
"Begitu mudah aku mendapatkan segala hal didunia ini, namun tidak dengan mu"
Alon Reid
✺
Syha turun dari ranjang yang cukup tinggi, seraya menyeret selimut yang masih membalut tubuhnya, ia melangkah tertatih-tatih mendekati perapian.
Ia duduk di atas sofa sambil menghangatkan tubuhnya yang menggigil sedari tadi. Menatap kosong pada api yang menyulut berkobar, mulutnya mengunyah beberapa anggur dari meja kecil di hadapannya.
Syha rutin meminum kaplet dan menyuntikkan obat, namun Alon tidak pernah lagi menemuinya. 1 minggu lebih berlalu, pria itu tak kunjung menampakkan diri, ah tidak! dia juga tidak lagi mengiriminya pesan.
Alon hanya menitipkan beberapa buah dan salad kepada petugas keamanan untuk di makan semasa program bayi tabung yang ia jalani. Dampak positifnya ia tidak perlu lagi bertekak urat untuk bertikai dengan Alon, tapi disisi lain ia merasa Alon mulai menjauhinya.
Tidak mengapa, hatinya tetap merasa sangat senang karena ia berhubungan baik kembali dengan Zein. Pria itu berhasil membuatnya yakin kalau Hannah hanya ingin menghancurkan hubungan nya.
Ia memang melihat percumbuan kekasihnya di ruang dosen bersama Hannah, tapi Syha tidak menyadari jika saat itu Zein terpedaya. seharusnya ia melampiaskan amarah kepada Hannah bukan kepada Zein. kakak angkat nya itu selalu menjadi biang kerusuhan.
Syha menyandarkan tubuhnya, memikirkan rencana apa yang harus ia siapkan untuk membalas perbuatan Hannah. Sejak awal ia masih tidak mengerti motif tujuan Hannah menghardiknya seperti ini.
ah! lupakan saja
Besok, ia akan menghabiskan waktu bersama Zein di Kew Gardens. Malam ini ia akan mengistirahatkan tubuhnya, dari pekerjaan yang membludak.
Keesokan hari pukul 2 siang, Syha membalut tubuhnya dengan tenue knit dress dan mantel bewarna tortilla. Membiarkan rambut nya tergerai dan mengenakan boots yang melapisi setengah kakinya.
Zein sudah menunggu cukup lama di parkiran apartemen. Pria itu sedang bersenandung lagu dari dalam mobil.
Syha mengetuk pintu mobil, Zein sedikit terlonjak dan lekas menurunkan earphone nya. Lalu menekan door lock, untuk wanita itu.
Zein tidak berhenti meneliti setiap inci tubuhnya dari atas kebawah.
"Kau selalu terlihat cantik ya?"
Syha sedikit tersipu mendengar pernyataan Zein yang memuji penampilan nya, ia tetap menjaga wibawa walau hatinya terus bergejolak hebat.
"Terima kasih", ujar Syha
Zein tersenyum tipis, lalu menjalankan mobilnya menuju Kew Gardens.
Perjalanan lebih dari 30 menit berlalu, Zein memakirkan mobilnya yang berjarak dekat dengan gerbang Brentford, keduanya melangkah kan kaki memasuki gerbang tersebut.
__ADS_1
Sebuah menara pohon berdiri angkuh dengan keindahannya yang tampak memukau. Zein memandang wanita disamping nya yang tampak berbinar melihat beragam bangunan disekitar mereka "Bagaimana menurutmu?"
"Indah", jawab Syha dengan lekukan senyum menghiasi wajahnya
"Kalau kau suka aku akan sering membawamu kesini"
Syha semakin melebarkan senyuman nya, keduanya memasuki konservatorium yang terhias tanaman anggrek disana. Mengingatkan ia pada mendiang ibu kandungnya yang sangat menyukai tanaman ini, membuat hatinya sedikit terenyah. Hampir saja meneteskan air mata di hadapan Zein, dengan cepat wanita itu menyeka nya.
"Kau pasti mengingat ibumu ya?", Zein yang peka menyodorkan tisu kepada nya, pria itu tampak sangat mengerti suasana hatinya
"Aku sangat rindu ibuku", tukas Syha, ingatan mengenai Rasya adalah salah satu momen yang membuat hatinya terenyah. Ibunya adalah seorang apoteker, menjadi sukarelawan yang melayani kebutuhan obat-obatan diberbagai belahan negara terutama wilayah yang mengalami krisis medis.
"Semoga dia bisa tenang disana", Zein mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
Kemudian mereka memasuki Palm House, bangunan yang dilapisi kaca Victoria membuat bangunan ini terlihat agung dengan besi-besi yang kokoh. Melihat berbagai jenis flora, termasuk jenis mawar dan beberapa kaktus didalamnya.
Syha dan Zein menghabiskan waktu mengitari kew gardens, berbagai bangunan seperti water lily house, museum, klenteng telah selesai mereka pijaki.
Makan siang mereka lakukan disana, keduanya menghabiskan waktu dengan bercengkerama satu lain sampai waktu tidak terasa terus bergulir sampai matahari akan segera terbenam. Senja menemani langkah mereka, berjalan disepanjang treetop jembatan yang berdiri tegak diatas pohon-pohon besar setinggi 18 meter. Menampakkan keindahan taman Royal Botanica dari atas sana.
Keduanya berjalan santai pada jalan setapak, dengan deretan pohon Ek yang terselimuti beberapa salju.
"Aku selalu menantikan kapan kau bisa kembali lagi padaku" Zein memandang langit yang tampak sedikit gelap dari atas sana,
Zein memanggil namanya dengan sendu, kemudian ia menekukkan salah satu kakinya untuk berlutut "Aku tidak tahu apakah ini mungkin terkesan cepat atau tidak"
Zein merogoh sebuah kotak cincin dari dalam coat yang ia kenakan, membuka kotak itu dan memperlihatkan cincin bewarna rose gold yang menanti untuk dipasang di jari manisnya.
Zein menarik nafasnya dalam-dalam lalu 1 kalimat yang terlontar membuat Syha melebarkan mata "Apakah kau mau menikah denganku?"
Syha terpaku membisu, tubuhnya menegang hebat. Mulut nya seolah enggan mengucapkan sepatah kata.
Syha menahan sesak hatinya yang sangat menyakitkan, ia tidak bisa menikah bersama Zein. Karena Alon telah menjadikannya sebagai mempelai pengganti di pernikahan nanti
"Aku.."
"Aku tidak bisa", jawab Syha dengan nada yang parau.
Deg! Dalam satu sambaran kalimat itu membuat Zein terkulai tak berdaya. Ia tidak menyangka Syha akan menolak lamarannya
"Apa maksudmu?" "Jangan bilang padaku kau?.." Zein mulai memperlihatkan amarahnya yang mulai memanas.
__ADS_1
"Aku sudah memiliki calon suami" Syha menundukkan pandangan nya ke tanah, ia sungguh tak kuasa harus mengatakan kata-kata ini didepan pria yang ia cintai.
"Kau sudah memiliki pria yang akan kau nikahi?", racau Zein mengacak rambutnya "siapa pria yang akan menikah denganmu hah?"
"Alon", bagaikan tersambar dua kali Zein memegang kedua bahu Syha, Menggoyangkannya dan memastikan kembali, kalau ia tidak salah mendengar. Namun Zein mendapatkan pernyataan yang sama, Syha akan menggantikan Hannah sebagai mempelai wanita bersama Alon.
"Maafkan aku", pecah tangisnya kini tak lagi terbendung, Syha menutupi wajah dengan telapak tangan yang sudah siap menampung tetesan air matanya.
Zein menghembuskan nafas dengan deru yang sesak "Tidak apa jika kau tidak ingin menerima, tapi pakailah cincin ini bersamamu" Zein mengambil jari manis wanita itu dan memasangkan cincin yang seharusnya menjadi simbol ikatan suci mereka berubah sebagai hadiah pemberian.
Pria itu tersenyum hambar "Aku akan menunggu mu" Zein membiarkan jarinya menyeka air mata Syha yang terus jatuh tanpa diminta.
"Tidak perlu menunggu ku"
"Berapa lama pernikahan kalian akan berlangsung? Aku tahu Alon pasti melakukan kontrak pernikahan denganmu"
"3 tahun", tukas Syha
"Kembalilah kepadaku setelah kau bercerai dengannya" Zein membelai wajah wanita itu dengan lembut, Syha membalas dengan anggukan.
"Aku akan menerimamu walau bagaimana pun, tidak perlu sungkan untuk kembali ya"
Zein mendekat kan wajahnya, Syha mengalihkan tatapan.
Zein hendak mencium bibirnya, tapi wanita itu membuang wajah, membuat bibir pria itu mendarat kan ciuman di pipinya. Akalnya menolak tapi hatinya selalu menginginkan, hanya saja ia tidak pernah siap untuk melakukan hal seperti ini.
Zein tidak bisa bersikap lebih jauh atas penolakan itu.
Mereka kembali ke dalam mobil, Zein bertanya kepada Syha apakah dia ingin minum sesuatu. Syha menjawab kalau ia ingin coklat hangat.
Beberapa menit berlalu Zein membawakan minuman yang mereka pesan.
Syha mengesap coklat hangat digenggaman nya, 2 jam mereka berlarut dalam perbincangan, melepaskan kerinduan satu sama lain.
"Apa kau sungguh-sungguh akan menunggu?", tatapan Syha tampak sayup, ia masih sangat mengharapkan Zein akan setia menanti perceraian nya bersama Alon
Zein meraih punggung tangan wanita itu lalu mengecupnya "aku sudah berjanji padamu"
Syha merasakan kepalanya sedikit mulai pusing, kantuk yang berat sekali. Ia melirik ke arah Zein, pria itu menggoyangkan bahunya untuk sadar.
"Zein? apa ini" panggil Syha
__ADS_1
Pada akhirnya wanita itu terbaring dengan keadaan tidak sadarkan diri.