Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 14 HARAPAN DIBALIK LAMPION (2)


__ADS_3

Setelah sampai di stasiun Ruifang, keduanya melanjutkan perjalanan ke Pingxi melalui stasiun Shifen.


𝙡𝙤𝙘𝙖𝙩𝙞𝙤𝙣 📍𝙋𝙄𝙉𝙂𝙓𝙄


Alon masih menggandeng manja tangan istrinya, Keindahan air terjun Shifen mengalir dengan kebahagiaan yang melimpah.


Kali pertama Syha melihat penampakan se menakjubkan ini. Suara desiran air terjatuh dengan ritme yang syahdu, pikirannya ikut merasakan ketenangan yang amat dirindukan setelah sekian tahun lamanya. Memandang rumah-rumah kayu yang terbangun dengan keindahan klasik Tionghoa.


Wanita itu tampak keletihan setelah berjalan kaki cukup jauh, napasnya mulai ngos-ngosan. Tapi Alon? Pria itu masih tampak biasa saja.


Alon menyadari Syha yang kewalahan "Kau mau beristirahat makan siang?"


Wanita itu tidak menjawab ia memegangi pergelangan kakinya yang terasa sakit dan nyeri, dalam sekali cekatan Alon menggendong Syha dengan gaya bridal. Menaruh pelan pada bangku umum yang tersedia disana.


"Tunggu, jangan kemana-mana" Alon menghampiri sebuah toko, membeli sandal yang jauh lebih nyaman dikenakan, obat salep dan perban.


Alon bersimpuh, mengoleskan obat cair itu dengan lembut, Syha sedikit merintih berbarengan dengan pria itu membalut kakinya dengan perban.


"Apa kau masih bisa berjalan?" Alon memasangkan sandal itu di kedua kaki istrinya, saat Syha berdiri rasa nyeri itu masih terasa.


Alon berjongkok "naiklah," punggung lebar itu seolah menariknya untuk menaiki.


"Ah tidak perlu," Syha menggeleng pelan. Pasti akan sulit bagi Alon mengangkat tubuh nya yang sangat berat.


"Naik saja kau tidak perlu bersandar, tegakkan tubuhmu" bujuk Alon pria itu terus mendesaknya untuk menurut.


Syha membuang jauh-jauh penolakannya, dari pada kakinya harus terkilir karena berjalan terus menerus. Lebih baik ia menerima tawarannya.


Syha memegang kedua pundak itu dan menaikinya, seperti sebuah kapas Alon sigap berdiri tanpa beban.


Namun seketika pria itu bertingkah dengan menggetarkan kaki. "Aduh, kau makan kaki gajah ya sampai seberat ini?" Ledek Alon.


Syha yang tersinggung memukul punggung pria itu dengan dengusan, Alon membalas dengan sunggingan senyuman.


Keduanya berkeliling di sekitar kota tua, lokasinya tepat diatas bukit dengan rel kereta api yang membelah ditengah. Semua mata teralihkan pada pasutri itu bahkan diantara nya berdecak kagum dengan perlakuan sang suami.


Syha memandang punggung Alon dengan sayup, pria ini tidak mengeluh sama sekali saat membawanya. Syha tidak bisa membayangkan kekuatan pria ini yang mampu menahan beban 2 manusia sekaligus.


"Disini Amma dan Appaku bertemu," cetus Alon sedikit memberikan dorongan keatas untuk menaikkan tubuh Syha agar tidak meluncur kebawah.


"Aku sudah lebih baik, aku ingin turun" sahut wanita itu.


Alon mengedarkan pandangan, tatapan terhenti pada seorang lelaki yang sedang berdiri sembari menyusun ratusan sepeda berjejer disepanjang jalan setapak.


"Aku akan sewa sepeda untuk berkeliling" Alon menurunkan istrinya, berlari kecil menghampiri pria tua dengan janggutnya yang telah memanjang. Keduanya larut dalam perbincangan, sembari Alon memilih sepeda yang ingin digunakan.


Alon mendorong sebuah sepeda tua untuk mereka naiki, dengan patuh wanita itu menduduki besi-besi berongga yang sudah cukup lapuk dibagian belakang.


Pria itu mengayuh dengan kecepatan standar, Syha tersenyum tipis dibalik tubuh Alon, suara derup roda mengiringi mereka ditemani barisan toko-toko yang berdiri sejak 1940 an. Disana juga terdapat rumah-rumah dari masa pendudukan Jepang.

__ADS_1


Sepeda terus terkayuh dengan deru-deru suara besi yang bergemerincing, Shu menyarankan Alon untuk mencoba aktivitas ini bersama istrinya. Mengingatkan kisah percintaan antara amma dan appa semasa muda.


Alon selalu berpikir jika kebahagiaan hanya ada dengan gelimangan kemewahan, namun dengan kesederhanaan pun ia tetap bisa menikmati kebahagiaan itu.


Alon melirik Syha yang tampak tersenyum saat surainya tertiup angin-angin dari tenangnya sungai kecil disana.


'setidaknya kau bisa mengingatkan ku sebagai salah satu kebahagiaan mu sebelum kau pergi selamanya dariku' batin Alon.


Waktu berlalu hingga senja, mereka mengunjungi toko souvenir untuk membeli oleh-oleh dan kenangan sebelum kembali ke London.


Sekumpulan orang telah berkumpul di rel-rel kereta api yang membelah Shifen, keduanya juga mengunjungi sebuah toko untuk membeli lampion terbang.


Disana berdiri petugas yang tampak sibuk mengarahkan kepadatan pengunjung yang sangat mendesak, kota Pingxi seakan terselimuti oleh makhluk bercahaya dibalik kegelapan malam.


"Tulis harapanmu di sini," Alon menyodorkan sebuah kuas yang terbasahi tinta hitam.


Syha menatap bingung "Aku tidak memiliki harapan" setelah itu ia melanjutkan, "kau saja yang tulis."


"Harapan ku sudah dikabulkan, sekarang giliranmu."


Syha menggangguk, mengambil kuas dan menuliskan rangkaian kata disana.


Alon menajamkan penglihatan untuk melirik apa yang wanita itu tulis "Apa aku boleh lihat harapanmu?"


"Tidak!" Tolak Syha menutup rangkaian tulisan itu dengan memayunginya menggunakan telapak tangan.


Alon menggeleng tersenyum, setelah selesai Lampion itu ia kaitkan dengan lilin, menyalakan api untuk membakarnya dan membiarkan nya beberapa detik.


Alon melirik Syha dibalik sisi lampion yang lain, ia berkata "semoga harapan mu terkabul ya."


Syha tertegun mendengar ucapan itu, tidak membalas sepatah kata pun.


"𝙩𝙞𝙜𝙖.. "


"𝙙𝙪𝙖.. "


"𝙨𝙖𝙩𝙪.. "


Genggaman keduanya serempak melepaskan benda itu untuk terbang bebas di langit malam, terdengar sorakan yang sangat meriah disana. Semua orang bertepuk tangan menyambut kegembiraan.


...❁...


Setelah perjalanan panjang, Syha tertidur di dalam taksi yang melaju menuju hotel. Kepalanya ia sandarkan dibahu pria itu, dalam diam Alon mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang, membelai setiap helaian surai disana.


Alon membopong Syha yang masih terlelap, membaringkan nya diatas ranjang. lalu menarik bantal dan selimut untuk berbaring di sofa, menatap istrinya yang masih terbaring Alon mengucapkan sebuah kalimat sebelum melanjutkan istirahat nya.


Keesokan harinya


Syha bersandar dengan lemah pada wastafel kamar mandi, wajahnya pucat pasi menahan morning sickness yang menyiksa keadaan tubuhnya.

__ADS_1


Kepalanya terasa nyeri dan berdenyut, ia segera keluar dari sana, memandang Alon yang berkutat dengan pekerjaan.


Syha ingin sekali memeriksa keadaannya, padahal usia kandungan sudah memasuki 4 bulan tapi kenapa dirinya masih saja merasakan mual yang berlebihan?


"Ini kamar siapa?" Tanya Syha, entah kenapa Alon malah bermalaman disini bersamanya.


"Kamar kita," celetuk pria itu cepat.


"Apa maksudmu kamar kita?" Syha tampak kebingungan "kenapa kau tidak memesan 2 kamar?"


Alon menghela nafas "banyak turis memesan kamar, hanya kamar ini yang tersedia."


Setelah wanita itu mengangguk, Alon kembali mengutak-atik laptop yang terlampir banyak sekali ribuan tulisan disana. Alon menopang dagu sembari berpikir, mencari solusi dalam menyelesaikan pekerjaannya.


Terdengar sebuah ponsel berdering, Syha menajamkan tatapan nya, tampil sebuah foto kontak wanita yang tampak tak asing baginya. Bukankah wanita itu yang bersama Alon di hari pernikahannya?


Alon menatap layar ponsel lalu menolak panggilan, kembali terhanyut dalam masalah perusahaan.


Syha sedikit cemberut menatap Alon yang tidak mengatakan sepatah katapun untuk menjelaskan siapa wanita itu. Ia menghampiri ranjang, membalut tubuh dengan selimut dan kembali beristirahat.


Setengah jam lebih berlalu, Syha terlelap dalam keadaan setengah tersadar saat pria itu memainkan ponsel sembari mengusap dan memijat punggungnya, awalnya ia ingin marah karena Alon melakukan itu tanpa seizinnya.


Tapi sebuah panggilan ponsel kembali terdengar membuat nya terdiam, Alon beranjak dan berjalan ke balkon.


Pria itu memasang mode speaker karena sedang tidak ingin menempelkannya ke telinga, toh lagipula istrinya sedang tertidur.


"Baby... "


Panggilan dari wanita itu membuat Syha melebarkan mata, baby? Bukankah dalam kesepakatan, mereka tidak diizinkan untuk berhubungan dengan lawan jenis manapun selama pernikahan.


"Ada apa kelly?" Tanya Alon mengusap pelipisnya.


"i miss you so much, kapan kamu mau ke Amerika?"


"Aku tidak tahu"


"Apa kamu sedang bersama istrimu?"


Syha mengintip tajam ke arah Alon, ia tetap memperagakan tidurnya agar tidak ketahuan.


"Memangnya kenapa?" Tanya Alon


Kelly menjawab "Jika kau tidak bersama istrimu datang ke apartemen ku ya."


Alon tampak berpikir "lihat nanti."


"Awww thank you baby, muach."


Syha menelan salivanya, bukankah itu terlalu berlebihan? Siapa wanita itu, kenapa dia harus berbicara seperti itu? kenapa Alon sama sekali tidak pernah menceritakan wanita yang berhubungan dengannya saat ini? Pikirannya benar-benar kacau dengan beribu-ribu pertanyaan.

__ADS_1


'Apa Alon mempunyai wanita simpanan?'


__ADS_2