
"Terima kasih atas kenangan terindah yang kau berikan padaku, aku berharap.... (Stay tune for the next word 🐣)"
Hope in fly Lattern 🏮
𝓡𝓪𝓼𝔂𝓱𝓪𝓷𝓭𝓪 𝓜𝓸𝓸𝓷
...KONFLIK PERNIKAHAN AKAN MULAI BERMUNCULAN...
...❁...
Syha menyeret kakinya untuk kembali kedalam mansion. Berbaring dengan merentangkan tubuh nya sebesar ukuran sofa. Menenangkan pikiran dari perjalanan yang sangat panjang untuk kembali ke London.
"Nona apa anda butuh sesuatu?" Seorang pelayan merunduk seraya mendekati nya, memahami keadaan nonanya yang sangat kelelahan setelah pulang berbulan madu bersama majikannya.
Syha menggeleng dan lantas bertanya, "dimana Nanny?"
Tidak ada satu kata pun terdengar dari mulut pelayan itu, Syha berpikir negatif. Apakah Alon sudah mengusir Nanny dari rumah ini?
Alon yang berdiri didekat Syha menjawab pertanyaan itu "buatkan susu hamil untuk istriku."
Pelayan itu mengangguk, setelah selesai terlihat wanita itu membawa nampan dengan gelas di atasnya kepada Syha.
"Apa kau mengusir Nanny?" Syha sedikit menaikkan oktaf suaranya dihadapan Alon. Bukankah dia telah menuruti kemauan pria ini agar Nanny tidak sampai dipecat?
"Tidak, dia ingin pulang menemui putranya" Alon mengalihkan pandang "Minum itu," titahnya seraya berlalu menuju ruang kerja.
"Dasar pendusta, katanya ga mau berhubungan dengan wanita manapun setelah menikah" gerutunya dari hati, Syha melangkahkan kaki untuk pergi dari sana
"Nona susu and-" pernyataan pelayan, sudah lebih dulu terpotong dengan penuh penekanan oleh Syha.
"Kau saja yang minum!" Bentak wanita itu memijakkan kaki pada anak tangga untuk naik keatas, membuka pintu kamar miliknya yang sudah dirombak total oleh Alon. Untung saja pria ini menuruti perkataannya kalau tidak ia pasti akan menghabisi nya.
Syha membenamkan wajahnya didalam bantal, seorang wanita bernama Kelly berhasil mengacaukan pikirannya. Syha menelentangkan tubuhnya, mengusap perut sembari bersenandung kecil.
"Aku harus kuat bertahan demi anak ini."
Sebuah ketukan pintu terdengar. Syha mempersilahkan masuk.
"Ehm nona, tuan meminta anda untuk turun makan siang."
Wanita itu kembali membentak dengan kasar, "TIDAK USAH! KATAKAN PADANYA AKU TIDAK INGIN MAKAN" pelayan itu memandang ketakutan, merunduk lalu menutup pintu.
Efek kehamilan membuat perasaan nya semakin sensitif, Syha mudah tersulut emosi dan amarah yang tidak bisa dikendalikan.
Wanita itu memilih tertidur, mengabaikan panggilan Alon yang memintanya untuk turun, besok ia akan terus mengabaikan Alon. Melupakan kejadian ini dengan kegiatan padatnya.
Kantuk mata yang tersisa 5 watt akan segera tertutup, Syha beristirahat untuk beberapa jam kedepan
❁
__ADS_1
Alon mengetuk pintu, mendorong nya untuk terbuka sekaligus menenteng meja kecil berisikan makanan dan buah yang sudah pria itu siapkan untuk makan malam. Hampir seharian Syha tidak memasukkan apapun ke dalam perutnya.
"Kenapa kau tidak ingin makan" Alon bertanya dari kejauhan, tidak ada jawaban dari sana
"Apa kau sakit?" pria itu terduduk ditepian kasur mencoba menyentuh kening istrinya.
Syha menangkis tangan yang mencoba merecoki bagian wajahnya "Jangan sentuh aku!"
Alon menukik alisnya bingung "kenapa denganmu?"
"Pergi keluar sana," usir Syha ia kembali membalut tubuhnya dengan selimut.
Alon mengusap tengkuknya "ada masalah apa?" Tanya pria itu yang masih tidak mengerti kenapa istrinya terus bersikap ketus kepadanya sedari pagi.
"Makanlah, setidaknya pikirkanlah anak didalam janin mu."
Syha melirik Alon dengan tatapan sayup "kau peduli begini karena apa?"
"Apa maksudmu?" tanya Alon terkejut.
"Kau peduli padaku atau pada anak ini" tekan Syha.
Alon terdiam, bimbang akan menjawab bagaimana "sudah jelas anak di dalam kandungan mu."
Syha terdiam, ia lalu terduduk, menarik meja kecil berisi makanan itu untuk mendekat. Mengunyah sepotong roti, daging asap, cream soup lalu buah-buahan yang disajikan.
Syha menggeleng santai "tidak."
Pria itu tidak langsung percaya begitu saja, Alon terus mendesak Syha untuk berbicara sejujurnya "katakan padaku jika ada masalah."
"Kan sudah kubilang tidak ada," wanita itu masih tampak sibuk mengunyah.
Alon menarik napas, tidak ada gunanya juga memaksa Syha untuk terus terang, "setelah ini kita akan melakukan pengecekan terhadap janin mu." Ucapnya.
Saat sesendok sup cream itu akan masuk ke mulut, Syha membalas dengan mengangguk.
❁
Setelah bebenah dan membersihkan tubuhnya, Syha mengenakan pakaian seadanya. Mungkin karena kehamilan ia tidak lagi terlalu memikirkan penampilan.
Sesaat mobil terparkir di parkiran rumah sakit, Alon menurunkan Syha dengan menawarkan uluran tangan, tapi wanita itu menolak lalu turun secara mandiri.
Walau Syha terkenal cuek, ia tetap merespon walau membalas dengan singkat, tetapi kali ini istrinya itu benar-benar tidak ingin berbicara apapun kepadanya.
Alon mencoba meraih lengan istrinya "Syha-" panggilnya.
Dari kejauhan seorang pria tampak berlari dengan tergesa-gesa, Alon menarik lengan wanita itu untuk mendekap agar tidak menubruk.
Siraman cairan keras tepat mengenai Alon, pria itu berteriak histeris "arkhh"
__ADS_1
Syha membelalakkan mata, ekspresi nya terguncang hebat karena syok yang besar. Reflek Syha berteriak meminta pertolongan kepada orang sekitar, seorang petugas keamanan berlari menuju suara, beberapa dari mereka menyiramkan Alon dengan air mineral. Dengan cekatan cepat Syha berlari mengejar lelaki berbalut hodiee hitam itu, meninggalkan Alon yang terbaring lemah.
Syha tidak bisa menerima ini, "hei tunggu" jerit nya memangil. Kaki itu terus mencoba berlari, genggaman tangannya berhasil meraih tudung hoodie sehingga membuat lelaki misterius itu terjatuh tersungkur kebelakang.
Syha menahan sekuat tenaga. Saat ingin membuka masker yang dia kenakan, tubuhnya terdorong dengan keras, dengan cepat pelaku berlari kabur dan berlalu dengan sebuah motor sport CBR.
Semua orang tampak beramai-ramai berkumpul menyaksikan kejadian yang tidak terduga pada tempat kejadian.
Syha berlari menghampiri suaminya yang dibopong oleh petugas "Alon, Apa kau baik-baik saja," raut wajahnya terlukis rasa cemas.
"Tenang nona kami akan membawanya ke ruang rawat" sebuah brankar sudah disiapkan dengan cepat oleh para petugas medis, mengangkut Alon yang tidak sadarkan diri dan mendorong roda-roda itu menuju ruang UGD.
Syha mengikuti arah perginya para perawat dan dokter yang bersiaga, tapi langkahnya harus terhenti karena seorang petugas melarang nya untuk masuk.
"Nona tunggu lah disini, kami akan melakukan pengecekan."
Syha terpaku membisu memandang suaminya yang dikerumuni oleh tenaga medis, merogoh ponsel sembari menunggu hasil pemeriksaan. Wanita itu menekan sebuah kontak, ia ingin mengabari keluarga Alon mengenai masalah ini.
Tetapi tubuhnya gemetar ketakutan untuk melakukan hal itu, didaratkan jarinya pada nomor lain.
"Bisakah kau datang ke rumah sakit?" pinta Syha kepada seseorang dipanggilan itu.
Adam tampak bingung dengan suasana yang melonjak panik "Ada masalah apa?"
"Alon tersiram air keras oleh pria asing, aku tidak tahu harus berbuat apa" Syha berusaha menahan air matanya karena terbalut guncangan yang membuat sekujur tubuhnya tak berdaya.
"Baiklah aku kesana" tandas Adam, kemudian mematikan panggilan.
Syha menatap sendu pada kondisi seorang pria yang terbaring lemah disana, ia mengepalkan kedua tangan memanjatkan doa kepada tuhan agar Alon bisa melalui masa kritisnya.
𝙎𝙞𝙙𝙚*
Di lain sisi, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri mobil dan memasuki kursi pengemudi. Pakaian yang basah dengan keringat terus menetes dari dahi ia melepaskan masker yang menutupi wajah sembari mengatur ritme nafasnya.
"Bagaimana?" tanya Hannah memandang pria itu dengan penuh penasaran.
Sesosok itu menoleh "aku hampir saja ketahuan," jawabnya lalu memajukan gas mobil.
Ujung mata Hannah melirik "Bagaimana rencananya?"
Pria itu berdecak kesal "cih, padahal aku mengacang untuk menyiramkan nya kepada Syha, tapi malah Alon yang kena"
Hannah membelalakkan mata "APA KATAMU?" Wanita itu seketika meninggikan suaranya "JIKA TERJADI SESUATU PADA ALON, KESEPAKATAN KITA AKAN KUBATALKAN!"
Lelaki itu mengeraskan rahang "aku juga tidak tahu kalau yang bakalan kena itu Alon!"
Hannah melipat tangan dan menatap geram, "Dasar! sudah dibayar tidak bisa diandalkan"
Tidak merespon, pria itu justru mengeraskan kepalan tangannya dan membanting stir mobil dengan kasar.
__ADS_1