masalah. Hatinya terenyah dengan kedewasaan Alon, mengingatkan nya akan perlakuan Zein yang amat jauh berbeda. Persoalan yang terjadi di antara mereka, tidak ada jalan selain kekerasan sebagai solusi.

__ADS_1


Alon mengusap tengkuk nya mengalihkan pembicaraan bersama Bao dan Chen yang tampak sibuk bermain


"Bagaimana perasaan kalian berada disini?" Pertanyaan Alon di sambut dengan antusias oleh Chen.


"Seru, kami bisa ketemu dengan Cici kami setiap hari," lelaki itu memeluk Syha dengan raut wajah ceria.


Kening Alon tampak berkerut menyaksikan pemandangan yang tak berkenan dihatinya.


"HEI BOCAH SUDAH KU BILANG BERKALI-KALI JANGAN PELUK ISTRI ORANG SEMBARANGAN!" Alon menarik paksa tubuh Chen menjauh, tapi itu justru membuat Chen semakin mempererat pelukannya.


"Lepaskan bocah!"


lelaki itu menggeleng kuat, "ga mau, jangan pisahkan aku dari cici."


Syha berekspresi kebingungan, semua mata pengunjung dan pengasuh mengalihkan pandangan ke mereka. Dua ras Asia yang berdebat dengan bahasa Mandarin menjadi gelak tawa di tengah-tengah atmosfer yang sempat menegang.


Syha kembali membelai Bao yang mengacuhkan perdebatan abangnya dengan terlelap. "Terima kasih," ucapnya dengan pelan.


Ujung mata Alon melirik, "kau bilang apa barusan?"


"Tidak ada," jawab wanita itu dengan cepat, kenapa selalu saja ia tidak bisa mengendalikan perasaan nya dihadapan Alon.


Pria itu tersenyum tipis, "besok aku harus mengisi acara sebagai narasumber, di acara perkumpulan," pungkasnya lalu ia melanjutkan "ikutlah dengan ku nanti malam."


Syha menggeleng pelan, ia merasa belum siap untuk menghadiri acara formal yang di isi oleh kalangan kelas atas, itu sama sekali bukan notabene latar belakangnya. Bagaimana jika dirinya dicemooh oleh publik?


"Kamu saja aku tidak ingin." Tolak Syha.


Alon menghela nafas "ikut saja," mohonnya.


Syha tidak merespon apapun untuk menjawab tawaran itu, berpikir berulang kali untuk mmempertimbangkan.


...❁...


"Rasyhanda Moon, kehadiran mu merusak kebahagiaan yang telah aku bingkai bersama Alon! dasar wanita brengs*k,"


Sebuah teriakan bergaung pilu dengan kekacauan yang tidak menentu disekitar, pecahan botol wine berhamburan di lantai berdampingan dengan putung cerutu yang tersebar tidak menentu.

__ADS_1


"Alon berpaling dariku dan justru memilihmu!" Rambut itu diacak-acak nya dengan frustasi, memekik histeris dan bertekuk lutut.


"Tunggu saja pembalasan ku, akan ku buat kau menanggung rasa malu!"


__ADS_2