Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 36 PERINGATAN


__ADS_3

(masa revisi)


Mentari menginjak naik menyalurkan kehangatan pada udara yang menguap, embun pagi menempel di dedaunan hijau, tarikan memanjang muncul di antara alisnya, menyaksikan beberapa sekumpulan makhluk dengan setelan cravat.


Usai melewati secercah kejadian yang menyelubungi sejuta kenangan, Syha terpaku dengan pikiran yang berputar-putar. Zein menariknya dibawah hunian bernuansa kelam yang kini telah berganti dengan setitik keindahan.


Meski begitu, kenapa pria itu terus berlari-lari di benaknya?


'Kenapa aku justru memikirkan mu Alon'


Syha menghela nafas, meletakkan jari pada pembingkai jendela. Bersamaan tangan itu terangkat, kedua matanya membesar.


Wanita itu berseru panik, "dimana cincin ku?" tanpa diperintah kedua kaki itu mengitari ruangan, berjongkok bahkan pipinya tertempel di dasar lantai yang dingin. Mengintip apakah benda bundar itu terjatuh di kolong ranjang.


"Apa mungkin hilang saat tampil?" Syha memegangi kepalanya dengan putus asa, punggungnya tertekuk merunduk.


"Kau mencari apa?"


Serentak leher itu tertoleh ke arah berlawanan. Zein berdiri dengan lekungan bibir yang terangkat. Alis tebalnya menatap penuh tanya.


"Kenapa duduk di lantai, tuh pakaian mu jadi kotor." Zein meraih pangkal tangan wanita itu sekuat tenaga, memegangi panggul untuk mengarahkan Syha pada daybed.


"Aku membawakan sarapan kesukaanmu," ucap Zein bersamaan otot bahu mengangkat meja portabel yang terisikan roti gandum, granola, smoothie dan buah stroberi.


Syha tertekuk mencermati, panganan yang terhidang menyeruakkan kemewahan. Apa Zein telah hidup dengan finansial yang jauh lebih layak sehingga menyajikan makanan seperti ini.


"Kenapa kau membawaku kemari?" Tanya Syha, lirikan pupilnya mengarah kepada Zein dengan rahang yang terangkat.


Zein melesatkan netranya kesana kemari, memikirkan alasan yang tepat untuk membalas pertanyaan itu. Tidak mungkin ia harus berterus-terang mengenai rencananya untuk mengurung wanita ini sampai pernikahan itu tiba.


Syha melirik reaksi gugup Zein yang mengusap tengkuk, apa pria ini menyembunyikan sesuatu darinya?


Melesat serangkaian kalimat yang mengalihkan topik pembicaraan. "Aku merindukan mu, selama bertahun-tahun aku terus dihantui rasa kehilangan," Zein membelai buah kenyal yang membulat disana, sentuhan yang memberikan reaksi gelagapan dari Syha.


Reflek wanita itu menghalau cubitan yang menempel di pipinya, wajahnya tertunduk menenggelamkan raut ekspresi.


Zein tersentak, kala perhatiannya tertepis dengan sebegitu menjijikkan. Zein melemparkan pertanyaan, "Syha apa kau mencintai Alon?"


Syha melirik sekilas, namun kedua matanya enggan untuk saling bertatapan. Menyembunyikan suatu pesan yang tersirat.

__ADS_1


Tanpa terucap, Zein sangat yakin jika wanita ini telah berpindah hati. Seakan mengorek luka yang mendalam, apakah cinta kedua nya telah tumbuh sejak mereka berada di toko Patisserie?


"Gmana menurutmu sayang, apa Arden akan suka kue yang ini?" Siera menoleh ke arah pria yang bersanding dengannya, pertanyaan itu dibalas anggukan.


"Dia pasti akan suka. Arden selalu saja merengek meminta kue kacang," keluh Zein menepuk jidatnya, Siera terkekeh melihat dengusan suaminya itu.


Setelah melakukan pembayaran, Siera menggandeng lengan Zein untuk keluar dari toko, keduanya larut dalam gurauan mesra.


Sesosok pria asing berdiri di sisi kanan, mempersilahkan sepasang kekasih memasuki toko dengan pintu masuk yang terbuka lebar.


"Wah pasti pelanggan VIP," Siera memuji sepasang sejoli itu dengan kekaguman, keduanya terlihat serasi dengan daya pikat yang kuat.


Zein menggeleng dengan bibir yang terangkat, ujung mata menoleh penasaran dengan sesosok yang dimaksud.


Zein bereaksi tercengang sedangkan Alon mempertahankan tatapan dingin nya. Dua pria bagaikan terjerumus dalam permainan waktu, jam berdetak hampa berselisih antara ruang pemisah. Menyisakan percikan panas yang terselebat beradu dalam kilatan mata.


Suratan hati yang terkirim dengan pesan yang sama.


'Kita bertemu lagi,' begitulah pikir keduanya.


Zein melirik wanita yang menggandeng lengan sahabatnya dengan mesra.


Tatapan nya tidak teralihkan, memandang Syha yang masih terikat status sebagai istri.


Sesosok dengan wajah terpampang berseri, aura memikat tak luput mengukir keduanya dalam kesatuan yang sempurna. Rasyhanda yang pudar dengan kecantikan, kini mekar bak mahkota bunga.


"Sayang, ada apa?" Siera membuyarkan lamunan suaminya, menoleh sekilas ke arah pasangan yang memunggungi mereka. "Kau kenal dengan mereka?" Sambungnya.


Zein menggeleng dengan cepat, "tidak ada ayo pulang." Jawab pria itu seraya menekan desiran darah yang meletup kandas di urat lehernya.



"Zein aku dapat melihatmu secara jelas saat tampil di pentas Reuni, tapi.. "


Syha yang sedari tadi tertunduk lantas mengangkat wajah, "siapa wanita yang mencium mu dimalam itu?"


Zein menurunkan rahang, figur yang dimaksud adalah Siera. Ah wanita itu, Siera terus merayu untuk bercumbu diriuh acara reuni padahal istrinya itu sudah cukup mabuk dengan 3 gelas wine yang di teguk olehnya.


Zein berakhir kesulitan mengawasi pergerakan Rasyhanda, tapi Siera hampir mengagalkan rencananya. Untung saja ia dapat melesat dengan tepat waktu, jika tidak entah apa yang akan Reid berikan sebagai hukuman.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa, dia hanya-"


Sepasang mata berkilauan dengan genangan air, Syha menahan isak tangis yang membentur hatinya. Kakinya meringkuk didalam pelukan, merintih dalam kesenduan.


Zein berupaya meredam tangisan yang berkalut, "Syha kenapa kau harus menangis?" bujuknya mengusap bahu yang timbul- tenggelam itu untuk berhenti.


Belaian nya tertepis untuk yang kedua kali. Ekspetasinya terlalu tinggi, mengharapkan rencana ini akan berjalan mudah Zein justru dipersulit dengan makhluk yang sedari dulu hanya menjadi benalu didalam hidupnya.


Otot rahang itu mengejang, tidak ada waktu bagi nya untuk memperdengarkan lebih jauh sesegukan yang meluluh lantakkan kesabaran yang kini telah mencapai titik *******.


Wanita itu menjerit saat Zein menjambak rambutnya, menyungkurkan kepala kebelakang sehingga memudahkan pria itu untuk meniban tubuh di bawahnya. Syha akan tertunduk dibawah peringat terakhirnya.


"Akhh," suara jeritan terus memekik meronta-ronta, menderakkan suara alat makan yang bertempiar di lantai.


Syha menghirup celah nafas sekuat mungkin saat Zein mulai mencekik lehernya.


"Dengarkan aku sini wanita sial*n, aku sudah cukup muak dengan permainan ini. Tidak akan ada yang sanggup bertahan dengan sikap egoismu itu!"


Syha menggertakkan giginya, bibir bawahnya bergetar namun netranya terus menyorotkan pemberontakan.


Tatapan yang justru semakin memancing Zein menyalang dengan wajah mendidih, sebuah tamparan melayang mendarat di pipi wanita itu.


Alas putih kini berderai tetesan darah, tidak cukup sampai disitu Zein menampar pada arah yang berlawanan. Syha mengigit bibirnya dengan erat, menahan rasa sakit yang tidak lagi mempan untuk memberinya pelajaran.


Saat pukulan itu terangkat kembali sebuah sahutan suara menyuruh Zein untuk berhenti.


"Cukup, apa kau akan bertanggung jawab jika wanita itu mati? Bayaran Reid tidak akan mampu menutupi denda pidana mu. "


Zein menoleh disertai dengusan kasar keluar dari mulut nya.


Berlagak selayaknya pengacara, Hannah telah berdiri dengan tubuh kiri bersandar di muka pintu, "keluarlah lah Zein aku ingin berbincang dengan adik angkat ku."


Pria itu beranjak turun dari ranjang, meninggalkan kencaman tajam ke arah wanita yang masih saja memegangi wajahnya.


Hannah menghela nafas, melirik wanita itu dengan lipatan tangan. "Bagaimana rasanya? Bukankah kau menikmati keharmonisan mu bersama suamimu."


Wanita itu menyeringai saat lawan bicaranya itu bertingkah membisu, melangkahkan kaki lebih mendekat. Hannah memegangi dagu Syha untuk terangkat menatapnya.


"Aku akan menyudahi permainan kita, kau kira dengan menjadi mempelai pengganti lantas kehidupan mu akan berbahagia bersamanya. Impian mu itu terlalu tinggi sayang, jangan harap kau bisa merenggut Alon dari ku."

__ADS_1


"Menanti lah disini sampai kau menjadi saksi atas pernikahan ku dan Alon, anak didalam kandungan mu itu akan menjadi sepenuhnya milik kami berdua."


__ADS_2