
Presiden direktur, Adle Reid. Wajahnya kini tidak setampan dahulu, meninggalkan sisa-sisa kerutan dan uban memutih yang menjadi tanda kalau dia telah termakan usia.
"Jadi kau Zein Gerald suami pertama Rasyhanda Moon?" Adle meletakkan secangkir kopi pahitnya dengan tangan yang bergetar.
Zein tidak berkutik, wajahnya tertunduk ketakutan. Adle Reid adalah tokoh yang sangat berpengaruh di London, bagaimana mungkin dia bisa bersikap santai menghadapi sesosok dengan kekuasaan besar seperti ini.
Adle melirik cucunya, Castiel yang berdiri dengan lipatan tangan "kau yakin dia Zein Gerald? kenapa pria ini hanya terdiam?"
Zein dengan cepat menjawab "Iya tuan, saya Zein Gerald maaf atas sikap saya," Cetus pria itu, telapak tangannya ia tangkupkan untuk menghilang kan keringat dinginnya.
"Castiel dari mana kau dapatkan informasi ini?"
"Tentu saja, aku mencurinya di ruang privat Alon di perusahaan," imbuhnya sembari menjatuhkan bokongnya diatas sofa yang memanjang, tatapannya menatap keseriusan "mereka masih memiliki ikatan pernikahan meski tidak diakui secara negara."
Adle mengangguk, "wanita itu mendatangkan aib, merusak reputasi Reid dimata khalayak. Keberadaannya diakui karena dia mengandung seorang pewaris."
Fred mengangguk setuju, ia lalu menimpali "maka dari itu aku memiliki tugas untuk mu Zein, imbalannya akan sepadan dengan pekerjaan ini."
Zein menautkan kedua alisnya penasaran, "pekerjaan apa?"
Fred menarik nafas, tubuh nya yang sedari terduduk kini telah tegap berdiri. "Akan ada reuni alumni besar-besaran di universitas SeaOc, aku sudah merancang panggung itu dapat mengeluarkan asap racun yang akan terhirup saat Rasyhanda tampil diatasnya, tidak berbahaya itu hanya akan membuat nya kesulitan bernafas dan pingsan."
Pria itu menatap bingung, "lalu apa yang harus ku lakukan?"
Fred memanggil pelayan untuk membawakan sebuah manequin, di rangkai menyerupai wanita hamil eksponen nya seperti terbakar.
"Rencana ini mengandalkan kecepatan, kau hanya perlu menculik Rasyhanda dan meletakkan nya di mobil yang berbeda, setelah itu mobil yang berisi manequin bawalah ke Trinity bridge. Alon pasti akan mengejarmu, ledakkan mobil itu disana dan kaburlah sebisa mungkin menuju mobil jemputan."
Iris Zein mengikuti pergerakan Fred yang mengitari ruangan, "bagaimana jika aku gagal melakukannya?"
"Jangan sampai gagal melakukannya atau 10 miliar itu akan lenyap," sahut Castiel.
Adle menopang berat tubuhnya pada sebuah cane, tongkat memanjang yang membantu kekuatan rapuhnya untuk beranjak
__ADS_1
Seraya berjalan, Adle menutup pertemuan dengan sebuah tawaran. "Jika kau bisa membuat wanita itu bertahan lebih lama bersamamu, kau akan mendapatkan bonus 3x lipat lebih dari itu."
Reaksi mata yang berkedip-kedip dengan antusias Zein justru tersenyum sumringah. Tiga kali lipat adalah tawaran yang menggiurkan, tanpa berpikir panjang pria itu menerimanya.
"Jika kau sepakat beserta bonus, kalau gagal melakukannya jangan salah kan aku jika yang tersisa hanya namamu," setelah melirik sepintas, Adle melangkah keluar dari ruang pertemuan meninggalkan Zein dengan senyuman nya yang tergelincir.
"Kau sudah mendengar nya kan?" Castiel menepuk kedua pundak Zein disebalik punggung pria itu, meletakkan sepucuk kertas dan bolpoin, "jika kau setuju silahkan tanda tangan dibawah ini sebagai bentuk kesepakatan kita."
Zein melirik tertunduk, jejeran tulisan memenuhi pupil matanya. Kepala itu terangkat bertukar pandang dengan Fred yang menepuk-nepuk jari disela lipatan tangannya.
Pria itu menarik bolpoin, menggoreskan tinta dan melepaskannya ke udara, tanda tangan yang menjadi simbol kesepakatan di antara mereka.
"Besok kau harus terbang ke London, jalan kan rencana mu," pesan Fred ia lalu memanggil pelayan untuk membawakan 1 koper dengan ukuran besar. "Aku tidak perlu membuka nya dihadapanmu, itu sebagai uang muka untuk kau gunakan selama disana."
Castiel ikut menyahuti, "jangan kecewakan keluarga Reid."
Tidak lama setelah itu seorang wanita memasuki ruang pertemuan, hentakan hells menyapu ketegangan atmosfer. Bodycon dress memberi kesan sensualitas pada aura yang terpacar darinya.
"Tentu kau akan pergi bersama Zein Gerald besok," balas Castiel menepuk kembali kedua pundak itu.
Hannah mengalihkan titik fokus kepada sesosok pria disamping Castiel, "jika kau sudah selesai aku ingin berbicara denganmu." ucapnya yang ditujukan untuk Zein.
Pria itu merespon dengan mengangguk, berjalan beriringan mengikuti Hannah beranjak dari tempat nya berdiri.
Keduanya terhenti dihalaman belakang mansion, Hannah menjatuhkan pinggulnya untuk terduduk di bangku taman. Memangku kedua pahanya untuk saling tertindih, memperlihatkan paha jenjang yang memikat disebalik lipatan.
"Berapa nomor rekening mu?" Hannah melepaskan kacamata yang menyangga di hidungnya, meraih ponsel lalu menajamkan pendengaran disaat pria itu menyembutkan deretan angka.
Zein terperanjat saat mendengar sebuah notifikasi dari ponsel yang terselip di saku, lekas merogoh nya dengan cepat.
Seketika pria itu menelan saliva nya, kiriman uang sebesar 2M mengantongi rekening nya. Zein lantas bertanya maksud dari pemberian ini, "kenapa kau memberiku uang sebanyak ini?"
Hannah tersenyum miring, "aku juga punya tugas untukmu." Tuturnya lalu memberikan sepatah rencana. "Aku hanya ingin kau menyiramkan cairan ini kepada Rasyhanda." lawan bicara itu tertunduk saat Hannah menyerahkan sebuah botol kaca polos yang tertutup.
__ADS_1
Zein memiringkan tabung itu untuk melihat isi di dalamnya. Pria itu tersentak, peluh bulir keringat berjatuhan dari pelipis. "Anda tidak bercanda kan?" Tanyanya memastikan.
Hannah mengangkat bahunya, berekspresi seolah rencana ini adalah hal yang tidak beresiko. "Untuk apa aku bercanda, lakukan saja tugas mu."
❁
"Where are you from dear?" Seorang wanita menyambut kedatangan Zein, terpaut wajah yang terlihat menawan dengan aura yang berseri.
Pria itu melepaskan coat yang masih melekat di tubuhnya, mengalihkan tatapan untuk menjawab pertanyaan sang istri. "Ada urusan kantor," kilahnya.
Zein menetap di Sankt-Peterburg bersama istrinya Siera, setelah 4 tahun berlalu kali pertama ia mendengar kabar jika Rasyhanda telah menikah dengan sahabat karibnya dulu, Alon.
"Apa ada masalah dikantor mu?" Siera menatap sendu, mengenggam lengan Zein dengan kerisauan.
Pria itu menjawab dengan menggeleng, membalas mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut, "tidak sayang aku baik-baik saja lagipula besok aku akan mengajak kalian ke London."
Dipenghujung ruang tamu terdengar teriakan menggembirakan dari sesosok anak kecil yang berloncat-loncat menghampiri perbincangan kedua orang tuanya.
"Apa benar kita akan ke London?" Tanya Arden, irisnya berbinar menarik ujung baju sang ayah.
Terdengar kekehan kecil dari Zein, ia menggendong putra nya yang baru saja beranjak 5 tahun. "Memangnya Arden ingin melihat apa disana?"
"Jam big ben yang besar ayah!" Arden memperagakan bentuk bangunan tinggi itu dengan kedua tangan mungilnya.
Zein memberikan telapak tangannya mengajak putranya untuk melakukan High five. Arden membalas dengan menepuk diatas nya.
"Good boy," puji Zein mengacak-acak rambut Arden dengan gemas.
Disela keusilan antara ayah dan anak, Siera bertanya "Kenapa kita tiba-tiba ke London?"
Pria itu mengulum bibir, rahangnya terkatup sejenak. "Sekalian saja kita menghadiri acara Reuni kampusku sayang," jelas Zein mengecup bibir istrinya.
Siera memalsukan senyuman nya, raut wajah itu berubah drastis. Ada apa dengan suaminya yang tiba-tiba ingin menghadiri acara reuni setelah bertahun-tahun berlalu.
__ADS_1