Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 2 MENIKAHLAH DENGANKU


__ADS_3

Alon menyilangkan kakinya pada salah satu sofa canape yang jaraknya tidak jauh dari perapian, matanya terfokus pada lembaran kertas yang berisikan biodata seorang wanita.


"Mabuk sih mabuk, tapi ga harus sampe ngerusak mobil orang!" gerutu pria itu.


Alon mencampakkan setumpuk kertas begitu saja di lantai, "bacakan pada ku apa isinya."


Adam dengan rasa malas memungut lembarannya, mengibas kertas itu dan menyebutkan sebuah nama "Rasyhanda Moon."


Alon melotot, mencoba menajamkan pendengaran nya kembali "Baca ulang namanya."


"Cih, brey santai ga usah melotot gitu serem tau," decak Adam lalu ia kembali menyebutkan "Rasyhanda, kelahiran Sankt Peterburg dan lulusan Universitas SeaOc, London."


Alon menarik nafas, memperbaiki posisi duduk dengan bersandar ia hampir tidak mengenali Rasyhanda setelah 5 tahun kelulusan berlalu. Dugaan yang tidak meleset, ternyata cinta pertamanya.


"Aku melihat cincin pernikahan, apa dia sudah menikah?."


Adam membuka lembaran baru "Tidak ada riwayat pernikahan di catatan sipil, kemungkinan mereka menikah secara siri. Ku dengar suaminya sudah lama pergi karena Rasyhanda tidak bisa memberikan keturunan."


Alon menopang dagu, "kenapa begitu?."


"Dari rumor beredar dia mengalami kemandulan."


Pria itu memandang tidak percaya, di sisi lain ia merasa lega terhindar dari tuntunan pertanggungjawaban atas kejadian malam itu hanya saja rasa nyeri meranah di hati saat mengetahui Rasyhanda telah ditinggalkan oleh pendamping hidupnya.


"Apa kau mendapatkan informasi tentang suami Rasyhanda?"


Adam membisu sejenak, "tidak ada, aku tidak menemukan identitasnya."


"Kemungkinan namanya Zein." Alon mengingat kata yang sempat terlontar, apakah mungkin Rasyhanda menikah dengan sahabat karibnya dulu?


Adam menganggukkan kepala, ia kembali melanjutkan "Anak kandung dari Hendi yang kini di adopsi oleh keluarga Eden."


Alon yang sedang menopang dagu, menatap tercengang, Jadi ia baru saja melakukan hubungan bersama adik angkat dari tunangannya?!


Alon mengira Syha hanyalah wanita yang berkehidupan serba pas-pasan, nyatanya wanita itu merupakan anak angkat dari keluarga konglomerat. Tapi kenapa kehidupan nya tidak sama dengan saudari angkatnya? Dia bahkan tidak tinggal bersama Eden di Sankt-Peterburg melainkan melanjutkan hidup di London seorang diri.


"Ga mau sama kakaknya, eh malah dapat adiknya" Adam meletakkan kertas itu kembali diatas meja, "untuk apa juga mencari tahu wanita ini?"


Alon beranjak berdiri, melangkahkan kakinya pada pemandangan dibalik kaca yang terbentang dengan lebar "Aku hanya ingin memintanya untuk membayar perbuatan," Alon membalikkan badan "kau sudah titipkan pesanku?"


"Ancaman tuntutan kan?" tanya Adam memastikan.


Alon memasukkan tangan kanan kedalam saku celana, "sepertinya aku bertemu dengan masa laluku."


"Masa lalu bagaimana?" Adam berekspresi kebingungan, salah satu alisnya terangkat.


Alon tersenyum tipis ia melangkah untuk kembali terduduk di singgasana kebanggaan nya "Hanya kisah percintaan mahasiswa," timpalnya.


❁


Syha mengerjap sesaat sepenuhnya terbangun, ia merasa di sebuah tempat yang asing. Matanya menerawang sekitar mencoba mengingat kembali kejadian yang menimpanya tadi malam justru membuat kepalanya terasa berdenyut hebat.


"Eukh, ini dimana?" ia segera turun dari ranjang, rasa nyeri di sertai ngilu menjalar di area sensitif nya.


"Kenapa sakit sekali," ringisnya.


Syha melangkah setengah menyeret mendekati meja kecil. Terdapat secarik kertas yang tertulis tinta hitam diatas alas putih.


Aku meminta tebusan pertanggungjawaban mu terhadap mobilku sebelum laporan ini kuberikan pada pihak kepolisian


Kemudian ia mengambil sebuah business card yang tertulis nama seorang pria, Syha membulatkan mata sesaat membaca pemilik kartu tersebut.


...****Alon Reid****...


...(****Direktur utama perusahaan Reid****)...


...****07xxxxxx****...


❁


Syha menyeduh secangkir teh setelah sekembalinya ke indekos. Perjalanan panjang untuk kembali ke rumah, membuat tubuhnya terasa sangat letih.


Kartu nama yang tergeletak diatas nakas ia lempar begitu saja ke dalam tempat sampah.


"Apa-apaan pria ini, sok-sok an sekali ingin menggertak! Memangnya dia siapa," Syha merobek surat ancaman yang sama sekali tidak menggetarkan jiwanya untuk memohon ampunan.


Mendadak rasa pusing dan mual merajalela ditubuhnya. Ia lekas berlari ke wastafel, wajah memucat dan kepalanya semakin berdenyut.


Mungkin masih di bawah pengaruh alkohol, pikir nya.


Perut mungilnya berteriak kelaparan Syha ingin mengganjal dengan makanan yang enak, ia segera berganti pakaian dan bergegas ke kafe terdekat.


Sesampainya disana, Syha disambut oleh ketiga sahabat karibnya. Hesti, Mona, dan Alian yang menjadi satu-satunya laki-laki diantara mereka.


"Biar kutebak, kau minum lagi tadi malam?," Alian membuka topik pembicaraan.

__ADS_1


"Lagi bete," jawab wanita itu membenamkan wajahnya diatas meja, sembari mengaduk kasar kopi yang ia pesan "aku bertemu seseorang di bar." Lanjutnya.


"Siapa?," suara serentak terdengar mengejutkan, mempertanyakan siapakah sesosok yang dimaksud. Rasa antusias ketiga sahabatnya itu terlihat jelas dari sorot mata mereka yang bebinar memandangnya.


Syha menghela nafas berat "kalian tau Alon Reid kan? dia-."


Belum sempat Syha menyelesaikan ucapannya, Hesti sudah lebih dulu memotong pembicaraan. "ALON REID?" pekik wanita itu sedikit menggebrak meja.


Syha menengadah "kenapa heboh sekali? Memangnya dia kenapa sih?"


"Dia itu pewaris perusahaan terbesar di London, beruntung sekali kau bisa bertemu dengannya."


Dari pada menanggapi Syha sibuk mengunyah sepotong roti "bodoamat, toh aku juga ga kenal dia."


"Ya lagian dia pun ga sudi mau kenalan samamu" Alian menimpali dengan kalimat yang membuat Syha membelalakkan mata, sedetik kemudian sebuah sendok melayang tepat diatas kepala pria itu.


Alian meringis kesakitan, mengabaikan keluh kepiluan Hesti bertanya "Memang ada kejadian apa sih?"


Syha menyandarkan punggungnya pada sofa lounge yang panjang, Ekspresi wajahnya seketika menegang, adegan ciuman, sensual, rekaan kejadian seperti terputar kembali.


"AAAAAAAA!!!!," teriak wanita itu histeris


Alian yang sedang menyesap kopi terlonjak kaget, cairan hitam terhempas ke wajahnya "Kau kenapa hah!?" Racau Alian.


"Kau ngebayangin apa sih sampai berteriak gitu? Ketampanan Alon?" Resah Mona sembari membantu menyeka tumpahan dengan tisu.


Syha membalas dengan ketus "Apasih?" bantahnya yang tidak mengerti arah tudingan Mona.


"Aku memikirkan hal yang sama juga," ujar Mona "andai aku bisa menikah dengannya, bahagia seumur hidup deh pokoknya."


Alian lantas menyela "Mona, memiliki impian itu bagus yang ga bagus itu ga punya otak."


Perkataan Alian membuat Mona mengkumel wajah pria itu dengan kasar


"Kau menyindirku hah?!" Bentak Mona, tidak mempedulikan Alian yang kesulitan bernafas.


Karena Alian menjadi satu-satunya gender yang berbeda di circle mereka, pria itu selalu saja mendapatkan hadiah pelampiasan dari teman wanitanya.


"Ah, kau mau membunuh ku ya?" Alian menepuk dadanya, Mona membalas dengan menjulurkan lidah.


"Syha, apa kau sudah mendapatkan kabar tentang suamimu?" Tanya Hesti.


Syha tampak merunduk "tidak ada."


Pernikahannya bersama Zein kandas tanpa kepastian. Pria itu meninggalkan nya begitu saja tanpa kabar, pergi dan tidak pernah lagi kembali. Membiarkan nya seorang diri dengan keterpurukan.


Syha memandang arloji dipergelangan tangan, jarum pendek mengarah pukul 10 pagi. Waktu sarapan sudah usai, Ia harus segera bergegas untuk bekerja.


"Aku pamit dulu, nanti ku hubungi lagi" Syha berpamitan, bergegas ke halte terdekat.


❁


Sesampainya disana ia disambut oleh petugas keamanan yang sedang berdiri di depan pintu masuk kantor


"Selamat pagi nona", sapanya tegas.


Syha membalas dengan anggukan, saat sampai di Lobby seorang resepsionis memanggilnya "Ada seorang tamu sedang menunggu anda di ruang tunggu."


Syha mengangguk sebagai balasan, menghampiri tamu yang dimaksud.


"Mohon maaf atas keterlambatan saya-" sesaat memasuki ruangan ia terpaku diam memandang seorang pria dengan setelan formalnya sedang terduduk dengan menyesap secangkir teh.


Sepasang mata melirik dengan tajam, "Wah nona Rasyhanda, kita bertemu kembali ya?"


Lebih dari 3 tahun ia mengabdi di sini, dan inilah kali pertama pewaris Perusahaan Reid datang mengunjungi kantor kecil seperti ini.


"Selamat pagi tuan Alon, sebuah kehormatan terbesar anda berkunjung kesini," tetap mempertahankan sikap profesional dan tenangnya walau keringat dingin bercucuran dari dahi.


Seharusnya ia tidak mengata-ngatai Alon pagi tadi, karma justru menjemputnya secepatnya ini.


"Tidak perlu formal begitu," kilah Alon "Aku datang kesini untuk meminta pertanggung jawaban", sambungnya sembari mengetuk jari diatas sandaran tangan.


Syha melebarkan mata, "kenapa juga aku harus bertanggung jawab?.


"Memangnya kau lupa apa yang kau lakukan pada mobil ku?" Urat kekesalan tampak menonjol di pelipis pria itu.


Syha membisu, sejenak tercekat untuk membalas. Ia lalu menjawab dengan sedikit terbata, "se-pertinya Anda salah orang, saya tidak pergi keluar semalam"


Syha berusaha menutupi kebohongannya, Alon merespon dengan tersenyum kecil, melihat tingkah wanita ini yang tampak konyol, terlihat semakin menarik.


"Berikan bukti nya," titah Alon dengan menengadahkan tangan, Adam memberikan sebuah ponsel. "Apa kau bisa jelaskan siapa wanita di dalam video ini?"


Video berputar, menampilkan dirinya yang sedang memecahkan kaca mobil dan merusak gagang pintu untuk menyelinap masuk.


Syha tertawa kecil "aha aduh itu bukan saya, sekilas sih mirip tapi aku semalam ga pergi ke bar."

__ADS_1


Alon menyeringai "Siapa yang nanya kau ke bar?."


"Eh?" Syha mengacak-acak rambutnya, meratapi kebodohan yang terdengar blak-blakan. "Bodoh sekali, kenapa juga aku harus bilang gitu!"


"Kau harus belajar lagi jika ingin menjadi pembohong yang ulung," ledek Alon.


Sulit sekali menelan saliva tertelan melewati kerongkongan "Bagaimana aku harus menebus kesalahan ku?" Tanya wanita itu memijat telapak tangan yang terus bergetar dengan hebat.


Alon melipatkan tangannya didada "π˜½π˜Όπ™”π˜Όπ™ π™π™€π˜½π™π™Žπ˜Όπ™‰π™ˆπ™! " Tekan Alon di akhir.


Syha membalas dengan nada ketus, "yaelah gitu doang akan ku bayar berapapun untukmu," sempat merasa getar, ternyata hanya membayar. Mobil rongsokan kayak gitu paling cuman berapa.


Alon memanggil kembali asistennya, "Adam, berapa kerugian yang harus wanita ini tanggung dari kejadian malam itu."


"Kerugian kerusakan menyentuh 24 Miliar, dan itu belum termasuk tebusan untuk mencabut laporan mengenai diri anda yang melakukan aktivitas kriminal."


Syha melotot, apa? 24 MILIAR? dia tidak memiliki uang sebesar itu!


Sunggingan senyum menghiasi wajah, membujuk dan merayu untuk menarik tuntutan "ehm tuan Alon, saya ini hanya bekerja sebagai karyawan biasa di kantor bisakah nominal nya dikurangi dan beri saya waktu untuk melunasinya?" Pinta Syha dengan memelas.


BINGO!


Alon tersenyum menyeringai, hasratnya ingin lebih lama bersenang-senang bersama wanita masa lalunya. Bukankah dengan tebusan, mereka akan lebih sering bertemu?


"Kau jual diri pun, tidak akan mampu membayar mobil ku itu," sanggah Alon


"Hei! Biawak! Kalau bicara ga ush sembarangan," umpat Syha dengan mimik kejengkelan.


Alon beranjak berdiri "oh yasudah ku anggap kau menolak. Baiklah, Sampai ketemu di pengadilan." pria itu berlalu, hendak melangkahkan kaki keluar dari ruangan.


Syha berlari kecil merentangkan kedua tangan untuk menghadang Alon "saya menerima nya, akan saya usahakan untuk melunasinya," tegas Syha.


Alon menyelipkan tangan kanannya ke dalam saku celana "Kapan kau bisa melunasi nya?."


Syha tertegun tatapannya tertunduk ke bawah "Secepat mungkin."


Alon melirik ke arah Adam, seakan mengerti isyarat itu. Adam menyodorkan lembaran yang berisikan barisan nominal dalam bentuk tabel.


Saat Syha hendak meraih lembaran spontan ia menutup mulut. Rasa mual yang baru saja terjadi kembali mmenyeran.


"Maaf saya permisi sebentar," pamit wanita itu berlari keluar ruangan.


Kedua pria saling berpandangan, Adam tampak menunjukkan kerisauan "kurasa Rasyhanda hamil," tuturnya.


Alon tersentak setelah mendengar pernyataan itu, menyepelekan ketakutannya justru membuatnya jatuh dalam petaka.


Kenapa bisa? Bukankah wanita itu mandul?


"Adam, belikan test pack dan bawakan kesini," titah Alon, Adam menuruti dan bergegas menuju apotek.


Tidak lama pria itu kembali dengan membawa benda yang Alon inginkan.


"Berikan padanya."


Adam berdiri tepat didepan jalan masuk toilet bersamaan dengan wanita itu keluar dengan wajah yang memucat.


Adam menyodorkan sebuah test pack.


Syha meraih dan mengamati "untuk apa ini?" Tanya nya.


"Kami ingin tahu apakah Nona hamil."


Syha terbelalak kaget "ini hanya kewalahan," jelasnya, untuk apa memeriksa kehamilan lagipula dia sudah dianggap mandul oleh keluarga suaminya.


"Kami ingin memastikan."


Pasrah, akhirnya wanita itu kembali masuk untuk memastikan.


Alon mengamati Adam yang berbalik ke arahnya. "Bagaimana?" Tanya pria itu, menyembunyikan kepanikan dibalik wajah datarnya.


"Belum ada hasil," jawab Adam.


5 menit berlalu, Syha berjalan pelan keluar melewati penyekat yang terbuka lebar. Tatapannya tidak bisa ia alihkan dari benda digenggaman kedua tangannya.


"Bagaimana hasilnya Nona?"


Alon menukik tajam, menanti jawaban dari wanita itu yang tak kunjung bersuara.


Syha mengangkat test pack yang menunjukkan dua garis disana "SAYA HAMIL" dua kata yang berhasil membuat kedua pria itu ternganga syok.


Alon seakan tidak berdaya, sendi lututnya siap merobohkan nya untuk tersungkur dilantai.


"Pak saya sarankan untuk menjadikan Rasyhanda sebagai mempelai pengganti", bisik Adam diiringi suara lirihnya "Jadikan bayi ini sebagai jimat penangkalan untuk membatalkan pernikahan anda."


Alon menoleh sekilas "lalu bagaimana dengan suaminya?"

__ADS_1


Adam menyiratkan tatapan seolah ia tahu segalanya "Wanita ini sudah dicampakkan, besar kemungkinan suaminya tidak akan lagi kembali menjemput istrinya."


__ADS_2