
..."Sekarang aku tahu rasanya penyesalan disaat kau mencintai pria lain."...
...❁...
"Wah sudah pulang ya, tolong sekalian bersihkan ya," pinta Ayi memerintah kan wanita itu untuk bergegas mengemasi segala kebutuhan, ujung mata sipitnya melirik sekilas tersenyum dengan kecut.
Syha merunduk, menyeret makhluk amis itu untuk di bersihkan "Iya Ayi," wajahnya tampak sangat kelelahan, mungkin efek hamil Syha merasakan tubuhnya begitu mudah letih.
Alon yang menyadari hal itu, meminta pengertian kepada bibinya "Ayi istriku sedang hamil, bisa kasih dia istirahat dulu?"
Ayi reflek berbicara dalam bahasa Mandarin, agar Syha tidak tersinggung dengan ucapan nya "kau terlalu memanjakannya, Alon."
Alon mengusap wajahnya gusar, "tidak begitu, ayi.."
Pria itu membesarkan kesabaran menghadapi segala bentuk tuduhan yang di juruskan kepada istrinya. Padahal Alon bersusah payah untuk tidak membiarkan Syha bekerja. Tetapi Ayi seakan memperlakukan istrinya itu seperti pembantu.
Ayi mendelik ketus, seakan tidak peduli dengan keadaan menantu dari kakaknya.
"Yasudah biarkan saja istrimu belajar, biar dia tau bagaimana menjadi ibu yang seharusnya. Memangnya nanti kalau kalian punya anak bakalan diurus sama baby sitter, aduh memalukan sekali bagaimana kata orang? Menantu keluarga Reid tidak becus seperti wanita tidak berpendidikan." Decit Ayi berceloteh tanpa henti.
Alon menarik nafas berat, tidak ingin membantah lebih lanjut. Berharap dapat melupakan perdebatan itu dengan membantu istrinya membersihkan ikan yang baru saja mereka beli.
Syha memejamkan mata, berusaha tegar mendengar segala ocehan yang Ayi berikan padanya. Nyatanya magang di hongkong menumbuhkan buah yang busuk jika pada akhirnya dirinya bisa mengerti segala ucapan wanita tua itu.
Syha melirik Alon yang ikut nimbrung menolongnya, "Kau dapat hidayah seperti apa, sampai seharian ini membantuku terus?"
"Biar aku ni di cap sebagai suami idaman," Sikap sombong Alon hanya di balas dengan dengusan oleh istrinya.
Makanan sudah tersedia diatas meja, Syha menarik kursi dan hendak duduk. Namun Ayi kembali memanggilnya "Syha bisa tolong bawakan teko air kesini?"
Alon sedari tadi hanya menunjukkan wajah jengkel, lekas berdiri dan meminta Syha untuk duduk "kamu makan saja biar aku yang ambilkan."
Kepalanya terangkat memandang pria itu membalas dengan anggukan singkat.
Alon sangat ulung membuat perasaan nya tercampur aduk, perhatian yang pria itu berikan tidak sekalipun Syha dapatkan dari Zein. Alon seakan sangat tahu jika dirinya saat ini merasa kurang mendapatkan kasih sayang.
Syha mengambil sayur untuk ia makan, menelannya secara paksa.
Ayi membuka percakapan diantara mereka "Sudah berapa bulan?"
"3 berjalan 4 bulan, Ayi" jawab Syha.
Ayi mengangguk paham "Perempuan atau laki-laki?"
"Kami akan memeriksa nanti saat pulang ke London," timpal Alon setelah meletakkan teko dan duduk berdampingan.
Alon memandang piring istrinya yang terisi jamur dan sayur saja "sejak kapan kau ga suka daging?," baru saja ia melihat Syha itu pemakan segalanya, apa karena kekenyangan memakan cumi hidup tadi?
__ADS_1
Objek yang dimaksud tidak merespon apapun, entah apa yang dia pikirkan.
Alon menjepit satu slice daging sapi, memasukkannya kedalam wajan yang mendidih lalu menaruhnya ke piring diseberang nya "tidak usah sungkan, jika kurang beli lagi."
Alon bersikap sangat perhatian, Syha tersenyum hambar. Tentu saja Alon bersikap seperti ini, demi kesan sandiwara nya berjalan mulus.
Ayi memandang kedua pasutri itu dengan rasa penasaran, ia merasa keponakannya ini benar-benar dilanda asmara, Ayi meletakkan sumpit nya diatas mangkuk "Maaf ya, Ayi dan pamanmu tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian."
Alon mengulum bibir "Tidak masalah Ayi" pria itu lalu mengedarkan pandangan, mencari-cari sesuatu yang tidak kunjung terlihat "dimana paman?"
"Dia sedang sibuk di kantor imigrasi," jawab Ayi
Selang tidak beberapa lama, seorang laki-laki muda masuk dengan penampilan yang sedikit acak-acak an. Pelindung kepala masih melekat diwajahnya, melepas, dan menyibakkan rambut gondrongnya yang tampak sedikit kumel.
Lelaki itu bernama Ming, seperti biasa ia baru saja pulang dari kebiasaan nya yang selalu memancing Ayi untuk terus memakinya, setiap saat Ming selalu membuat kegaduhan, tawuran, bahkan balap liar secara ilegal.
Wajahnya sedikit melebam, sudut bibir itu pecah menimbulkan luka yang meradang membengkak. Ming melenggang dengan santai tanpa melepas sepatu boot, mengotori lantai yang baru saja ibunya bersihkan.
Ayi yang hendak memarahi putra sulungnya itu, menarik nafas dalam-dalam "Ming, ada pamanmu Alon disini, sapalah dia."
Ming menghentikan langkah tepat kakinya mendarat di anak tangga pertama mulutnya terbuka untuk menyapa "Selamat malam."
Alon memegang bahu Syha, memperkenalkan wanita itu kepada Ming "ini istriku, Syha."
"Halo Ming," Sapa Syha dengan kikuk yang terkesan kaku.
Ayi bertanya kepada Ming "kenapa wajahmu itu, kau tawuran lagi?"
Ming membuang wajah, berdecak dengan kesal "Ah berisik, kenapa kau mengatur ku sih?"
Ayi mengelus dada dengan sabar, berusaha tabah menghadapi sikap anaknya "Ming dengarkan ibu dulu."
Ming mengacuhkan, melangkah menaiki tangga dengan hentakan yang ricuh, terdengar suara pintu terbanting dengan keras diatas sana.
Ayi mengusap keningnya "Hais anak itu. "
"Bersabar lah Ayi," Alon menenangkan keadaan, ia sangat tau watak Ming yang tidak suka dikekang. Jadi tidak ada gunanya harus berdebat dengan anak itu.
Syha larut dalam kekhawatiran, ia berdoa kepada Tuhan agar anak didalam kandungan nya bisa menjadi anak yang baik dan berbakti.
Setelah Ming sampai dirumah, disusul dengan Ang yang baru saja pulang dari bekerja.
Alon berdiri, menjabat dan memeluk paman nya dengan hangat "Paman Ang apa kabar?."
Ang mengangguk "Sangat sehat," ia lalu memandang wanita asing yang sedang berdiri disamping Alon "Ah ini istrimu itu ya."
"Iya paman" ucap Alon "perkenalkan dirimu sayang"
__ADS_1
"Saya Syha paman," sapa Syha lalu berjabat tangan dengan pria yang terpaut umur 20 tahun lebih diatasnya.
Ang tampak tertawa cekikikan "Cantik ya kalau dilihat langsung," Ang diam-diam membelai pergelangan tangannya, dengan cepat Syha melepas jabatan itu. Hawa tidak mengenakkan mulai menjalar di tubuh nya.
Ang kembali mempersilahkan mereka untuk duduk "Ayo makan."
Alon mengangguk "Terima kasih," pria itu memandang Syha yang nampak termenung "Ada masalah?"
Syha menjawab dengan menggelengkan kepala, memasukkan segumpal daging dengan senyuman tipis.
°•°•°
Makan malam telah usai pasangan itu kembali ke kamar, Syha baru tersadar jika ia harus tidur satu kamar dengan Alon.
"Kenapa juga sih kita harus sekamar!" Gerutu Syha, jangan kan sekamar satu atap rumah pun ia sangat tidak suka.
"Memangnya aku mau ngapain sih? Memperkosa mu gitu?" Celetuk Alon bablas, tangannya menepuk bantal yang sedikit meninggalkan noda.
"Bisa aja kan kau lagi ingin," tuding Syha melipat tangan didada.
"Kau lupa siapa yang menyerang duluan di malam itu, justru aku yang harus waspada denganmu."
Syha membelalakkan mata, lisan nya ingin berkutik namun terserang beribu-ribu fakta. Wanita itu menggeleng mengabaikan, ia lalu menarik bantal dan selimut yang terlipat rapi diatas kasur "Aku akan tidur di sofa."
Alon mencegahnya "aku tidur di sofa, Kau saja yang tidur dikasur," pria itu menghempaskan tubuhnya diatas kursi empuk nan panjang, meletakkan bantal dan selimut yang menjadi alat perangnya saat tidur.
Syha terduduk di ujung kasur "Apa punggung mu tidak sakit?"
Alon melirik "Sakit banget nih, kalau boleh aku mau tidur seranjang denganmu," pinta Alon dengan manja.
Syha menatap sinis "Aku cuman nanya, ga nawarin," ia lalu berbaring, menghiraukan Alon yang menatapnya kecewa "lampunya ku matikan."
Alon mengiyakan, beberapa menit berlalu pria itu masih terjaga dari tidurnya. Sofa itu tepat sekali berada disamping ranjang, Alon seperti bebas memandang wajah istrinya yang sedang menghadap ke arah berseberangan.
Alon memanggil wanita itu dengan pelan "Syha apa kau sudah tertidur?"
Syha tidak menjawab apapun, Alon berpikir wanita itu sudah terlelap dalam tidur.
Mencari kesempatan Alon berbicara dengan Syha yang sedang terlelap, sungguh ia tidak berani mengajak wanita itu untuk berbicara langsung. "Pertama kali aku bertemu denganmu setelah penampilan Orkestra nasional di prancis."
Alon terhenti sejenak memandang sayup lekuk wajah cantik itu setelah itu melanjutkan "Diantara banyak momen yang kau lalui, kenapa tidak ada aku di ingatanmu?" Alon menahan gemuruh sesak dihatinya, selama ini ia sangat bersabar menunggu perasaan wanita itu selama hampir 9 tahun, Tapi perjuangan yang sudah ia lalui, sia-sia begitu saja.
Setelah kehilangan kabar, betapa senang hatinya saat kembali bertemu tapi pertemuan nya kembali kepada cinta pertamanya ternyata bukanlah momen yang membahagiakan. Syha telah menikah dengan sahabat nya sendiri.
Alon tersenyum hhamba, Ia terbangun dan berjalan ke arah Syha yang masih mengatupkan matanya tertutup.
Alon membelai surai panjang itu dengan kelembutan "Aku ingin memutar waktu, andai saja aku lebih berani saat itu mempercepat menyatakan perasaan ku padamu."
__ADS_1
"Sekarang aku tahu rasanya penyesalan disaat kau mencintai pria lain."