
Setelah Castiel tidak lagi menampakkan diri, dan Amma telah selesai menemani Syha. Ini merupakan kesempatan Alon untuk melihat istrinya yang sedang terluka.
Sesaat memasuki kamar, wanita itu terbaring lemah diatas ranjang, menatap kosong pada kaki nya yang terbalut selimut.
Alon mendekat "beristirahatlah", Syha tidak membalas apapun "aku akan turun dulu"
Syha menengadah "Tidak bisa, aku juga harus turun"
"Tidak perlu, kau sedang terluka. Aku juga ingin mencari wanita iblis"
Syha menaikkan alisnya bingung? "Wanita iblis?"
"Kakak angkat mu", jelas Alon
"Apa yang akan kau lakukan padanya?", tanya Syha
"Memberinya pelajaran!"
"Jangan! Kumohon", pernyataan Syha membuat Alon tampak kebingungan, bukankah mereka sudah sepakat untuk saling menguntungkan dalam kontrak ini. Kenapa hati istrinya ini malah menjadi bertingkah seperti malaikat?
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin kau sampai melenyapkan nyawa orang lain", ah Alon salah mengira, ia pikir Syha sudah lupa dengan tujuan pernikahan ini. Nyatanya wanita itu hanya khawatir pada tindakannya.
Alon mengalihkan pembicaraan "Bisa kulihat kakimu?"
Syha membaringkan tubuhnya "Tidak ush, aku ingin beristirahat"
"Baiklah", Alon dengan perasaan kecewa meninggalkan kamar, menuruni tangga dan menhampiri kedua orang tuanya yang tampak sibuk berbincang.
"Bagaimana dengan istrimu?", tanya Appa yang sedari tadi juga ikut khawatir dengan kondisi menantunya.
"Dia sedang beristirahat Appa"
Appa mengangguk paham "Kalau begitu uruslah istrimu, kami akan pulang dulu", sementara seluruh keluarga akan menginap dua malam di kediaman Adle. Membiarkan pengantin baru ini untuk menikmati malam pertama mereka dengan tenang.
Alon memeluk Appa dan Amma "Terima kasih"
Alon berniat mencari keberadaan keluarga Eden, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menjamu tamu undangan sampai waktu berlalu hingga malam.
Seorang wanita dengan tampilan sensual menghampiri Alon dengan membawa dua gelas wine di tangan nya.
"Selamat atas pernikahan mu Alon", ucap Kelly "gaunnya sangat cocok dengan istrimu"
Kelly seorang designer ternama di London, ia juga bekerja untuk Reid di bidang Fashion, mereka adalah teman sejak kecil.
Alon mengangguk "Terima kasih kel"
__ADS_1
Syha merasakan tenggorokan nya sedikit kekeringan, ia ingin turun untuk mengambil air.
Wanita itu keluar dari kamarnya, berjalan beberapa langkah mendekati tangga. Syha melihat Alon bersama seorang wanita yang tampak sangat menawan.
"Wine untukmu khusus dariku", tawar Kelly dengan manja. Alon menerima pemberian itu
"Make a cheers with me babe", ujar Kelly ia terbiasa memanggil siapapun dengan sebutan seperti itu seakan budaya Amerika masih lekat padanya.
Alon tersenyum, ia ikut bersulang bersama Kelly.
Syha menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan, dia tampak sangat akrab dengan Alon. Syha teringat saat berbincang dengan Alian, ia melihat Alon bersama seorang wanita.
Bentuk tubuh yang tampak tidak asing baginya, apa wanita ini yang bersama Alon dimalam itu?. Entahlah Syha tidak ingin mencampuri kehidupan Alon, bisa saja dia adalah wanita simpanan Alon. Walau begitu entah kenapa hatinya terasa sesak melihat nya, ah tidak ia hanya mencintai Zein bagaimana mungkin ia harus cemburu melihat Alon.
Alon merasakan keletihan yang amat menyiksa, ia hanya ingin menenangkan pikirannya dengan bermandikan air hangat malam ini. Alon membuka pintu kamar, ujung matanya melirik wanita yang sedang sibuk membongkar koper yang ia bawa. Syha hanya mengenakan atasan yang tampak longgar ditubuh kurusnya. Pria itu menahan hasrat yang terus mengetuk celana nya dengan keras seolah meminta dibebaskan.
"Haish! Aku lupa membawa bajuku dari rumah Eden, besok pagi aku harus mengemasi baju ku disana", decak Syha sembari menyusun bajunya dengan rapi
T-shirt yang sedikit tersingkap, menampakkan kaki jenjang yang terdapat bekas jahitan, brutal sekali wanita ****** itu membuat luka separah ini pada Syha. Alon tidak bisa mengkira berapa jahitan untuk menutupi sayatan itu.
"Apa jahitan nya tidak akan lepas kalau kakimu kau tekuk begitu?", Syha berteriak kaget dengan kehadiran Alon, ekspresi terkejut itu membuat pria itu kebingungan.
Memang telinga istrinya setuli itukah sampai tidak mendengar suara pintu terbuka?.
"Ap-a yang k-a-au lakukan disini hah?", racau Syha tidak menentu, membuat Alon hampir saja tergelak tawa melihat tingkah laku makhluk imut di hadapannya.
"B-icar-a apa k-aamuu"
Kali ini Alon benar-benar tertawa lepas, kenapa Syha harus berbicara terbata-bata begitu "kau salting ya? Wajar sih pengantin baru memang begini".
Setelah mengucapkan perkataan seperti itu, sebuah kain tipis menghantam wajah pria itu dengan cukup keras. Membuat Alon terpaku ditempat, hampir saja ia akan berakhir tumbang.
Alon merenggut kain yang berada diwajahnya, mencermati setiap lekukan bentuk disana.
"Seksi sekali" Alon merentangkan tepat dihadapan Syha "kenapa kau melempar dalamanmu sih?"
Syha tersadar, itu ****** ***** yang selalu ia kenakan jika tidur. Dengan perasaan malu yang sudah tidak bisa lagi terselamatkan. Syha mengejar Alon untuk mengembalikan **********, tapi pria itu justru mengajaknya untuk berakting film India, berlari kesana kemari tidak menentu.
"Alon kembalikan!", bukannya menyudahi tingkah kekanakan nya itu Alon justru semakin keterlaluan, Ia mengoper ke tangan kanan dan kekiri seperti permainan basket.
Lantai yang licin membuat Syha kehilangan kendali, ia menubruk pria itu dan terjatuh ke lantai.
Sepasang mata terkunci satu sama lain, menghipnotis mereka untuk membisu dalam keheningan. Syha merasakan degup jantung Alon yang terus berdebar tidak beraturan, nafas berat yang terus berhembus, keindahan mata Alon yang seakan menelanjangi nya, membuat nya tidak bisa mengalihkan pandangan dari pria ini.
Syha mendekat kan wajahnya kepada Alon, pria itu menyambut nya dengan penuh kemenangan. Begitu mudah baginya menaklukkan wanita mana pun, mereka pasti akan terhanyut dalam ketampanan nya. Syha pasti juga akan merasa begitu.
Alon memajukan bibirnya tapi Syha sudah lebih dulu bereskpresi jengkel
__ADS_1
"KAU KIRA AKU AKAN SEMUDAH ITU BERCIUMAN DENGANMU" dalam sekali cekatan, kain itu langsung menghilang dari genggaman Alon. Syha mendorong pria itu sebagai penopang ia untuk berdiri.
Alon menatap kosong, harga dirinya benar-benar tidak ada artinya setelah ia menikah bersama wanita ini.
Dengan keadaan masih terbaring Alon mengatakan sesuatu "Amma menghadiahkan tiket pesawat ke taiwan untuk honeymoon"
Syha mendelik sinis "kita tidak perlu hal gituan"
"Amma ku itu asli taiwan, dia ingin melihat foto-foto kita disana", Alon terbangun dengan posisi duduk
"Babymoon, kita itu sudah memiliki anak"
Alon mengangguk setuju "Adle meminta hasil DNA untuk kebutuhan ayah biologis dari kandunganmu, kita akan melakukan pengecekan setelah 4 bulan keatas"
Deg! Kini jantung wanita itu berdegup dengan kencang, ia baru teringat masalahnya saat ini. Syha masih belum mengetahui ayah dari anak yang ia kandung. Kejadian bersama Zein dan Alon, membuatnya mengigit jari. Pikirannya sudah sangat kacau, apa yang akan terjadi padanya jika hasil tes itu mengarah ke mantan kekasih nya. Mungkin riwayat hidupnya akan tamat disini.
Syha berusaha bersikap tenang, jika panik begini Alon akan sangat mudah menebak jika ia sedang menutupi sesuatu dari pria itu
"Baiklah"
Syha memasukkan kembali bajunya kedalam koper, menyeret dan mendekati Alon yang masih terduduk di lantai, "Dimana kamarku tuan Alon?"
Alon mengangkat alis "apanya kamarmu?"
"Terus aku akan beristirahat dimana?"
"Disini lah, dimana lagi?", jawab Alon seraya berdiri
Syha melotot ke arah pria itu "aku tidak mau sekamar denganmu!"
"Kenapa? Kau takut aku macam-macam" Alon melangkah maju, membuat Syha melangkah kebelakang. Pendaratan terakhir adalah tembok yang tidak menyisakan baginya untuk mundur.
"Aku tidak akan macam-macam kok, kecuali mendesak"
Syha memukul pria itu dengan kasar "tutup mulutmu itu"
"A-duh iya hentikan, kamarmu sedang dipersiapkan jadi sementara beristirahat lah disini. Aku akan tidur di ruang TV", Alon mengambil selimut dan benda empuk kesayangannya.
"Apakah aku sudah cocok menjadi suami yang sempurna? Aku rela loh melakukan ini demi dirimu", Syha membalas dengan mengacuhkan ucapan Alon, pria itu sudah berlalu pergi dan menutup pintu.
Syha merasakan gerah pada tubuh nya, mungkin ia harus berendam untuk menghilang rasa lengket pada tubuhnya.
Syha mengangkat atasannya, baru terangkat setengah pria itu membuka kembali pintu secara mendadak. Membuatnya lagi dan lagi berteriak histeris
"Woii, kenapa kau tidak mengetuk dulu hah sebelum masuk?", Syha berjongkok untuk membenam wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu
"Aku ingin mengambil handuk ku dikamar" Alon menyelempangkan kain itu dibahunya, menatap istrinya yang bersikap sangat lugu.
__ADS_1
"Tidak perlu malu begitu, bagian mana sih yang tidak pernah aku lihat", Alon bersiap berlari sesaat istrinya sudah mengacang-ngacang untuk melempar perabotan yang ada dikamar.