
..."Apa kau memberiku ku kesempatan untuk melabuhkan hatimu untukku?"...
...𝐴𝑙𝑜𝑛 𝑅𝑒𝑖𝑑...
Alon menarik nafas "Baiklah begini saja, kau mau menebus kesalahan mu?" Tanya pria itu.
Syha mengangguk dengan mantap, tatapannya menanti jawaban.
"Perlakukan aku layaknya suamimu." Alon tidak butuh segala uang ataupun harta benda untuk membayar kerusakan mobil dan prilaku kriminalisasi Syha karena semua itu sudah dimiliki nya. Hanya saja pengakuan sah di dalam pernikahan oleh wanita yang sudah ia anggap istri, bersumpah setia dihadapan Tuhan adalah hal yang belum di dapat kan olehnya.
Termangu menatap, wanita itu merasakan sendi lututnya bergetar hebat.
Menganggap Alon seperti suaminya?
"Aku-," Syha tercekat pupil matanya bergerak gelisah. Bukan ini tebusan yang dirinya inginkan, "apa tidak ada selain itu?"
Alon menggeleng sebagai jawaban, "aku tidak akan memaksamu, itu pilihanmu ingin menerimanya atau tidak."
Wanita itu tertunduk, menatap kaki jenjang nya yang menapak diatas aurum. Ia mendongak dengan iringan anggukan, "baiklah selama apa aku harus begitu?"
Alon tersenyum simpul, "sampai kau pergi meninggalkan pernikahan ini."
Syha termenung, tidak merespon sepatah katapun untuk menanggapi.
"Karena kita memulai cerita menjadi sepasang suami istri sungguhan, gmana kalau kau panggil aku sayangku, suamiku, darling, bunny, honey.. "
Dalam cekatan Syha mendengkap mulut Alon untuk berhenti bergumam, wajahnya kini bersemu merah menahan gejolak yang mendidih dari lubuknya. Mana mungkin ia harus memanggil Alon seperti itu, "yang benar saja, kau gila ya?"
Alon berdecak "ish, yaudah S A Y A N G," eja Alon seakan mengajarkan seorang anak kecil membaca.
Syha terbelalak mengacungkan jari didepan bibirnya mengisyarat untuk memelankan suara, "jangan ngomong begitu tidak enak didengar."
Alon menyeringai, apa yang harus tidak di enakkan mereka kan sudah resmi menjadi suami-istri. Bukannya menyudahi, pria itu justru melantangkan suaranya "IYA SAYANG INI SUARANYA JUGA UDAH KECIL KOK," ucapnya dengan oktaf yang tinggi.
Sepasang mata yang tengah berlalu lalang menyaksikan tingkah laku kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara, Syha melotot mencubit bagian perut pria itu dengan keras.
Alon meringis memohon ampun, "kan tadi kau sepakat mau menebus kesalahan mu, aku udah baik menghilangkan tebusan itu malah kau sendiri yang nolak."
"Cih, udh diam" decit Syha melepaskan cubitan nya, bibirnya mengerucut kesal. Walau entah kenapa hatinya berdebar-debar tidak karuan saat Alon melontarkan panggilan itu kepadanya.
Alon memiringkan kepala dengan lipatan tangan di dada, "mana ni?"
Syha melirik sekilas, "apanya?"
"Sayangnya mana?"
Syha ternganga, rahangnya terbuka lebar ia lekas menggeleng berkali-kali "au ah ga peduli," ujarnya melenggang pergi meninggalkan Alon yang tertawa kecil. Tau begini lebih baik dirinya banting tulang mencari uang dari pada harus merasa malu dengan kesepakatan ini.
__ADS_1
❁
"Suapin yang itu dong," Alon terus menunjuk beberapa hidangan yang tersaji, menunjuk pada benda bundar berisikan gyoza di atasnya.
"Kamu kan ada tangan, ambil sendiri lah!" Sungut Syha dengan wajah jengkel, tetapi Alon justru membantah perkataan nya.
"Ga mau nurut ni?" Ancam Alon dengan kedua alis terangkat.
Syha mengumpat dengan kasar "dasar babi rakus! Nih!" Ia lalu menyodorkan gyoza, ekspresi nya berubah merengut dengan uluran yang terus menunggu Alon membuka mulut.
Syha mengigit bibirnya, "Buka ih!" Gerutunya.
"Buka sayang mulutnya, gitu. Jahat sekali kau bilang aku babi," cetus Alon.
Syha memutarkan bola matanya. "Sayangku, cintaku, manisku buka ya mulut nya," tutur wanita itu, walau terdengar sebal Alon tetap tersenyum lebar. Wajahnya memancarkan senyuman yang merekah.
"Kita serasi banget ga sih?" Pertanyaan Alon mendapatkan tatapan tajam dari lawan bicaranya.
"Serasi dari mana, bawel banget," gyoza ditangan, Syha masukkan begitu saja ke dalam mulutnya. Tidak mempedulikan tatapan yang disorot kan kepadanya.
Alon menukik alisnya, "hei itu gyozaku kenapa kau masukkan, keluarkan!" Titahnya.
Syha menggeleng dengan cepat, bergumam dengan mulutnya yang masih menguyah "ga mau, lagian kau lama sekali. Untuk nganga aja aku bisa touring satu kota London." Ujar wanita itu tanpa merasa bersalah.
"Syha apa kau mau-," sebelum Alon melanjutkan ucapannya, Syha sudah lebih dulu menyela.
Alon menganggukkan kepala menuruti kemauan istrinya untuk kembali ke kediaman.
❁
Alon mengenakan jas nya kembali, "Aku harus kembali ke perusahaan, beristirahat lah jangan lupa minum susu kehamilan mu."
Sosok yang diajak bicara hanya terdiam mendengar rangkaian kalimat itu, Alon menghela nafas. "Besok kita lihat hasil DNA dari janin mu," sambungnya sembari membalikkan badan, meninggalkan Syha yang terduduk di sofa dengan majalah di tangannya.
Wanita itu menyahut "Hati-hati."
Alon berhenti melangkah, berputar untuk mendekat ke arah wanita itu.
Syha terperanjat saat mendarat sebuah kecupan lembut di gumpalan merekah miliknya, sebelum melemparkan sebuah tamparan kepada Alon. Pria itu sudah lebih dulu berlari tergesa-gesa meninggalkan istrinya dengan wajah yang kesekian kalinya selalu bersemu merah.
Kenapa Alon terus membuatnya salah tingkah?
Waktu terus bergulir berjalan, bulan datang menemani menggantikan matahari yang telah selesai dengan tugas nya.
Syha terduduk merenung ditepian kolam, nafasnya menderu untuk terus mengeluarkan helaan. Ia beranjak berdiri, berjalan untuk kembali ke kamarnya. Detakan jarum jam mengarahkan pukul 10 malam, bersamaan dengan Alon yang memasuki mansion.
Ujung mata pria itu melirik derapan langkah yang menaiki anak tangga, "sudah mau tidur?" Tanya Alon dari lantai bawah.
__ADS_1
Syha berbalik sekilas, "iya" timpalnya.
Alon ikut menaiki tangga, memandang istrinya yang terpaku menatap kebingungan. "Ayo tidur sekamar."
Reflek Syha memajukan wajahnya, menajamkan pendengaran nya lekas bertanya kembali untuk memastikan, "apa kau bilang tadi?"
"Tidur sekamar," tekan pria itu "terakhir kali kita sekamar waktu di taiwan, itupun pisah ranjang. Kali ini aku mau seranjang denganmu," sambungnya.
"Kau mau enaknya aja ya?" Tampik Syha.
"Kalau mau enaknya aja dari dulu aku udh menyelusup masuk ke kamarmu," balas pria itu, Alon melanjutkan langkahnya mengajak istrinya untuk ikut bersama.
Syha menggeleng pasrah, berjalan beriringan memasuki kamar yang terbentang dengan luas. Dengan gerakan otomatis wanita itu menarik bantal dan selimut yang terapit ditangan, membawanya jauh dari kasur berukuran king.
Alon yang hendak melepaskan kancing kemeja bertanya dengan raut bingung "mau kau bawa kemana?"
"Jalan-jalan! Ya buat tidur lah apalagi," jawab Syha dengan sewot, melemparkan kedua pasang benda itu diatas sofa.
Alon sigap menarik kembali kedua barang itu, meletakkan nya pada tempat semula.
"Tidurlah disini, mengerti kan?"
Syha membalas dengan anggukan menyerah mendaratkan bokongnya untuk duduk. Tanpa titah, Alon membuka kemeja putihnya menampilkan tone pucat dengan urat otot yang tembus dari kulit pasinya.
Syha memekik histeris "KENAPA KAU MEMBUKA BAJUMU DI SINI!," Teriaknya menangkup wajah, ia terus mengumpat disebalik telapak tangannya.
"Kau kan istri ku, lagian sudah pernah lihat kenapa harus malu," pungkas pria itu dengan santai. Syha membalas dengan sumpah serapah yang terus menyerocos dari lidah mencoba untuk tidak mengitip disebalik celah jarinya.
Alon menyampirkan kemeja pada sebuah kursi lekas memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.
Setelah selesai berganti piyama, Alon memandang istrinya yang berbaring membelakangi. Sembari mengusap rambut yang basah dengan handuk, ia menepuk pundak Syha dengan pelan.
"Sudah tidur ya?"
Syha menggeleng dengan pelan "belum," tukasnya.
Alon berbaring, mematikan lampu tidur dan merebahkan tubuh nya. Menghela nafas dengan kasar, lehernya menoleh "Apa kau tidak mau menatap suamimu saat tidur."
Dengan gerakan patuh Syha membalikkan posisinya dengan arah berlawanan, tatapannya sendu, titik fokusnya ia alihkan kebawah seolah sudah tersetel untuk tidak beradu pandang.
Alon mendekat, membelai surai dan wajah itu dengan kasih sayang. Berhasil, wanita itu menengadah memandang wajahnya.
"Kau pasti sangat keberatan menjalani pernikahan ini," kata Alon dengan lirih.
Wanita itu bereaksi dengan gelengan. "Tidak apa, aku merasa lebih baik belakangan ini," bukan karena menjalankan tugas untuk menyenangi hati suaminya, perasaan kecil menyalurkan isi hati yang tersimpan di lubuk, merasakan kenyamanan yang sudah lama hilang kini kembali saat pria ini hadir didalam hidup nya.
"Syha," panggil Alon dengan lirih, pemilik nama menautkan alisnya menanti perkataan selanjutnya.
__ADS_1
"Aku ingin menanyakan hal ini lagi kepadamu, berikan aku jawaban iya atau tidak," tutur pria itu mengatur ritme nafasnya. "Apa kau memberiku ku kesempatan untuk melabuhkan hatimu untukku?"