Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 13 HARAPAN DIBALIK LAMPION


__ADS_3

Setelah berdiri cukup lama didepan cermin, Syha berhasil menyanggul rambutnya, memasukkan tusukan sanggul dengan corak bunga tradisional Taiwan kedalam celah surai.


Visual tenue Rasyhanda Moon



Ia mengenakan lace dress, sangat sepadan dengan tone kulitnya. Anggun dan terlihat feminim, menenteng Kelly bag dan menuruni tangga.


Alon tampak sibuk berbincang dengan Ayi, tersampir coat di lengannya. Pesona itu tidak pernah memudar meski umurnya akan berjalan 30 tahun.


"Lusa kami akan pulang Ayi, jadi besok kami akan menginap di hotel yang dekat dengan bandara." Alon ingin menjauhi istrinya kemungkinan timbulnya trauma, kondisi hamil pasti akan terus membuatnya tertekan jika harus berlama-lama disini.


Setiap langkah anak tangga yang Syha turuni, Alon memandang ke arahnya dengan takjub. Tatapan mata itu tidak teralihkan sedikitpun.


Alon menelan salivanya, lekas menggeleng. "Kami pergi dulu," pamit Alon sembari memeluk Ayi.


Alon mengarahkan netranya berkeliling mencari keberadaan seseorang, paman Ang tidak ada dirumah dia pasti berangkat kerja lebih pagi hari ini. Alon menyumpah-serapahi pamannya dari lubuk terdalam.


Ayi tersenyum tipis "Kalian akan jalan kemana?"


"Kami mau ke kuil hari ini," jawab Alon menarik gagang koper yang telah siap disamping tubuh nya.


Ayi mengangguk mengerti "Hati-hati dijalan."


Sesaat keluar, Syha meminta Alon untuk mampir ke pasar ikan, Alon menuruti dan meminta supir taksi mengantarkan mereka kesana.


Sesampainya disana, Syha menghamburkan diri berpelukan dengan sepasang anak kecil yang tampak gembira menyambut nya.


"Cici kami merindukan mu," ucap Bao.


Syha memandang mereka dengan perasaan berbeda "wah kalian jadi cantik dan ganteng begini ya."


Chen melirik ke arah seorang pria disamping Syha "AKH!!!," Chen mengancungkan jari ke arah Alon "koko itu yang membuat kami jadi begini."


Syha melirik ke arah Alon, pria itu membalas dengan tersenyum simpul.


Syha mengangguk berkali-kali "Oh jadi dia ya," ternyata Alon benar-benar merawat anak-anak terlantar ini dengan sangat baik sekali diluar ekspetasi nya.


"Iya ci, koko bahkan memberi kami makanan yang baaanyaakk sekalii," ucap Bao memperagakan sebuah lingkaran besar.


Syha tertawa kecil "Apa kalian sudah makan?" tanya Syha. "Aku membawakan beberapa makanan untuk kalian lho."


Bao menyambut nya dengan gembira "Xie Xie cici."


Chen membantu membuka isinya, selain beberapa nasi dan lauk cepat saji, terdapat kue kering dengan hiasan karakter yang lucu. Chen merasakan air liur nya akan tumpah karena menggugah selera.


Chen tersenyum semringah "xie xie cici" lalu sebuah kecupan manis melayang di pipi wanita itu.


Alon melotot "hei BOCAH! Jangan sembarangan cium istri orang dong!" Peringatnya dengan ketus.


"Dia siapa sih ci?," tanya Chen Heran.


Syha menatap bingung, bagaimana ia harus menjelaskan pada anak sekecil ini.


"Kami ini pasangan yang saling mencintai, makanya aku ini cinta nya si cici tersayang," Alon memperagakan bentuk cinta di atas kepalanya.


Syha mengulum bibir, tangannya terkepal erat mengacang-acang menghantukkan kepalan ini jika Alon berulah lebih jauh lagi.


Chen mengangguk paham "kenapa cici cantik sekali."


Alon kembali menyahut "tentu saja istriku memang cantik, tidak akan ada yang mengalahkan kecantikannya luar dan dalam" tekan Alon di akhir.


Syha menepuk pundak pria itu dengan kasar, terdengar dengusan kesal disana. "Apa maksudmu dalam ha? Jaga ucapanmu!"


Alon menatap bingung, mencoba meluruskan kata-kata disela tawanya "dalam itu maksudnya kebaikan dari hati, bukan dalam yang kau pikirkan itu. Kau mikir kotor ya?"


Wajah syha bersemu merah, layaknya tomat rebus yang akan meledak ia kembali memukuli Alon demi menutupi rasa malunya.


Bao dan Chen saling melemparkan pandangan, mereka tidak mengerti percintaan orang dewasa.



Pasutri itu sudah sampai di kuil Longshan, hiasan ornamen dengan banyak sekali ukiran kayu yang bertuliskan kata-kata puitis mencuri banyak sekali perhatian, penduduk lokal dan turis memadati aula utama.


Syha berdiri tepat dihadapan kuil, sedikit berjarak dari Alon yang sedang berdoa. Pria itu tampak khusyuk sekali bersembahyang, entah apa yang Alon sampaikan kepada dewa disana.

__ADS_1


Setelah selesai berdoa, Alon berbalik badan


Sembari mengiringi langkah pria itu, Syha bertanya "Kau berdoa apa?"


Alon melirik wanita itu sekilas "Mau tau aja, apa mau tau banget" pria itu mengangkat kedua alis ingin menjahili istrinya.


Syha mendengus "Yasudahlah."


Alon tertawa kecil "ga bisa diajak bercanda ya. "


"Ya" jawab Syha singkat, berlalu meninggalkan Alon yang masih berjalan pelan.


Alon menghela nafas "Huh namanya juga hidup, Alon. Ada saja cobaannya."


Syha terhenti sejenak, "ya kalau banyak cucian itu laundry," timpal wanita itu.


Alon menatap kesal "Kau bisa berhenti menyahuti ku?"


"Ya," jawab Syha singkat.


Alon mengejar, menyamai langkahnya "Aku berdoa untukmu."


Syha menukik kedua alisnya "Untukku?"


"Ya biar kau tu dapat hidayah jangan taunya nge cuekin suamimu ini melulu!"


Syha mendelik sinis, semakin mempercepat langkahnya, Alon menarik lengan wanita itu untuk berhenti.


"Ayo foto dulu, buru-buru amat mau pergi" ucap Alon, ia lalu merogoh ponsel dan membuka kamera mengarahkan mereka untuk ber-selfi.


"Ga mau," tolak Syha menggeleng, ia telah nyaman dengan sifatnya yang tertutup. Setiap berkumpul dengan sahabatnya Syha justru menjauhkan diri jika lensa kamera mengarah kepadanya.


Alon menghela nafas, "aku mau mengirim fotonya ke Amma."


Pada akhirnya wanita itu mengalah, ia berdiri cukup jauh dari Alon. Memperjarak tubuh nya agar tidak saling bersentuhan.


Alon menggerutu "Kau kira kita masih ABG yang baru dimabuk cinta sampai malu-malu begitu?," ia lalu menarik lengan istrinya, merangkul bahu itu dan bersiap untuk menangkap momen.


"Ga perlu merangkul Alon," Syha menghempaskan lengan pria itu yang mendengkapnya.


"Senyum lah! Cemberut mulu kek bebek"


Syha menarik nafas panjang, menunjukkan senyum terbaiknya ke arah kamera.


Suara jepretan terdengar*


"udah?" Tanya Syha


"Sekali lagi."


Syha mengigit bibir, kerutan di dahinya terlihat menonjol "Ribet banget sih!" Rengeknya yang tampak malas untuk berfoto ria.


"Gini amat punya bini jutek," ledek Alon, Syha mendelik sinis ia kembali berpose sesuai yang pria itu mau.


"Cepetan Alon," celetuk nya, bersamaan suara jepretan kamera ponsel sebuah kecupan mendarat di pipinya.


Syha ternganga lebar, mengusap gumpalan chubby yang telah ternodai "kenapa kau mencium pipiku hah?," pekiknya "Hapus!"


Alon menjulurkan lidah, "ga mau" ia malah sibuk memandangi hasil foto itu dengan senyum yang mengembang.


Syha mengerucutkan bibir "Ihh Alon." suara memelas yang terdengar mendayu menarik Alon untuk menoleh.


"Coba ulang dong ihh nya," pria itu semakin meledek nya, Syha berusaha keras merampas ponsel yang tergenggam disana. Tetapi Alon terus mempermainkan cekatan nya kesana kemari.


"GA! Hapus cepet!" Syha terus berupaya meraihnya, tapi kecepatan Alon tidak mampu ia saingi. Karena kewalahan Syha berhenti melakukan aksinya yang dianggap percuma.


"Malam ini ada festival lampion di pingxi," Alon mengalihkan pembicaraan diantara mereka, ia juga sudah cukup letih untuk bermain-main.


Syha menatap bingung "Jadi?"


"Ayo kita kesana."


"Ga mau tau, foto itu harus dihapus! Awas aja ga kau hapus," ancam Syha menghentakkan kakinya dengan kasar berlalu tanpa memperhatikan ekspresi Alon yang bertanya-tanya.


"Kalau ga kuhapus?" Tantang Alon, pria itu tampak tidak gentar untuk terus memancing amarah istrinya.

__ADS_1


Syha menyeringai, membentuk lipatan tangan di dadanya "Masa depanmu bakalan suram."


Pria itu hampir saja tergelak tawa, masa depan suram? Tidak ada kata suram bagi Alon Reid yang telah diberkahi masa depan yang cemerlang. "Oh ya? emg suram bagaiman," tanya Alon enteng.


Syha mengarahkan tatapannya kebawah, berhenti tepat dibawah perut pria itu, kedua alisnya terangkat mengisyaratkan sesuatu.


Alon yang mengerti arah tatapan itu, sedikit menggetarkan sendi-sendi lututnya. Hidupnya akan benar-benar suram jika kehilangan yang satu ini. Baiklah tidak selalu hidupnya akan cemerlang, Alon menarik kata-kata nya.


"Kalau ini tidak ada, siapa yang akan memuaskanmu?" Berucap dengan santai Alon dihadiahkan tatapan melotot dari Syha.


Syha mencuit geram "Ternyata ucapanku tidak salah menyebutmu pria mesum."


Alon terkekeh, " bercanda, pegang tanganku" ia lalu menarik Syha menuju halte bus, kerumunan orang tampak ramai dari biasanya. Ya karena hari ini memperingati festival lampion jadi wajar saja.


"Untuk apa sih, aku bisa sendiri," bantah Syha menepis kasar genggaman itu.


"Taipei ini luas gmana kalau kau tersesat, siapa coba yang mau mencarimu" cetus Alon memperhatikan sepasang mata yang mencuri-curi lirikan ke arah istrinya. Bagaimana tidak, kecantikan Syha mampu menyaingi dewi Yunani.


"Polisi lah, yakali kamu" jawab Syha.


"Polisi pun malas kalau mencari mu,"


Jawaban Alon dibalas dengan cubitan mesra dari Syha.



Kedua pasangan itu tiba di Stasiun utama kereta api di Taipei, setelah menuruni bus yang mereka tumpangi. Alon Memesan tiket, seraya menggandeng istrinya untuk masuk kedalam gerbong-gerbong panjang disana.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Syha yang sedari tadi terus merengek, wanita itu tampak tidak suka jika harus berjalan kesana kemari. sejak awal, Syha adalah introvert yang selalu senang berdiam diri dirumah.


Alon melirik kebelakang dengan sedikit senyuman, merasa beruntung menikahi sesosok wanita seperti ini. Sampai sekarang Syha tidak pernah menyindir uang dan jabatan yang dia miliki. Padahal bisa saja Alon membawa istrinya dengan kereta api pribadi, tetapi apapun yang Alon berikan Syha selalu menerimanya.


Tidak seperti Hannah, Alon sangat teringat bagaimana wanita itu terus meracau menaiki pesawat kelas ekonomi bersamanya. Hannah terus menyindir jabatan dan harta yang dimiliki tidak menyesuaikan seorang calon pewaris perusahaan.


'Muak, gendang telinga ku rasanya akan pecah dengan racauan makhluk stress itu' umpat Alon dalam hati.


Alon menghentikan langkah kakinya, kepalanya celingak-celinguk mencari tempat mereka untuk duduk, "kan sudah kubilang kita ke Pingxi."


Syha menggerutu, mengusap lembut perut yang sudah cukup membesar itu "dengar kan nak, ayahmu ini hanya tau menyiksa ibumu."


Alon bersikap tuli dengan perkataan Syha masih mencari bangku yang kosong tapi tidak kunjung menemukan, ujung matanya melirik salah satu pelajar laki-laki yang tampak asik dengan ponselnya.


Alon menyapanya "maaf istriku sedang hamil, mungkin kau tidak keberatan untuk-"


Bukannya merespon, lelaki itu malah menyumpel telinganya dengan headphone.


"Tidak apa aku berdiri saja," pungkas Syha.


Alon tidak tega jika harus membiarkan istrinya berdiri dengan keadaan hamil seperti ini.


"Nona duduklah disini," seorang wanita lansia berdiri dan memberikan sebuah bangku untuk Syha.


Wanita itu menggeleng menolak "Ah tidak perlu, Anda jauh lebih membutuhkan."


"Tenang saja aku ini masih kuat berdiri, duduk saja," wanita lansia itu menuntun Syha untuk duduk di bangku nya.


"Terima kasih" ucap Alon mewakili Syha yang tampak segan untuk mengucapkan nya.


"Panggil aku Nai saja ya," kerutan di pelupuk matanya tampak terlihat jelas sesaat Nay tersenyum "sudah berapa bulan?" tanyanya.


"Sudah masuk 4 nai", Jawab Alon


Nai mengangguk "istrimu bukan asli sini ya?" "Dari mana asalnya?"


Syha menyahut "Rusia"


Nai termangu-mangu "ternyata kau cukup fasih juga berbahasa Mandarin." Ucapnya dengan senyuman tipis, "pasti anakmu ganteng seperti ayahnya dan cantik seperti ibunya."


"Haha terima kasih Nai," Alon tersenyum senang dengan ucapan itu.


"Kalian mau ke Pingxi ya?"


"Benar" timpal Syha membalas pertanyaan Nai.


"Aku juga mau bertemu cucuku disana, festival lampion malam ini bakalan meriah" ucap Nai menjadi akhir dari percakapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2