
Setelah Castiel tidak lagi menampakkan diri, dan Shu telah selesai menemani. Kesempatan Alon untuk melihat istrinya yang sedang terluka.
Sesaat memasuki kamar, wanita itu terbaring lemah diatas ranjang, menatap kosong pada kaki nya yang terbalut selimut.
Alon mendekat dan terduduk di tepian kasur, "bagaimana keadaan mu?"
Tidak ada balasan apapun disana, wanita itu masih tampak sibuk merenung.
Alon mengusap tengkuk segan, entah kapan ia bisa mencairkan bongkahan es di hadapan nya ini "Aku akan turun dulu, kau lanjut lah beristirahat."
Wanita itu menengadah "tidak bisa, aku juga harus turun," rasanya suntuk jika harus terkulai lemah diatas ranjang selama seharian, ada baiknya jika dirinya menghabiskan waktu menikmati pesta pernikahan.
Alon menghela pelan "Tidak perlu, kau sedang terluka," tegur nya "lagipula aku juga ingin mencari wanita iblis."
Syha menaikkan alisnya bingung, "Wanita iblis?"
"Kakak angkat mu," jelas pria itu, Alon ingin sekali memberi pelajaran yang sepadan untuk Hannah. Seharusnya ia menolak mengundang keluarga Eden dalam acara pernikahan mereka, tapi Syha terus meminta agar keluarga angkatnya itu menghadiri pernikahan.
Eden telah menjatuhkan setetes darah di momen bahagia nya dan itu perbuatan yang tidak akan termaafkan olehnya.
Syha menguntal salivanya "Apa yang akan kau lakukan padanya?," tanyanya.
Alon menekan ucapan "Memberinya pelajaran!"
"Jangan! Kumohon," Syha tidak ingin kakak angkat nya harus menanggung akibat yang semakin parah. Sudah lebih dari cukup ikatan hubungannya harus retak karena perbuatan nya, semasa kecil Hannah adalah saudari yang sangat dekat dengannya.
Ya, tidak seharusnya Syha merenggut Alon dari Hannah, rasa kesalahan memuncak dibalik lubuk hatinya. Percuma saja, ia belum bisa melunasi tebusan itu untuk mempercepat perceraian nya.
Alon memandang bingung "Kenapa?"
"Aku tidak ingin kau sampai melenyapkan nyawa orang lain."
Entah apa maksud kepedulian wanita ini, Alon mengalihkan pembicaraan "Bisa kulihat kakimu?"
Syha membaringkan tubuhnya "Tidak usah, aku ingin beristirahat"
"Baiklah," Alon meninggalkan kamar dengan perasaan campur aduk.
Disana Syha kembali terduduk, menatap sayup jari manisnya yang terselip cincin bermata berlian. Simbol pernikahannya bersama Alon, ia lekas menarik cincin itu untuk terlepas. Jari manis yang kosong terisi dengan cincin dari pernikahannya bersama Zein.
"Masih tidak ada yang bisa menggantikan mu di hatiku Zein," ucapnya dengan pelan.
Alon menuruni tangga, menghampiri kedua orang tuanya yang tampak sibuk berbincang.
"Bagaimana dengan istrimu?," tanya Fred yang sedari tadi juga ikut khawatir dengan kondisi menantunya.
"Dia sedang beristirahat Appa."
Fred mengangguk paham "Kalau begitu uruslah istrimu, kami hari ini ada urusan", sementara seluruh keluarga Reid akan menginap dua malam di kediaman Adle, Membiarkan pengantin baru ini menikmati malam pertama mereka dengan tenang.
Pria itu memeluk kedua orang tuanya "Terima kasih"
Alon berniat mencari keberadaan Hannah, ia ingin menyekap wanita itu untuk mempertanyakan maksud dan tujuannya melukai Syha.
Pernikahan resmi yang tercatat di sipil, nyatanya sekedar formalitas bagi keduanya.
Alon tidak lebih dari sekedar tempat persinggahan bagi wanita itu selama Syha menantikan kepulangan cintanya kembali, sama hal dengan dirinya yang menganggap Syha sebagai tempat berlabuh sementara sampai hari itu tiba. Ya dimana Alon harus melepaskan pernikahan yang pernah terbangun ini.
Dia sangat tahu jika Syha masih sangat mencintai suaminya. Tapi entah kenapa hatinya terasa nyeri setiap memikirkan hal itu.
Adam melapor kalau ia tidak menemukan keluarga Eden, Alon memutuskan untuk menjamu tamu undangan yang masih setia menikmati acara di Ballroom.
Seorang wanita dengan tampilan sensual menghampiri Alon dengan membawa dua gelas wine di tangan nya.
"Selamat atas pernikahan mu Alon," ucap Kelly, dengan sunggingan senyuman "gaunnya sangat cocok dengan istrimu, bukankah aku pantas mendapatkan pujian karena hasil desainku tidak pernah mengecewakan?"
Kelly seorang designer yang menempuh studinya di Amerika, ia juga bekerja untuk Reid di bidang Fashion, mereka adalah teman sejak kecil. Kedekatan mereka lebih dari sekedar seperti kakak dengan adik, keduanya kerap dianggap pasangan yang tampak serasi.
Pria itu mengangguk "Terima kasih kel." Ya, wanita ini yang menelpon Alon di malam bridal shower berujung dirinya harus berantuk dengan Castiel. Kelly selalu saja merepotkannya dengan permintaan yang tidak penting.
'Bilangnya darurat tapi malah dijadikan kelinci percobaan, percuma saja dia punya ratusan model'
Syha merasakan tenggorokan nya sedikit kekeringan, ia ingin turun untuk mengambil segelas air.
Wanita itu melangkah keluar dari kamarnya, baru beberapa langkah mendekati tangga. Syha melihat Alon bersama seorang wanita yang tampil sangat menawan.
"Wine untukmu khusus dariku," tawar Kelly dengan ekspresi manjanya, Alon menerima pemberian itu.
"Make a cheers with me baby," ujar Kelly, mengangkat gelas, bersiap untuk bersulang.
Alon tersenyum tipis, ikut bersulang bersama Kelly.
__ADS_1
Syha disuguhkan pemandangan itu dari kejauhan, dia tampak sangat akrab dengan Alon 'Apa itu wanita yang Alon cintai?', tanya nya dalam keheningan.
Entahlah Syha tidak ingin mencampuri kehidupan pria itu, tidak ada haknya untuk mempertanyakan orang-orang yang berada di dekat suami barunya.
โ
Alon merasakan keletihan yang amat menyiksa, menenangkan pikiran dengan bermandikan air hangat mungkin pilihan yang bagus.
"Gatal sekali," gerutu Alon.
Pria itu membuka pintu kamar, ujung matanya melirik wanita yang sedang sibuk membongkar koper. Mengenakan atasan yang tampak longgar ditubuh kurusnya. Menahan hasrat yang menggebu dari dalam.
"Haish! Aku lupa membawa bajuku dari kontrakan," decaknya sembari menyusun tumpukan kain itu dengan rapi.
T-shirt longgar yang sedikit tersingkap, menampakkan kaki jenjang yang terdapat bekas jahitan, brutal sekali wanita ****** itu membuat luka separah ini. Alon tidak bisa mengkira berapa jahitan untuk menutupi sayatan itu.
"Apa jahitan nya tidak akan lepas kalau kakimu kau tekuk begitu?," Syha berteriak kaget, nafasnya menderu. Tercengang memandang sesosok yang tengah berdiri di muka pintu.
Ekspresi terkejut itu membuat Alon kebingungan. Memang telinga istrinya setuli itukah sampai tidak mendengar suara pintu terbuka?
"Apa yang k-au lakukan disini hah?," racau Syha tidak menentu, Alon hampir saja tergelak tawa dengan kelakuan makhluk imut di hadapannya.
"Hei asal kau tau ini kamarku,"pungkas Alon dengan menghentakkan kakinya ke lantai sebagai tanda hak milik nya, "ah tidak sih, ini kan kamar kita."
Kedua mata Syha terlihat melebar "Bicar-a apa k-amuu"
Kali ini Alon benar-benar tertawa lepas, kenapa wanita itu harus berbicara terbata-bata "kau salting ya? Wajar sih pengantin baru memang begini."
Setelah mengucapkan perkataan seperti itu, sebuah kain tipis menghantam wajah Alon. Membuat ia terpaku ditempat, hampir saja pria ini akan berakhir tumbang.
Alon merenggut kain yang berada diwajahnya, mencermati setiap lekukan bentuk disana.
"Seksi sekali" Alon merentangkan tepat dihadapan Syha "kenapa kau melempar dalamanmu sih?"
Syha tersadar, itu lingerie yang selalu ia kenakan jika tidur. Dengan perasaan malu yang sudah tidak bisa lagi terselamatkan. Syha mengejar Alon untuk mengembalikan **********, tapi pria itu justru mengajaknya untuk berakting film India, berlari kesana kemari tidak menentu.
"Alon kembalikan!," bukannya menyudahi tingkah kekanakan nya itu Alon justru semakin keterlaluan, mengoper ke tangan kanan dan kekiri seperti permainan basket.
Lantai yang licin membuat Syha kehilangan kendali, menubruk pria itu dan terjatuh ke lantai.
Sepasang mata terkunci satu sama lain, menghipnotis mereka untuk membisu dalam keheningan. Syha merasakan degup jantung Alon yang terus berdebar tidak beraturan, nafas berat yang terus berhembus, keindahan mata lawannya yang seakan membuai, Syha tidak bisa beralih.
Wanita itu mendekat kan wajahnya kepada Alon, pria itu memajukan bibirnya, tapi Syha sudah lebih dulu bereskpresi jengkel.
Alon menatap kosong, harga dirinya benar-benar tidak ada artinya setelah menikah bersama wanita ini.
Dengan keadaan masih terbaring Alon berkata sesuatu "Amma menghadiahkan tiket pesawat ke taiwan untuk honeymoon."
Syha mendelik sinis "kita tidak perlu hal gituan."
"Amma ku itu asli taiwan, dia ingin melihat foto-foto kita disana," pria itu lekas terbangun dari posisi duduk.
"Babymoon, aku sedang mengandung anak."
Alon membalas dengan mengangguk "Adle meminta hasil DNA untuk kebutuhan ayah biologis, kita akan melakukan pengecekan setelah 4 bulan keatas."
"Baiklah," jawab wanita itu singkat.
Syha memasukkan kembali bajunya kedalam koper, menyeret dan mendekati Alon yang masih terduduk di lantai, "Dimana kamarku tuan Alon?"
Alon mengangkat alis "apanya kamarmu?"
"Terus aku akan beristirahat dimana?"
"Disini lah, dimana lagi?," jawab Alon enteng, berdiri dan menyapu pakaiannya yang tergesek debu.
Syha melotot tajam ke arah pria itu "aku tidak mau sekamar denganmu!"
"Kenapa? Kau takut aku macam-macam" Alon melangkah maju, membuat Syha melangkah kebelakang. Pendaratan terakhir adalah tembok yang tidak menyisakan baginya untuk mundur.
"Aku tidak akan macam-macam kok, kecuali mendesak."
Syha membalas dengan pukulan kasar "tutup mulutmu itu."
"A-duh iya hentikan, kamarmu sedang dipersiapkan jadi sementara beristirahat lah disini," jelas Alon melangkah mendekati nakas, kemudian menarik sebuah kertas dan berjalan menuju kursi balkon.
"Kemarilah ada hal yang ingin ku bicarakan padamu."
Syha berjalan pelan dan duduk tepat dihadapan Alon.
"Kontrak pernikahan kita akan berjalan paling lama 7 tahun, karena aku membutuhkan figur ibu untuk anakku sampai usia dimana ia tidak lagi membutuhkan ibunya," jelas Alon, pria itu tampak membolak-balikan kertas ditangan nya, "dan ya kau bisa ajukan kesepakatan yang kau inginkan," sambungnya memberikan lembaran perjanjian diatas meja kecil.
__ADS_1
Syha tampak berpikir, ia hanya ingin terlepas dari pernikahan ini secepat mungkin "aku akan membayar tebusan itu."
Alon menukik kedua alisnya "Tebusan?"
"Jika aku berhasil melunasinya, aku akan lebih cepat terbebas kan?"
Alon terdiam, tampak berpikir "Ya kau bisa terbebas jika membayar nya lebih cepat."
Syha mengangguk paham, "Baiklah."
"Apa ada hal lain yang kau inginkan?"
Syha menggeleng pelan "tidak ada."
"Apa aku boleh meminta sesuatu kesepakatan bersamamu?," pinta Alon
Kesepakatan? Ia berharap Alon tidak mempergunakan dirinya untuk suatu kepentingan, "apa itu?"
Jangan pernah jatuh cinta ataupun mendekati lawan jenis lain selama pernikahan kita," papar pria itu dengan serius, entah kenapa permintaan ini terkesan egois baginya.
Ya benar ia sangat egois. Alon tidak ingin wanita ini melabuhkan hatinya kepada pria manapun bahkan jika mau lebih keras kepala, Alon lebih tidak ingin jika Syha kembali terlena dengan suami nya yang hilang kabar.
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
Alon menarik nafasnya, memikirkan alasan yang lebih masuk akal. Tidak mungkin ia harus berterus terang, kalau dirinya cemburu akan hal itu. "Ada banyak wartawan disini, kau tidak ingin ulah skandalmu berimbas ke perusahaan kan? Ya kalau kau merasa kaya raya, coba saja lakukan kalau kau sanggup menaikkan kembali nama keluarga Reid."
"Saat ini saja, Reid berusaha membungkam Khayalak dekat untuk menutup aib tentang pernikahan ini. Jadi pikirkan baik-baik segala tindakan mu itu," Sambungnya.
Syha berpikir sesaat, pernyataan Alon ada benarnya kalau konsekuensi menikahi seorang pengusaha besar sangat lah beresiko.
Di sisi lain Syha tidak bisa memenuhi kesepakatan itu mengingat perasaan nya saat ini. Tapi besar kemungkinan jika Zein tidak akan pernah lagi kembali kepada nya.
"Akan ku usahakan" timpalnya dengan yakin "apa itu berlaku sebaliknya?"
"Aku akan melakukan hal yang sama untukmu, agar kita tidak dicurigai" Alon menyandarkan punggungnya "Boleh aku bertanya sesuatu," tanya pria itu.
"Tentu saja."
"Apa kau masih mencintai suamimu?"
Syha terkesiap mendengar pertanyaan itu, reflek menunduk bingung. Meski menikah dengan Alon, entah kenapa hatinya masih belum bisa terlepas dari Zein ditambah ia masih sangat menanti kepulangan pria itu, meski keberadaan tentangnya dianggap sedikit.
"masih," jawabnya dengan nada parau, rasa canggung menyelimuti mereka setelahnya.
Alon mengalihkan pandang, tidak ada bintang yang bertaburan diatas sana. Bulan juga sepenuhnya tertutup, hujan mungkin akan segera turun.
"Siapa nama suamimu?" hatinya ingin terus memastikan apakah panggilan dimalam itu benar-benar adanya, apakah dugaan nya mengenai sesosok bernama Zein adalah suami dari Rasyhanda.
Syha menengadah menatap Alon yang fokus menatap nya, lalu menjawab "Zein Gerald"
Reflek Alon membulatkan kedua matanya
'๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข? ๐ก๐ฆ๐ช๐ฏ ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ญ๐ฅ? ๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐๐บ๐ฉ๐ข benar-benar ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช?,' Alon menelan salivanya, ternyata kehilangan kabar Rasyhanda saat itu karena Zein berhasil menjalin percintaan lebih jauh dengan wanita ini.
Wajar saja jika ia mengalami syok karena Adam tidak bisa menemukan catatan sipil mengenai identitas Zein Gerald didalam keterangan pernikahan negara.
Alon menghela nafas dengan berat '๐ก๐ฆ๐ช๐ฏ ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ญ๐ฅ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆngkhianat ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข,' ๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
Alon menguatkan hati, netranya ia alihkan kepada Syha "aku akan membantu menemukan suamimu jika kau mau," tawar Alon, apakah dia akan melakukannya? tentu saja tidak. Alih-alih sekedar untuk menghibur perasaan istrinya.
Syha terbelalak lalu kepala nya menjawab dengan menggeleng "tidak perlu."
Alon mengangkat alisnya bingung "kenapa?"
"Aku tidak ingin menyulitkan mu, ini masalah ku bersama Zein. Lagipula bisa saja dia telah meninggal."
Alon termenung sepintas "Ya baiklah terserah mu saja, tapi aku akan tetap membantumu untuk menemukan nya meski dia telah tiada," pria itu beranjak berdiri, berpikir sesaat mungkin ada baiknya jika dirinya mencoba mencari keberadaan Zein. "Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menggagalkan pernikahan ku bersama Hannah," sebentar lagi dia akan seperti Pinokio yang ulung dalam berbohong.
Syha terdiam ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ข๐ต "๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฏ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ถ๐ด๐ต๐ณ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ช ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ฎ๐ช๐ด๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข," ๐ต๐ถ๐ต๐ถ๐ณ ๐ฃ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
"Kau harus membiasakan dirimu bersamaku, belakangan ini sandiwara mu terlalu terlihat direncanakan. Kita akan mudah ketebak terikat kontrak pernikahan jika kau seperti itu terus," ujar pria itu.
"Aku akan tidur di ruang TV," Alon mengambil selimut dan benda empuk kesayangan nya, "apakah aku sudah cocok menjadi suami yang sempurna? Aku rela loh melakukan ini demi dirimu."
Syha membalas dengan mengacuhkan ucapan Alon, pria itu sudah berlalu pergi dan menutup pintu. Syha merasakan gerah pada tubuh nya, ia harus berendam untuk menghilangkan rasa panas ini.
Syha mengangkat atasannya, baru terangkat setengah pria itu membuka kembali pintu secara mendadak. Membuatnya lagi dan lagi berteriak histeris
"Aaaah, kenapa kau tidak mengetuk dulu sebelum masuk?," Syha berjongkok untuk membenam wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu.
"Aku ingin mengambil handuk ku dikamar mandi," Alon menyelempangkan kain itu dibahunya, menatap istrinya yang bersikap sangat lugu.
__ADS_1
"Tidak perlu malu begitu, bagian mana sih yang tidak pernah aku lihat," Alon bersiap berlari sesaat istrinya sudah mengacang-ngacang untuk melempar perabotan yang ada dikamar.