Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 37 TERKUAK


__ADS_3

Sudut mulutnya muncul, Syha mengeraskan rahang kedua matanya saling beradu bertukar pandang. Hannah telah bertindak keterlaluan, tentu saja ia tidak ingin menyerahkan anak didalam kandungannya. Lagipula apa hubungan Hannah dan Zein sehingga mereka bisa saling mengenal?


"Jangan harap, aku tidak akan memberikan putriku." Kepalan tangan semakin erat menghiraukan Hannah yang kini menggelenyar dengan desiran darah yang naik ke wajahnya.


Hannah tersenyum kecut kepalanya menggeleng pelan, menepis dagu itu dengan kasar dan melipat tangan. "Jadikan putrimu itu sebagai bayaran tebusan," balas wanita itu.


Kedua mata berubah menyala, Syha hampir saja ingin melayangkan pukulan ke arah saudari angkatnya. Bagaimana Hannah bisa tahu kesepakatan yang terjalin antara dirinya dan Alon?


Tampak nafas tertarik dengan panjang, mengendalikan degup jantung yang terus memompa. Syha mempertahankan sikap egoisnya, "akan ku bayar tebusan itu dengan uang." Wajahnya terpaling, kelopak mata terkulai menahan air mata. "Aku tidak peduli jika kau menikah dengan Alon, tapi jangan bawa pergi anak ini."


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk menyerahkan, kalau begitu jangan salahkan aku jika malaikat kecilmu ku renggut paksa."


Hannah berjalan menuju daun pintu memegang knop dan melirik sepintas, "ingatlah untuk mengikhlaskan perceraian mu bersama Alon sebentar lagi."


Bersamaan derit pintu tertutup rapat dan suara kunci berputar. Syha bergelesak turun mendekati kekacauan yang baru saja terjadi antara ia dan Zein. Walau pikiran nya terus dikelilingi oleh perceraian.


"Benda tajam, benda tajam." Begitulah lidahnya terus mengucapkan dua kata yang sama, Syha menggenggam pisau pemotong buah melirik ke arah jendela dengan sorotan berbeda.



Chesterfield tunggal menjadi pendaratan pertama bagi Adle untuk terduduk di alas yang empuk, sepasang mata mengerut menyaksikan kedatangan cucunya dengan ekspresi mendidih melampiaskan amarah yang sedia meletus.


Pria itu mencampakkan sebuah dokumen, salah satu nya berisi bukti terkait pemalsuan kematian. Zein Gerald berstatus suruhan dibawah naungan Adle Reid sebagai pimpinan dari rencana gila ini, iblis disebalik selimut. Julukan yang tepat saat Castiel menjelaskan maksud terselubung dari rangkaian cenanga.


"Dimana istriku!" Alon menyalang, meja dihadapannya digebrak dengan begitu keras. Keduanya terpaku dalam kesenyapan, berteman kan tatapan yang saling beradu seolah perantara diantara mereka terdapat percikan api.


"Tidak salah aku memilihmu sebagai pewaris, kau cepat sekali menyadari jika hilangnya istrimu bukan disebabkan oleh Zein Gerald."


Pria tua itu memenuhi ruangan dengan gelak tawa, menghujam Alon dengan tatapan yang semakin beringas.

__ADS_1


Langkah-langkah yang saling bersahutan bergerak serentak memenuhi ruangan, Alon menajamkan penglihatannya. Jajaran pengawal khusus telah mengisi setiap sisi ruangan tidak ada celah diantara mereka, apa Adle berusaha menyekapnya?


Alon berseru keras, "apa-apaan ini! Kenapa-"


"Kau banyak berubah sejak menikah dengan wanita itu, apa kau tidak tahu lagi cara berbicara sopan kepadaku?" Adle mengacungkan Cane ke arah Alon, menekan kan sebuah perkataan. "Kau terlalu dimabuk oleh wanita itu sampai kau tidak menyadari jika perusahaan pusat mengalami penurunan. Ulah nya terekam menyebabkan kericuhan dengan rekan bawahan mu."


"Lalu kenapa? Apa itu masalah jika aku mengumumkan pernikahan ku bersama Rasyhanda? Kalian terlalu sibuk mengurusi istriku sampai melupakan jika desas-desus itu terjadi karena Kelly Clarkson." Kekeh Alon, benar adanya jika tugasnya sebagai direktur terbengkalai karena waktu yang dihabiskan hanya untuk menguak pemalsuan kematian dan penculikan istrinya, tapi tudingan ini terlalu memojokkan Rasyhanda sebagai pencemar reputasi perusahaan.


Adle menghela nafas, berjalan perlahan mendekati, "seharusnya kau tau pasangan yang pantas bersanding adalah setara dengan Reid, kau beruntung keluarga ini menerima nya karena dia mengandung seorang anak. "


Adle mengangkat lembaran kertas, bukti pernikahan kontrak. Kesepakatan lama yang tidak sempat Alon bakar jejak nya.


"Apa kau kemari demi menghindari pernikahan publik mu dengan Hannah dan menjadikan wanita itu sebagai perisai? Kau kira Reid mempermainkan mu justru kau lah yang mempermainkan keluarga ini" Adle menghempas kasar lembaran itu, menegakkan tubuh dengan aura arogan. "Kau tidak akan pernah menemukannya Alon, saat ini perceraian pernikahan mu sudah ku urus."


"Tidak ada alasan bagimu menjadikan pernikahan ini sebagai sandiwara semata. Kau harus menikahi Hannah semuanya telah disiapkan."


Menyeka air mata yang menetes, Alon berucap. "Apa anda sudah melihat dokumen yang ku berikan, alangkah baiknya jika kakek melihatnya terlebih dahulu baru berbicara."


Adle terpegun, pengawal membawa tumpukan itu dan menyerahkan nya. Merampas kasar lembaran yang kini menjadi titik fokusnya cukup lama Adle terdiam menilik rangkaian huruf disana. Sedetik kemudian tangan kerdut itu memecal kertas yang tak lagi utuh.


"Bagaimana bukankah itu mengejutkan? Seharusnya kakek tau jika Hannah tidak memiliki keterikatan darah apapun dengan Eden dan Maya." Jelas Alon, Adle dengan cepat menggerakkan lehernya menoleh. Menanti penjelasan yang akan berbicara lebih detail.


"Oh haruskah ku jelaskan jika Rasyhanda adalah putri kandung yang sesungguhnya, Dialah yang berhak mewarisi perusahaan Heera."


Adle semakin menggumal kertas hingga lecek, nafasnya menderu kasar.


Alon melepas tanda pengenal yang melekat di jas nya, lencana dengan kombinasi R yang selalu dibanggakan kini hanya pamor yang tidak bernilai.


"Tapi sekarang, aku bukan lagi bagian dari kalian. Perceraian ku bersama Rasyhanda dan pernikahan bersama Hannah, jangan harap akan terjadi," hentakan berdentum dari logam bertubrukan dengan ubin lantai, pria itu kembali mempertegas ucapannya. "Atas nama istri dan anakku, Aku Alon tidak akan lagi menyandang gelar kehormatan Reid hingga sisa hidupku!. Pernikahan ini bukan sandiwara, aku sungguh-sungguh mencintainya."

__ADS_1



'Ayolah apa aku harus mabuk dulu untuk menghancurkan jendela ini?'


Syha berupaya sekuat tenaga untuk menebuk kusen, sendi besi yang menghubungkan kini mulai melonggar. Engsel itu harus segera tercabut.


"Apa yang kau lakukan?"


Panggilan suara yang menegurnya dari belakang mempercepat Syha untuk menyembunyikan pisau itu disebalik punggung. Wajar saja Alon menganggapnya tuli, bahkan suara pintu terbuka selalu tak pernah ia sadari.


Zein menelisik gerak-gerik wanita yang terlihat mencurigakan dihadapannya. "Apa kau berusaha untuk kabur?"


"Ti-dak," Syha menggeleng dengan cepat, mempererat cengkraman tangan disebalik tempat persembunyiannya. Akal terus menggali solusi untuk kabur dari rumah ini. Meski Syha menaruh hati kepada Zein, ia tidak akan membiarkan pria itu sampai melukai janin nya.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu?" Zein menyerbu beberapa langkah kedepan, mendorong sesosok wanita yang kini tidak ada lagi celah baginya untuk mundur.


Syha meletakkan lengannya untuk merangkul leher Zein, entah apa yang merasuki nya sehingga berbuat demikian. Reflek ia mengarahkan Zein untuk memijak bentangan alas yang tebal, menjatuhkan pisau demi menghindari suara yang berdenting. Berupaya mengalihkan rencananya barusan.


Syha terperanjat saat Zein mengelus wajahnya, jari itu bermain di setiap sudut pipi dan turun hingga ke leher.


"Aku selalu membayangkan tentangmu saat pertama kali bertemu di London, kenapa kau begitu memesona." Zein mengecup bagian jenjang itu dengan lembut, Syha memejamkan mata. Degup jantungnya seperti akan mencuat keluar.


Perlakuan sama, situasi yang kerap dianggap familiar. Zein selalu bersikap jika Syha hanyalah figur boneka, diperlakukan sesuka dan semaunya. Lampiasan nafsu dan amarah yang tidak terkendali, menjadi makanan yang telah ditelan bulat-bulat oleh wanita itu selama ini.


Dulu dunianya sebagai penurut, namun sekarang akan beralih menjadi pemberontak. Ancang kesiapan tubuh, kalau ia telah siap menghadapi keadaan yang berbeda.


"Zein hentikan!" pekik wanita itu memohon.


Asal suara yang samar dari daun pintu, Keduanya tertoleh bersamaan. Ekspresi tertegun menghiasi raut wajah ketiga pihak, terlibat dalam balutan lapisan udara yang mencengangkan.

__ADS_1


__ADS_2