Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 15 VILLA


__ADS_3

Langkahnya kembali menginjakkan Kediaman Eden dan Maya, wisma yang selalu diagungkan massa karena keindahan dan keelokannya membuat semua mata tertuju pada Villa ini. Kenyataan didalamnya menyimpan masa kelam yang membuat siapapun mendengarnya tidak akan pernah ingin berlama-lama disini.


Syha menyeret kakinya masuk melalui belakang villa, melewati kolam dan memijakkan beberapa anak tangga untuk sampai didepan muka pintu, ia melihat Eden sedang menyeduh teh diatas meja, Maya membuat sup kacang untuk makan siang.


Kehadirannya bahkan tidak di anggap ada oleh mereka, ia baru saja menikah tetapi, Eden tidak memberikan sepatah kata pun untuk mengucapkan selamat dan restu kepadanya. Syha hanya bisa bernafas kasar dan kakinya ia langkahkan menuju lantai atas, memasuki kamar dan mengemasi beberapa barang yang akan di pindahkan. Walau ia tinggal di penthouse, beberapa barang masih sengaja ia tinggalkan disini. Namun sekarang, tidak akan ada barang yang tersisa lagi diruangan ini. Ia benar-benar akan memulai kehidupan baru beberapa tahun kedepan.


Hannah membuka pintu kamar, terbangun dari peristirahatan nya setelah lembur di kantor pengadilan. Hannah teralihkan pada kehadiran Syha, ingin sekali ia menerkam dan membunuh wanita ini di tempat. Tetapi kehadiran Alon mempersulit impiannya itu.


Keinginannya untuk meraup reputasi bersama Alon harus sirna hanya karena adik angkatnya ini "Cih, lihatlah pelac*r ini berani sekali, apa kau tidak tahu malu kembali kesini?", Hannah mencercanya, Syha yang mendengar pernyataan itu segera berdiri dan menyeret koper yang sudah ia kemas.


"Ya aku memang sangat berani, makanya jangan mengusik jika tidak mau diusik". Syha meninggalkan Hannah dengan wajah nya yang sudah memerah layaknya tomat, tinggal menunggu beberapa detik saja lagi Hannah akan meledak dengan wajahnya itu.


Hannah mengejar Syha yang hendak menuruni tangga, menendang koper itu sampai terguling ke lantai dasar dan menghamburkan isinya.


Keduanya saling beradu pandang, Syha tidak akan keberatan melayani kemauan Hannah jika dia menyulut pertikaian diantara mereka.


"Apa kau tidak cukup merenggut Zein dari ku?", Syha menarik piyama Hannah untuk mendekatkan wajahnya ke wanita licik itu.


Bukannya menciut, Hannah justru semakin meledeknya "ya! Aku belum merasa puas jika tidak merenggut kebahagiaan mu satu persatu".


Dasar wanita gila, tutur batinnya


Ia tak ada waktu untuk meladeni Hannah saat ini, kelakuan Hannah terlalu membuang-buang waktu berharganya. Ia melepas cengkraman itu dan menuruni tangga.


Syha merapikan barang yang terburai keluar dari koper nya, Hannah berlari memeluk Eden dan menunjukkan wajahnya yang begitu memelas, membuat ia ingin muntah menyaksikan itu.


Eden membelai Hannah dan mencubiti pipinya. "Have you had a lunch yet, dear?"


Hannah mengangguk, Maya mendekati dan menyodorkan sup kacang yang ia buat


"Makan lah nak, kamu pasti lelah menyelesaikan pekerjaanmu".


"Thank you mami"


Hannah melirik Syha yang mengacuhkan keharmonisan dirinya bersama Eden dan Maya, ia tidak suka Syha mengabaikannya seperti itu.


Eden yang mulai menyadari kedatangan Syha, memanggilnya untuk berbincang, "Syha, kemarilah! Aku ingin berbicara denganmu"


 


Syha memalingkan wajahnya, ia mengacuhkan panggilan Eden dan memilih untuk berlalu pergi.


"Dasar anak sial*n, apa kau tidak mendengar panggilanku?" pekik Eden membuat suasana menjadi menegang.


Syha menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh kemudian memandang Eden dengan tatapan menusuk, lagi dan lagi ia tidak suka jika Eden memanggilnya seperti itu. Setiap saat Eden mengatainya anak yang tidak berguna, bahkan terparah Eden memanggilnya anak dari pel*cur. 


Apa Eden tidak menyadari, dialah yang membantu perusahaan Heera melalui masa krisis disaat inflasi besar-besaran terjadi, Eden hanya sibuk mengurusi study Hannah di Jerman. Mau bagaimanapun dia juga bagian dari keluarga ini, ah mungkin saja tidak. Kasih sayang Eden kepada ia dan Hannah seperti surga dan neraka, Syha selalu berusaha menyayangi Eden seperti ayah kandungnya sendiri. Tetapi pria itu? Mudah sekali terhasut oleh kata-kata najis dari anak kandungnya.


"Berani sekali kau mengandung anak dari calon kakak angkat mu!"


"Ya", balas Syha dengan nada pelan dan malas.


Eden terpaku diam, sedetik kemudian ia melempar teh panas itu ke arahnya. Untung saja pecahan kaca sempat terelakkan, hanya saja cairan panas itu sudah sedikit membakar kulitnya.


Eden berdecak kagum, ia kali ini benar-benar melampiaskan emosinya dengan cukup puas. Eden mengambil pisau dapur dan hendak menodong ke arahnya. Namun tertahan oleh Maya, dan menyuruhnya untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"APA KAU GILA DASAR BAJ*NGAN, AKU MEMBESARKANMU DENGAN BAIK DAN KAU MELAKUKAN HAL INI KEPADAKU?". Eden terus memakinya dengan nada kasar.


"Sayang, tenangkan dirimu". Maya terus mengusap dada suaminya itu, memintanya untuk memikirkan baik-baik tindakannya. Maya tidak ingin Eden harus terseret pidana karena kasus kekerasan yang ia perbuat selama ini kepada Syha.


Syha berlalu pergi dan mengacuhkan perkelahian ia dengan Eden. Disana Eden memegang kepalanya yang berdenyut tanpa henti.


Kenapa masalah terus saja menimpanya beruntun tanpa henti, mengapa Tuhan tidak bersikap adil kepadanya. Apa ia tidak bisa sedikit saja berbahagia, langkah yang ia pijak beriringan dengan deraian air mata yang terus terjatuh.


Sesaat sampai di gerbang, ia menghapus air matanya. Memasuki mobil dan meminta supir mengantarkan kembali ke kediaman Alon.


Syha melirik ponsel, puluhan panggilan terus muncul dari notifikasi


Alon terus menelponnya tanpa henti, menanyakan bagaimana keadaannya. Alon tidak bisa menemani nya untuk ke villa, karena ia sedang sibuk dengan pekerjaan nya di perusahaan.


Phone chat


ALON


"Kau dimana?" 07.15


"Jangan pergi kesana! Sebelum aku pulang" 07.15


Syha mengabaikan pesan itu ia keburu sudah melakukannya, walau malapetaka terjadi.


Syha melihat perkembangan panti asuhan di London yang tidak lama lagi akan segera terselesaikan di balik ponselnya. Semuanya berjalan dengan sangat lancar tanpa kendala.


Mobil melaju kembali ke mansion, Syha menyusun barang bawaannya.


Setelah membersihkan diri diwaktu petang, Syha berjalan disekitar taman didalam mansion.


Waktu berlalu hingga menjelang malam, jarum pendek menunjukkan angka 8. Alon juga tidak kunjung pulang, Syha mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.


Omelet dengan campuran daging dan sayuran, termasuk makanan favorit nya. Ia sangat mahir memasak makanan ini, setelah selesai Syha meletakkan benda bundar itu diatas meja makan, lalu mulai menyantapinya.


Baru saja 5 menit berlalu, Alon sudah menampakkan batang hidungnya. Melepaskan sepatu fan toffel dan berlalu ke kamar, lalu ia turun kembali ke dapur dengan dasi yang sedikit berantakan dikerahnya.


"Kau memasak apa?", Alon mencium aroma makanan yang sangat menggugah selera, pria itu mencari asal bau kenikmatan itu. Lalu mendapati sebuah olahan telur yang membuat air liurnya sedikit menetes


"Aku ingin mencoba nya juga", Alon menarik piring istrinya, membuat tangan nakal itu disentak dengan kasar oleh Syha.


"Masak sendiri!", Syha menatap sinis dan melanjutkan makan


Alon menyeringai "apa kau lupa kesepakatan yang ku tulis dikertas itu?"


Syha menatap bingung


"Bersikaplah layaknya suami istri selama kontrak berlangsung"


Syha mengernyitkan dahi "lalu aku harus apa?"


"Tugas istri melayani suami", tutur Alon dengan wajah memelas, Syha yang menatap perangai Alon tidak membuat hatinya akan meleleh. Wanita itu lebih memilih tidak menggubris sama sekali.


Alon melipat tangannya didada "Aduh karena tidak sesuai perjanjian, ada baiknya Eden harus membayar setidaknya setengah dari anggaran dana itu"


Dalam sekali cekatan wanita itu langsung berdiri dan menyalakan kompor, mengocok telur dan memasukkan beberapa bahan kedalamnya.

__ADS_1


Alon menopang dagu, kenapa Syha sangat patuh kepada Eden? Kenapa dia harus repot-repot berkorban untuk ayah angkat yang sangat buruk, Eden saja bahkan tidak ingin menggadaikan martabat nya untuk masalah ini, tetapi Syha malah rela melakukan itu semua.


Wanita itu menyodorkan piring yang sudah tersiapkan makanan yang sangat lezat disana, Alon menyantap makanan itu dengan lahap.


"Bagaimana kondisi mu?"


"Sudah jauh lebih baik", jawab Syha


Alon mengangguk paham "Kau tidak jadi kerumah Eden kan?"


"Aku sudah pergi kesana"


Suara decitan sendok dan piring terdengar nyaring karena Alon membanting benda tersebut "KENAPA KAU SULIT SEKALI MENURUTI PERKATAAN KU HAH?"


Bulu kuduk Syha seketika menegang, melihat Alon tersulut emosi membuat tubuhnya terasa tak berdaya. Sebenarnya ia sangat takut jika Alon bersikap beringas.


Pria itu menarik nafas, mengendalikan amarahnya "tapi kau baik-baik saja kan? Mereka tidak berbuat sesuatu kan padamu?"


Syha menggelengkan kepala "tidak"


"Besok kita akan berangkat ke Taiwan, jadi siapkan barang mu".


Syha mengangguk pelan, meletakan piring di wastafel "apa bajumu perlu juga ku siapkan?"


Alon menatap bingung "untuk apa kau mengemasi barangku?"


"Katamu aku harus melayani suami?", tutur Syha


Alon tersenyum tipis "langsung insyaf ya? Cepat juga sadar diri nya"


Syha mendelik "jangan sampai piring ini melayang diwajah mu Alon!"


Alon bertingkah seperti bergidik merinding, ia kembali menatap istrinya yang tampak sibuk "akan ku panggil pelayan untuk membantumu membersihkan"


"Tidak usah, aku lebih suka begini", tolak Syha sembari mencuci bersih piring tersebut, ia lalu menaiki lantai atas. Alon sedikit cemberut dengan kepergian Syha padahal ia belum menyelesaikan makanannya.


"Bagaimana dengan kamarku?", tanya Syha sedikit berteriak dari setengah lantai atas


"Disebelahnya", ujar Alon malas, ia meneguk air putih untuk menghilangkan dahaga.


Syha menyeret koper yang tersimpan di kamar Alon untuk beralih ke kamar sebelah, ia mendorong pintu, memperlihatkan nuansa animasi poriro, walpaper merah jambu, dan lampu kelap-kelip yang terlihat norak.


Syha menghentakkan koper, menghampiri Alon yang sedang asik melihat saluran bola di televisi.


Ia berdiri tepat dihadapan pria itu, berkecak pinggang dan menatap milik mata Alon dengan rasa murka.


"KAU!", geram Syha "emangnya aku bocah hah?" memangnya pria angkuh ini saja yang bisa mengamuk, ia pun juga bisa jauh lebih ganas dari nya.


"Bener kan? Lagian warna itu cocok denganmu", bela Alon, pria itu sibuk meneguk kaleng soda. Syha merampas kaleng itu dan menghempaskan ke lantai.


Syha membentak "Aku tidak akan tidur dikamar itu!", ia berlalu dengan menghentakkan kaki "Aku akan tidur dikamarmu, sampai kau merubah nya!"


Terdengar dentuman yang sangat keras dari atas sana, pasti istrinya itu baru saja membanting pintu dengan luar binasa.


Alon tertawa lepas, tidak sanggup menahan tingkah konyol Syha. Ia sengaja mengusik istrinya, wanita itu sangat imut sekali jika marah.

__ADS_1


__ADS_2