Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 21 [BACK] TO LONDON


__ADS_3

"Terima kasih atas kenangan terindah yang kau berikan padaku, aku berharap.... (Stay tune for the next word 🐣)"


Hope in fly Lattern 🏮


Rasyhanda Moon


Syha menyeret kakinya untuk kembali kedalam mansion Alon. ia berbaring dengan merentangkan tubuh nya sebesar ukuran sofa. Menenangkan pikirannya dari perjalanan yang sangat panjang untuk kembali ke London.


"Nona apa anda butuh sesuatu?", seorang pelayan merunduk seraya mendekati nya


Syha menggeleng, Alon yang berdiri didekatnya menjawab pertanyaan itu "buatkan susu hamil untuk istriku".


Pelayan segera membuatkannya, dan membawa nampan dengan gelas di atasnya kepada Syha


"Minum itu", titah Alon ia berlalu menuju ruang kerja


"Dasar pendusta, katanya ga mau berhubungan dengan wanita manapun setelah menikah", gerutunya dari hati, Syha melangkahkan kaki untuk pergi dari sana


"Nona susu and-" pernyataan pelayan itu sudah lebih dulu terpotong


"kau saja yang minum!", bentak wanita itu ia memijakkan kaki pada anak tangga untuk naik keatas, membuka pintu kamar miliknya yang sudah dirombak total oleh Alon. Untung saja pria ini menuruti perkataannya kalau tidak ia pasti akan menghabisi nya.


Syha membenamkan wajahnya didalam bantal, seorang wanita bernama Kelly berhasil mengacaukan pikirannya. Ia menelentangkan tubuhnya, mengusap perut sembari bersenandung kecil.


"Aku harus kuat bertahan demi anak ini"


Ia tidak boleh berlarut tertekan, masalahnya bersama Hannah belum terselesaikan kini ia harus memikirkan wanita bernama Kelly. Arkh sebentar lagi ia bakalan gila


Sebuah ketukan pintu terdengar. Syha mempersilahkan masuk.


"Ehm nona, tuan meminta anda untuk turun makan siang"


Syha menaikkan oktaf suaranya dengan nada yang sedikit membentak "TIDAK USAH! KATAKAN PADANYA AKU TIDAK INGIN MAKAN", pelayan itu memandang ketakutan, ia merunduk lalu menutup pintu.


Wanita itu memilih tertidur dan mengabaikan panggilan Alon yang memintanya untuk turun, besok ia akan terus mengabaikan Alon dengan mengikuti kelas memasak bersama Nanny. Ia akan melupakan kejadian ini dengan kegiatan padatnya.


Sejak menikah dengan Alon, Eden memberhentikannya sebagai kepala cabang. Ia sangat merindukan masa-masa pengabdian kepada ayah angkatnya, tapi ia tahu Eden tidak mungkin akan memaafkan.


Kantuk matanya yang tersisa 5 watt akan segera tertutup, ia beristirahat untuk beberapa jam kedepan


Alon mengetuk pintu, mendorong pintu itu untuk terbuka sekaligus menenteng meja kecil berisikan makanan dan buahan yang sudah pria itu siapkan untuk makan malam.


Wanita itu hampir seharian tidak memasukkan apapun ke dalam perutnya.


"kenapa kau tidak ingin makan", ucap Alon dari kejauhan, tidak ada jawaban dari sana

__ADS_1


"Apa kau sakit?" pria itu mendekati Syha, duduk ditepian kasur dan mencoba menyentuh keningnya


Syha menghempaskan tangan yang mencoba merecoki bagian wajahnya "Jangan sentuh aku!"


Alon menukik alisnya bingung "kenapa denganmu?"


"Pergi keluar sana", usir Syha ia kembali membalut tubuhnya dengan selimut.


Alon mengusap tengkuknya "ada masalah?", tanya pria itu masih tidak mengerti kenapa istrinya terus bersikap ketus kepadanya "makanlah, setidaknya pikirkanlah anak didalam janin mu"


Syha melirik Alon dengan tatapan sayup "Kau peduli begini karena apa?"


"Apa maksudmu?", tanya Alon terkejut


"Kau peduli padaku atau pada anak ini", tekan Syha


Alon terdiam sesaat, bimbang akan menjawab bagaimana. "Sudah jelas anak di dalam kandungan mu"


Syha terdiam, ia lalu terduduk, menarik meja kecil berisi makanan itu untuk mendekat. Mengunyah sepotong roti, daging asap, cream soup lalu buah-buahan yang disajikan.


Alon masih menatap penuh tanya "Apa aku berbuat kesalahan?"


Syha menggeleng santai "Tidak"


Pria itu tidak langsung percaya begitu saja, ia terus mendesak Syha untuk berbicara sejujurnya "Katakan padaku jika ada masalah"


Alon menarik napas, tidak ada gunanya juga memaksa Syha untuk terus terang "setelah ini kita akan melakukan pengecekan terhadap janin mu"


Saat sesendok sup cream itu akan masuk ke mulut, Syha membeku seketika. Ketakutan yang telah menghantuinya selama berbulan-bulan kini sudah tiba didepan mata, ia tidak bisa kabur. Kenyataan akan segera menyambutnya dengan penuh kejutan.


Syha membalas dengan mengangguk kaku



Setelah bebenah dan membersihkan tubuhnya, Syha mengenakan pakaian seadanya. Mungkin karena kehamilan ia tidak lagi terlalu memikirkan penampilan.


Sesaat mobil terparkir di parkiran rumah sakit, Alon menurunkan Syha dengan menawarkan uluran tangan, tapi wanita itu menolak lalu turun secara mandiri.


Walau Syha terkenal cuek. Ia tetap merespon walau membalas dengan singkat, tetapi kali ini istrinya benar-benar tidak ingin berbicara apapun kepadanya.


Ia mencoba meraih lengan istrinya "Syha-",


dari kejauhan seorang pria tampak berlari dengan tergesa-gesa, Alon menarik lengan wanita itu untuk mendekap agar tidak menubruknya.


Siraman cairan keras tepat mengenai wajah Alon. Pria itu berteriak histeris "arkhh"

__ADS_1


Syha membelalakkan mata, ekspresi nya terguncang hebat karena syok yang besar. Reflek ia berteriak meminta pertolongan pada orang sekitar, seorang petugas keamanan berlari menuju suara beberapa dari mereka menyiramkan pria itu dengan air mineral. Dengan cekatan cepat Syha berlari mengejar lelaki berbalut hodie hitam itu, meninggalkan Alon yang bersimpuh.


Ia tidak bisa menerima ini! "Hei Tunggu", kakinya terus mencoba berlari, genggaman tangannya berhasil meraih tudung hoodie sehingga membuat lelaki itu terjatuh tersungkur kebelakang.


Syha menahan sekuat tenaga, perawakan lelaki ini tampak tak asing, seolah mereka sudah sering bertemu. Saat ingin membuka masker yang lelaki itu kenakan, tubuhnya terdorong dengan keras, dengan cepat pelaku berlari kabur dan berlalu dengan sebuah motor sport CBR.


Semua orang tampak beramai-ramai berkumpul menyaksikan kejadian yang tidak terduga pada tempat kejadian.


Syha berlari menghampiri suaminya yang dibopong oleh petugas "ALON! Apa kau baik-baik saja"


"Tenang nona kami akan membawanya ke ruang rawat", sebuah brankar sudah disiapkan dengan cepat oleh para petugas medis, mengangkut Alon yang tidak sadarkan diri dan mendorong roda-roda itu menuju ruang UGD.


Syha mengikuti arah perginya para perawat dan dokter yang bersiaga, tapi langkahnya harus terhenti karena seorang petugas melarang nya untuk masuk.


"Nona tunggu lah disini, kami akan melakukan pengecekan".


Syha terpaku membisu memandang suaminya yang dikerumuni oleh tenaga medis, ia merogoh ponsel sembari menunggu hasil pemeriksaan. Wanita itu menekan sebuah kontak, ia ingin mengabari keluarga Alon mengenai masalah ini.


Tetapi tubuhnya gemetar ketakutan untuk melakukan hal itu, ia daratkan jarinya di nomor lain


"Bisakah kau datang ke rumah Sakit?", ujar Syha kepada seseorang dipanggilan itu


"Untuk apa?"


"Pemeriksaan, aku butuh tes DNA dari bayi didalam kandungan"


"Baiklah aku kesana"


Syha menatap sendu pada kondisi seorang pria yang terbaring lemah disana, ia mengepalkan kedua tangan memanjatkan doa kepada tuhan agar Alon bisa melalui masa kritisnya.


Di lain sisi, Zein menurunkan ponsel dari telinganya


"Bagaimana?", tanya Hannah memandang kekasihnya itu dengan penuh penasaran


"Dia meminta ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA", jawab Zein lalu ia memajukan gas mobilnya


Ujung mata Hannah melirik "Bagaimana rencananya?"


Zein berdecak kesal "cih, padahal aku sudah suruh dia untuk menyiramkan nya kepada Syha, tapi malah Alon yang kena"


Hannah membelalakkan mata "APA KATAMU?", ia seketika meninggikan suaranya "JIKA TERJADI SESUATU PADA ALON, KESEPAKATAN KITA AKAN KUBATALKAN!"


Zein mengeraskan rahang "aku juga tidak tahu kalau yang bakalan kena itu Alon!"


Hannah melipat tangan dan menatap sinis, "Dasar! sudah dibayar tidak bisa diandalkan"

__ADS_1


Zein mengeraskan kepalan tangan, terlihat kuku jarinya berubah sampai memutih


__ADS_2