
"Kau akan kehilangan bulan saat kau sibuk menghitung bintang"
Unknown
Alon mendorong Castiel ke tembok dengan keras, tidak mempedulikan suara ringisan abangnya itu menahan rasa sakit. "Kenapa kau mengantarkan nya pulang tanpa seizinku?"
Castiel tersenyum membentuk seringaian "Amma yang menyuruh, lagipula kau langsung meninggalkan nya begitu saja"
Alon menarik kerah Castiel dengan kasar, kekuatannya seperti akan merobek pakaian itu dalam sekejap "Jangan pernah kau sentuh dia dengan tangan kotormu itu"
Castiel menukik alisnya "Hei tidak biasanya kau seperti ini", pria itu menepuk dada adiknya untuk tetap bersabar "Aku harus membantu Yuna, tolong lepaskan tanganmu"
Tapi Alon tak kunjung melepaskan cengkraman nya.
Castiel menghembuskan nafas dengan berat "Aku tidak menyentuh wanitamu, tenang saja".
Setelah keduanya saling terkunci menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama, Alon melepaskan cengkraman itu dengan dorongan, membuat Castiel sedikit terhuyung.
Castiel mengaku jika kekuatan Alon, jauh lebih besar dari miliknya. Jelas pria itu tidak ingin harus bertikai fisik dengan adiknya, atau dia akan selesai di tempat.
"Kau camkan itu", Alon berlalu pergi, Castiel menggelengkan kepala di tempat ia berdiri.
Kali pertama Castiel melihat adiknya semarah itu hanya karena seorang wanita.
°•°
Phone chat
"Kau dmana?" -Alon 07.15
"Hotel" -Syha 08.00
"Bersiaplah, amma meminta mu untuk mencoba gaun pernikahan hari ini. Ku jemput jam 10.00" -Alon. 08.02
"Ya" - Syha 09.15
"👍" - Alon 09.16
Sudut pandang Alon
(jarinya pasti lagi dibongkar pasang)
Alon menjemput Syha di depan pintu masuk hotel, wanita itu tampak asik berbincang dengan seorang pria yang bertugas sebagai keamanan. Alon yang jengah dengan pemandangan yang cukup membuatnya panas, menekan klakson dengan panjang, membuat Syha tersentak kaget.
Syha membungkukkan badan untuk berpamitan, lalu memasuki mobil.
Alon memiringkan badan menghadap nya "kenapa cuaca hari ini panas sekali", Syha mengernyitkan dahi, padahal suhu AC mobil sudah terpasang dengan cukup dingin di dalam tapi, kenapa Alon masih mengeluh kepanasan.
"Turunkan aja lagi suhunya biar dingin", ucapan Syha membuat Alon membanting setir dengan kasar, Syha kembali terlonjak kaget.
"Dasar wanita, sukanya menuntut pria tapi dia tidak sadar kalau dirinya juga tidak peka", gerutu Alon
"Tidak peka apanya?" tanya Syha bingung
"Dah lah"
Pria itu melajukan mobilnya ke bridal boutique.
Sesampainya disana, Syha memandang berbagai macam kain perca dan pernak pernik indah. Bahkan kainnya terlihat sangat premium, fokus matanya teralihkan pada seorang wanita dengan balutan cheongsam. Ternyata Amma hadir dan berbincang dengan pemilik toko, mereka sudah menyelesaikan pemesanan gaun pernikahan yang keluarga Reid ajukan.
Syha menghampiri Amma, kemudian memeluknya.
"Sudah sampai nak? Ayo coba kenakan gaunnya. Kalau tidak cocok untukmu, Amma akan pesankan gaun yang baru".
Syha dengan patuh mengikuti arahan karyawan disana, wajahnya juga di dandani dengan natural. tubuhnya sudah terbalut dengan kain dasar bewarna putih, syha segera keluar dari fitting room, Alon yang sibuk berbincang melalui ponsel terbeku diam ditempat, tatapannya terkunci ke arah wanita itu dalam waktu yang lama.
__ADS_1
"Gaun ini sangat cocok jika digunakan dalam pemberkatan, kamu cantik sekali nak". Amma yang terus memuji, membuatnya tersipu malu
"Xie xie, Amma",
Amma mengusap dada mendengar kalimat yang Syha ucapkan, senyuman lebar itu membuat garis keriput disekitar matanya semakin terlihat "kenapa kamu tidak bilang bisa berbahasa mandarin, sayang?"
"Saya hanya bisa sedikit saja Amma"
"Wah, Nanti Amma masakkan makan malam spesial untuk kamu ya", Amma membelai wajah Syha dengan lembut.
Alon menggaruk kepala, bagaimana bisa Syha menaklukkan ibunya dalam waktu beberapa menit saja. Hannah yang sudah mengenal Amma bertahun lamanya, tidak pernah bisa meluluhkan hati ibunya itu.
"Alon giliranmu" Amma memanggil Alon, setiap langkah yang pria itu pijakkan, lirikan matanya tak teralihkan sedikitpun dari Syha.
Wanita itu memalingkan tatapannya, sesaat Alon terus menatap nya tanpa berkedip
Pria itu mengenakan jas senada berwarna hitam, rambutnya dibuat klimis. Auranya seperti seorang aktor dari kalangan atas.
"Silahkan kesini tuan dan nona, kami akan mengambil foto pre wedding anda"
Syha membulatkan mata, Alon mengatakan kalau ia hanya akan diajak untuk mencoba gaun saja. Tapi kenapa harus foto pre wedding seperti ini.
Alon berpura-pura bersiul, ia bisa merasakan tatapan penuh amarah dari wanita disampingnya.
Mereka diarahkan pada sebuah studio, calon mempelai diarahkan pada gaya dan posisi tertentu. Syha berdiri berhadapan, fotografer memerintahkan untuk saling bertatapan satu sama lain.
Rasa canggung menyelimuti sekujur tubuh, Terlihat Alon mengeluarkan keringat dari wajahnya, spontan Syha meminta tisu kepada staff dan menyeka keringat itu dengan tisu yang tersedia. Alon terkesima, matanya tak bisa ia alihkan dari mata mungil itu.
Cekrek
Fotografer menangkap momen candid
"Luar biasa saya suka sekali". Kedua sejoli itu reflek saling membuang muka.
Dan nona silahkan anda bebas ingin memegang dipundak tuan atau melingkarkan tangan dileher"
Syha memilih untuk memegang kedua pundak itu, telapak tangan kanannya tak sengaja menyentuh degup jatung Alon. Ia bisa merasakan sesuatu yang berdebar dengan kencang.
Alon mendadak mendekatkan dirinya, sehingga kepala nya saling bersentuhan satu sama lain
"Naikkan lagi tangan mu", bisik Alon
Wajah Syha memerah, reflek ia menaikkan tangannya lebih keatas.
Pengambilan foto yang ini juga terlihat sangat menawan.
Fotografer meminta mempelai pria untuk duduk di kursi, dan mempelai wanita akan duduk di paha pria.
Alon mendekapnya, tangan kanan Syha melingkar di leher Alon memegang sebuah buket bunga carnation, tangan kiri ia letakkan di pundak pria itu.
Bersiap ya!, fotografer memberikan aba-aba
"Apa kau grogi?", bisik Alon kembali
"Ga, kenapa kau harus berpikir begitu?"
"Tubuhmu gemeteran, apa karena ada aku?", Alon mengusilinya.
"Kepedean banget, ini karena aku kedinginan!", Syha tidak kuasa menahan suhu dari pendingin ruangan yang membuatnya seperti membeku
Alon menaikkan alisnya
"Sepertinya kau perlu yang hangat didalam"
"Kau ngomong apa sih"
__ADS_1
Syha menepuk dada kanan Alon, dengan wajah kesalnya.
Suara jepretan terdengar
Fotografer menunjukkan beberapa hasil foto, memperlihatkan seolah-olah mereka adalah pasangan yang benar-benar saling mencintai.
Amma merasa puas dengan hasilnya, lalu mereka berganti busana Qun Kua demi menghormati tradisi dari pihak ibu.
Mereka melakukan sesi foto kembali, walau pada akhirnya terlihat sangat canggung karena harus berfoto dengan bergandengan tangan. Tapi hasilnya tetap sangat serasi dan menawan.
Setelah selesai, Syha bersama Amma tampak sibuk melihat hasil foto. Alon hanya memandangi mereka dengan senyum tipisnya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Alon, terdengar suara seorang pria disana.
Syha mengalihkan pandang, pria itu tampak sibuk berbincang. Melihat kesibukan Alon yang cukup padat, ia mungkin akan sangat jarang berinteraksi dengan pria itu.
Alon mendekati Amma, meminta izin untuk berpamitan. Pria itu juga mendekati Syha dan mengecup pipinya sebagai tanda untuk pergi.
Syha mengusap pipi yang baru saja dikecup oleh Alon, ah iya pria itu juga melakukan ini demi sandiwara nya didepan keluarga.
❁
"Ada perlu apa kau menemuiku?", Suara Alon memecahkan kesenyapan diantara mereka. Zein mengajak pertemuan khusus dengan Alon disebuah restoran western yang jaraknya tidak jauh dari butik yang dikunjungi barusan.
Zein yang menyesap secangkir kopi, meletakkan kembali cangkir itu diatas piring kecil. Matanya menatap penuh intimidasi pada pria dihadapannya, kali ini ia tidak akan basa-basi. Ia tahu Alon tidak memiliki waktu luang untuk membicarakan hal yang berbelit-belit.
"Kapan kau akan menceraikannya?", gumam Zein dengan nada datar, tatapan pria itu tidak dialihkan sedikitpun dari Alon. Ia hanya ingin tahu kapan Alon bisa menyelesaikan hubungan pernikahan dengan wanita yang ia cintai, Zein tidak bisa menanti dengan sabar untuk mengembalikan hubungannya seperti semula. Karena, ia tahu bagaimana perasaan wanita itu, akan sangat sulit untuk melalui pernikahannya bersama pendamping hidup yang tidak dia cintai. Ya, berpura-pura terlihat sangat mencintai.
"Aku saja belum menikah, dan kau sudah sibuk mempertanyakan perceraian ku?", cibir Alon dengan nada jengkel "aku tidak ingin kau ikut campur hubungan pernikahanku, aku ingin menceraikannya, atau tidak.." Alon berhenti melanjutkan kata-katanya sejenak "itu keputusan ku bersamanya".
"Apa kau menghamilinya?", Zein melemparkan pertanyaan yang membuat Alon membulatkan matanya, ia tak tahan melihat perangai Zein yang terlalu jauh mencampuri urusannya.
"Kalau memang iya kenapa?", ucapan Alon membuat pria itu jengah, Zein mencengkram kemeja Alon dengan kasar. Tatapan menghujam penuh amarah ia hadiahkan untuk Alon karena bertindak semena-mena.
"Bisa-bisanya kau melakukan itu", bentakan Zein membuat seluruh pengunjung restoran mengalihkan pandang ke arah mereka, Alon yang merasa risih meminta Zein untuk melepaskan cengkramannya, tetapi Zein mengabaikan isyarat itu.
"Kami sama-sama menginginkannya kok", sanggah Alon, Zein semakin menarik kerah bajunya untuk mendekat, Alon tetap menunjukkan ekpresi datar walau tenggorokannya sangat tercekat. Andai ia bisa melayangkan satu pukulan pada wajah Zein, ia akan merasa sangat puas memberikan pelajaran pada manusia yang tidak tahu batas privasi orang lain. tapi Alon tidak bisa bertindak segegabah itu, sikapnya bisa di jadikan topik panas oleh para pencari berita yang berkeliaran di kota ini.
"Aku mengenal nya jauh lebih baik darimu, ia tidak mungkin melakukannya", ucap Zein "aku minta sebaiknya kau segera menceraikannya", tambahnya.
Alon menyeringai, berani sekali pria ini mengobrak-abrik keputusan hidupnya
"Kalau aku tidak mau?", ujar Alon dengan nada perlawanan.
Zein yang dikalut amarah seketika terhenti karena salah satu pelayan melerai pertikaian mereka.
Alon menatapnya dengan sinis kemudian melanjutkan ucapannya yang belum terselesaikan "Kau kira aku bodoh? Aku tau kau tidak sungguh-sungguh mencintai Syha", Tantang Alon dengan seringaian intimidasi nya
Zein terbelalak, ah tidak mungkin Alon pasti hanya menggertak nya. "Kau punya bukti? Jangan sembarangan kalau bicara!"
Alon memegang sebuah recorder, memperdengarkan sebuah percakapan antara Zein dan Hannah dari dalam mobil.
"Bagaimana bisa?" gerutunya dari hati, Zein menggertakkan rahang, ia tidak menyadari jika Alon menyusupkan pelacak didalam mobilnya.
Alon bukanlah pria yang akan melepaskan calonnya begitu saja, dimanapun wanita itu pergi ia akan mengirimkan mata-mata terbaik untuk mengawasi dari kejauhan.
"Aku tidak ingin kau menemui wanita yang akan berstatus sebagai istriku, kalau kau masih nekat melakukannya. Ku harap jangan salahkan aku jika yang tersisa hanya namamu", Alon beranjak pergi dari suasana yang menegangkan, ia lalu membalikkan badan "Rekaman ini tidak akan ku bocorkan, demi menghargai perasaannya. Tapi lihat saja, aku yang akan memenangkan hati Syha. Kau akan selamanya tergeser" tekan Alon
Puas berdebat dengan omong kosong yang tidak ada penyelesaiannya. Pria itu berlalu pergi, tidak ada gunanya untuk melanjutkan.
Zein yang mendengar pernyataan Alon memukul keras tembok disamping nya, mengusap wajahnya frustasi, ia terus memutar akal untuk menghancurkan rencana pernikahan itu dalam waktu dekat.
Alon sempat mengagalkan rencananya di London. Ya, disaat Zein memasukkan obat bius ke dalam minuman Syha, Alon datang menghajarnya. Padahal baru saja ia ingin menikmati tubuh wanita itu
"Hah gadis sok suci, selama ini tidak ingin disentuh. Tapi kalau Alon malah rela ngangkang, dasar murahan"
Sekarang ia tak kunjung menemukan solusi terbaru. Zein terduduk dengan rasa cemas yang mendalam.
__ADS_1