Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 31 GRAND REUNION


__ADS_3

Phone call


"Mintalah supir untuk mengantarkan mu nanti." Ucap suara di panggilan seberang.


Syha teringat atas kejadian egois yang ia lakukan terhadap mobil Alon, bagaimana mungkin dengan arogan nya ia menerima tawaran itu.


"Aku minta maaf atas kejadian yang aku lakukan pada mobilmu," Syha merasakan suaranya yang terdengar sendu lalu melanjutkan, "Hesti akan menjemput ku."


Disana, pria itu tersenyum tipis. Meski keras kepala, istrinya ini masih tau caranya meminta maaf.


Alon bukanlah tipikal yang bisa mengendalikan rasa emosi. Entah apa yang terjadi jika dirinya tidak membesarkan rasa kesabaran menghadapi Rasyhanda mungkin dia akan lenyap ditangannya, tindakan yang mungkin jauh lebih brengsek dari perlakuan yang Zein lakukan.


Alon menanggapi dengan sedikit berdeham "Tidak perlu diperpanjang, aku sudah melupakan hal itu. Akan ku suruh Adam mengawasi mu selagi aku tidak ada."


Tidak ada suara balasan, Syha tampak sibuk merapikan tatanan make up nya yang sedikit berantakan, mengerai rambut dengan indah memberi sedikit sentuhan akhir di bibirnya.


Kondisi hamil tidak memungkinkannya menggunakan pakaian yang ketat, dress longgar dengan warna putih polos menjadi pilihannya saat ini.


"Kudengar kau akan tampil," Alon mendapatkan informasi mengenai susunan acara dari Reuni universitas nya. "Tidak sebaiknya kau menerima tawaran itu dengan kondisi kehamilan mu saat ini."


"Aku baik-baik saja, mereka meminta ku untuk mempersembahkan satu lagu," balas Syha teguh dengan keputusannya, acara ini adalah hal yang dinantikan olehnya kembali berdiri mengenang memori yang pernah ada.


Terdengar helaan kasar dari pria itu "akan aku usahakan untuk lebih cepat menyelesaikan tugasku," Ingin rasanya waktu berputar dengan cepat, ia mungkin tidak perlu bersusah payah melayani klien penting malam ini.


"Ok," jawab Syha singkat.


Alon manggut-manggut "Jam berapa tampil?". Tanyanya


Syha merespon "9 malam"


Alon membalas dengan mengiyakan, "Baiklah, jaga dirimu jangan jelajatan melihat pria lain," kencamnya dengan nada iseng namun terlihat menekan.


"Iya-iya bawel," sewot Syha hendak mematikan panggilan.


Alon terkekeh kecil "Kalau ga bawel, ga sayang dong."


"Sudahlah diam," sergah Syha menyudahi percakapan mereka. Alon tidak akan pernah berhenti mengusilinya setiap hari.


Ia melenggang pergi, berjalan menghampiri supir yang telah menanti kedatangannya di samping pintu penumpang.



Suasana begitu meriah di Universitas SeaOc, ornamen yang tidak pernah berubah di setiap sisi gedung selama 5 tahun lamanya. Sudut kampus dipenuhi dengan tawa dan senyum dari para alumni yang telah berkumpul untuk merayakan reuni mereka yang sudah lama dinanti. Terdengar lantunan musik yang menghentak-hentakkan hati, sementara cahaya matahari terbenam memberikan sentuhan emas yang indah pada bangunan kuno kampus.


Jas formal dan gaun indah memenuhi seantero aula serta tenue pakaian kasual yang dikenakan oleh para dosen.

__ADS_1


Di tengah-tengah keramaian, terdapat seorang pria tua dengan wajah penuh kenangan, berdiri di podium dengan tangan menggenggam mikrofon. Ia adalah Profesor Derick, seorang mantan dosen terkemuka.


Semua mata teralihkan memandang kewibawaan yang terpancar dari atas panggung.


Suara baritonnya menyebar ke seluruh penjuru area.


"Selamat datang para alumni universitas SeaOc tercinta, telah sekian lama terpisah kini kita kembali bertemu di momentum yang sama. Seakan kenangan membawa kita kembali untuk bernostalgia, semoga kalian semua bisa menikmati acara yang telah diselenggarakan. Saya ucapkan terima kasih atas antusias nya yang luar biasa," profesor Derick menutup penyambutan nya.


Seseorang berteriak memanggil sebuah nama, "Syha" sembari melambaikan tangan mendekati objek yang sedang mematung berdiri.


"Wow you look so stunning!" Puji Rena dengan wajah berbinar, memeluk dan melepaskan rindu yang telah lama terpaku.


Wanita itu membalas dengan senyuman "Thank you."


Tidak lama Hesti ikut hadir di tengah-tengah mereka menggandeng seorang pria misterius disamping nya, "Syha Kenalin ini Bara pacarku, sayang ayo kenalan sama sahabatku"


Bara menyodorkan tangannya, isyarat untuk berjabatan, "Bara" ucapnya.


"Syha," timpal wanita itu memperkenalkan diri.


Hesti mengkerutkan dahi, mengulum bibirnya mencermati. "Dimana suamimu?"


Syha menarik nafas, "dia sedang ada klien jadi kemungkinan tidak bisa datang."


"Sayang sekali, nikmati pesta denganku?" Tawar wanita itu.


Hesti beradu pandang dengan Bara, pria itu menunjukkan ekspresi keberatan. Mengerti kemauan Bara, Hesti membalas "Kalau begitu aku pergi dulu," pamitnya dengan ekspresi sedih.


Setelah kepergian Hesti, Mona dan Alian datang menghampirinya.


Mona tersenyum lebar "Hei, baru datang ya?" Tanyanya seraya melirik buntalan yang sudah tampak membesar, "terakhir kali kau bilang padaku usia kandungan mu 1 bulan, sekarang tidak terasa ya sudah besar saja," ujar Mona mengusap perut itu dengan lembut.


Syha tertawa kecil, "aku juga tidak menduga jika janin ini membesar lebih cepat."


"Kok ga bilang pada ku kalau kau hamil?" Gerutu Alian dengan wajah cemberut.


Syha mengusap tengkuknya, "lupa," tukasnya tanpa merasa bersalah.


Alian menggerutu lirih, "ya kenapa ga sekalian aja otakmu kau lupakan."


Syha terbelalak, tapi Mona menggantikan nya melampiaskan amarahnya. "ALIAN!"


Pria itu tersentak saat lehernya tercekik, nafasnya tersenggal memohon ampun. "Aaa iya iya sakit, hentikan" pintanya. Tapi Mona tidak berhenti mengapit semakin dalam.


"Kau ini kenapa selalu saja berulah, apa mulutmu tidak bisa kau jaga?" Sungut Mona.

__ADS_1


"Ya udh bawaan setelan pabrik, Mon."


Syah menatap keduanya bergantian "Kalian.."


Kedua sejoli itu serentak menoleh, menatap Syha yang mengacang mulutnya untuk melanjutkan ucapan.


"Jadian ya?"


Mona ternganga syok, Alian ikut melebarkan matanya.


"Ihh cuih mana mau aku jadian sama makhluk sinting kayak gini, bisa ketularan aku najis!" Decit Mona mendorong Alian dengan kasar.


Pria itu terhuyung tidak menentu, lekas merapikan kemeja otak-kotak nya yang ambrul adul.


"Yeee yang mau sama kau juga siapa, hidung mancung bengkok lagi. Pantas saja satu kampus bilang kau mirip nenek sihir." Cemooh Alian menyapu lengannya.


Mona menggebu emosi, menarik pria itu kembali kedalam dengkapan "Sialan, sini kau apa kau mau mencium ketekku ini!"


Syha tidak bisa menghentikan tawanya yang pecah, telapak tangannya mengatup bibir menyembunyikan kekehan yang tidak tertahan lagi.


"Nona, tuan Alon menugaskan saya untuk menemani anda," Celetuk Adam disebalik punggung wanita itu, berdiri tepat di belakang dengan setelan formalnya "jika butuh sesuatu katakan pada saya," imbuhnya setelah itu.


Syha menoleh sekilas, membalas dengan anggukan "Terima kasih Adam, sebentar lagi juga aku akan tampil."


"Nona anda ingin minum apa?" Tanya adam.


Syha tampak berpikir sejenak, ia ingin sekali meneguk cocktail. Tapi malaikat dikandungannya tidak memungkinkan nya untuk melakukan itu.


Syha menjawab "Jus jeruk."


Adam mengangguk, berbalik badan untuk mencari kemauan nonanya.


Syha menikmati waktu yang terus berjalan, untung saja tidak ada satupun alumni yang mengetahui apapun tentangnya. Sehingga tidak ada satupun desas-desus yang tidak mengenakkan terdengar menusuk gendang telinga miliknya.


Arloji di pergelangan tangan mengarah pukul 9.20 malam. Hatinya terus menanti, tapi pria itu tidak kunjung memberikan tanda keberadaannya. Apakah mungkin Alon diam-diam ingin membalas perbuatan nya yang menolak untuk hadir di pesta itu?.


Dulu ia juga menerima dan mengusahakan, tapi pada akhirnya dirinya tidak datang dipesta itu. Syha menggeleng cepat, Alon memiliki pribadi yang berbeda dengannya.


Adam menunjukkan mimik wajah kerisauan "Apa anda tidak masalah jika tampil dalam keadaan hamil?"


"Tidak apa Adam," jawab wanita itu dengan aura ketenangan tidak ada rasa cemas dan gelisah dari wajahnya.


Seorang mc berdiri di panggung, dengan secarik kertas ditangannya "pertunjukan spesial yang di nantikan pada pertengahan acara kita ini, yaitu permainan biola solo dari salah satu Alumni angkatan 67 menyandang penghargaan internasional sebagai pemenang kontes Carl Flesch di Inggris, beri sambutan yang meriah untuk Rasyhanda Moon."


Tepukan gemuruh menggema diseluruh ruangan, sahut menyahut mengiringi langkah nya mendekat keatas panggung yang megah.

__ADS_1


Nyatanya wanita itu tidak pernah tersadar jika ia benar-benar kembali bernostalgia, momen yang membuatnya terjatuh dalam tragedi yang sama.


__ADS_2