
Alon merapikan tumpukan berkas kantor, ia telah selesai melaksanakan meeting hari ini. Melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Alon bergegas menjemput keponakannya di penitipan anak. Ia adalah Sua, anak dari Yuna-kakak tertuanya.
"Xiao Jiu!", (panggilan paman dari pihak ibu)
Sua menghempaskan tubuh kecil nya kedalam pelukan Alon setelah pengasuh memberikan izin untuk pulang.
"Sua, bagaimana hari mu", tanya Alon sembari membelai lembut gadis kecil itu. Sua tersenyum lebar, dia berlari dengan langkah yang terus meloncat seperti kelinci mendekati mobil.
"Paman aku ingin membeli stiker hewan"
Alon menggendong Sua, melangkahkan kakinya menuju toko alat tulis yang jaraknya tidak jauh dari tempat penitipan anak.
"Yasudah kita ke sini ya".
"Paman aku mau ini juga", Sua menunjukkan sebuah buku mewarnai yang berisikan putri-putri dalam cerita Disniy.
"Ambil saja yang mana kamu inginkan". Sua meloncat kegirangan dan masih memilih berbagai barang disana.
Setelah cukup lama akhirnya mereka keluar dari toko itu.
Sua kembali menarik jari Alon "paman aku lapar"
"Kamu mau makan sushi?"
Mata Sua berbinar setelah Alon mengatakan hal itu "ayo paman"
"Baiklah kita kesana". Alon membawa Sua menuju restoran Sushi, berbagai macam hidangan ikan, daging, dengan olahan mentah dan matang tersedia.
Sua hanya memakan Sushi Roll dan tamagoyaki, setelah selesai Sua kembali menginginkan es krim.
Supir pribadi melajukan mobilnya menuju parlor es krim terdekat, sesampainya disana Sua berjingkrak kegirangan, bahkan kepalanya ia sandarkan pada etalase kaca yang berisikan berbagai macam es krim, gelato, dan sorbet.
Sua menjilati etalese itu dengan lidah mungilnya, membuat Alon menarik gadis kecil itu untuk mundur.
"Aduh itu jangan dijilat, kotor"
"Paman aku mau yang ini", Sua menunjuk sebuah gelato rasa pistachio dengan taburan kacang.
"Tolong bungkuskan yang ini dan rasa stroberi"
Sua menengadah menatap Alon "Itu untuk siapa paman?"
Alon kembali membelai Sua dengan lembut "Seseorang". Tidak peduli apakah pemberian ini akan dihargai oleh Syha, yang pasti Alon hanya ingin memberikan kesan baik setelah menghilang tanpa kabar.
Sua berlari keluar dari kedai es krim setelah mendapat cup berisi gelato favoritnya, gadis kecil itu sibuk menyendoki makanan manis itu ke dalam mulut.
Telepon Alon berdering, terdengar suara seorang wanita dari ujung sana. Alon mengernyitkan dahi sesaat, pria itu sontak mendadak kalang kabut. Dengan sigap ia mengangkat Sua untuk masuk kedalam mobil.
Meminta supir untuk melajukan mobil ke apartemen, Alon segera turun dari dalam mobil setelah sampai disana.
Sua merengek dan menangis karena tidak ingin ditinggal, Alon baru teringat kalau ia masih membawa putri Yuna bersamanya.
Alon menciumi pipi tembem Sua "paman ada keperluan" Alon kembali memerintahkan supir "Antarkan kerumah Yuna".
Supir itu mengangguk "siap pak"
Sua menahan isak tangisnya, gadis kecil itu hanya bisa melihat punggung pamannya yang hilang memasuki gedung
°•°
Syha berdiri termenung di balkon, hidup yang ia lalui seolah benar-benar berantakan. Kebimbangan yang tidak menentu membuatnya sangat depresi, hatinya sangatlah remuk dan sakit.
Suara bel dari depan pintu terdengar, segera ia membuka pintu dan menampakkan seorang petugas mengantarkan makanan yang Syha pesan. Sesaat hendak menutup pintu kembali, Alon menghamburkan diri untuk masuk kedalam.
"Kau kenapa", keringat dingin bercucuran dari dahi pria itu, ekspresi wajahnya yang pucat dan nafas yang terengah-engah menandakan pria itu baru saja berlari.
Syha tidak mengalihkan pandang ke arah Alon. Membalikkan badan dan meletakkan pesanan diatas meja makan kemudian terduduk kosong di sofa
"Aku tidak tahu bagaimana harus menghibur hatimu, tapi aku membawakan mu ini". Alon menyodorkan gelato stroberi yang ia beli bersama Sua.
Syha tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas. Alon mengusap tengkuk, merasa bingung harus bersikap bagaimana. Ia melepas jas dan menyisakan kemeja putih yang masih membalut.
"Bicaralah padaku", Alon berjongkok dihadapan Syha, memegang dagu wanita itu untuk mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk "Jika kau diam begini, aku tidak akan tahu masalahmu"
Syha bergeming, hanya helaan nafas terdengar, respon yang terdiam membuat pria itu sudah cukup frustasi.
"Kau memanggilku hanya untuk melihat ini?", Sungut Alon yang merasa terabaikan, kemudian pria itu berdiri "Ya baiklah, aku pergi"
Sesaat Alon hendak beranjak, seketika wanita itu ikut berdiri dan mendekatinya, Syha mendorong Alon ke sofa berukuran panjang.
__ADS_1
Seperti dibawah pengaruh obat, wanita itu bersikap sangat agresif. Memeluk Alon dengan pelukan yang sulit diartikan.
Alon mendorong Syha untuk melepaskan pelukan nya, ia tidak ingin melakukan hal buruk kepada wanita ini "Kau kenapa".
Terdengar tangisan yang tersedu-sedu disana,
"Tolong aku", pinta Syha disela isak tangisnya. Alon tidak mengerti apa yang telah terjadi pada wanita ini, apa dia telah melewatkan sesuatu?.
"Aku yang harus ku lakukan?"
Syha mendekatkan wajahnya pada Alon, ujung bibir itu tampak ingin bersentuhan dengan milik Pria itu. Alon mengalihkan wajah "Aku tidak bisa".
Ia mendorong pelan bahu wanita itu, meminta untuk tidak menindih nya.
Syha mencengkram kerah kemeja Alon dengan kuat "Kumohon"
Alon mengernyitkan dahi, mengedarkan pandang ke sekitar "Apa kau minum obat?", lirikan bola mata pria itu terhenti pada kaplet obat yang terletak diatas nakas.
"kau gila ya? Apa yang kau lakukan?", bentak Alon. Pria itu langsung menggendong nya dengan bridal, mencampakkan wanita itu begitu saja ke dalam bathtub, menyalakan Shower untuk menciptakan genangan air didalam.
Syha terperangah, sekujur tubuhnya basah seketika. Pria itu memandang dengan tajam. Ia keluar dari kamar mandi, mengambil beberapa bongkahan es dari freezer, dan memasukkan nya ke bathtub.
Alon merelakan tubuh nya untuk beredam dengan air es sembari menepuk pipi Syha menerus dengan pelan.
"HOI SYHA"
Syha menunduk, menahan rasa mengigil pada tubuhnya yang terasa hebat. Kesadaran nya sesaat kembali normal, ia lalu menatap Alon dengan dada bidang yang tembus dibalik kemeja yang basah, sedetik kemudian Syha tercengang.
"KENAPA KAU ADA DISINI HAH?", teriak Syha, ia menyilangkan kedua tangan di dada.
"Dia yang manggil, padahal", ketus Alon "Kau sudah sadar kan? Biar ku bawakan handuk untukmu"
Sesaat hendak bangkit tubuhnya melinjang. Rasa panas, sesak, membuatnya kembali terduduk
"Kau tidak apa-apa?", cemas Alon, ia melihat Syha meringkuk menahan bagian tubuhnya dibagian bawah. "Takaran nya pasti berlebihan", pikir Alon
Syha dalam cepat menciumi bibir pria itu dengan penuh nafsu, menarik Alon untuk berbaring didalam bathtub yang terisi tak sampai seperempat tubuhnya. Ia tidak berhenti ******* bibir pria itu dengan gairah,
Percuma saja, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nya dari pengaruh obat. Hasrat itu harus segera tersalurkan.
Alon terbuai dengan suasana panas, pertahanan yang sudah ia bangun kini harus runtuh karena sesosok wanita yang membuatnya tidak sanggup membendung nafsu.
Alon mengangkat tubuh Syha untuk keluar dari kamar mandi, menghempaskan nya diatas kasur dan kembali mencumbui nya
Alon melirik sebuah jari manis yang terlingkar dengan hiasan permata diatasnya. Ia sangat tahu, setiap pertemuan nya bersama Syha, wanita itu tidak pernah mengenakan perhiasan apapun ditubuhnya
"Siapa yang memberi mu ini?", tanya Alon
"Zein", jawab Syha dengan lirih, tubuhnya sedikit gemetar ketakutan.
"Apa maksud dia memberi mu ini", Alon mengangkat jari jemari milik Syha, seolah pria itu meminta penjelasan kepadanya.
"Dia melamar ku tapi-"
Alon sudah lebih dulu tersulut emosi "bagaimana bisa kau menerima lamaran orang lain sedangkan aku yang akan menikah dengan mu!!"
"Tidak, aku menolaknya", bela wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca
"kau berbohong padaku"
"Aku tidak berbohong"
"Oh ya? buktikan padaku kalau kau tidak menerima lamarannya", Alon menatap wanita itu dengan tatapan yang mendalam, Syha menelan saliva nya berat.
Rambutnya yang terikat ia lepaskan, memperlihatkan helaian yang merona kecoklatan karena cahaya malam dari luar kaca.
"Tidak ada wanita yang mau melakukan hal ini kalau ia kepunyaan orang lain"
Alon terdiam, fokus memandang rona merah pada pipi wanita diatasnya. Sepertinya obat itu semakin bereaksi, batinnya.
Alon melepaskan cincin itu, melemparkan benda itu dengan kasar ke sembarang tempat.
"Kau tidak akan memakainya lagi kan?"
Syha menggeleng "Tidak"
Setiap sentuhan yang pria itu berikan membuatnya seakan terbang terbawa gegana. Syha mencengkram tubuh Alon dengan kuat, apalagi disaat pria itu kembali melesakkan miliknya untuk keluar masuk, tidak lagi membuatnya mampu berkata-kata. Hanya terdengar suara eluhan yang terus lolos dari mulutnya.
Sepanjang malam Alon terus membisikkan kata "maaf", tak kuasa bertindak sejauh ini terhadap wanita dihadapan nya.
__ADS_1
Cuaca dingin tidak akan menghangat kan temperatur tubuh mereka yang sedang memanas.
❁
Saat pagi menyapa, Syha merasakan cahaya matahari memaksa masuk melalui kelopak mata yang tertutup rapat.
Ia mengerjapkan mata, merasakan deru nafas yang terasa hangat di lehernya. Seorang pria sedang terlelap dengan wajah indahnya, memeluk tubuhnya dengan erat.
Syha melotot, ia terbangun. Terperangah dengan tubuhnya yang tidak terbalut pakaian. Ia kembali memandang pria itu "Alon?", pekiknya dalam hati
"dasar biawak bangun kauu!", dalam sekali hentak, Syha menendang pria itu untuk turun dari ranjang nya "kenapa kau bisa tidur disini, hah!?"
Alon yang tersentak kaget, mengusap kepalanya yang terbentur cukup keras "apanya yang disini? Kau kan yang menelpon ku tadi malam"
"Kau gila ya? Siapa yang menelpon mu? Bagaimana kau bisa masuk kesini!", bertubi-tubi pertanyaan mengalir dari mulutnya, Syha mulai terdiam sesaat lalu berteriak histeris mengingat semua perbuatan yang ia lakukan tadi malam.
Alon memandang dengan bingung, mencoba menenangkan wanita itu yang tampak sangat tertekan
"Jangan sentuh aku", bantah Syha, ia melirik tubuh Alon dan berhenti dibagian bawah. Ia kembali berteriak, kali ini teriakannya terdengar akan memecahkan gendang telinga
Syha melemparkan batal ke arah pria itu, Alon berusaha melindungi diri. Tapi wanita itu tidak menghentikan aksinya.
Terpaksa Alon harus menahan kedua tangan itu untuk berhenti "sudahi!". Ia tidak sanggup menghadang lemparan dari Syha.
Pria itu kembali menindih tubuhnya, mata keduanya saling bertemu. Memandang dengan penuh pertanyaan,
Sebenarnya mereka baru saja ngapain?
Syha mendorong tubuh pria itu dan berbalik badan, membalut tubuhnya dengan selimut.
"Cepat, pakai pakaianmu!", titah Syha ia tidak ingin memandang ke belakang, matanya tidak siap harus ternodai dengan makhluk yang menjuntai panjang disana.
Alon bergegas mengenakan pakaian sembari memandang wanita itu yang masih berbalik badan.
"Aku sudah selesai" ujar Alon
Syha memicingkan mata "kau mengeluarkan nya dimana?"
"Keluarin apa?"
Syha mendelik kesal "tidak usah pura-pura polos Alon!"
"Didalam" jawab Alon dengan enteng
Syha terkesiap "apa? Di dalam?" batinnya dari dalam hati
"bagaimana jika aku hamil?", Suara wanita itu mulai terdengar parau, tubuhnya mulai gemetar ketakutan.
"Kalau kau hamil, program kita akan dibatalkan", jawab Alon "aku juga tidak masalah jika kau hamil karena berhubungan, toh tetap saja anak didalam kandungan mu dari darah daging ku sendiri kan?"
Syha merunduk diam, apa Alon tau jika a sempat berhubungan dengan Zein? "sudahlah pulang saja", titah wanita itu.
"Apa kau yakin? Aku akan disini jika kau mau"
Syha menggeleng pelan "tidak, sana",
"Kalau kau masih ingin melihat lagi, tidak usah sungkan minta padaku", usil Alon, Syha bersiap akan melempar lampu tidur diatas nakasnya. Tapi pria itu sudah lebih dulu berlari kecil keluar
Syha menarik nafas, ia tidak menduga telah melakukan hal itu bersama Alon. ia terisak menangis, wajahnya kini sudah basah dengan air mata yang terus terjatuh dari pelupuk matanya. Ia menuruni ranjang nya setengah menyeret, kakinya terasa sakit dan nyeri. Setelah beberapa langkah berjalan ia melihat cincin pemberian Zein, ia mengambil benda itu.
Syha tidak akan mengenakannya lagi seperti janjinya kepada Alon, tapi ia akan tetap menyimpan nya.
°°°
6 hari berlalu,
Ia berjalan kesana kemari sembari menggigit jari, sudah terlewat hampir seminggu dari kejadian nya bersama Alon. Program bayi tabung harus terhenti, karena mereka melakukan hubungan intim diluar kesadaran. Syha masih berkalut keresahan yang tidak menentu, jantungnya terus berdetak tidak karuan.
Wanita itu melirik hasil test pack diatas kasur yang sudah ia biarkan selama 3 menit "dua garis"
Deg! Nafas nya menderu dengan cepat, ia meraih benda tersebut. Syha menutup rasa terkejut dengan menutup mulut, rasanya ia ingin berteriak sekeras mungkin.
Apakah ini hasil kehamilan nya bersama mantan kekasihnya atau kehamilannya bersama Alon? Perasaan tercampur aduk, Syha menjambak rambutnya dengan frustasi.
Ia mulai risau
"Bagaimana jika hasil ayah biologis ternyata bukan dari Alon?"
Andai saja Hannah tidak menelponnya malam itu, ini tidak akan mungkin terjadi.
__ADS_1