Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 17 RENJANA


__ADS_3

Alon menuruni tangga sembari memperbaiki kancing di lengan kemejanya, ia melihat Syha sedang merunduk, terdengar isak tangis dari wanita itu. Alon berlari menghampiri dengan perasaan cemas. Ia mengira Syha menangis karena Ayi memperlakukan nya dengan buruk.


Eh Karena bawang ya ternyata, batin Alon.


Istrinya tampak sibuk memotong bawang bombai, Syha memandang dengan bingung ke arahnya


"Kenapa kau berlari?", Alon membalas dengan menggeleng canggung "tidak ada"


Ayi selesai memetik sayur dari kebun "Apa kau suka seafood Syha?". Tanya Ayi


"Sedikit Ayi", jawab Syha


Alon membantu membersihkan sayuran "Apa kau pernah coba hotpot?"


"Belum", Syha menggeleng pelan


"Nanti coba, kau pasti akan suka", ujar Alon


Ayi membawa sebuah tas belanjaan dan beberapa lembaran uang "Syha bisakah kau pergi ke pasar? Didekat sini kok, Ini daftar belanjaan nya ya"


Alon bergegas membasuh tangan, lalu merebut barang itu. Syha terkejut dengan kecepatan Alon yang tiba-tiba sudah memegang semua kebutuhan belanjaan "Sayang kamu disini saja biar aku yang pergi"


Ayi menampar bahu pria itu dengan cukup keras "Jangan begitu Alon, biarkan istrimu mencari angin diluar. Dia pasti suntuk" Alon meringis, ibu-ibu asia kalau mukul memang tidak berotak, degusnya.


Syha memelas dihadapan Alon "Aku ikut"


Alon menggeleng, ia tidak akan terpedaya dengan puppy eyes milik istrinya "Tidak usah".


Syha mengerucutkan bibir, kesal. Alon merasa tidak tega memandang ekpresi imut itu "Nanti kau diculik om-om brewok diluar sana"


Sama seperti Ayi, Syha memukul bahu pria itu di spot yang sama. Alon menahan sakit, kenapa sesuka hati kedua wanita ini memukuli nya.


"Sembarangan sekali kau kalau bicara"


"Pria mana yang tidak tergoda denganmu?", Ledek Alon


Syha menatap sinis "Kau Alon"


"Aku saja netesin air liur tiap memandangmu", timpal Alon dengan santai


"HEI!"


Syha kembali mencubit pria itu dengan gemas "Iyaa iyaa aduh ampun"


°•°•


Suara riuh pasar begitu dominan terdengar, pengunjung tampak sibuk memilah dan menawar kepada penjual ikan. Bau amis menusuk kedua hidung Alon dengan amat menyiksa. Ia tidak suka bau pasar, tapi Syha?. Ah istrinya itu santai sekali memegang hewan laut itu tanpa merasa jijik. Jemari Syha membolak-balikan ikan, mengecek kesegaran.


"Berapa ko?" tawar Syha


"Saya kasih buat anda, 1000 TWD"


"Kasih kurang lah ko, saya tambah kerang lho", Syha masih terus mencoba bernegosiasi


"980, ambil lah", Syha tersenyum penuh kemenangan


"Suamimu ini sekarang seorang Presdir, dan kamu masih nawar di tempat ginian?"


"Jangan boros", tegur Syha ia beralih pada toko daging, mengambil beberapa slice daging sapi, babi, dan jamur.


Setelah mengitari pasar beratus kali, Alon merasakan pegal di bahunya karena Syha tidak kunjung menyudahi. Kenapa wanita selalu lama sekali jika berbelanja?.


"Kau mau buka warung apa gmana?", Keluh Alon, ia sudah tidak sanggup membawa barang belanjaan yang sangat berat.


Syha tidak merespon, ia memesan cumi yang baru saja dipotong untuk dimakan. Penjual menyajikan makanan itu didalam piring, Syha menuangkan kecap asin dan memasukkan hewan yang masih menggeliat itu kedalam mulutnya.


Tubuh Alon merinding sekujur tubuh "Kau lagi ngidam makanan mentah ya?"


Syha yang masih sibuk mengunyah, mengangguk santai "Mungkin"


Wajah Alon tampak memucat "i-tu masih mengge-liat". Wanita hamil memang unik, sekelas bangsa Eropa saja tiba-tiba suka makanan mentah.


"Ya, emangnya kenapa?", tanya Syha "Apa kau pantas disebut Asia? Kayak gini aja takut"


"Itu menggelikan, bagaimana jika hewan itu menggeliat didalam perutmu"


Syha menggeser piringnya ke Alon "Coba saja"


Alon mendekat kan wajahnya "Kalau kau yang suapin aku mau"


Syha mendorong wajah pria itu untuk menjauh darinya, pria ini suka sekali membuatnya terkejut "Lebay"


Alon memanggil namanya "Syha"


"Ya", balas Syha sembari meneguk air


"Apa kau benar-benar tidak ingat tentangku?"


Wanita itu tampak menukik alisnya, apa Alon tidak bisa berhenti menanyakan hal ini terus menerus?. "Tentang mu apanya? Aku aja baru bertemu dengan mu"


"Tapi apa kau ingat kecelakaan di malam porm night?", Syha tampak berpikir, jari nya mengetuk tusuk gigi diatas benda bundar.


Bukannya menjawab, Syha justru berbalik bertanya "Kau ini sebenarnya siapa?"


Ternyata dia masih belum ingat, pikir Alon


"Lupakan saja", tutur pria itu "Aku ingin membeli jus, tunggulah disini jangan kemana-mana"

__ADS_1


Syha mengangguk, ia lalu mencelupkan kaki gurita kedalam kecap asin


Terdengar suara anak kecil di dekatnya, "Cici, aku lapar", ucap anak laki-laki itu, ia menarik ujung bajunya. Tampak kucel, kumuh dan tidak terurus, rambutnya bahkan terlihat berantakan dan kusut.


Syha bersimpuh dan memegang bahu mungil itu "Dimana mamamu"


Anak kecil itu menggeleng "Aku tidak punya mama"


"Siapa namamu?", tanya Syha


"Chen"


Syha menggandeng lengan Chen, lelaki kecil itu dengan patuh mengikuti langkah Syha seperti anak ayam mengekori induknya "Cici belikan makanan ya, kamu mau makan apa?"


"Apa saja"


Syha menghentikan langkah tepat di dekat sebuah penjual yang menyajikan jenis mie dan udon "Yasudah Cici belikan mie ya"


Chen menarik jarinya "bisa tolong belikan juga untuk adikku"


"Berapa adikmu?"


"Satu", jawab Chen


"Baiklah kubelikan 3", Syha mulai memesan, dan tidak perlu terlalu pedas


Setelah selesai, Syha mengikuti Chen keluar dari pasar. Mereka berjalan menyusuri tempat yang sedikit remang, cahaya matahari juga tidak masuk kedalam kawasan ini. "Dimana kamu tinggal?"


"Didekat sini", Chen menunjuk ke suatu titik, tenda kecil di tempat kumuh yang tak jauh dari pasar ikan.


"Sini cici", Ajak Chen sembari terus menarik lengan Syha untuk mendekati tenda itu.


Ia merasa sangat prihatin dengan kondisi Chen, apalagi ditempat yang tak layak untuk ditinggali.


"Aku akan kesini besok dan membawakan kalian makanan ya", ucapan Syha membuat Chen tersenyum senang, ia lalu memanggil adik perempuan nya, Bao. Pakaian yang Bao kenakan menghitam karena usang, corak mawar tidak lagi berwarna merah pekat. Beberapa bagian pakaian seperti sudah habis termakan rayap.


Bao meraih pemberian Syha dengan tangan imutnya "Xie xie Cici"


"Kalian biasanya makan apa?", tanya Syha


"Pao polos", Sahut Chen


Syha merasa sangat iba, makanan tawar seperti itu apakah cukup untuk dimakan sehari-hari oleh anak di usia seperti ini? Mereka membutuhkan gizi yang cukup "Apa rasanya enak"


"enak sekali" Bao menjawab dengan antusias "Kakak selalu membuatkan kuah pedas"


Syha tersenyum kecil, mengingat kan ia pada sebuah kejadian dimasa lalu. Syha berharap anak-anak tidak bersalah ini bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.


"Cici pulang dulu ya, besok pagi cici kesini okay", Syha memeluk dua malaikat itu dengan penuh kasih sayang, seperti seorang ibu.


"Dada Cici", keduanya melambaikan tangan dengan gembira, mengharapkan Syha akan kembali menemui mereka esok hari.


"Kau dari mana saja", tanya Alon, kaos yang ia kenakan tampak banjir dengan keringat "kau tidak tahu betapa khawatir nya aku"


Syha menatap bingung "kenapa?"


Alon membalas dengan menggelengkan kepalanya "Ini jus stroberi"


"Makasih", sesaat Syha teringat untuk membicarakan dua anak yang baru saja ia temukan kepada Alon "aku menemukan dua anak kecil sepasang, mungkin kau tidak keberatan untuk membawa mereka untuk dititipkan ke panti asuhan di London?"


"Tentu akan ku urus itu", Alon mengangguk setuju "Sudahlah ayo pulang kerumah"


Sesampainya dirumah Ayi


"Wah sudah pulang ya, tolong sekalian bersihkan ya", pinta Ayi


Syha membawa makanan laut itu untuk di bersihkan di wastafel "Iya Ayi", wajah wanita itu tampak sangat kelelahan, mungkin efek hamil ia merasakan tubuhnya begitu mudah letih.


Alon yang menyadari hal itu, meminta pengertian kepada bibinya "Ayi istriku sedang hamil, bisa kasih dia istirahat dulu?"


Ayi reflek berbicara dalam bahasa Mandarin, agar Syha tidak tersinggung dengan ucapan nya "Jangan hanya karena mentang-mentang dia menikahi pria kaya mau seenaknya aja disini"


Alon mengusap wajahnya, "Tidak begitu, ayi..", pria itu membesarkan kesabaran menghadapi omongan bibinya itu, padahal Alon sudah bersusah payah untuk tidak membiarkan Syha bekerja. Tetapi Ayi seakan memperlakukan istrinya itu seperti pembantu.


Ayi mendelik ketus, seakan tidak peduli dengan keadaan menantu dari kakaknya. "Yasudah biarkan saja istrimu belajar, biar dia tau bagaimana menjadi ibu yang seharusnya"


Alon menarik nafas berat, tidak ingin membantah lebih lanjut. Ia lebih memilih membantu istrinya membersihkan ikan yang baru saja mereka beli.


Makanan sudah tersedia diatas meja, Syha menarik kursi dan hendak duduk. Namun Ayi kembali memanggilnya "Syha bisa tolong bawakan teko air kesini?".


Alon sedari tadi hanya menunjukkan wajah kegusaran, ia lekas berdiri dan meminta Syha untuk duduk "Sudah, kamu makan saja biar aku yang ambilkan"


Syha terduduk dan mengambil sayur untuk ia makan


Ayi membuka percakapan diantara mereka "Sudah berapa bulan?"


"4 bulan", jawab Syha


Ayi mengangguk paham "Perempuan atau laki-laki?"


"Kami akan memeriksa nanti saat pulang ke London", sahut Alon setelah ia mengambil air putih, dan duduk disamping istrinya


Alon memandang piring Syha yang terisi jamur dan sayur saja "Kamu ga suka daging?", tanya Alon, padahal baru saja ia merasa Syha pemakan segalanya.


Syha tidak merespon apapun, entah apa yang wanita itu pikirkan.


Alon menjepit satu slice daging sapi, memasukkannya kedalam wajan yang mendidih lalu menaruhnya di piring Syha "tidak usah sungkan, jika kurang beli lagi"

__ADS_1


Alon bersikap sangat perhatian, Syha tersenyum hambar. Tentu saja Alon bersikap seperti ini, demi kesan sandiwara nya berjalan mulus.


Ayi memandang kedua pasutri itu dengan rasa penasaran, ia merasa keponakannya ini benar-benar dilanda asmara, Ayi meletakkan sumpit nya diatas mangkuk "Maaf ya, Ayi dan pamanmu tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian"


Alon mengulum bibir "Tidak masalah Ayi" pria itu lalu mengedarkan pandangan, mencari-cari sesuatu yang tidak kunjung terlihat "dimana paman?"


"Dia sedang sibuk di kantor imigrasi", jawab Ayi


Selang tidak beberapa lama, seorang laki-laki muda masuk dengan penampilan yang sedikit acak-acak an. Pelindung kepala masih melekat diwajahnya, melepas, dan menyibakkan rambut gondrongnya yang tampak sedikit kumel.


Lelaki itu bernama Ming, seperti biasa ia baru saja pulang dari kebiasaan nya yang selalu memancing Ayi untuk terus memakinya, setiap saat Ming selalu membuat kericuhan, tawuran, bahkan balap liar diluaran sana. Wajahnya sedikit melebam, bibirnya pecah seperti habis ditonjok.


Ming melenggang dengan santai tanpa melepas sepatu boot, mengotori lantai yang baru saja ibunya bersihkan.


Ayi yang hendak memarahi putra sulungnya itu, menarik nafas dalam-dalam "Ming, ada pamanmu Alon disini. Sapalah dia"


Ming menghentikan langkah tepat kakinya mendarat di anak tangga pertama "Selamat malam"


Alon memegang bahu Syha, memperkenalkan wanita itu kepada Ming


"Ming ini istriku, Syha"


"Halo Ming", Sapa Syha


Lelaki itu hanya memandang kosong, ia tidak merespon apapun. Membuat Syha sedikit canggung dengan tatapan Ming yang tidak bersahabat


Ayi bertanya kepada Ming "kenapa wajahmu itu, kau tawuran lagi?"


Ming membuang wajah, berdecak dengan kesal "Ah berisik, kenapa kau mengatur ku sih?"


Ayi mengelus dada dengan sabar, berusaha tabah menghadapi sikap anaknya "Ming dengarkan ibu dulu".


Ming mengacuhkan ucapan ibunya, ia melangkah menaiki tangga dengan hentakan yang ricuh, terdengar suara pintu terbanting dengan keras diatas sana.


Ayi mengusap keningnya "Hais anak itu"


"Bersabar lah Ayi", Alon menenangkan keadaan, ia sangat tau watak Ming yang tidak suka dikekang. Jadi tidak ada gunanya harus berdebat dengan anak itu


Setelah Ming sampai dirumah, disusul dengan Ang yang baru saja pulang dari bekerja


Alon berdiri, menjabat dan memeluk paman nya dengan hangat "Paman Ang apa kabar?".


Ang mengangguk "Sehat", ia lalu memandang wanita asing yang sedang berdiri disamping Alon "Ah ini istrimu itu ya"


"Iya paman" ucap Alon "perkenalkan dirimu sayang"


"Sa-ya Syha paman", ucap wanita itu sedikit terbata-bata, ia lalu berjabat tangan dengan pria itu.


Ang tampak tertawa cekikikan "Cantik ya kalau dilihat langsung", Ang diam-diam membelai pergelangan tangannya, dengan cepat Syha melepas jabatan itu. Hawa tidak mengenakkan mulai menjalar di tubuh nya.


Ang kembali mempersilahkan mereka untuk duduk "Ayo makan"


Alon mengangguk "Terima kasih", pria itu memandang Syha yang nampak termenung "Ada masalah?"


Syha menjawab dengan menggelengkan kepala


°•°•°


Setelah selesai makan pasangan itu kembali ke kamar, Syha baru tersadar jika ia harus tidur satu kamar dengan Alon.


Kenapa juga sih kita harus sekamar, gerutu Syha.


"Memangnya aku mau ngapain sih? Memperkosa mu gitu?", celetuk Alon bablas.


"Bisa aja kan kau lagi ingin", tuding Syha melipat tangan didada


"Ya emang lagi pengen, boleh?", goda Alon


Syha membelalakkan mata "Engga!" ia lalu menarik bantal dan selimut yang terlipat rapi diatas kasur "Aku akan tidur di sofa".


Alon mencegahnya "Kau saja yang tidur dikasur", pria itu menghempaskan tubuhnya diatas kursi empuk yang panjang, meletakkan bantal dan selimut yang menjadi alat perangnya saat tidur.


Syha terduduk di ujung kasur "Apa punggung mu tidak sakit?"


Alon melirik ke arah wanita itu "Sakit banget nih huhu, kalau boleh aku mau tidur seranjang denganmu", pinta Alon dengan manja


Syha menatap sinis "Aku cuman nanya, ga nawarin", ia lalu berbaring "lampunya ku matikan"


Alon mengiyakan, beberapa menit berlalu ia masih terjaga dari tidurnya. Sofa itu tepat sekali berada disamping ranjang, Alon seakan bebas memandang wajah istrinya yang sedang menghadap ke arah berseberangan.


Alon memanggil wanita itu pelan "Syha apa kau sudah tertidur?"


Syha tidak menjawab apapun, Alon berpikir wanita itu sudah terlelap dalam tidur.


"Apa kau ingat, dulu kau pemain biola terhebat saat sekolah menengah atas?". Mencari kesempatan, Alon berbicara dengan Syha yang sedang tertidur, sungguh ia tidak berani mengajak wanita itu untuk berbicara langsung.


Alon.. Apa kau sudah gila mengajak bicara orang yang tidur?, Alon mengatai dirinya sendiri


Pria itu kembali melanjutkan ucapannya "Orkestra nasional bahkan merekrutmu"


Alon berhenti sesaat, ia memandang sayup lekuk wajah cantik itu "Diantara banyak momen yang kau lalui, kenapa hanya aku yang kau lupakan?" Alon menahan gemuruh sesak dihatinya, padahal selama ini ia sangat bersabar menunggu perasaan wanita itu selama hampir 9 tahun, Tapi perjuangan yang sudah ia lalui, sia-sia begitu saja.


Betapa senang hatinya saat kembali bertemu, tapi Syha benar-benar menganggap nya seperti orang asing "Aku tidak menduga kau jatuh pingsan saat penampilan solo mu di porm night"


Alon tersenyum hambar "Haha apakah kepalamu terbentur panggung sampai lupa ingatan" Ia terbangun dan berjalan ke arah Syha yang masih terlelap.


Alon membelai surai nya "Andai aku lebih berani saat itu"

__ADS_1


"Sekarang aku tahu rasanya menyesal disaat kau mencintai pria lain"


__ADS_2