Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 4 TENTANGMU


__ADS_3

"Jika bumi adalah seorang ibu, maka sungai adalah nadinya."


Amit Kalantri


Castiel menggoyangkan tubuh yang terlelap sesaat. Syha mengerjap, mengumpulkan seluruh nyawa yang masih terbang melayang.


"Syha bangun," tepukan Castiel membangunkannya dari kesadaran.


Wanita itu menautkan alisnya "Hah dimana ini," ucapnya sedikit bingung


Castiel tertawa kecil "turun dan lihatlah."


Syha mengucek kantung matanya, efek dari kantuk sepanjang perjalanan. Sesaat menuruni mobil, ia tidak dapat beralih mengucapkan rasa takjub pada keindahan yang membius dihadapannya.


Sungai Neva mengalir dengan riak, kapal-kapal layar sedang berlabuh di dermaga, Trinity Bridge tampak berdiri megah, gedung-gedung pencakar membentang dengan lebar. Sekumpulan khayalak sedang bercengkrama ria sesama. Hawa sejuk mengagahi pada sekujur raganya karena dinginnya malam.


Giginya saling bergemeratuk, mengigil menahan suasana dingin karena gaun yang tidak menutupi tubuhnya secara keseluruhan. Castiel membalut dengan mantel, seketika kehangatan menyambut tubuh nya.


"Aku selalu kesini jika ingin menghibur diri."


Syha membalas dengan anggukan, Castiel mengulum bibirnya.


"Ah maaf sudah menyekapmu kesini, apa kau keberatan?"


Syha menggeleng pelan "tidak sama sekali kak."


"Hanya ini kenangan yang bisa aku bagikan bersamamu, kuharap kau berbahagia bersama Alon setelah ini."


Syha mengangkat senyumannya, memandang ke arah Castiel dengan ucapan terima kasih.


Pria itu mewarisi gen Fred yang berambut pirang dan bermata biru, selayaknya casanova tampan yang membuai ribuan kaum hawa. Hanya saja, perawakannya itu bertolak belakang dengan masa lalu nya yang sangat bersih dari segala hal yang berbau wanita.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya," Castiel berlari menjauh dari mobil, menghampiri sebuah cafe terdekat untuk membeli sesuatu.


Sesampainya disana kasir menanyakan pesanan, pria itu menepuk jidatnya.


Ia berlari kembali dengan nafas nya yang terengah-engah "Kau suka kopi apa?." Tanyanya


Syha tampak berpikir sejenak, "cappucino"


Castiel berlari kembali. Melihat tingkah calon kakak iparnya itu membuatnya tersenyum tipis.



Syha tertawa kecil dengan lelucon dari Castiel, suasana hatinya merasa jauh lebih baik dari yang dia harapkan. Melepaskan semua beban hidupnya dalam waktu singkat. Berterima kasih kepada tuhan karena sudah mempertemukannya dengan seseorang yang bisa ia anggap sebagai keluarga sepenuhnya.


Castiel memandang jam tangannya, pukul 12 malam.


"Sudah larut, ayo pulang," Castiel meneguk kopi yang tersisa.


Saat hendak bergegas, terdengar teriakan dari keramaian sekitar. Trinity bridge terbelah menjadi dua, membentang dengan agungnya menyentuh ketinggian.


Castiel melirik ke arah Syha, matanya tak bisa berhenti memandang setiap helaian rambut wanita itu yang tertiup angin.


Syha tersenyum lebar sepanjang jembatan itu terbelah. Menyaksikan pemandangan luar biasa itu sesaat sebelum akhirnya memasuki mobil dan berangkat menuju hotel.



Syha berpamitan, tak sempat mengucapkan sepatah kata sebelum berpisah karena Castiel sudah dihubungi oleh Shu.


"Aku pulang dulu," pria itu melambaikan tangannya sebelum ia melaju pergi meninggalkan parkiran.


Syha melenggangkan kaki menaiki lantai 16, membuka pintu kamar hotel, melemparkan mantel dan sepatunya kemana saja tidak mempedulikan keadaan kamar yang berantakan karena ulahnya.

__ADS_1


Ia menghempaskan diri diatas ranjang mengistirahatkan keletihan dari cerita yang panjang. Walau akhirnya dirinya menangis terisak, mereka ulang kejadian yang baru saja menimpanya hari ini.


Kenapa ia harus melalui rasa sakit yang tidak bisa di ekspresikan, kesedihan terus meneror sepanjang ia bernafas di bumi ini.


Menginginkan semua ini dapat segera berlalu nyatanya hanya sebuah mimpi belaka, Syha tidak akan bisa lari atas belenggu yang telah mengingkat mati.


Wanita itu menarik bingkai foto pernikahan diatas nakas, memandangnya dengan nanar. Kenangan 4 tahun silam yang tersisa hanyalah sepasang wajah dengan siratan kebahagiaan.



"Kenapa kau harus pergi meninggalkan ku?, Syha mengusap kenangan terindah yang pernah hadir didalam hidupnya. Luka yang pria itu torehkan tidak akan lagi sembuh seperti semula.


"Kehilanganmu adalah hal yang paling sulit bagiku Zein!" dengan rasa kekesalannya ia melempar bingkai itu ke dinding.


Zrashh!


Serpihan kaca berhamburan di lantai, Syha bersimpuh dan terus memekik tiada henti


"Kenapa kau mencampakkan ku hanya karena aku tidak bisa menghadirkan malaikat kecil di tengah kita!," sungutnya dengan suara yang meraung keras.


Terisak dengan amat menyayat, air mata terus mengalir sembari mendekati kekacauan yang menjadi saksi bisu nya "sekarang aku justru mengandung anak yang bukan dari darah daging mu" Syha mengusap lembut perut yang telah terisi sesosok makhluk suci di rahimnya "maaf Zein, aku akan menikah lagi tanpa sepengetahuan mu."


Ia lalu melepas cincin pernikahan yang menempel di jari manisnya. "Maafkan aku sekali lagi, karena tidak bisa memenuhi janji untuk setia padamu. Sebentar lagi aku akan menjadi kepunyaan pria lain," lantas meletakkan cincin itu diatas foto yang telah basah dengan air mata.


Menarik wadah alumunium dan meletakkan semua kenangan itu didalam "Aku akan memulai kehidupan baru, lembaran baru, dan cerita baru," Syha menggesek sebuah pematik untuk menyalakan api, lalu membakar nya.


Membiarkan api-api itu menyulut berkobar, merenggut setiap sisa memori yang ada.


Foto kedua insan yang tampak saling mencintai dalam indahnya pernikahan, kini hanya abu yang membakar pelan-pelan.


Tersadar dalam balutan kesedihan, dalam sekali cekatan ia meraih foto itu kembali, berusaha mematikan api yang terus merenggut "maafkan aku, tidak seharusnya aku bersikap egois seperti ini." Cairan bening terus terjatuh dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Sepanjang kesunyian malam suasana seakan mendukungnya untuk meratapi kepedihan, tidak siap mengucapkan selamat tinggal untuk pria yang dicintainya selama lebih dari 4 tahun ini.


"Zein, aku menantikan kepulangan mu."


__ADS_2