Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 6 HARI H


__ADS_3

Sankt Peterbug


Upacara suci berjalan dengan khidmat, sekumpulan tamu menangis tersedu menyaksikan momen mengharukan oleh kedua mempelai, terutama Fred dan Shu yang akan melepaskan putra bungsunya melayarkan bahtera rumah tangga, memulai lembaran baru bersama keluarga kecilnya.


Visual 𝘸𝘦π˜₯π˜₯π˜ͺ𝘯𝘨 Rasyhanda π˜”π˜°π˜°π˜― & 𝘈𝘭𝘰𝘯 π˜™π˜¦π˜ͺπ˜₯



Keduanya saling berpegangan tangan, menyerukan sumpah janji suami istri. Memasangkan cincin satu sama lain, lalu mempelai pria mencium kening seorang wanita yang kini berstatus sebagai istrinya.


Ini adalah yang pertama bagi Alon Reid berbeda dengan Rasyhanda yang pernah menjalin ikatan pernikahan sebelumnya.


Hingga sampai di hari pernikahan mereka, keluarga Reid dan Eden tidak pernah mengetahui jika Rasyhanda melaksanakan pernikahan untuk yang kedua kalinya.


"Jadi wanita dimalam itu benar-benar sebagai pengganti?"


"Wanita penggoda akan selalu menang, lihatlah dia setelah ini pasti akan malu akan dibawa kemana wajahnya"


"Pemberkatan juga tertutup, Reid bahkan malu mempublikasikan pernikahan ini kepada publik."


"Bagaimana tidak, anak bungsu mereka menghamili seorang wanita pelacur. Aduh menggelikan sekali, diberikan wanita yang suci malah milih kotor. Keluarga Reid benar-benar kehilangan akal."


Suara desus yang menguliti perasaan, Syha menegarkan mental walau pelan-pelan tudingan itu menggerogoti jiwanya.


Keduanya diarahkan untuk saling berhadapan.


Alon mengenggam kedua tangan itu dengan erat, "jangan terlalu dipikirkan abaikan saja mereka." Bisiknya pelan.


Syha menghembuskan nafas kasar, menatap manik iris pria dihadapannya "kau tidak sungguh-sungguh menyatakan janjimu kan?"


Alon terdiam sejenak "Kalaupun tidak sungguhan, Tuhan telah menjadi saksi atas sumpah yang kita utarakan."


Syha menelan salivanya, memilih untuk tidak tidak berkutik.


Pasangan itu menuruni altar pernikahan, merayakan kebahagiaan dengan melepaskan merpati sebagai simbol cinta diantara mereka. Ujung bibir keduanya terangkat membentuk lekukan, senyuman yang terukir pendustaan. Tepukan gemuruh menjadi akhir dari acara sakral tersebut.


Mansion keluarga Reid


"Selamat atas pernikahan kalian," Fred memeluk pasangan itu dalam satu pelukan, ia tampak membersihkan kaca mata yang ternodai tetesan air mata. Shu juga ikut memeluk keduanya dengan hangat.


"Kamu berhak berbahagia kembali Syha," Hesti mendekati sahabat karibnya itu dengan memberikan buket bunga ditangannya.


"Aku juga tidak menduga kau menikahi Alon, suami idamanku," Mona memeluknya dengan tangisan yang terus mengucur dari pipi.


"Aku tidak ikhlas kau menikah dengan Alon, tapi kalau kau membagi link bisa dibicarakan," Sahut Alian dengan kekehan tawanya.


Hesti mencubit Alian dengan keras "Dasar"


Alian mengerucutkan bibir "halah kau kalau kukasih juga ga bakalan nolak"


Hesti melotot "Aku tidak mesum seperti kau Alian," cibir nya.


Syha tertawa kecil, menatap iparnya dari kejauhan lekas dirinya berjalan mendekati Yuna untuk bersalaman, awalnya wanita itu tersenyum riang bersama bayi dan putri kecilnya. Senyuman itu seketika sirna Yuna bersikap acuh dan menjauh, meninggalkan Sua putrinya yang tak berhenti memandanginya.

__ADS_1


"Cici cantik sekali," Sua memeluknya, Syha membelai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang, lucu sekali.


"Sua..," Yuna memanggil putrinya, mengisyaratkan untuk tidak berbicara apapun kepada Syha. Sua dengan wajah murung melepaskan pelukan dan menghampiri ibunya.


Wanita itu tersenyum hambar, padahal ini adalah momen yang paling membahagiakan bagi semua orang. Tapi entah kenapa perasaan nya tak mampu menyamakan momen yang terjadi.


"Hey berbahagialah nona," ucap Adam disebalik punggungnya


Syha berbalik tersenyum tipis, membalas dengan anggukan "Iya aku bahagia kok."


"Ah kurasa tidak begitu," sekelip mata seorang wanita datang menggandeng lengan Adam, memanggil nya dengan sebutan sayang. Wanita itu tampak merengek meminta untuk ditemani.


Adam berpamitan untuk pergi, "maaf saya tinggal dulu," kata pria itu.


Sepertinya itu kekasih Adam


Alon tampak sibuk berbincang dengan rekan kerjanya, Fred dan Shu juga bersenda gurau dengan tamu undangan. Syha mendekati mertuanya, memberikan salam kepada para tamu.


"Menantu kalian cantik sekali, ternyata Alon sangat lihai memilih seorang wanita" puji seorang pria yang sebaya dengan Fred.


Seorang wanita menimpali, "tentu saja wanita yang dia pilihkan VIP dari sebuah bar bahkan bisa dibawa pulang untuk dinikmati seumur hidup."


Syha tercekat, Fred dan Shu saling berpandang canggung.


"Syha bisa tolong bawakan salad untuk Amma?," pinta wanita itu mengisyaratkan menantunya untuk menjauh dari perbincangan mereka.


Syha mengangguk mengerti, berbalik badan untuk pergi. Dari kejauhan Eden terus melemparkan pandangan ke arahnya, termasuk Hannah yang terus menukik tajam dengan sorot yang menyeramkan.


Syha melangkah kan kaki mendekati keluarga angkatnya, jantung nya memompa seirama dengan langkahnya yang mulai terasa gentar. Syha harus tetap meminta restu pernikahan kepada Eden.


"Oh kau sekarang merasa hebat hah? Menghilang tanpa kabar, sekarang kau merebut calon suami orang," Cerca Hannah.


Cengkraman pada pergelangan tangannya mulai memerah. Syha membalas tatapan itu dengan penuh perlawanan "Apa maumu kak."


Hannah menyeringai "kenapa kau masih bertanya?," murkanya dengan menggebu, Hannah tidak menerima atas kelancangan adik angkatnya sampai bertindak sejauh ini.


"Maaf aku terpaksa melakukannya," hanya ucapan maaf yang bisa terlontar dari lisannya, Syha tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan alasan sesungguhnya.


Sreekk!


Sayatan cutter berhasil merobek gaun putih itu dari atas turun kebawah.


"Akh," suara rintihan terdengar, darah segar mengalir dari paha jenjang wanita itu, sayatan yang cukup memanjang disana.


Maya menarik Hannah untuk menghentikan perbuatannya "apa yang kamu lakukan nak, hentikan." Maya terus membujuk Hannah, tetapi Eden? Pria itu bahkan tidak mencoba untuk melindungi sebagaimana ia menyelamatkan Syha dari tragedi.


Hannah mengacungkan cutter "Bagaimana kalau kau harus kehilangan buah hatimu sekarang? Apa kau yakin masih bisa tetap hidup."


Wanita itu bersimpuh, menahan aliran darah yang terus mengeluarkan cairan tanpa henti. Hannah kembali mengarahkan ujung runcing itu ke perutnya, Syha yang mengelak terjatuh kedalam kolam.


Air menjelma menjadi merah pekat, layaknya bermandikan darah. Hannah membisu, sengaja menggores benda tajam itu melukai dibagian kaki, Pasti akan sangat sulit bagi saudari angkatnya untuk mengapung ke udara. Menyaksikan Syha meminta pertolongan tidak membuat hati keras itu luluh untuk membantu.


"RASYHANDA!!"

__ADS_1


Seorang pria terjun kedalam kolam menyelamatkan wanita yang tampak kesulitan bernafas. Alon mengangkat istrinya untuk naik, merebahkannya diatas lantai.


"Syha, bangun"


Syha tidak sadarkan diri, Alon terus mencoba memompa jantung, memberikan nafas buatan dan terus kembali memompa.


Alon mendekatkan telinga tepat di posisi jantung, tidak terdengar detakan sama sekali, memeriksa nadi yang juga tidak berdenyut. Ia terus berteriak histeris "SADARLAH, kumohon SADARLAH."


Tapi wanita itu tak kunjung menghembuskan sehela nafas pun, Alon berkecamuk memukul lantai dengan depresi.


Tatapan teralihkan pada Hannah yang terpaku diam disana, mendadak pria itu mengangkat sebuah vas bunga yang hendak dia hempaskan.


"Berani sekali kau menyentuh nya!," pekik Alon dengan tatapan membunuh, Tapi Fred dan Adle menahan aksinya, Alon terus mencoba memberontak.


Castiel menggantikan memompa untuk menyadarkan Syha, tak lama wanita itu terbatuk-batuk menyemburkan air dengan keras dari mulutnya.


Saat mata yang mengatup terbuka ia melihat Castiel dengan wajah kerisauan, Alon melempar vas itu ke sembarang tempat. Membopong Syha untuk membawanya ke rumah sakit.


Alon melangkahkan kaki melewati Hannah yang termangu, tampak wajahnya menahan rasa ketakutan yang tidak bisa diekspresikan.


"Akan ku patahkan jarimu setelah ini," bisik Alon penuh ancaman. Bulu kuduk Hannah seketika berdiri. Alon bukanlah pria yang bermain-main dengan ucapannya.


"Alon," Syha memanggil pria itu dengan lirih "kau akan membawaku kemana?"


"Tidak ush banyak tanya."


Wanita itu memandang netra Alon yang terlihat menonjolkan urat "kau habis menangis ya?"


Alon membuang wajah "tidak, kelilipan."


"Aku tidak ingin kerumah sakit," Alon dengan cepat menghentikan langkah, berbalik badan dan membawa istrinya menuju lantai dua, kemudian meletakkan wanita itu diatas ranjang.


"Akan kupanggil dokter kesini untuk memeriksamu."


Selang tak beberapa lama, dokter datang dengan membawa obat. Membersihkan darah pada sayatan, ditemani Shu yang setia disisinya.


"Nona saya harus menjahit bagian ini, karena luka nya cukup lebar." Syha mengangguk mengiyakan.


Setelah jahitan selesai, dokter keluar dari kamar.


Alon yang sedang bersandar dengan wajah cemas, langsung memasuki kamar tanpa bertanya apapun.


Alon melayang pandang pada Syha yang sedang setengah bertelanjang untuk berganti pakaian, pria itu membuang tatapan dan kembali menutup pintu dengan keras.


Shu memandang bingung, "kalian kan sudah suami istri, kenapa harus begitu?"


Syha menggeleng kaku, tidak mengerti.


Dibalik pintu, Alon menutup wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu.


Castiel memergoki sikap adik nya, dengan rasa penasaran Castiel menepuk kedua pundak itu. Alon sontak terkejut dengan hebat, wajahnya menggelegak merah.


"Kenapa wajah mu itu?"

__ADS_1


Alon menelan saliva nya berat, pria itu lekas meninggalkan abangnya begitu saja.


__ADS_2