
..."Aku tahu betul bahwa kebaikan yang kau berikan hanyalah sebuah ilusi semu. Aku lebih memilih untuk merasakan kesedihan dan penderitaan yang kualami, karena itu adalah harga yang harus kubayar atas kesalahanku."...
...𝑅𝑎𝑠𝑦ℎ𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑀𝑜𝑜𝑛...
..."Tidak ada lagi sandiwara ini perhatian ku yang nyata."...
...𝑨𝑙𝑜𝑛 𝑅𝑒𝑖𝑑...
...❁...
Alon berlarut dalam tumpukan berkas kantor yang menjulang bertingkat, ia baru saja menyelesaikan rapat bersama tim serta bertemu klien penting. Jarinya sibuk membolak-balikan lembaran baru mencermati laporan pembangunan hotel yang menjadi bagian dari proyek terbesar perusahaan.
"Pak Alon, good morning. How are you today?" Adam dengan gelagat tengilnya, tersenyum jahil. Tapi atasannya itu merasa tidak tertarik untuk menyimak kelakuan sang asisten yang sedang terjangkit sindrom gila.
"Kalau kau cuman mau menularkan penyakit sintingmu itu ga ush kesini," decak Alon dengan wajah jengkel, meletakkan map yang mengapit di jari jemarinya ke atas meja kerja.
"Kau sudah tau laporan mengenai kekacauan jadwal proyek dan penaikan pembiayaan yang melonjak?"
Adam menukik kedua alisnya, jari telunjuk nya ia letakkan di dagu berlagak seperti sedang berpikir. "Aku tidak tahu pak, apakah itu laporan baru?"
"Jadwal kan pertemuan ku dengan konsultan properti hari ini," titah Alon dengan wajah gelisah, mengacak rambutnya dengan sedikit depresi lantas menarik ponsel dan melirik layar yang menghipnotis netranya.
Adam merunduk dan menjalankan perintah yang diberikan.
Pria itu tersenyum hambar dengan punggung yang tersandar "Kapan pernikahan kita bisa kau anggap sungguhan Rasyhanda?" Gumam Alon dengan lirih, setelah kepergian Adam meninggalkan ruang kerja sebuah ketukan terdengar dan Alon mempersilahkan masuk.
Seorang wanita dengan langkah anggun dan aroma parfum yang menyengat, meluluhkan atmosfer menjadi menggairahkan. Tapi semua itu sama sekali tidak membuat Alon terenyah, ia malah memandang gerah seiring suara hells berhantuk dengan lantai.
"Baby, Apologize to me for what you did yesterday!" Geram Kelly dengan rahang yang bergemeletuk disertai tatapan yang beringas.
"I'm sorry Kel," ucapan Alon yang terdengar bernada malas, menarik Kelly untuk meluapkan emosi.
"Padahal dulu kau selalu menuruti segala kemauan ku, tapi sekarang kau-"
"Berhentilah ngedumel dan keluarlah dari ruangan ini, aku sedang sibuk."
"Aku tidak mau!" Kelly menghentakkan kakinya dengan kasar, ujung kepalanya seolah meluapkan uap panas yang sudah siap untuk meletus.
Pintu berderit, sesosok wanita dengan jepitan yang tersanggul di rambutnya timbul disebalik celah dan mendorong pintu itu untuk terbuka lebar.
Alon lekas berdiri, menyambut hangat dan menghampiri wanita itu "why are you here lovely?" Alon tersenyum lebar terlihat garis matanya tidak lagi memperlihatkan bola mata disana.
"Amma menyuruh ku untuk kesini, melihat keadaan mu" jawab Syha, bulu kuduknya merinding mendengar ucapan Alon. Ah ternyata ada wanita pebinor dengan bibir yang terus bersungut-sungut.
__ADS_1
Syha melirik Kelly dengan tatapan yang tidak bersahabat. Kenapa hatinya terus merasa cemas dengan kehadiran Kelly yang kini masih terus gigih dengan sikap keras kepalanya untuk merenggut Alon.
"Kamu sudah makan siang?" Pria itu seolah bertingkah menganggap ketidakhadiran Kelly di sana, Syha menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Yasudah ayo makan siang," Alon kembali ke meja kerja, merapikan berkas, dan menyambar ponselnya. Ia lalu menggandeng manja lekukan pinggang istrinya seraya larut dalam perbincangan.
"Kau mau makan apa?" Tanya Alon.
Syha terdiam sejenak, "aku ingin pulang dan makan buatan Nanny saja," jawabnya.
"Yasudah ayo makan di mansion."
Kelly melirik kepergian punggung sejoli itu keluar dari ruangan, tangannya terlihat mengepal menyaksikan pemandangan yang menyesakkan.
Sesaat keduanya berjalan di antara para karyawan yang terduduk fokus di meja masing-masing, serentak seluruh mata melirik atasannya itu keluar bersama wanita asing.
"Siapa itu, klien?"
"Cantik sekali, apa mereka sama-sama direktur?"
"Hei apa kau tidak sadar jika pak Alon mengenakan cincin pernikahan? Apa mungkin ini pernikahan yang disembunyikan dari publik?"
"Yang benar saja?! Ini bakalan jadi berita panas sih."
Alon tersenyum tipis, hatinya bergemuruh gembira mendengar bisikan yang mericuhkan keadaan kecuali Syha yang merasa khawatir. Padahal suara-suara itu memuji kedatangannya, tapi firasatnya terus merasa gelisah.
Alon mengacuhkan terlihat raut kecewa terlukis diwajahnya, "memangnya kenapa kita kan suami istri. Aku ingin mengenalkan mu pada dunia kalau kau itu milikku seorang."
"Alon cukup sandiwara mu," resah Syha mimik wajahnya berubah was-was.
Alon mendekat kan bibir ke telinga istrinya, lantas berbisik, "tidak ada lagi sandiwara ini perhatian ku yang nyata."
Syha reflek menggerakkan lehernya untuk tertoleh mendapati Alon dengan senyum hangatnya. Hatinya terloncat-loncat gembira
'tidak mungkin kan ini cint-'
"Baby," Kelly menginterupsi keduanya, Alon menyengir kesal. Wanita itu memeluk Alon dengan gaya mesra, melayangkan kecupan manis di pipi pria itu.
"Eh kamu dengan siapa ini?"
Syha tersentak dengan tingkah laku Kelly diluar dugaan termasuk Alon ikut bereaksi dengan wajah ternganga tidak percaya.
"Baby..," keluh Kelly menunjuk ke arah wanita itu dengan tingkah kekanakan nya "siapa wanita ini, kenapa kau malah berjalan bersamanya."
__ADS_1
Desas-desus semakin memanas, Kelly tersenyum licik lalu berkata "bukankah kau akan segera menikah denganku?" Ucapnya.
"Kelly apa yang kau lakukan tutup mulutmu!" ancam Alon dengan tatapan yang melotot. Suara-suara positif kini berubah menjadi desus panas.
Kelly melirik Syha yang merunduk pasrah, tidak ada bantahan yang keluar dari mulutnya.
Kelly tersenyum menyeringai. Hatinya tertawa penuh kemenangan, mudah sekali menggulingkan wanita ini untuk sadar akan posisinya. Hanya dirinya yang jauh lebih pantas bersanding dengan Alon.
Dengan keangkuhan Kelly yang hendak melantangkan suara. Tapi sebelum ia melakukan itu, Syha sudah lebih dulu mengangkat wajah. "Sayang, siapa wanita gila ini? Kenapa kau membiarkan ODGJ masuk kedalam kantor?"
Kelly terbelalak, sedangkan Alon menahan gelak tawa nya yang siap untuk terlepas.
Syha menelungkupkan punggung tangan pada kening wanita itu, "Sepertinya anda harus memeriksa kewarasan anda dirumah sakit atau perlu saya mengantarkan anda sekarang?"
Alon mengulum bibir, tidak pernah menyangka jika istri nya ini bersikap berani menghadapi sesosok seperti Kelly. Syha benar-benar tau apa yang ia ingin kan selama ini, ya perlawanan.
"Kamu lucu sekali," Alon mencubit pipi Syha dengan gemas, melingkarkan lengannya dibahu mungil itu. "Kel, kita sudah menyelesaikan perkara kita di Amerika dan meluruskan nya disini. Jadi kuharap kau tidak memperpanjang kembali masalah amanah ayahmu."
"Come on honey, don't mind him" Syha menggaet lengan suaminya untuk menghiraukan wajah yang tertekuk kepanasan karena ulahnya.
"Ternyata pak Alon bermain asmara dengan rekan kerjanya, apa mungkin si Kelly itu bertingkah seperti ini karena tidak terima dicampakkan? Kudengar Kelly ditolak pertunangannya."
"Haha masuk akal kenapa dia jadi kebanyakan menghalu begitu."
Kelly tersulut emosi, "hei binatang jaga ucapanmu, aku ketua tim disini berani sekali kau mengata-ngatai atasanmu!"
Karyawan itu merunduk ketakutan berdalih dengan fokus didepan komputer.
❁
"Alon," panggil Syha dengan lirih. Alon berbalik badan menatap istrinya.
"Apa aku terlalu keterlaluan kepada Kelly?" Tanya wanita itu dengan tatapan sayup.
"Tidak apa, aku suka jika kita sama-sama bersikap tegas menyikapi pihak ketiga di hubungan kita," jawab Alon dengan senyuman tipis diwajahnya.
"Kau yakin sepenuhnya menyudahi hubungan mu dengan Kelly?"
Alon menangkup kedua tangan indah itu dalam genggaman nya, membelai dengan lembut, "aku tidak ingin membuatnya mengharapkan diriku lebih jauh. Aku menyayangi Kelly seperti saudari ku sendiri," tutur Alon menarik nafas. "Lagipula aku punya kamu disini."
Syha tertegun, gugup seakan keringat dingin mengguyur seluruh tubuhnya. "Kenapa beriringan waktu sikapmu semakin sulit ku mengerti, kau sangat baik padaku, menghilangkan semua tanggungan tebusan ku, memperlakukan ku seolah pasangan nyata bagimu," racau Syha beruntun tanpa henti.
Menarik nafas semakin dalam ia melanjutkan, "Kau terus membuat ku merasa bersalah, seumur hidup aku tidak akan bisa menebus kesalahan. Aku hanya sandera mu yang tidak pantas mendapatkan perlakuan belas kasih seperti ini. Ini penyiksaan yang menyakitkan Alon."
__ADS_1
Alon termenung mendengar deretan ucapan yang panjang lebar.
"Aku tidak ingin hidupku diwarnai dengan kebaikan yang palsu. Aku lebih memilih hidup dalam kegelapan yang sebenarnya, daripada dibutakan oleh kedok kebaikan yang sebenarnya tidak ada bagiku."