Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 13 HARI H


__ADS_3

Sankt Peterbug


Upacara suci berjalan dengan khidmat, sekumpulan tamu tampak menangis tersedu menyaksikan momen mengharukan oleh kedua mempelai, terutama Appa dan Amma yang tidak menduga akan melepaskan putra bungsunya melayarkan bahtera, memulai lembaran baru bersama keluarga kecilnya.


Visual tenue Rasyhanda Moon



Keduanya saling berpegangan tangan, menyerukan sumpah janji suami istri. Alon mencium kening seorang wanita yang kini berstatus sebagai istrinya, keduanya menuruni panggung podium dan merayakan kebahagiaan pernikahan dengan melepaskan merpati sebagai simbol cinta diantara mereka. Tepukan gemuruh menjadi akhir dari acara sakral tersebut.


Mansion keluarga Reid


"Selamat atas pernikahan kalian", Appa memeluk pasangan itu dalam satu pelukan, Appa tampak membersihkan kaca mata yang ternodai tetesan air mata. Amma juga ikut memeluk keduanya dengan hangat.


"Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini kawan", Hesti mendekati Syha dengan memberikan buket bunga ditangannya.


"Aku juga tidak menduga kau menikahi Alon, suami idamanku", Mona memeluknya dengan tangisan yang terus mengucur dari pipi.


"Aku tidak ikhlas kau menikah dengan Alon, tapi kalau kau membagi link bisa dibicarakan", Sahut Alian


Hesti mencubit Alian dengan keras "Dasar"


Alian mengerucutkan bibir "halah kau kalau kukasih juga ga bakalan nolak"


Hesti kali ini benar-benar menghabisi pria itu ditempat


Syha mendekati Yuna untuk bersalaman, awalnya wanita itu tersenyum riang bersama bayi dan putri kecilnya. Tapi senyuman itu seketika sirna, melihat kedatangan nya. Yuna bersikap acuh dan menjauh, meninggalkan Sua yang tak berhenti memandang.


"Cici cantik sekali", Sua memeluknya, Syha membelai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang, lucu sekali.


"Sua..", Yuna memanggil putrinya, mengisyaratkan untuk tidak berbicara apapun kepada Syha. Sua dengan wajah murung melepaskan pelukan dan menghampiri ibunya.


Syha tersenyum hambar, padahal ini adalah momen yang paling membahagiakan bagi semua orang. Tapi entah kenapa perasaan nya tak mampu menyamakan momen yang terjadi.


"Hey berbahagialah", Castiel menepuk pundaknya


Syha membalas dengan anggukan "Iya kak aku bahagia kok"

__ADS_1


"Ah kurasa tidak begitu", sekelip mata seorang wanita datang menggandeng lengan Castiel, memanggil nya dengan sebutan sayang. Wanita itu tampak merengek meminta untuk ditemani, dan Castiel berpamitan untuk pergi. Sepertinya itu kekasih Castiel.


Alon tampak sibuk berbincang dengan rekan kerjanya, Amma dan Appa juga bersenda gurau dengan tamu undangan.


Dari kejauhan Eden terus melemparkan pandangan ke arahnya, termasuk Hannah yang terus mengeraskan rahang. Syha melangkah kan kaki mendekati keluarga angkatnya, jantung nya memompa seirama dengan langkahnya yang mulai bergetar mendekat. Syha harus tetap meminta restu pernikahan kepada Eden.


Hannah mencengkram tangan itu dengan keras, menarik nya untuk menjauh dari kerumuman orang, wanita itu menarik Syha ke arah kolam renang


"Oh kau sekarang merasa hebat hah?", Cerca Hannah masih mencengkram lengan itu dengan kuat, pergelangan tangannya mulai memerah


Syha membalas tatapan itu dengan penuh perlawanan "Apa maumu"


Hannah menyeringai "kenapa kau masih bertanya?" Sreekk* sayatan cutter berhasil merobek gaun putih itu dari atas kebawah.


"Akh", suara rintisan terdengar, darah segar mengalir dari paha jenjang wanita itu, sayatan yang cukup panjang.


Maya menarik Hannah untuk menghentikan perbuatannya "apa yang kamu lakukan, nak. Hentikan". Maya terus membujuk Hannah, tetapi Eden? Pria itu bahkan tidak mencoba untuk melindungi sebagaimana ia menyelamatkan wanita itu dari tragedi.


Hannah mengacungkan cutter ke depan wajah Syha "Hei bagaimana kalau kau harus kehilangan buah hatimu sekarang? Apa kau yakin masih bisa tetap hidup"


Syha bersimpuh, menahan aliran darah yang terus mengeluarkan cairan tanpa henti. Dalam satu cekatan, Hannah mencoba mengarahkan ujung runcing itu ke perutnya, Syha yang mengelak terjatuh kedalam kolam.


Seorang pria terjun kedalam kolam menyelamatkan Syha yang tampak kesulitan bernafas. Alon mengangkat istrinya untuk naik, merebahkannya diatas lantai. Wanita itu tidak sadarkan diri, Alon terus mencoba memompa jantung Syha. Memberikan nafas buatan, dan terus kembali memompa.


Alon mendekatkan telinga tepat di posisi jantung istrinya, tidak terdengar detakan sama sekali, memeriksa nadi yang juga tidak berdenyut. Setetes air mata Alon terjatuh, mengharapkan kebaikan Tuhan untuk mengembalikan wanita ini kepadanya. Ia terus berteriak histeris "SADARLAH, kumohon SADARLAH"


Tapi Syha tak kunjung menghembuskan sehela nafas pun, Alon berkecamuk memukul lantai dengan depresi. Andai saja ia lebih awal datang menyelamatkannya. Mata Alon tampak memerah karena tangisan yang menyesakkan perasaan nya.


Tatapan ia alihkan pada Hannah yang terpaku diam disana, mendadak pria itu mengangkat sebuah vas bunga untuk ia lemparkan ke arah wanita iblis dihadapannya.


"NYAWA HARUS DIBAYAR NYAWA", pekik Alon tidak tertahan


Tapi Appa Dan Adle menahan aksinya, Alon terus memberontak.


"Berani sekali kau menyentuh istriku", Alon tidak behenti menjerit dengan keras


Castiel menggantikan memompa Syha untuk sadarkan diri, tak lama wanita itu terbatuk-batuk menyemburkan air dengan keras dari mulutnya.

__ADS_1


Saat matanya mengerjap ia melihat Castiel dengan wajah kerisauan nya, Alon melempar vas itu ke sembarang tempat. Membopong Syha untuk membawanya ke rumah sakit.


Alon melangkah kaki melewati Hannah yang masih tidak berkutik. Tampak wajah wanita itu menahan rasa ketakutan yang tidak bisa diekspresikan.


"Akan ku patahkan jarimu setelah ini", bisik Alon penuh ancaman. Bulu kuduk Hannah seketika berdiri. Alon bukanlah pria yang bermain-main dengan ucapannya.


"Alon", Syha memanggil pria itu dengan lirih "kau akan membawaku kemana?"


"Tidak ush banyak tanya"


Wanita itu memandang mata Alon yang sedikit membengkak "kau habis menangis ya?"


Alon membuang wajah "tidak, cuman ngantuk"


"Aku tidak ingin kerumah sakit", ucapan Syha membuat Alon menghentikan langkah. ia berbalik badan dan membawa istrinya menuju lantai dua, meletakkan wanita itu diatas ranjang.


"Akan kupanggil dokter kesini untuk memeriksamu"


Selang tak beberapa lama, dokter datang dengan membawa obat. Membersihkan darah pada sayatan, ditemani Amma yang setia disisinya.


"Nona saya harus menjahit bagian ini, karena luka nya cukup lebar". Syha mengangguk mengiyakan


Setelah jahitannya selesai, dokter keluar dari kamar.


Alon yang sedang bersandar dengan wajah cemas, langsung memasuki kamar tanpa bertanya apapun.


Alon melihat Syha yang sedang setengah bertelanjang untuk berganti pakaian, pria itu langsung saja keluar dan kembali menutup pintu dengan keras.


Amma memandang bingung


"Kalian kan sudah suami istri, kenapa harus begitu?"


Syha menggeleng canggung, ia juga tidak mengerti.


Dibalik pintu, Alon menutup wajahnya yang merah merekah, seperti menyembunyikan sesuatu. Castiel memergoki sikap adik nya, dengan mengejutkan nya.


Sontak Alon terlonjak dengan hebat

__ADS_1


"Kenapa wajah mu itu?"


Alon menelan saliva nya berat, pria itu lekas meninggalkan abangnya begitu saja, dari pada ia harus menahan malu begini.


__ADS_2