Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 12 INI HANYA SEMENTARA


__ADS_3

Waktu terus bergulir hingga jarum pendek mengarah pada pukul 2 malam, Alon terbangun dari tidurnya. Angin dingin memasuki kamar melewati celah gorden yang terus menyibak berdayun.


Pria itu mendekati balkon, menggeser pintu kaca itu untuk tertutup. Ujung matanya melirik pada Syha yang sedang tertidur.


Alon tidak ingin membuka catatan masa lalu, tapi pertemuannya bersama Syha membuat nya harus membuka lembaran itu satu-persatu.


Rasyhanda Moon, wanita muda yang selalu mengikuti ajang kompetisi di berbagai belahan dunia. Momen yang paling berkesan diingatan nya, dimana wanita itu berdiri dengan bangga diatas podium. Menyuarakan kemenangan atas pencapaian permainan biola solonya.


Dari sekian ribu wanita yang berusaha menaklukkan dirinya, Alon berhasil takluk oleh 1 wanita asing yang tidak memiliki effort apapun untuknya yang tak lain adalah Rasyhanda.


"Euuhh," suara melenguh terdengar dari sana, seperti dilanda mimpi buruk, wanita itu mengigau seraya melontarkan kata-kata.


"Zein... maafkan aku, jangan tinggalkan aku sendiri."


Alon lekas menghampiri, mengguncang tubuh itu perlahan "apa kau baik-baik saja?" Alon menatap pakaian wanita itu yang telah basah karena keringat dinginnya, dahinya terus bertaut ketakutan.


"Aku takut kumohon, aku masih sangat mencintai mu. Jangan pergi."


Alon menaikkan nada suaranya "Rasyhanda! Bangunlah" seraya menggoyangkan tubuh wanita itu untuk mensadarkan diri.


Dalam sedetik, kedua mata itu terbuka lebar wajah yang memucat, dan bibir yang memutih. Seperti baru saja melihat sesuatu yang tampak menyeramkan. Tanpa berbasa basi, Syha langsung saja mendekap Alon dalam pelukannya.


Wanita itu menangis terisak "Zein, bawa aku pulang. Aku tidak ingin hidup bersama pria lain. Aku tidak peduli jika kau harus memukuli ku setiap hari aku hanya ingin hidup bersamamu."


Alon menahan kesesakan yang berkecamuk, seberapa besarkah cinta Syha untuk Zein?Alon meratapi perbuatan nya, kejam sekali dirinya menjadikan wanita ini korban keegoisan, padahal Alon hanya ingin menyelamatkan Syha dari pria bajingan yang tega meninggalkan wanita malang ini tanpa perlindungan.


Alon menjawab dengan lirih "aku sudah berjanji untuk mempertemukan mu bersama suami mu, bersabarlah."


Perkataan itu hanya hiburan semata, Alon tidak sungguh-sungguh ingin melakukannya. Ia belum siap untuk melepaskan kepergian wanita ini dari pelukannya.


Syha terlelap dalam dengkapan, pelan-pelan Alon membaringkan wanita itu kembali ke ranjang.


"Apa tidak ada celah bagiku dihati mu?," jika batin ini bisa berteriak mungkin ucapannya akan terdengar pilu, terpancar kesedihan dari kedua iris Alon.


"𝘉𝘦𝘳𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘚𝘺𝘩𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯."


Keesokan pagi


Syha membuka mata setengah sadar, berusaha mengumpulkan nyawanya untuk segera bangkit. Alon masih tampak terlelap dengan tenang di sofa.


Ia segera turun dari ranjang dengan pelan takut membangunkan pria itu dari tidurnya, ia keluar kamar dengan menjijit agar lantai kayu itu tidak berbunyi, menuruni tangga dengan perlahan-lahan.


Paman Ang sedang menikmati dimsum di dalam sebuah klakat bambu. Pria itu tampak sibuk dengan koran ditangannya.


Ang memandang Syha yang terpaku berdiri

__ADS_1


"Syha sudah bangun? ayo sarapan," tawarnya.


Syha mengangguk terima kasih "dimana Ayi?" Tanya Syha.


Ang menjawab "Dia sedang ke kuil pagi ini," sembari melipat koran, Ang meletakkan lipatan itu di atas meja makan "Kemarilah ayo sarapan, apa suamimu sudah bangun?"


Syha menggeleng pelan, tidak biasanya juga Alon tertidur lebih pulas. Saat di mansion pria itu selalu bangun di subuh hari, namun setelah jam 8 pagi ini Alon masih saja bergelut dengan alam mimpinya.


"Ah anak itu dia selalu saja bangun siang jika libur begini," cetus Ang lalu menyesap teh hijau.


Syha mendekati bangku dan terduduk disana, Ang melirik segala gerak geriknya. Firasat nya sedikit tidak nyaman saat diawasi.


Ang menyodorkan klakat bambu itu mendekat "makan, tidak usah sungkan."


Syha tidak terbiasa menggunakan sumpit, ia lekas berdiri, mencari sendok dan mangkuk yang tersedia di rak.


Sembari mencari, Syha merasakan kehangatan tubuh menempel ke bokongnya. Awalnya ia mengira Alon sudah terbangun dan mengusili dirinya didepan Ang. Saat berbalik Syha melihat Ang sedang melemparkan senyuman, tubuhnya merinding hebat.


"Paman, apa anda perlu sesuatu?," tanya Syha sedikit gentar.


Ang tidak menjawab, ia mulai membelai tubuh wanita di hadapan nya. Meraba setiap lekuk paha dan menyusup kedalam, Syha yang hendak berteriak dibungkam oleh Ang.


Syha mulai memberontak, memukul sekuat tenaga. Tapi Ang mencengkram dagunya dengan kasar "tidak usah munafik, bukankah kau menyukai nya?"


Tapi Ang lebih dulu menampar nya dengan keras, tidak peduli jika bekas tamparan itu tertinggal. Dengan sedikit ganas, Ang berusaha melucuti. Tangannya terus berusaha keras meraba tubuh atas dan bawah. Sejak awal Ang tidak bisa menahan kemolekan wanita ini saat bertemu.


Nafsunya semakin memuncak, dari pada istrinya si wanita tua itu tidak lagi menggairahkan baginya.


Tak lama sebuah tarikan keras menarik Ang hingga tersungkur ke lantai, Alon dengan wajah yang menahan amarah hendak menghajar pamannya itu. Alon mengancang dengan tatapan membunuh, kepalan tangan sudah bersiap melayang di udara.


Alon tidak menerima atas perbuatan Ang yang hendak melecehkan istrinya, pantas saja Syha tampak murung sepanjang makan malam. Ternyata semua ini ulah pamannya.


Syha mendekap Alon untuk berhenti "jangan, hentikan." Alon yang tersulut melepaskan pamannya yang terbaring dengan wajah ketakutan, pria itu bersimpuh memohon maaf.


"Maaf Alon paman tidak bermaksud seperti itu," kedua telapak tangan itu menyatu memohon belas kasih.


"Minta maaflah kepada istriku!" Cecar Alon dengan nada kasar


Ang menghadap ke arah Syha " maaf kan aku Syha."


Syha menggelengkan kepala "jangan minta maaf padaku, katakan pada Ayi. Dia pasti sangat sedih kalau tau perbuatan paman."


Ang tampak berkalut resah dan kebingungan, tak lama Ayi memasuki rumah dengan wajah tercengang, rumah yang sedikit berantakan, bahkan suaminya pun sedang apa berlutut dihadapan keponakannya?


"Aiyaa? Ada apa ini?"

__ADS_1


Alon memeluk pundak istrinya "tanyakan saja pada paman Ang, dia ingin mengatakan sesuatu padamu Ayi"


"Sayang, ayo ke kamar ada hal yang mau aku bicarakan," ajak Alon menarik Syha untuk meninggalkan dapur.


Syha merunduk, bajunya sudah sedikit kacau karena ulah Ang yang berusaha menelanjangi nya.


Sesampainya di kamar, Alon meneguk obat sebagai rutinitas keseharian. Ia tidak sempat melakukannya, karena mendengar sekilas teriakan dari lantai bawah.


Alon menghampiri Syha yang tampak murung ditepian kasur.


Setelah obat itu terteguk sepenuhnya, pria itu bertanya dengan nada dingin "dia sudah menyentuh mu di mana saja?"


Syha menggeleng dengan terkejut "ti-dak ada," jawabnya terbata.


Alon dengan ketidakpercayaan nya mendorong istrinya untuk berbaring, membuka kancing piyama wanita itu dengan kasar, mencampakkan nya lalu menarik celana hingga menyisakan dalaman yang masih terbalut.


"ALON! Apa yang kau lakukan, hentikan kumohon jangan!"


Pria itu tidak mempedulikan raungan yang terus memintanya untuk berhenti, Alon mencermati setiap inci tubuh istrinya, tidak ada bekas kecupan ataupun cairan yang tertinggal. Alon menghela nafas lega, kembali menatap istrinya yang terisak dibawahnya.


Bingung, Alon berbatin seorang 'ada apa dengannya?'


Sebuah tamparan keras melayang tepat mengenai pria itu, gema suara nyaring itu membungkam keduanya dalam kesenyapan.


Alon tertoleh dengan paksa ke arah kiri, menghembuskan nafas dengan kasar dan menatap istrinya yang masih saja meneteskan air mata.


Alon menahan gemuruh penuh bersalah melihat kristal-kristal itu terjatuh tanpa diminta "maafkan aku," ujarnya sembari menuruni ranjang.


Tidak ada keberanian untuk menatap kesedihan istrinya, Alon membelakangi membiarkan wanita itu mengenakan pakaiannya kembali.


"Apa kau sudah puas?" tanya Syha mempertahankan ekspresi datarnya. "Kenapa kau melakukannya? Bukankah aku sudah memintamu untuk berhenti."


"Aku khawatir."


Syha lantas reflek menoleh, menerka ekspresi pria itu disebalik punggung gagahnya. Untuk apa Alon mengkhawatirkan nya? "Kau tidak perlu lagi bersandiwara Alon, hanya ada kita berdua disini."


"Aku tidak bersandiwara, aku berbicara berterus terang." Tidak ada kesan gurauan yang terlontar di mulut nya.


Syha memalingkan wajah. Kenapa pria ini? Kelamaan tidur malah bikin dia berbicara hal yang tidak masuk akal.


Alon menuju pintu kamar dan membukanya dengan lebar "Bersiap-siap lah, kita akan melihat lampion malam ini. Jangan lupa bersihkan dirimu dari belaian kotor itu." Tekannya sebelum menutup pintu dengan rapat.


Syha menyembunyikan degup jantungnya yang kian berdebar.


'Apa mungkin demam membuatnya merasa sulit bernafas seperti ini?'

__ADS_1


__ADS_2