Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 18 KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

Waktu terus bergulir hingga jarum pendek mengarah pada pukul 2 malam, Syha terbangun dari tidurnya karena angin dingin memasuki kamar melewati celah gorden yang terus menyibak dengan lembut.


Syha mendekati balkon dan menggeser pintu kaca itu untuk tertutup. Ujung matanya melirik pada Alon yang sedang tertidur, ia tidak ingin membuka catatan masa lalu, tapi pertemuannya bersama Alon membuat nya harus membuka lembaran itu satu-persatu. Ia sedikit berbohong mengenai ingatannya tentang Alon. Ya, Syha mulai mengingat peran pria ini dimasa lalunya.


Lelaki muda yang selalu setia menemani dikala ia bertanding di berbagai belahan dunia. Pria yang tak pernah luput dari pandangan, setiap ia berdiri bangga diatas podium. Menyuarakan kemenangan permainan biola solonya ditemani Alon yang selalu duduk di kursi penonton bernomor 12. Ya simbol tanggal kelahirannya, Alon seperti jimat keberuntungan nya.


"Euuhh", suara melenguh terdengar dari sana, Alon seperti bermimpi buruk, pria itu terus meracau kata-kata yang tidak Syha mengerti.


Ia segera menghampiri "apa kau baik-baik saja?", Syha melihat kaos Alon yang tampak sudah basah karena keringat dinginnya, dahinya terus bertaut ketakutan.


Syha menaikkan suara "ALON! Bangunlah" ia terus menggoyangkan tubuh pria itu untuk menyadarkan diri.


Dalam sedetik Alon terbangun, wajah yang memucat, dan bibir yang memutih. Seperti baru saja melihat sesuatu yang tampak menyeramkan


"Bangunlah, tidur saja dikasur", pinta Syha, apakah mungkin karena Alon tidak terbiasa tidur di sofa akhirnya bermimpi buruk?


Alon menggeleng "Aku ingin lanjut tidur"


Syha tidak peduli, ia mengangkat pria itu dan melingkarkan lengan Alon di pundak nya. Alon dengan patuh berjalan pelan-pelan ke arah kasur.


"Aku ambilkan air hangat dulu", Syha keluar dari kamar, lalu ia membawa sebuah wadah berisi air dan kain didalam.


"Berbaring lah biar ku kompres", Syha meletakkan kain itu di dahi Alon, saat hendak beranjak. Tangan wanita itu tertahan, Syha memandang Alon dengan heran.


"Apa tidak ada celah bagiku dihati mu?", suara itu terdengar parau, terpancar kesedihan dari kedua mata itu.


"Kau ni berbicara apa? Tidurlah", tutur Syha


Alon masih tidak ingin melepas genggaman nya "tidurlah bersamaku", pinta Alon


Syha menghela nafas, ia lalu berbaring dan membelakangi pria itu.


"Apa aku boleh memelukmu"


Tidak ada jawaban dari sana, Alon menghela nafas pasrah.


"Ya peluk saja", wajah sedih itu berubah menjadi ceria, Alon memeluk tubuh Syha dari belakang. Merasakan kembali kehangatan yang sudah lama hilang.


Syha terdiam membisu, pikirannya masih menerawang tidak menentu.


Keesokan pagi


Wanita itu membuka mata setengah sadar, berusaha mengumpulkan nyawanya untuk segera bangkit. Alon masih tampak terlelap dengan tenang, sepanjang malam laki-laki itu tidak lagi melindur tentang mimpinya.


Ia segera turun dari ranjang dengan pelan takut membangunkan pria itu dari tidurnya, ia keluar kamar lalu menuruni tangga, melihat paman Ang sedang menikmati dimsum di dalam sebuah klakat bambu. Pria itu tampak sibuk dengan koran ditangannya

__ADS_1


Ang memandang Syha yang terpaku berdiri


"Syha sudah bangun? ayo sarapan", tawar Ang


Syha mengangguk terima kasih


"Dimana Ayi?" tanya Syha


Ang menjawab "Dia sedang ke kuil pagi ini", sembari melipat koran itu diatas meja "Kemarilah ayo sarapan, apa suamimu sudah bangun?"


Syha menggeleng pelan


"Ah Alon, dia selalu saja bangun siang jika libur begini", cetus Ang lalu menyesap teh hijau


Syha mendekati bangku dan terduduk disana


Ang menyodorkan makanan tersebut "makan tidak usah sungkan"


Syha tidak terbiasa menggunakan sumpit, ia lekas berdiri, mencari sendok dan mangkuk yang tersedia di rak.


Sembari mencari, Syha merasakan kehangatan tubuh menempel ke bokongnya. Awalnya ia mengira Alon sudah terbangun dan mengusili dirinya didepan Ang. Saat berbalik ia melihat Ang sedang melemparkan senyuman, Syha menelan saliva, tubuhnya merinding hebat.


"Paman, apa anda perlu sesuatu?", tanya Syha sedikit gentar.


Ang tidak menjawab, ia mulai membelai tubuh wanita di hadapan nya. Meraba setiap lekuk paha dan menyusup kedalam, Syha yang hendak berteriak dibungkam oleh Ang.


Ia tidak kuasa jika harus diperkosa oleh paman dari suaminya. Saat Ang mulai melepas bungkamannya, Syha berteriak sekuat mungkin untuk meminta pertolongan.


Tapi Ang lebih dulu menampar nya dengan keras, tidak peduli jika bekas tamparan itu tertinggal. Dengan sedikit ganas, Ang berusaha melucuti. Tangannya terus berusaha keras meraba tubuh atas dan bawah milik istri dari keponakannya. Sejak awal Ang tidak bisa menahan kemolekan wanita ini saat bertemu. Membuat nafsunya semakin memuncak, dari pada istrinya si wanita tua itu tidak lagi menggairahkan baginya.


Tak lama sebuah tarikan keras menarik Ang sehingga tersungkur ke lantai, Alon dengan wajah yang tertahan amarah hendak menghajar pamannya itu. Alon mengancang dengan tatapan membunuh, kepalan tangan sudah bersiap melayang di udara.


Alon tidak menerima atas perbuatan Ang yang hendak melecehkan istrinya, pantas saja Syha tampak murung sepanjang makan malam. Ternyata semua ini ulah pamannya.


Syha mendekap Alon untuk berhenti "jangan, hentikan". Alon yang tersulut melepaskan pamannya yang terbaring dengan wajah ketakutan, pria itu bersimpuh memohon maaf.


"Maaf Alon paman tidak bermaksud seperti ini", kedua telapak tangan itu menyatu memohon belas kasih.


"Minta maaflah kepada istriku!", cecar Alon dengan nada kasar


Ang menghadap ke arah Syha " maaf kan aku Syha".


Syha menggelengkan kepala "jangan minta maaf padaku, katakan pada Ayi. Dia pasti sangat sedih kalau tau perbuatan paman"


Ang tampak berkalut resah dan kebingungan, tak lama Ayi memasuki rumah dengan wajah tercengang, rumah yang sedikit berantakan, bahkan suaminya pun sedang apa berlutut dihadapan keponakannya?

__ADS_1


"Aiyaa? Ada apa ini??"


Alon memeluk pundak istrinya "tanyakan saja pada paman Ang, dia ingin mengatakan sesuatu padamu Ayi"


"Sayang, ayo ke kamar ada hal yang mau aku bicarakan", ajak Alon menarik Syha untuk meninggalkan dapur.


Syha merunduk, bajunya sudah sedikit kacau karena ulah Ang yang berusaha menelanjangi nya.


Sesampainya di kamar, Alon meneguk obat sebagai rutinitas kesehariannya. Ia tidak sempat melakukannya, karena mendengar teriakan dari lantai bawah.


Alon menghampiri Syha yang tampak murung ditepian kasur


"Dia sudah menyentuh mu di mana saja?"


Syha menggeleng dengan terkejut "ti-dak ada", jawabnya terbata


Alon dengan ketidakpercayaan nya membuka kancing piyama wanita itu dengan kasar, ia mencampakkan nya lalu menarik celana hingga menyisakan dalaman yang masih terbalut di tubuh nya.


"ALON! Apa yang kau lakukan, hentikan kumohon jangan!", pria itu tidak mempedulikan raungannya.


Alon mencermati setiap inci tubuh istrinya, tidak ada bekas kecupan ataupun cairan yang tertinggal. Alon melepas balutan yang menutupi kedua belahan itu, membuat Syha semakin berteriak histeris.


Alon tetap mengacuhkan, ia melihat dengan seksama kedua buah dada yang mengacung dengan bebas, lalu dia melepas balutan yang menutupi area sensitif dibagian bawah.


Syha tersipu malu sesaat Alon menatap miliknya dengan seksama, ia terus meminta suaminya untuk menghentikan aksinya itu.


Tetapi Alon justru memaksa masuk salah satu jari ke dalam liang kehormatan nya, Syha menjerit kesakitan, suara ringisan dan tangisan menjadi saksi diantara mereka.


Bukannya berhenti, Alon mengangkat kedua paha langsing itu untuk terbuka lebih lebar, ia justru memasukkan kedua jari untuk menerobos semakin dalam.


"Arkhh", wanita itu tampak melenguh, ia tidak kuat menahan desiran panas dari darahnya.


Alon menatap ekspresi istrinya yang terhanyut dalam kenikmatan, ia tersadar dari emosi yang berlebihan. Hanya karena tidak menerima jika pria lain menyentuh miliknya, ia sampai harus melakukan ini.


Syha menggenggam pergelangan tangan Alon, wajahnya memelas meminta ampunan. Wanita itu terus mengigit bibir karena desakan jari yang masih tidak terlepas dari sana.


Alon menurunkan tubuhnya untuk lebih mendekat, ingin rasanya ia menciumi istrinya ini dengan puas. Sesaat Alon mengeluarkan jarinya dari dalam, tidak ada cairan apapun kecuali milik istrinya. Syukurlah, batin Alon


"Lepaskan jarimu", pinta Syha


"Kalau aku tidak mau?", Alon menggerakkan jarinya untuk keluar masuk didalam.


Tubuhnya melinjang karena gerakan gila itu, Alon yang tidak tertahan melepas pakaiannya.


"apa yang mau kau lakukan", serang Syha, ia berusaha mendorong tubuh pria itu untuk menjauh.

__ADS_1


"Dalam perjanjian kita kan tidak ada larangan untuk melakukan hubungan suami istri selama menikah"


Syha hanya bisa membelalakkan mata dengan lebar, pasrah saat Alon mulai mencumbuinya.


__ADS_2