Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 33 AKU MENCARI MU


__ADS_3

Alon tercekat sesaat pematik itu terlempar ternyata Zein tidak bermain dengan ucapannya bersamaan sebuah ledakan besar terjadi. Api berkobar-kobar melambung ke langit, hawa panas menggerayangi disekitarnya.


Dengan aliran darah yang mengalir deras dari dahi, Alon berteriak keras memanggil wanita itu "RASYHANDA!"



Suara ledakan bergema dengan keras, puing-puing dan kepulan asap hitam menggerubungi udara. Para pengendara disekitar sontak panik dan terkejut, beberapa dari mereka berlarian tunggang langgang menjauhi tempat kejadian.


Api menjalar melalap mobil disekitarnya, keadaan semakin terguncang hebat. Alon tertatih-tatih hendak menghampiri kekacauan besar disana, namun Adam mencegatnya.


"Pak kita harus pergi dari sini, api semakin besar. Pemadam kebakaran akan tiba sebentar lagi, sebaiknya kita-"


Alon menyela, menepis genggaman dari bahunya "bagaimana mungkin aku pergi, sedangkan istriku meregang nyawa seorang diri" otot disekitar lehernya menegang menyembul keluar, lantas berlari mendekat. Alon mengabaikan Adam yang terus meneriaki namanya untuk kembali.


'Rasyhanda kumohon berikan tanda padaku kalau kau masih hidup' pekik batinnya sembari mengitari area panas itu.


Jantung terus berdegup kencang, kepalanya


semakin berdenyut hebat. Darah segar mengalir membasahi pelipisnya hingga menetes memberi bekas jejak dijalanan.


Deg!


Setelah mengitari untuk melihat bangku penumpang. Alon terpaku ditempat berdiri mematung. Lidahnya kelu membisu lutut nya bersimpuh terduduk. Cairan bening terjatuh bagaikan air terjun yang mengalir deras.


Dengan terisak ia bergumam, "aku menantimu 9 tahun lamanya dan kau sekarang pergi tanpa berpamitan."


Aliran merah pekat dibangku pengemudi dan sebuah dress putih yang istrinya kenakan saat menghadiri acara reuni raup pelan-pelan terbakar.


Adam berlari mendekat, menepuk pundak seorang pria yang tengah menangis sejadi-jadinya.


"Pak sudahlah ayo kita pergi, keselamatan anda yang paling utama saat ini." Desak Adam tetapi atasannya itu enggan untuk beranjak.

__ADS_1


Pemadam kebakaran telah tiba, sigap mengamankan keadaan, selang-selang panjang telah terguling untuk digunakan memasang nozzle dan bersiap melawan api yang telah meluas.


Seorang pria berlari, menarik paksa Alon dengan kedua lengan yang menelusup dari bawah bahunya.


Alon memberontak dengan suara parau, "jangan jauhkan saya dari istri saya." racaunya tidak karuan. Gila, ya dia memang gila pikirannya kini berkecamuk sehingga hanya raungan yang terus keluar dari mulut nya.


"Saya tahu pak, tapi saat ini keadaan tidak memungkinkan bapak untuk mendekat ke tempat kejadian," ucap pria itu berusaha menenangkan.


Kericuhan semakin sulit untuk dikendalikan, sahut-sahutan suara kepanikan dimana-mana setelah beberapa saat akhirnya api dapat dipadamkan. Para pemadam kemudian memeriksa sisa kebakaran dan memastikan bahwa tidak ada titik api yang masih tersisa, hanya beberapa pengendara mengalami luka ringan.


Alon menghempas dekapan itu dan berlari menuju mobil, pemandangan mengerikan menyambut kedatangannya.


Pria itu melebarkan mata, wajah memucat saliva tertelan dengan berat.


Seonggok daging utuh yang hangus terbakar, tidak lagi berbentuk dengan noda hitam di sekujur badan. Tubuh seorang wanita dengan dress putih yang masih terbalut bahkan yang terburuk perut wanita itu membesar seperti dalam keadaan hamil.


"Ada seorang mayat wanita hamil disini, panggil polisi untuk olah TKP," teriak salah satu petugas "Pak apa ini istri anda?" Tanyanya melanjutkan.


Alon masih terpaku membisu, wajahnya tertunduk merenung penyesalan ia lalu tertawa keras, mengusap wajahnya yang basah karena air mata.


Para petugas hanya saling berpandang bingung, diantara mereka mencoba menghibur. Tetapi Alon tetap dengan ekspresi yang sama, seolah ia termakan kejadian yang terus membelenggu jiwanya.



"Kau ini tidak ada kapok-kapoknya ya," gerutu Castiel. Bagaimana bisa adiknya ini terus merenung selama seharian ini, Castiel harus menahan rasa kewalahan untuk terus membujuknya mengisi perut dengan makanan.


Sesosok yang di maksud menatap kosong ke arah taman, tidak ada sepatah kata pun yang keluar untuk membalas pernyataan saudaranya.


"Tim forensik tidak bisa mengidentifikasi siapa wanita dimalam kejadian itu, tubuhnya secara keseluruhan telah terbakar hangus. Bahkan bayi didalam kandungan juga menunjukkan ciri-ciri yang sangat mengarah kepada istrimu."


Lagi-lagi lawan bicara Castiel hanya membisu, tidak ada reaksi apapun.

__ADS_1


Castiel mengusap rambutnya, menghela nafas dengan berat "padahal kau tau siapa pelakunya, tapi kenapa kau bertingkah seolah-olah tidak tahu menahu saat di interogasi," tandasnya sembari menelisik evidensi yang tertera beberapa lembar catatan dan foto TKP. "Kenapa kau begitu yakin ini bukan Rasyhanda?"


Alon melirik sepintas, helaan nafasnya terdengar kasar. Benar juga, atas alasan apa dirinya masih tidak mengakui mayat itu berasal dari istrinya.


"Alon aku tau kau begini karena masih terguncang atas peristiwa itu tapi cobalah pikirkan," Castiel meletakkan dokumen itu, ditatapnya sang adik dengan seksama "Yang hidup harus meneruskan kehidupan dan merelakan yang telah tiada."


Alon bereaksi mengangkat wajahnya, air mata yang tidak dapat terbendung kini terjatuh di pipinya lekas ia menyeka dan menarik nafas dengan kuat "Sekalipun jika benar adanya, nafasku ini tidak akan berhenti untuk mencarinya." Tekan pria itu dengan keyakinan.


Castiel meledek "Alon kau seperti baru pertama kali jatuh cinta saja." Adiknya itu justru menatap nya dengan dalam, reflek Castiel memajukan kepalanya "jadi dia yang pertama bagimu?"


Alon membalas dengan mengangguk, "lagipula kau yakin kan kalau wanita itu bukan istriku?"


Castiel menukik alisnya, sedikit berdeham "bisa dibilang begitu, lalu apa kau tau kemana Zein Gerald?"


Alon yang sedang termenung, melirik sesaat. "Setelah kejadian kebakaran aku terlalu terbenam memikirkan keadaan Rasyhanda sampai melengahkan dia yang kabur entah kemana."


Alon menilik beberapa lembar foto, hatinya tersayat setiap memandangi nya.


Adam datang menghampiri "Pak, saya sempat menemukan ini dari dalam mobil." Pria itu menyerah kan sebuah kotak yang mirip seperti tempat cincin.


"Bagaimana bisa kau mencuri barang bukti untuk pihak kepolisian, Adam?" Tanya Castiel wajahnya tertekuk menatap.


"Saya sempat membuka isinya dan.." Asistennya itu tidak berani untuk meneruskan, melihat gerak-gerik Adam Alon menerima pemberian itu dan membuka isinya.


Bau menyengat timbul bersamaan kotak itu terbuka. Alisnya terangkat, sebuah potongan jari dengan cincin yang masih melekat disana. Pompa jantung riuh menggemparkan dadanya.


Alon menarik cincin itu, terukir namanya bersama Rasyhanda. Ini cincin pernikahannya.


'Ini tidak mungkin jarimu kan?'


Sebuah secarik kertas yang terlipat menempel disisi atas kotak, Alon menarik kertas itu dan membaca isinya

__ADS_1


Ternyata kau berhasil menemukan kotak ini ya? Haha Alon kau terlalu naif, apa kau sekarang dilanda kebimbangan atas kematian yang kau anggap istrimu itu? Ku harap kau benar-benar gila atas kepergian Rasyhanda, oh iya kau sudah lihat jarinya? Bagaimana menurutmu bukankah jarinya indah, kau bisa memiliki jari itu seumur hidup mu. Bercanda itu hanya mainan, bukankah aku sangat ahli merangkainya seperti nyata.


Aku datang kembali Alon, merebut apapun yang telah menjadi hak milikku sejak awal termasuk Rasyhanda istriku jadi jangan berharap untuk bisa memiliki nya.


__ADS_2