Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 18 BAKTI, CINTA ATAU JANJI?


__ADS_3

"Tidak perlu membahas Kelly disini," pria itu mengusap wajahnya dengan gusar, tarikan nafasnya terdengar kasar. huru-hara dihatinya berkecamuk, pembahasan mengenai Kelly adalah hal yang sensitif baginya.


"Yasudah," jawab Syha dengan pasrah, lekas berdiri dari tempat duduknya. "Aku permisi dulu Adam," ia berpamitan dengan asisten Alon yang sudah berbaik hati menceritakan Kelly yang tidak mungkin bisa Syha dapat kan dari pria itu.


Sembari berjalan beriringan, wanita itu menanyakan sesuatu kepada Alon "Kalian akrab sekali ya?"


Alon menoleh, menajamkan tatapannya, "kenapa?"


Derap langkah itu terhenti, Syha memandang punggung Alon yang masih terus berjalan. "Jadi itu wanita yang sebenarnya ingin kau nikahi?"


Pria itu ikut berhenti melangkah, membalikkan badan dan mengalihkan pembicaraan "Kau sudah sarapan? Akan ku suruh Adam membelikan nya untukmu."


Syha mengulum bibir, sampai detik ini Alon terus menyembunyikan hubungan antara dia dan Kelly. Apa salah nya jika pria ini berterus-terang? bukankah akan lebih mudah baginya untuk mempercepat perceraian demi mereka berdua.


Alon melirik kotak bekal yang berayun ria di tangan wanita itu, "kau buat apa" tanyanya.


Syha melirik kebawah "tidak, bukan apa-apa," jawabnya cepat.


"Itu untuk siapa?"


"Untuk Adam," jawab Syha lirih mengabaikan tatapan yang tertekuk tidak suka kearahnya.


Alon merampas bekal itu dan membuka isinya, "bubur?"


Syha merenggut, mencoba merampas balik bekal miliknya "kan sudah kubilang itu untuk Adam."


Alon berdecak sinis "Hei nona, apa kau tidak lihat suamimu ini kelaparan karena tidak sarapan? Kau malah buatkan makanan untuk pria lain!"


"Ya terserah ku" Syha memutar bola matanya dengan jengah. "Aku akan pulang, anggaplah Kelly akan merawat mu disini."


"Basa-basi mu hanya seputar Kelly ya? Apa kau tega membiarkan suamimu ini?" Alon menggerundel sebal, mengapa istrinya ini begitu memperhatikan Adam ketimbang dirinya? Apa mungkin Rasyhanda berselingkuh dengan asistennya.


'ga-ga mungkin' Alon menggeleng pelan, kericuhan batinnya terus saja berceloteh.


Saat Syha hendak menjawab, Kelly berhambur mendekat untuk hadir di tengah-tengah mereka "Alon, dokter sudah menyiapkan sarapan. Kau harus makan," sembari mengucapkan hal itu, ujung mata Kelly melirik seorang wanita yang berdiri tidak jauh darinya.


Kelly melengkung kan senyuman terbaik pada istri Alon "ah kamu istri Alon ya? Aku Kelly," uluran tangan itu siap untuk disambut dengan hangat.


Syha membalas dengan mengangguk tanpa membalas berjabatan tangan "aku Syha," jawabnya singkat.


Urat kekesalan Kelly sekilas terlihat bergaris dengan kacau di sekitar pelipisnya, senyuman ia lemparkan ke arah Alon sembari menggandeng lengan kekar itu untuk menuntun masuk kembali "Ayo Alon," ajak Kelly.

__ADS_1


Kedua netra pria itu mengajak Syha untuk beradu tatapan, keduanya sangat tidak terkoneksi dalam menyampaikan telepati.


Syha menatap dengan intens


'Kau menyuruhku pergi kan, Alon? begitu kan, yasudah aku akan pergi'


Sedangkan Alon terus meracau memohon


'Syha tolong buat wanita ini menjauh dariku'


Lantas wanita itu justru membuang wajah, dan bersikap acuh.


Alon membalas dengan menukik alisnya, apakah tatapan nya disalahartikan oleh Syha?


"Wahapa ini baby?" Kelly menarik tempat bekal dari Alon dengan tatapan berbinar, mengintip isi disebalik alas yang tertutup rapat.


Ah lagi dan lagi, Syha ingin sekali menggembok telinganya. Panggilan itu terasa memuakkan jika harus didengar setiap saat dan waktu. '𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘣𝘢𝘣𝘪 𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯!'


"Kacang merah ya," Kelly menyodorkan kembali wadah itu kepada Alon, saat pria itu hendak meraihnya. Sebuah ide licik terlintas dipikiran Kelly.


Kelly membuka bekal itu dengan wangi semerbak yang sangat menggugah selera, mencendok sesuap dan menyiratkan Alon untuk membuka mulutnya.


Alon menggeleng menolak "tidak ush Kel," tolaknya memohon dengan halus.


"Aduh imutnya," sunggingan senyum terpancar dari bibir Kelly, mencubit gemas pipi pria itu dengan raut gembira.


Syha yang menyaksikan menarik nafas panjang, tidak ada waktu untuknya berurusan dengan sejoli yang dimabuk asmara ini.


Langkahnya perlahan-lahan menjauh, meninggalkan peristiwa yang ingin ia lupakan dengan segera.


Suara ketukan sepatu hells terdengar mendekat ke arahnya, Syha berpaling dengan wajah yang siap terbakar mendapati Kelly yang berdiri dengan senyum lebarnya.


"Ada perlu apa?" Kedua bola mata memandang dengan was-was, menilik setiap tingkah laku Kelly dalam kesenyapan. Wanita itu mendadak memeluknya dengan erat. Bibir itu dia dekat kan di telinga Syha


"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘰𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘥𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘣𝘶𝘩 𝘈𝘭𝘰𝘯 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘩𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢-𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘳𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘵 𝘈𝘭𝘰𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶."


Syha terdiam membisu, lidah nya kelu untuk membalas ucapan itu. Tanpa rasa bersalah Kelly melepas dengkapan dan kembali tersenyum "Aduh kamu baik banget sih ngasih aku motivasi."


Dengan perasaan nyeri yang menjalar di hatinya, Syha meninggal kan wanita itu yang membentuk seringaian khas.


Kelly mendengkap mesra bersama Alon, pria itu menatap dalam, ujung mata melirik kepergian istri nya.

__ADS_1


Sulit sekali untuk berlaku adil terhadap wanita yang menjadi tanggungan nya untuk bertanggung jawab, dihadang dengan 3 pilihan adalah hal yang paling tersulit. Tidak ada keberanian yang besar untuk berkata sejujurnya kepada Syha, kalau Kelly adalah amanah terbesar baginya yang harus dijaga.


"𝘈𝘭𝘰𝘯.. 𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶. 𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶, 𝘣𝘶𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘶. 𝘉𝘪𝘴𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘪 𝘒𝘦𝘭𝘭𝘺 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶?" Pesan mendiang ayah Kelly.


Ya benar wanita yang seharusnya ia nikahi saat ini adalah Kelly, Alon gagal menjalankan amanah itu, dan Kelly berakhir menikah dengan pria lain. Penyesalan terpaut saat Kelly diceraikan oleh suaminya, kini wanita itu meminta Alon menjalankan titipan ayahnya.


Tapi Kelly tidak pernah mendengarkan apapun penjelasannya meski Alon telah terlepas dari amanah itu.


Perjodohan paksa yang dilakukan oleh keluarga Reid menimbulkan pertikaian hebat antara dirinya dan Kelly, kini ia menghamili seorang wanita yang terikat dengan masa lalunya.


"𝙂𝙖𝙡𝙞 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜, 𝙩𝙪𝙩𝙪𝙥 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜," ya begitulah situasi membludak dengan beringas, memanfaatkan Syha sebagai tameng untuk melepas pernikahannya dengan Hannah justru tidak membuat Adle melepaskan Hannah begitu saja. Sekuat apapun Alon berlari hingga ke hujung dunia, konflik ini akan terus membelenggu nya.


Makanan yang sudah tersedia di depan mata tidak membangkitkan nafsu selera pria itu untuk mencicipi.


𝘽𝙚𝙧𝙗𝙖𝙠𝙩𝙞, 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖, 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙅𝙖𝙣𝙟𝙞?


3 pilihan kini sudah tepat didepan matanya, bersiap menanti kedatangan Alon yang memilih jalan diantara salah satunya


"Masalah kita semakin sulit, saat istri mu itu datang," geram Kelly.


"Kel..."Alon memanggil dengan lirih, meminta wanita ini menyudahi ocehannya.


"Sejak wanita itu hadir di sisimu sekarang kau lebih memilih dia kan ketimbang diriku?" Cerca Kelly, tanpa berhenti mengumpat dari lidah nya.


Alon menarik nafas dengan dalam "Kel, aku hanya menjalankan amanah mendiang ayahmu untuk menjagamu saat ini."


"Tapi kau membagi perhatian mu!" Pekik Kelly air matanya sudah siap meluncur dari pelupuknya.


Alon membisu, Kelly reflek mendekap nya. Alon membiarkan Kelly menangis terisak, memukul dada bidang itu untuk melampiaskan segala rasa sakit yang siap ditelan bulat olehnya.


Apa yang harus Alon katakan dihadapan ayahanda Kelly, jika ia mengkhianati pesan itu. Kelly sangat lah menderita bersamanya.


"Aku tidak membagi perhatianku, Syha sedang hamil jadi wajar kan jika perhatian ku lebih banyak kepadanya?"


"Apa kau berkata jujur kau melakukan ini bukan karena mencintai nya?" Kelly menanti jawabannya.


Alon terpaku membisu, kisah masa lalu terketuk kembali. Menggedor nya dengan keras memintanya untuk segera diluapkan. Alon mencintai Syha sedari dulu, tetapi mengatakan hal seperti itu disaat situasi yang panas seperti ini adalah hal yang sia-sia.


Kelly pasti tidak akan mendengarkan nya dengan baik


"Maafkan aku," hanya dua kata yang terucap oleh Alon, ia tidak ingin melanjutkan lebih jauh perdebatan diantara mereka.

__ADS_1


Kelly kembali memeluk tubuhnya, pria itu tidak membalas mendengkap sekedar menepuk punggung itu dengan lembut.


Cerita ini akan dimulai, berbagai cobaan sudah siap menanti didepan pintu permulaan.


__ADS_2