
"Aku akan menemui Zein", Ujar Syha
Alon terkesiap, bagaimana mungkin pria itu mampu mengikhlaskan Zein berduaan dengan calon istrinya. "Aku akan ikut denganmu", ucapnya
"Ini privasi, kau pulang saja", tukas wanita itu lalu berlalu, menanti taksi yang akan segera datang menjemputnya.
"Aku akan tetap disini", sergah Alon mencoba membuat Syha memikirkan keputusannya.
Wanita itu menaikkan alisnya bingung "Kau akan tetap disini?"
Tidak salah lagi, Syha pasti memprihatinkan keadaannya, ia pasti tidak akan setega itu membuatnya menunggu seorang diri disini
"Ya" ucap pria itu dengan mantap
"Yaudah kau disini, aku mau kesana", taksi sudah datang menjemput, ia memasuki mobil dan pergi begitu saja.
Alon berdiri mematung, salju yang bertebaran menjadi penghias latar belakangnya. Jika ia di potret menggunakan kamera, hasil fotonya mungkin akan sangat terlihat kalau dirinya adalah manusia paling menyedihkan di semesta ini.
°•°
"Sudah lama ya sejak 3 bulan terakhir kita berhubungan", Zein membuka percakapan diantara mereka, wajahnya terlihat sedikit kaku karena setelah sekian lama ia tidak lagi berhubungan dengan mantan kekasihnya. "bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik, kau ?"
"Sama sepertimu, ada yang ingin kukatakan", Zein membenarkan posisi duduknya, ia berusaha mengendalikan detak jantung yang memompa tidak beraturan.
"Aku memohon maaf sebesarnya atas kejadian itu".
Syha tersenyum kecut "Kau tidak perlu mengatakan hal menyakitkan itu lagi Zein"
"Syha tolong dengarkan aku, ini semua bukan kemauan ku. Hannah membuatku harus melakukan itu", penjelasan Zein membuat Syha hanya bereaksi dingin. Entahlah, dia tidak tahu harus mempercayai hal ini atau tidak. Yang pasti ia sudah cukup muak dengan kejadian itu.
"Aku terpaksa melakukan itu karena Hannah memberiku obat", Syha menatap lurus ke arah Zein, perasaan nya yang sudah berteguh kuat untuk tidak lagi berurusan dengan mantan kekasih nya, sedikit mulai terlena. Apakah mungkin kejadian itu hanya kecelakaan?.
"Beri aku kesempatan kali ini saja untuk memperbaiki ini semua", mohon Zein dengan wajahnya yang sedikit meminta dikasihani, sedetik kemudian Zein berlutut diatas lantai yang dingin, mengenggam tangan wanita itu dengan penuh keseriusan yang terpancar jelas dari netra matanya.
Syha melemparkan pandangan ke sekitar "Berdiri lah, gimana kalau orang lain lihat"
__ADS_1
"Aku tidak pernah bohong padamu, kalau aku benar-benar mencintaimu", ucapan Zein membuat Syha menahan rasa kesedihan yang bergemuruh dihatinya, andai Eden tidak menjadikannya jaminan kepada Alon. Ia pasti akan berusaha hidup berbahagia bersama pria yang ia cintai. Tapi kenapa takdir justru mempertemukan nya pada pria yang sama sekali tidak ia senangi. Ia tahu Alon selalu berusaha memenangkan hatinya, demi anak yang akan ia lahirkan.
"Akan aku pikirkan", Syha menarik tangan dari genggaman pria itu, menyeka cairan bening yang hampir lolos dari pelupuk matanya.
"Aku berharap kita bisa kembali bersama Syha", Zein berucap dengan penuh keyakinan, hatinya benar-benar ia teguhkan demi wanita yang ia dambakan.
Wanita itu terdiam, hatinya terus berbisik kalau ia menginginkan hal yang sama sebagaimana yang pria ini hendaki.
Setelah melalui beberapa kejadian yang sedikit dramatis, Zein menyelesaikan pertemuan mereka.
"Ayo pulang bersamaku", tawar Zein
"Terima kasih atas tawarannya, kita pulang bersama lain waktu saja ya", Syha tersenyum tipis, Zein tercekat menyaksikan senyuman itu.
"Maaf, membuatmu tidak nyaman". Syha melebarkan senyuman nya, Zein tidak pernah berubah meski mereka tidak lagi berhubungan. Dia adalah pria yang benar-benar mengedepankan perasaan nya, tidak seperti Alon yang memaksakan keegoisannya.
"Tidak apa, aku pergi dulu", Syha meninggalkan bangku di Alun-alun kota, menyusuri sepanjang jalan.
Zein hanya bisa menatap punggung Syha menjauh dari pandangan nya, sesaat ia membisu, kemudian berlari dengan nafas yang tersenggal mendekati wanita itu.
Syha melihat jadwal dari asisten dibalik ponselnya "akhir minggu depan aku tidak sibuk"
Zein tersenyum penuh antusias "aku ingin menunjukkan mu sesuatu, kuharap kau bisa datang nanti"
Syha menganggukkan kepala mengerti "Ya baiklah aku pergi ya" Syha melanjutkan langkahnya, Ia mendekati sebuah stand makanan yang menjual crepes. Padahal ia tidak suka sensasi kriuk di dalam mulut. tapi entah kenapa lidahnya sangat teringin mencoba sesuatu yang berbeda.
Sembari mengunyah, Syha dikagetkan dengan kehadiran Alon. Pria itu mendelik sinis ke arahnya, Alon memesan makanan yang sama.
"Bagaimana percakapan kalian?" cetus Alon seraya melipat tangan didada, suasana hatinya sedang sangat buruk saat ini.
"Ya begitulah", imbuh wanita itu
"Oh ok", jawab Alon singkat
Syha memincingkan mata, menatap pria itu dalam-dalam tidak biasanya Alon menjawab dengan nada jutek seperti ini.
"Kenapa kau-".
__ADS_1
Alon memotong ucapannya "Akan ku antar"
"Tidak us-"
"TURUTI SAJA", Sesal Alon kemudian mengisyaratkan wanita itu untuk mengikuti nya ke mobil
Didalam mobil Syha sungkan untuk membuka suara mempertanyakan apa yang telah ia perbuat sampai membuat mood pria itu seperti sedang dalam amarah yang menggebu. Sepanjang jalan ia hanya bisa terdiam, menyibukkan diri dengan memainkan ponsel.
Pesan dari Zein tampil di notif chat, Alon mencuri pandang.
ZEIN
"Kalau sudah sampai, kabari ya"
Syha langsung membalas pesan itu dengan cepat, Alon yang merasakan perlakuan yang berbeda kembali membuat perasaan nya semakin terpuruk. Sudahlah badmood semakin brokenmood
Sesaat wanita itu turun dari mobil
Niatnya ia ingin meminta maaf atas sikapnya kepada pria itu, Syha membalikkan badan hanya saja Alon sudah menutup kaca mobil dan melaju penuh.
ia tetap mengatakan kata "maaf" dari lubuk hati, walau tahu Alon tidak mungkin bisa mendengarnya
°•°
Alon menghempaskan tubuhnya diatas kasur berukuran king, tatapannya ia alihkan ke arah langit-langit kamar yang tinggi diatas sana.
Ia bahkan rela mengundurkan jadwal pertemuan nya kepada petinggi perusahaan hanya demi meluangkan waktunya untuk wanita itu. Ia mengalaskan lengan untuk menutup kedua matanya, menghela nafas berat.
Pada subuh hari Alon meneguk obat dari psikiater, ia tidak bisa mengendalikan mimpi buruk yang terus meradang disepanjang malam.
Walau memiliki banyak sekali ART. Alon tetap memasak sarapannya secara mandiri, ia sangat ingin mewarisi karir Ammanya sebagai koki. Tapi Adle justru menetapkan dirinya sebagai penerus perusahaan. Adle gencar sekali menanamkan kemampuan berbisnis di usianya sejak remaja, Adle sangat tahu kalau dia adalah anak yang paling penurut diantara saudara nya yang lain. Makanya, kakeknya itu memperlakukan nya seperti ini.
Pria itu melanjutkan sarapannya, setelah selesai. Alon mengambil ponsel dari atas nakas, membuka halaman chatnya bersama Syha.
Alon mengetikkan sesuatu disana, namun niatnya urung, ia menghapus pesan itu.
Ada baiknya jika membiarkan wanita itu untuk terbebas sementara dari belenggu yang ia tekan.
__ADS_1