
Alon menuruni tangga sembari memperbaiki dasinya yang sedikit berantakan, aroma roti bakar dan daging asap menyeruak menusuk hidung. Sesosok wanita berdiri didepan kompor bertemankan Nanny disamping nya.
"Jadi waktu itu hanya salah paham ya nona?" Bisik Nanny dengan pelan, khawatir jika ucapannya bisa terdengar oleh majikan galak.
Syha tersenyum tipis, "kami sudah berbaikan Nanny, itu hanya bisnis. Mungkin aku terlalu sensitif menanggapi rekan kerjanya," tutue wanita itu seraya menaruh sebutir telur diatas roti yang mengepul panas, berjalan menuju meja makan meletakkan porsi sarap disana.
Syhabmenjalankan kesepakatan sebagaimana mestinya, bersikap layaknya istri kepada suami yang seharusnya didalam pernikahan.
β
"Apa kau memberiku ku kesempatan untuk melabuhkan hatimu untukku?," tanya Alon dengan pasti, kedua netranya beradu dengan milik sang istri.
Syha terkesiap, teringat ia selalu menolak setiap Alon mendesaknya dengan pertanyaan yang sama. Kini hatinya justru dipenuhi dengan rasa kebimbangan, terombang-ambing mengarungi ombak lautan.
Pelan tapi pasti, Alon mengikis kehadiran Zein dari memori nya. Walau lisan terus membantah, namun hati kecilnya tidak bisa berdusta atas kedatangan pria ini ke dalam dunianya. Mengacak-acak pikirannya untuk memilih hati yang mana.
"Mungkin keduanya?" Jawab Syha dengan keraguan.
Mulut Alon terangkat untuk mencibir "sama aja kayak jawaban terserah mu waktu itu," apa sulit nya jika wanita ini mengatakan iya atau tidak atas jawabannya? Apa karena dendam atas perilaku nya yang tidak siap berterus terang mengenai Kelly di waktu itu?
Syha menghela nafas dengan berat, lalu menjawab "iya tentu saja."
β
"Kenapa nona tidak curiga sedikit pun?" Garis mata Nanny mengkerut ingin tahu. Mengikuti arah gerakan nonanya yang sibuk menyiapkan kopi.
"Karena aku mempercayai nya Nanny, jauh dari sekedar rekan hidup." Bermaksud untuk mempleset kan nya dari kata "rekan dermaga sementara." Syha tidak yakin apakah ia akan melabuhkan hatinya untuk selama nya.
Penjelasan itu membuahkan sunggingan senyum pada makhluk yang berdiri menguping dari kejauhan. Berpura-pura tuli, meski kebahagiaan tidak bisa membohongi pancaran aura wajahnya.
Alon menarik kursi dan duduk diatas alas kenyal itu, "ini untuk siapa?" Ia menunjuk porsi piring kedua yang letaknya hanya beberapa meter darinya.
"Untuk Adam," balas Syha.
Alon melongo, bersamaan dengan itu asisten konyolnya memasuki kediaman dengan perangai buruk, menerobos masuk untuk ikut sarapan bersama.
"Suaminya galak bisa-bisanya dapat istri baik seperti ini," ledek Adam menarik bangku yang bersebelahan dengan atasan nya, air liur menetes sesaat aroma nikmat terhirup di celah pernafasan dari pada harus menunggu seperti orang bodoh ada baiknya jika ia ikut nimbrung ditengah-tengah.
Alon merampas sendok di tangan Adam, mengisyarat kepada pria itu untuk meninggalkan tempat "berani sekali kau makan masakan istriku?"
"Lah kan istri bapak yang nawarin," bela Adam.
"Muncung mu! Balik sana ke mobil," decak Alon mengacungkan sendok ke arah pintu mansion.
Adam berdesis, "katanya kalau pelit liang lahatnya sempit."
Alon melotot, melempar benda besi itu tepat ke arah asistennya. Tapi Adam justru mendelik mengejek, berlari keluar dengan tergesa-gesa sebelum atasannya itu melempar meja makan kepadanya.
"Kenapa tidak kau biarkan saja dia makan disini?," sesal Syha jengkel dengan cara Alon memperlakukan Adam, mau bagaimanapun pria itu sudah sangat baik kepadanya.
Teringin membalas kebaikan Adam yang selalu menemani dalam keadaan terpuruknya. Tapi Alon selalu bersikap sensitif terkait Adam.
"Enak saja, mana mungkin aku izinkan," bantah Alon mengigit roti lalu meneguk air hingga tandas ia langsung bergegas untuk berangkat bekerja.
"Dasiku berantakan ya?"
Syha meneliti benda panjang itu yang tidak beraturan, lekas merapikan dengan sempurna.
Sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya, Syha terperangah mengangkat kepala dan mendapati Alon dengan senyuman yang tersungging.
"Jaga rumah ya," pesan pria itu mengusap helaian rambut istrinya lalu pergi meninggalkan Syha yang masih membeku
Membayangkan perlakuan Alon yang amat manis, jantung nya terus saja berdegup kencang.
Nanny terkesima dengan perubahan tuannya sejak menikah, kehangatan menyambut kediaman ini untuk yang pertama kalinya.
Sebuah dering telepon terdengar bergema, Syha lekas merampas ponsel yang tergeletak di meja sofa. Menggeser tombol hijau disana.
"Kamu sudah lihat chatku?" Tanya Hesti diujung panggilan.
Tidak membalas, Syha membuka pesan chat yang sahabatnya kirimkan. Meneliti sebuah pergelaran acara dari universitas SeaOc.
Syha mengernyitkan dahi seiring pupilnya bergerak membaca rangkaian kalimat lalu bertanya "Acara reuni?"
Hesti menjawab "kau mau ikut kan? Jangan bilang kau ga mau pergi?"
__ADS_1
Wanita itu berpikir sejenak, merespon dengan ragu "Aku tidak tahu hes," jawabnya.
"Aish bawa saja Alon bersamamu, masa kau lupa kalau suami mu itu satu almamater dengan kita?" Decit Hesti.
Alisnya tersentak bersamaan, Syha baru menyadari jika pria itu alumni di perguruan tinggi yang sama dengan nya. Tapi kenapa Syha sama sekali tidak pernah berpapasan dengan pria itu di kampus.
Syha bergeming, berucap didalam hati 'Dia mengenal ku tapi aku tidak,'
"Teruskan pesan nya ke Alon, ajak suami mu kesana. Aku mau kenalin pacarku di acara nanti," Hesti mematikan panggilan.
Syha membuka halaman chat bersama Alon, mencermati foto kontak yang terpampang kebersamaan mereka di Taiwan.
Bukankah waktu itu dia ingin memasang foto cincin pernikahan? Kenapa pria ini justru memasang wajah mereka.
πππππ πΎππΌπ π¬
β Meneruskan pesan
Alon yang sedang berkutat dengan deretan huruf melirik ke arah bilah layar ponsel sesaat dering notifikasi muncul, ia lekas meninggalkan pekerjaannya dan membalas pesan itu.
ALON
"Apa ini?" 08.34
SYHA
"Baca aja" 08.34
ALON
"Aku tidak bisa pergi, aku harus lembur bertemu klien" 08.34
SYHA
"Ok" 08.36
ALON
"Kau ingin aku datang kesana?" 08.36
SYHA
ALON
"Bohong?" 08.37
SYHA
"Y" 08.37
ALON
"Aku akan kesana kalau kau mau" 08.38
SYHA
"G ush" 08.41
ALON
"Cuek sekali" 08.41
SYHA
"Kenapa kau pasang foto kita?" 08.42
ALON
"Emang ga boleh?" 08.42
SYHA
"Ya" 08.43
ALON
"Aku suka fotonya" 08.44
__ADS_1
SYHA
"Sip" 08.44
ALON
"Syha" 08.45
"Kau lupa sama kesepakatan mu?" 08.46
SYHA
"Oh iya maaf" 08.46
"Sedang apa? Mau ku bawakan bekal makan siang?" 08.46
ALON
"Bawain dong pengen π³" 08.47
SYHA
"Ga ush pake emot" 08.47
"Mau makan siang apa?" 08.47
ALON
"Kamu aja aku makan sini π" 08.48
SYHA
"Iya nanti aku potong salah satu tubuh ku untuk kau makan" 08.50
Alon tersentak, melotot dengan pandangan tak percaya.
ALON
"Kau bercanda kan?" 08.50
SYHA
"Akan ku bawakan sup kepiting dan salad sayur untukmu" 08.50
ALON
"Makasih cinta β₯" 08.51
Syha memegangi pipinya, merekah semu menatap bentuk hati disana. Lantas menerawang langit-langit kamar, bertanya dalam keheningan "Aku begini karena senang atas perlakuan Alon ataukah-" Syha terhenti sejenak, ekspresinya berubah dengan cepat, merenung akan sesuatu.
Syha mendekati lemari dengan gantungan baju didalamnya, merunduk dan menyeret sebuah kotak hitam.
Setelah pengunci terbuka Syha membelai biola Cervini klasik yang telah terlantar bertahun-tahun lalu. Beberapa saat wanita itu terdiam, dengan cepat ia menepis pikiran yang tercampur aduk, mendorong kotak hitam itu lalu bergegas memasak bekal untuk makan siang.
"Ini," Syha menurunkan tangan yang menenteng sebuah bekal, meletakkan pada sebuah meja berbahan dasar kayu jati yang tampak mengkilap.
Alon menaruh lembaran berkas, mendekati istrinya dan memeluk tubuh mungil itu dari belakang.
"Terima kasih," Alon menyingkap rambut istrinya dan mengecup tengkuk itu dengan kasih sayang, aroma citrus semakin memabukkan pria itu dalam afeksi seraya mengusap lembut perut yang sudah cukup membesar.
"Kau sedih ya?" Seolah peka dengan raut wajah penuh kerisauan itu, Alon memandangi dengan tatapan bertanya.
Wanita itu menggeleng pelan "tidak, hanya kecapean saja."
Alon meletakkan dagunya dipundak Syha, "mungkin ini akan terdengar egois, tapi aku ingin kau pelan-pelan melupakan Zein."
Syha tertunduk lemas, kepalanya ia anggukan seolah menerima perintah itu. Alon tersenyum lebar, memeluk dengan lebih erat.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing,
'Zein seandainya kau begini padaku, bukankah aku akan menjadi wanita yang sangat beruntung mendapatkan hatimu? aku selalu membayangkan bagaimana jika kau memperhatikan ku seperti ini.'
Wanita itu menggeleng dengan cepat, menarik segala ucapan yang sempat terlintas di lubuknya.
Akal ini seolah terus berkecamuk dengan isi hatinya.
Syha mencoba memberanikan diri, tangan kirinya terangkat membelai pipi suaminya, tangan kanan ia letakkan untuk menggenggam pelukan lengan dibawah perutnya.
__ADS_1
Alon tersentak, senyumnya terangkat meninggi. Membiarkan kehangatan ini berlarut lebih lama.