Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 22 RAHASIA HANNAH


__ADS_3

"Nona anda bisa menunggu 2 minggu untuk melihat hasilnya, kami sudah mengambil sampel darah dari 2 pihak untuk dikirim ke laboraturium. Harap sabar menunggu ya", kata dokter kandungan lalu ia kembali ke dalam ruangan.


"Kamu ga apa-apa kan", Zein mengusap punggungnya, mencoba memberikan ketenangan disana.


Syha tidak merespon apapun, ia terdiam dan langkahnya teralihkan pada Alon yang masih terbaring disana. Syha tidak bisa melepaskan tatapannya dari Alon, selang oksigen dan ventilator masih terpasang di wajah pria itu.


Syha mencengkram lengannya, dibalut rasa kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Seharusnya ia tidak perlu lagi hadir kembali dikehidupan Alon, pria itu selalu saja tidak pernah berbahagia jika bersamanya. Seharusnya ia saja yang terkena siraman itu, kenapa harus Alon?


Zein mengepalkan tangannya, Alon pasti sudah berhasil merenggut hati wanita ini. Tatapan Syha sangat berbeda dari biasanya, tatapan khawatir dan kerisauan tersorot jelas dari kedua mata itu.


Seorang dokter keluar dari ruangan UGD dengan beberapa lembar laporan "apa anda keluarganya nona?"


Syha mengangguk "ya dok saya istrinya"


"Untung saja suami anda menahan siraman dengan tangannya, pelepuhan pada kulit tidak menyebar di area wajah serta tidak ada kebutaan. Beliau mengalami syok berat, sehingga jatuh pingsan. Kemungkinan beberapa luka bakar pada wajah masih terbekas, dan lengan kiri nya mengalami kerusakan yang cukup parah. Kami akan menangani kerusakan itu sebisa mungkin, hanya saja beberapa jaringan kulit yang sudah meleleh tidak bisa ditangani lebih lanjut, semoga nona bisa memahaminya", jelas dokter panjang lebar


Syha menahan deru sesak dihati nya mendengar pernyataan itu, kakinya seperti tidak berdaya untuk berdiri tangguh "Dok apa saya boleh mas-"


Seorang wanita tiba mendesak ditengah mereka, Syha memandang dengan terkejut


"Apa saya boleh masuk?", ujar Hannah yang tampil dengan wajah pucat nya, ia baru saja mendengar penjelasan dokter itu secara keseluruhan.


Dokter mengangguk, "silahkan"


Hannah menghamburkan diri untuk masuk kedalam, memeriksa keadaan pria itu yang masih terbaring.


Syha ikut melangkah perlahan, beriringan dengan Zein yang mengikuti nya dibelakang, tampak wanita itu sedang memeluk Alon dengan kesedihannya.


Hannah menarik nafas mengacang untuk membentak "ini semua karenamu!", sembur Hannah, lalu ia mendekati Syha dan menjambak rambut wanita itu dengan keras.


Syha menjerit kesakitan, memohon untuk dilepaskan. Zein mencoba melerai pertikaian mereka, walau ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin melakukan nya.


Hannah menarik rambut itu sehingga Syha menengadah "Sudahlah murahan! Perebut! Kau kira dengan menikahi mantan tunangan ku kau berhak hidup bahagia?"


Syha dengan sekuat tenaga mendorong wanita itu untuk menjauh "sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu"


Hannah melotot, seakan adik angkatnya ini mencoba menantangnya dengan berkata sok mengalah seperti itu. Ia menyiapkan diri dengan melayangkan tamparan diudara.


Seorang perawat membawa keamanan untuk masuk, menarik Hannah untuk keluar dari ruangan "maaf nona kami akan mengeluarkan anda dari sini karena telah mengganggu kenyamanan pasien"


Hannah menepis genggaman petugas, ia dengan dengusan kesal menatap Syha dengan tajam "awas saja kau!", lalu berlalu keluar dengan sendirinya

__ADS_1


Syha menghela nafas dengan berat, berjalan pelan dan terduduk di kursi yang jaraknya tidak jauh dari ranjang. Ia memandang Alon dengan tatapan sayup.


Zein menyadari perubahan yang amat signifikan terhadap Syha, berbulan-bulan belakangan ini. Zein menepuk pundak wanita itu dan membuyarkan lamunannya.


"Apa kau khawatir dengan nya?", tanya Zein, tapi Syha tidak membalas apapun hanya ada sorotan kosong.


Zein menarik kursi lain dan duduk berdampingan, ia menggenggam tangan wanita itu.


Air mata Syha menetes, membasahi punggung tangan Zein. Mengatup wajah dengan kedua telapak tangan nya, ia menangis tersedu disana.


"Aku hanya ingin dia kembali sadar", ucap Syha disela isak tangisnya, Zein memeluk wanita itu membiarkan kemejanya basah karena air mata.


"Untuk apa kau menangis karena dia?", Syha menatap terkejut, berpikir ada benarnya juga mengapa ia mentangisi pria ini. Ia menyeka air mata yang mengalir di pipinya, untuk apa ia merasa tertekan seperti ini.


Tetap saja ia merasa iba karena Alon sudah menyelamatkan nya dari tragedi mengerikan itu, Syha merasa sedih karena Alon harus melalui rasa sakit ini.


"Syha aku ingin memberitahu mu sesuatu", Zein menarik Syha untuk berbicara di sofa, suasana atmosfer seketika menegang. Wanita itu tampak penasaran dengan yang ingin pria ini sampaikan.


Tapi sesaat Zein hendak mengatakan sesuatu, Castiel memasuki ruangan. Dan mendapati adik iparnya bersama seorang laki-laki.


Pria itu menukik alis nya "sedang apa kalian?", tanya Castiel


Syha reflek berdiri, dan Zein tersenyum lebar ke arah Castiel "kami hanya berbincang sedikit", ujar Zein


"Dasar! Perusak suasana saja", gerutu Zein


Castiel kembali melirik Zein "keluarlah, sedang apa kau disini?", Castiel memindahkan lirikannya ke Syha "atau kau ingin menggoda istri orang lain?"


Zein mengeraskan rahang, mencoba menenangkan tudingan itu "ah maaf saya tidak bermaksud demikian, permisi saya akan keluar dulu". Pria itu berlalu keluar ruangan


Castiel melipat tangannya didada "kau pulanglah saja. Aku akan menemani suamimu"


Syha membalas dengan menggelengkan kepala "Aku akan tetap disini kak", bantah Syha memohon


"Kau sedang hamil dan butuh banyak istirahat, aku bisa merawat adikku", pungkas Castiel lalu ia melanjutkan "supir sudah menunggu di depan, kembali lah ke mansion"


Sebelum berpamitan Syha mendekati Alon, membisikkan sesuatu ditelinga nya "terima kasih sudah berkorban untukku dan anak kita, semoga lekas sembuh"


Syha berbalik badan, walau ia tahu Alon melakukan itu karena mengandung anak dari pria itu. Tapi ia akan tetap berterima kasih karena telah menyelamatkan nya.


Setelah kepergian Syha, Castiel menendang ranjang itu "sudahi sandiwara mu, bangunlah. Kau memangnya setega itu membuat istri mu khawatir?"

__ADS_1


Alon terbangun dan melepas ventilator yang terpasang, senyuman terukir diwajahnya.


Castiel bergidik geli memandang Alon yang telah lama sirna dengan senyuman nya, kini kembali menyunggingkan lekukan di bibir itu "istri mu berkata apa?"


Alon mendelik sinis "apasih kepo banget", sembari memperbaiki tatanan rambutnya Alon melanjutkan ucapannya "mereka sangat bersenang-senang sekali"


"Apa Hannah membisikkan sesuatu?", Castiel memandang dingin


Alon menarik nafasnya "Akan mudah bagiku untuk memangsa istrimu yang tidak ada lagi perlindungan"


Castiel tersenyum menyeringai "seberapa berani mereka akan menyentuh wanita mu?"


Alon mengusap pundaknya "untung saja aku lebih awal mengetahui rencana mereka"


"Tapi tetap saja kau tidak bisa mengelak siraman itu", ledek Castiel


Alon kembali terbaring "memang nya aku bakalan tahu kapan penyerangan mereka?" Alon menarik nafas "aku hampir saja terbangun saat wanita iblis itu menjambak Syha"


"Untuk apa kau berpura-pura tidak sadarkan diri?"


Alon menyeringai "aku harus memiliki bukti yang banyak kalau Hannah sedang melakukan pembunuhan berencana"


"Kau sebaiknya berhati-hati dengan Hannah, ingatlah sebentar lagi kau akan mengambil alih perusahaan sepenuhnya" Castiel tampak berhenti sejenak "Aku ingin memberitahu mu sesuatu yang penting"


Alon melirik serius kepada Castiel


"Aku tahu ini akan mengecewakan usaha mu selama ini, tapi ada baiknya kau harus menyingkirkan kebaikan untuk membalas dendam wanita mu"


Alon memandang serius "apa maksud mu?"


"Apa kau tau alasan Adle dengan mudah nya menyetujui keputusan mu untuk mengganti mempelai"


Alon hanya terdiam, Castiel kembali melanjutkan "Kau tau kan, Adle itu sangat lah licik haha"


Pria itu masih kembali terdiam, membiarkan abangnya untuk terus melanjutkan


"Setelah pewaris dilahirkan. Kau harus bercerai dengan Syha, dan melakukan pernikahan kedua dengan Hannah. Reid dan Heera akan tetap menjalin kerja sama"


Alon melotot, "APA?!, kenapa bisa-"


"Kenapa? Apa kau berharap dengan memiliki anak dari wanita lain kau bisa kabur dari pernikahan mu dengan Hannah?", Castiel mendesis "Kakekmu tetaplah penggila uang Alon, ia tidak mungkin melepaskan Hannah"

__ADS_1


Alon mengalihkan tatapan "Apa Hannah tau?"


"Mungkin tidak, yang pasti kakek tetap akan memberitahunya untuk tidak menikah dengan pria manapun", jelas Castiel, ia menarik nafas "Apa kau tau kalau Hannah itu.."


__ADS_2