Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 5 BALL GOWN


__ADS_3

"Kau akan kehilangan bulan saat kau sibuk menghitung bintang"


Unknown


Alon mendorong Castiel dengan keras hingga pria itu tersungkur dilantai, tidak mempedulikan suara ringisan abangnya itu menahan rasa sakit. "Kenapa kau mengantarkan nya pulang tanpa seizinku?."


Castiel tersenyum membentuk seringaian "Amma yang menyuruh, lagipula kau langsung meninggalkan nya begitu saja."


Alon menarik kerah Castiel dengan kasar, kekuatannya seperti akan merobek pakaian itu dalam sekejap "Jangan pernah kau sentuh dia dengan tangan kotormu itu."


Castiel menukik alis "Hei tidak biasanya kau seperti ini," pria itu menepuk dada adiknya untuk tetap bersabar "Aku harus membantu kak Yuna, tolong lepaskan tanganmu."


Tapi Alon tak kunjung melepaskan cengkraman, andai saja wanita itu tidak memanggilnya ia tidak mungkin berdebat dengan abangnya.


Castiel menghembuskan nafas dengan berat "Aku tidak menyentuh wanitamu, tenang saja."


Setelah keduanya saling terkunci menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama, Alon melepaskan cengkraman itu dengan dorongan, membuat Castiel sedikit terhuyung.


Castiel mengaku jika kekuatan Alon jauh lebih besar dari miliknya. Jelas pria itu tidak ingin harus bertikai fisik atau dia akan selesai di tempat.


"Jangan pernah kau coba dekati dia," Alon berlalu pergi, setelah memberikan kencaman. Castiel menggelengkan kepala di tempat ia berdiri. Kali pertama dirinya melihat Alon se emosional itu hanya karena seorang wanita.


Β°β€’Β°


Phone chat


"Kau dmana?" @Alon 07.15


"Hotel" @Syha 08.00


"Bersiaplah, amma meminta mu untuk mencoba gaun pernikahan hari ini. Ku jemput jam 10.00" @Alon. 08.02


"Ya" @Syha 09.15


"?" @Alon 09.16


'jarinya pasti bongkar pasang sampai harus membalas selama ini," batin pria itu.


Alon tiba didepan pintu masuk hotel, wanita itu tampak asik berbincang dengan seorang pria yang bertugas sebagai keamanan. Alon yang jengah dengan pemandangan yang cukup membuatnya panas, menekan klakson dengan panjang, membuat Syha tersentak kaget. Ia membungkukkan badan untuk berpamitan, lalu memasuki mobil.


Alon memiringkan badan mencari celah supaya mereka berhadapan "kenapa cuaca hari ini panas sekali."


Syha mengernyitkan dahi, suhu AC sudah terpasang dengan cukup dingin di dalam, tapi kenapa pria ini masih mengeluh kepanasan.


"Turunkan aja lagi biar dingin," pernyataan Syha membuat Alon membanting setir dengan kasar.


Wanita itu terlonjak kaget, jauh di lubuk hatinya ia sangat ketakutan jika pria ini tersinggung atas ucapannya. Bagaimana jika cerita hidupnya berakhirnya disini?


'tidak-tidak aku tidak ingin mati' jerit nya dalam kebisuan.


"Dasar wanita, sukanya menuntut pria tapi dia tidak sadar kalau dirinya juga tidak peka", gerutu Alon sembari menancapkan gas.


Syha mengernyit "tidak peka apanya?" tanyanya bingung. Pria ini benar-benar sulit ditebak, kenapa tingkahnya selalu saja diluar dugaan.


"Sudahlah," balas pria itu ketus.


Alon melajukan mobilnya disepanjang jalan tol menuju bridal boutique.


Sesampainya disana, Syha memandang takjub berbagai macam kain perca dan pernak pernik indah. Tenunan kain terlihat sangat premium, fokus matanya teralihkan pada seorang wanita dengan balutan cheongsam. Ternyata Shu hadir dan berbincang dengan pemilik toko, mereka sudah menyelesaikan pemesanan gaun pernikahan yang keluarga Reid ajukan.


Syha menghampiri Shu, kemudian memeluknya.


"Sudah sampai nak? Ayo coba kenakan gaunnya. Kalau tidak cocok untukmu, Amma akan pesankan gaun yang baru."

__ADS_1


Syha dengan patuh mengikuti arahan karyawan disana, wajahnya juga di dandani dengan natural. tubuhnya sudah terbalut dengan kain dasar bewarna putih, ia segera keluar dari fitting room, Alon yang sibuk berbincang melalui ponsel terbeku diam ditempat, tatapannya terpaku menatap wanita itu.


'Apa aku pantas mengenakan gaun semewah ini? Bahkan pernikahan ku bersama Zein sekedar mengandalkan gaun dari balai kota'


Shu tersenyum sumringah sesaat menatap calon menantunya yang tampak menawan. "Cocok untuk pemberkatan, cantik sekali," pujinya


Wanita itu membalas dengan anggukan "Xie-xie Amma." Tidak tersiakan magangnya di hongkong selama lebih dari 1 tahun.


Shu mengusap dada, senyuman lebar itu menarik garis keriput disekitar matanya, "kenapa kamu tidak bilang bisa berbahasa mandarin, sayang?"


"Saya hanya bisa sedikit saja Amma."


"Wah, Nanti Amma masakkan makan malam spesial untuk kamu ya," Shu membelai wajah Syha dengan lembut.


Alon menggaruk kepala, bagaimana bisa wanita ini menaklukkan ibunya dalam waktu beberapa menit saja. Hannah yang mengenal Shu bertahun lamanya, tidak pernah bisa meluluhkan hati ibunya itu.


"Alon giliranmu" Shu memanggil Alon, setiap langkah yang pria itu pijakkan, lirikan matanya tak teralihkan sedikitpun dari Syha.


Wanita itu membalas memalingkan wajahnya, Alon bereaksi dengan tersenyum kecut.


Pria itu mengenakan jas senada berwarna hitam, rambutnya dibuat klimis. Auranya seperti seorang aktor dari kalangan atas.


"Silahkan kesini tuan dan nona, kami akan mengambil foto pre wedding anda."


Syha membulatkan mata, Alon mengatakan kalau ia hanya akan diajak untuk mencoba gaun saja. Tapi kenapa harus foto pre wedding seperti ini.


Alon berpura-pura bersiul, ia bisa merasakan tatapan bergejolak amarah dari wanita disampingnya.


Mereka diarahkan pada sebuah studio, calon mempelai diarahkan pada gaya dan posisi tertentu. Syha berdiri berhadapan, fotografer memerintahkan untuk saling bertatapan satu sama lain.


𝘝π˜ͺ𝘴𝘢𝘒𝘭 π˜—π˜³π˜¦ 𝘞𝘦π˜₯π˜₯π˜ͺ𝘯𝘨



Cekrek


Fotografer menangkap momen candid


"Luar biasa saya suka sekali." Kedua sejoli itu reflek saling membuang muka.


"Ayo kembali seperti saling berhadapan, tuan silahkan pegang bagian pinggang nona dan nona silahkan anda bebas ingin memegang dipundak tuan atau melingkarkan tangan dileher."


Syha memilih untuk memegang kedua pundak itu, telapak tangan kanannya tidak sengaja menyentuh posisi jantung. Terasa sesuatu yang berdetak dengan kencang, kenapa pria ini berdebar-debar didekatnya?.


Alon menarik lekukan tubuh itu untuk mendekat sehingga kepala keduanya saling bersentuhan satu sama lain.


"Naikkan lagi tangan mu," bisik Alon.


Wajah Syha memerah, reflek menaikkan tangan lebih keatas.


Pengambilan foto yang ini juga terlihat sangat proporsional.


Fotografer meminta mempelai pria untuk duduk di kursi dan mempelai wanita akan duduk di paha pria.


Alon mendekap, tangan kanan Syha melingkar di leher Alon memegang sebuah buket bunga carnation, tangan kiri ia letakkan di pundak pria itu.


Bersiap ya!, fotografer memberikan aba-aba


Syha menggeliat tidak nyaman, Alon menoleh memperhatikan gelagat wanita ini diatas tubuhnya. Meresahkan sekali.


"kau grogi?," bisik Alon.


Syha mendengus "Ga, kenapa kau harus berpikir begitu?" lebih tepat jika seluruh indra nya mati rasa.

__ADS_1


"Jangan kayak ulat bisa ga? kau kayak gini karena ada aku ya," usil Alon.


"Kepedean banget, ini karena aku kedinginan!," Syha tidak kuasa menahan suhu dari pendingin ruangan yang membuatnya seperti membeku.


Alon menaikkan alisnya "Sepertinya kau perlu yang hangat didalam."


Wanita itu melotot "kau ngomong apa sih,"


Syha menepuk dada bidang itu dengan wajah kesalnya.


Suara jepretan kembali terdengar


Fotografer menunjukkan beberapa hasil foto, memperlihatkan seolah-olah mereka adalah pasangan yang benar-benar saling mencintai.


Shu merasa puas dengan hasilnya, lalu mereka berganti busana Qun Kua demi menghormati tradisi dari pihak ibu.


Keduanya melakukan sesi foto kembali, walau pada akhirnya terlihat sangat canggung karena harus berfoto dengan bergandengan tangan.


Setelah selesai, Syha bersama Shu tampak sibuk melihat hasil foto. Alon memandangi mereka dengan bibir yang terangkat, sebuah panggilan masuk ke ponsel Alon, terdengar suara seorang wanita disana.


Syha mengalihkan pandang, pria itu tampak sibuk berbincang. Melihat kesibukan Alon yang cukup padat, apakah mungkin mereka akan sangat jarang berinteraksi.


"Lebih bagus kalau dia sering-sering sibuk saja," ucap Syha lirih.


Alon mendekati Shu yang masih memilah foto yang akan dipasang di kartu undangan, meminta izin untuk berpamitan. Pria itu juga mendekati Syha dan mengecup pipinya sebagai tanda untuk pergi.


Syha mengusap gumpalan yang baru saja dikecup oleh Alon, ah iya demi sandiwara didepan keluarga.


❁


"Ada perlu apa kau menemuiku?," Suara Alon memecahkan kesenyapan diantara mereka. Hannah mengajak pertemuan khusus disebuah restoran western yang jaraknya tidak jauh dari butik yang dikunjungi barusan.


Hannah menatap penuh intimidasi pada pria dihadapannya, kali ini ia tidak akan basa-basi. Hannah tahu Alon tidak memiliki waktu luang untuk membicarakan hal yang berbelit-belit.


"Kapan kau akan menceraikannya?," gumam Hannah dengan nada datar, tatapan wanita itu berkilat-kilat terpaku.


"Aku saja belum menikah dan kau sudah sibuk mempertanyakan perceraian ku?," cibir Alon dengan nada jengkel "aku tidak ingin kau ikut campur hubungan pernikahanku, aku ingin menceraikannya, atau tidak.." Alon berhenti melanjutkan kata-katanya sejenak "itu keputusan ku bersamanya."


"Kau beneran menghamilinya?,"


Hannah melemparkan pertanyaan yang membuat Alon mendelik sinis, muak melihat tingkah Hannah yang terlalu jauh mencampuri urusannya.


"Kalau memang iya kenapa? Kenapa kau terus menanyakan hal itu-itu saja," Alon mengusap wajahnya gusar.


"Bisa-bisanya kau melakukan itu padaku, kita sudah bersama lebih dari 3 tahun Alon," Hannah terisak, seluruh pengunjung restoran mengalihkan pandang ke arah mereka, Alon yang merasa risih meminta Hannah menghentikan tangisannya.


Hannah mengabaikan isyarat itu "aku minta sebaiknya kau segera menceraikannya, kumohon," tambahnya, urat mata itu memerah karena tangisan yang mengalir deras seperti sungai.


Alon menyeringai, berani sekali wanita ini mengobrak-abrik keputusan hidupnya


"Kalau aku tidak mau bagaimana?," ucap Alon dengan nada perlawanan.


"Kenapa juga kau harus menikahi wanita seperti itu?," cecar Hannah "dia saja bahkan tidak mencintaimu!"


Alon terdiam sesaat mendengar pernyataan itu, Hannah kembali melanjutkan dengan tatapan memelas "Alon, aku ini jauh lebih mencintai mu dari pada dia. Kau bahkan bisa mengembangkan perusahaan mu jauh menjadi lebih besar bersama ku. Bersama Syha? Kau tidak mendapatkan keuntungan apapun."


Alon menyeringai "kau kira aku tidak tahu kemunafikan mu selama ini?"


Hannah terbeku membisu, lidahnya kelu mengungkapkan satu kata untuk melakukan pembelaan.


"Aku masih berbaik hati, jangan sampai aku berubah pikiran untuk membongkar semua kelakuan iblis mu dihadapan semua orang," puas berdebat dengan omong kosong yang tidak ada penyelesaiannya. Pria itu berlalu pergi tidak ada gunanya untuk melanjutkan.


Hannah yang mendengar pernyataan Alon memukul keras meja makan dihadapan nya, mengusap wajah dengan frustasi, ia terus memutar akal untuk menghancurkan pernikahan itu dalam waktu dekat.

__ADS_1


__ADS_2